
Hari menjelang sore, Asty baru saja sampai di depan rumah anto. Di lihatnya pintu rumah itu sedikit terbuka, dan mobil anto juga sudah terparkir di halaman yang cukup luas.
'Bukannya tadi masih tidur di rumah ibu, kok sudah sampai rumah duluan'. Gumam asty, seraya melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah itu.
Asty membuka pintu yang sedikit terbuka.
"Hai sayang, akhirnya kamu sampai juga". Sapa anto terdengar mesra.
"Apaan sih mas, lagian ngapain kamu ikutin aku? Bukannya tadi masih tidur". Ucap asty yang agak kesal. Sebenarnya asty masih mencintai anto, bagaimanapun mereka masih suami istri.
"Yeee, buktinya apa kalau aku ngikutin kamu?". Tanya anto sambil tersenyum menang, karena faktanya anto lebih dulu sampai rumah.
"Udahlah mas, aku mau masuk. Mau kemasin barang-barang aku sama arga yang masih tertinggal". Ujar asty, hendak nyelonong masuk.
Tapi langkahnya terhenti, anto menahannya.
"Asty, aku tau kamu masih cinta sama aku. Aku bisa liat itu, matamu tidak bisa bohongi aku". Kata anto pelan, seperti menghayati perasaanya.
"Pede amat mas". Asty mengalihkan pandangannya.
Anto tiba-tiba memeluk tubuh asty yang masih berdiri di hadapannya.
"Mas, apaan sih? Lepas mas". Pinta asty meronta.
"Nggak asty, mas tidak akan lepaskan. Sebelum kamu maafkan mas dan menerima mas kembali". Ucap anto.
"Mas tak ingin kita berpisah asty". Anto semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Mas, lepas. Aku nggak bisa nafas ini". Rengek asty, nafasnya tersengal.
"Maaf asty, mas terlalu rindu. Maafkan mas ya?". Anto memohon.
Asty terduduk lemas, nafasnya terengah-engah.
Ia merasakan ada yang aneh ketika anto memeluknya. Sepertinya anto benar-benar takut kehilangannya.
Anto membawakan segelas air putih untuk asty.
"Di minum dulu ya, kamu pasti capek". Anto meminumkannya.
"Makasih mas". Ucap asty, kini asty sudah tenang.
"Asty". ucap anto.
"Apa keputusanmu sudah bulat?". Tanya anto.
"Ya mas, buat apa kita pertahankan. Setelah anak ini lahir, kita pisah ya?". Pinta asty.
Anto berpikir agak lama.
"Akan mas pikirkan nanti". Jawab anto.
Anto sedih, ia teringat masa suka dukanya bersama asty.
Semua tentang asty, rasanya ingin sekali ia kembali ke masa sebelum ada erina.
__ADS_1
'Ah, anak itu lagi'. Pikirnya, seakan rasa sukanya pada erina sirna.
"Mas, ayo jawab dong. Tinggal jawab iya aja kok susah si mas". Asty cemberut, anto semakin sedih.
"Coba pikirkan lagi asty, jujur mas nggak mau kalau nantinya di suruh menikahi erina. Mas tidak siap". Anto menjelaskan sambil menatap mata asty.
"Di hati ini hanya ada kamu". Lanjut anto.
Asty semakin bimbang.
"Mas, semenjak ada kisah di antara kamu dan adiku. Rasa cintaku sama kamu sudah hilang". Asty berbohong, hatinya semakin sakit, tapi kali ini tanpa keributan.
Hari semakin gelap.
Dengan terpaksa asty menginap malam ini.
"Mas, aku mandi dulu ya". Ujar asty, ia bangun dari duduknya menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari anto.
"Mandilah, setelah itu kita keluar untuk makan malam". Jawab anto dari ruang tamu.
Asty mendengar dengan jelas, karena suara anto lantang.
'Tak apalah untuk malam ini saja, itung-itung malam terakhir menikmati makan malam dengannya di kota ini'. Pikir asty.
Asty keluar dari kamar mandi, anto bergantian. Sementara asty menunggu anto, ia merias wajahnya agar tidak terlihat kusut dengan bedak ringan dan lipstik warna pink tipis-tipis. Asty cantik malam ini.
Mereka kini telah siap untuk pergi berdua.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...