
Erina sudah lulus sekolah, dan ia hendak melanjutkan kuliah tentunya anto yang membiayai.
Erina juga tidak tinggal di rumah kakaknya lagi, melainkan di sebuah rumah kontrakan yang tidak begitu besar. Sengaja mencari yang sedang, agar tidak repot membersihkannya. Ia sudah banyak berubah, sudah dapat mengerjakan pekerjaan rumah dan sedikit bisa memasak, walaupun masakan yang sederhana.
Pagi itu.
Tiba-tiba kepala erina terasa pusing semua seperti berputar. Dan ia jatuh pingsan di lantai teras seorang diri.
Kebetulan ada tetangga yang lewat di depan rumahnya.
Ia pun berteriak minta tolong ke tetanngga yang lain.
"Tolong!! Ada yang pingsan". Teriak bu dani (nama tetangga sebelah erina).
Lalu ibu-ibu yang lain membantu memindahkan tubuh erina ke dalam rumah.
"Kasihan, dia tinggal sendiri di sini bu?". Tanya tetangga yang agak jauh rumahnya.
"Biasanya sih jam segini suaminya datang bu". Jawab bu dani, sesuai yang ia lihat dalam kesehariannya.
"Apa mungkin suaminya itu punya istri lain?". Tanya ibu tadi.
"Bisa jadi sih". Jawab ibu yang lain lagi. Di situ ada 4 orang ibu yang menunggu erina siuman.
Lalu mobil anto tiba di depan kontrakan erina, ia segera turun dari mobil dan berlari masuk karena di lihatnya banyak sandal di depan pintu.
__ADS_1
"Maaf ini ada apa ya ibu-ibu?". Tanya anto.
"Syukur bapak sudah datang, tadi kami melihat istri bapak tergeletak pingsan di teras. Jadi kami membawanya masuk, maaf kalau kami lancang". Jawab bu dani menjelaskan.
"Oohh iyaa bu tidak apa-apa, saya justru terima kasih banyak. Karena tanpa pertolongan ibu-ibu pasti istri saya ini sudah kedinginan di teras. Sekali lagi terima kasih ibu-ibu semua". Ucap anto sambil menganggukan kepalanya.
"Iya pak sama-sama, kalau begitu kami permisi pulang". Mereka berpamitan.
Kini tinggal mereka berdua, cukup lama erina pingsan. Anto pun bingung di buatnya.
Akhirnya kembali ia ijin kerja dari rumah saja.
"Mas di mana aku?". Erina mulai sadar.
ia melihat sekeliling.
"Jangan banyak gerak dulu rin, kamu tadi pingsan dan ibu-ibu menolongmu". Jelas anto.
erina ingat.
"Oh iya mas aku ingat tadi aku mau nyapu teras rumah, trus tiba-tiba kepalaku pusing. Setelah itu aku nggak tau lagi". Erina mengingat kejadian awal.
"Apa lagi yang kamu rasakan selain pusing rin?". Anto panik, ia takut erina hamil.
"Udah pusing aja mas, tapi baru kali ini. Mungkin aku kecapean aja, ndak usah panik gitulah". Erina menghibur anto.
__ADS_1
"Syukurlah, tapi ada baiknya kamu cek ke dokter barangkali kamu kurang darah atau ada sakit lain". Saran anto.
"Iya mas kapan-kapan saja". Jawab erina.
Tiba-tiba.
'Huekk huekkkk". Erina berlari ke kamar mandi.
Anto tambah pusing, tiba-tiba ia teringat asty di awal kehamilannya
'Jangan-jangan erina juga hamil'. Ia pegangi kepalanya yang semakin tidak karuan, pikirannya rumit.
'Bagaimana ini, bagaimana kalau erina hamil' Rutuknya dalam hati.
"Mas kok tiba-tiba aku mual ya". Suara erin lemah.
"Sepertinya kamu harus ke dokter rin". Saran anto.
Ia akan membawanya ke dokter yang berbeda.
"Baiklah mas aku nurut aja". Erina pasrah.
Sedangkan anto panik.
hari ini ia akan mendampingi erina, hingga menjelang malam. takut erina sakit.
__ADS_1
Semoga tidak ada apa-apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...