
Pagi harinya asty sudah bersiap-siap untuk pulang, tak tega ia meninggalkan arga.
Sepucuk surat ia tinggalkan untuk suaminya di atas nakas kamar tamu.
Asty membuka pintu pelan-pelan agar anto tidak terbangun. Asty pun berhasil keluar dari rumah itu. Ia menunggu angkot, tanpa menunggu lama angkotpun lewat.
Sesampainya di terminal, ia mematikan handphone nya. Agar anto tak menghubunginya.
Asty berencana mencari kontrakan secepatnya, dan secara diam-diam meminta tolong sahabatnya yang dari kampung untuk mencarikan rumah untuknya. Dan hari ini mereka ada janji untuk bertemu.
Namanya fera, sahabat asty sejak SMP. Mereka bertemu belum lama ini, setelah sekian lamanya berpisah karena kesibukan masing-masing. Mereka janji bertemu di pintu masuk terminal itu, fera mengendarai mobil pribadinya.
"Hai asty". Sapa fera setelah memastikan kalau itu asty.
"Hai juga, lama menunggu ya?". Tanya asty seraya memeluk tubuh sahabatnya.
"Nggak kok, baru juga sampai. Oh iya kamu apa kabar?". Tanya fera.
"Kabarku sedang tidak baik fer, itu sebabnya aku minta kita ketemuan". Jelas asty.
"Sebaiknya kita cari tempat untuk ngobrol sekarang, rencana kamu mau kemana sekarang?". Fera bertanya, karena melihat asty membawa satu tas besar sepertinya pakaian.
"Sebenarnya aku mau langsung pulang setelah kita ngobrol fer". Jawab asty.
"Baiklah, ayo kita cari tempat". Ajak fera.
Asty berjalan mengikuti fera. Mereka duduk di rumah makan padang depan terminal. Asty menceritakan semua kejadian yang menimpa rumah tangganya pada sahabatnya.
......................
__ADS_1
Sementara di rumah anto kebingungan mencari asty. Di lihatnya secarik kertas di atas nakas, beberapa baris tulisan tangan asty terpampang di sana.
"Maafkan aku mas, aku harus pulang hari ini.
Kopimu sudah ku sediakan di meja makan, tinggal di tuang saja pakai air termos.
Sekali lagi maafkan aku, meninggalkanmu sepagi ini.
Dan jangan lupa, kamu harus nikahi erina secepatnya.
Asty.
'Kenapa kamu tidak menunggu aku bangun asty, kenapa harus pakai surat seperti ini'. Gumam anto.
Ia segera membersihkan tubuhnya, menyeduh kopi dan menyeruput sedikit.
Lalu bergegas menuju terminal, berharap asty masih di sana.
Di rumah makan padang, fera melihat anto yang sedang berdiri di pintu keluar terminal.
"Asty, bukankah itu suamimu?". Fera menunjuk ke arah di mana anto berdiri.
"Ia fer, itu mas anto. Dia pasti mencariku". Asty menundukan kepalanya, agar anto tidak melihat keberadaanya.
Anto melihat mobil fera, ia juga kenal dengan wanita itu. Tapi anto tidak tau kalau fera sahabat asty.
"As, sepertinya anto berjalan kemari. Cepat kamu ke toilet dan bawa tasmu". Saran fera,
Benar juga anto menemui fera.
__ADS_1
"Hai anto, apa kabar". Tanya fera basa basi.
"Hai juga fera, kabarku tidak baik-baik saja". Jawab anto sama dengan asty.
"Kenapa? Bukankah kalian hidup bahagia?". Fera pura-pura bertanya.
"Tidak fer untuk saat ini". Anto tidak melanjutkan karena ia merasa tidak perlu bercerita pada fera. Fera hanya sebatas kenal dan bukan siapa-siapanya.
"trus kamu ngapain di terminal? Apa sudah pindah kerja sekarang?". Tanya fera.
"Aku cari istriku fer, tadi ijin pulang kampung. Tapi saya rasa dia masih di sekitar sini. Tapi di mana". Wajah anto kecewa.
"Mungkin dia sudah naik bis pertama tadi, karena aku juga baru sampai disini dan tidak melihatnya". Fera berbohong.
"Ya sudah, trima kasih fer infonya. Saya pergi dulu". Pamit anto. Fera merasa bersalah telah membohonginya, tapi ini demi asty sahabatnya.
Asty pun keluar dari persembunyianya, dia menemui fera kembali.
"Aman as, dia sudah pergi. Sekarang gimana? Jadi cari kontrakan?". Tanya fera.
"Iya fer, jadi". Asty memastikan.
Akhirnya dua sahabat lama ini berjalan bersama. Fera membantu asty mencari kontrakan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Setelah lama mereka mencari, akhirnya menemukan rumah yang cocok menurut asty.
Mereka kembali ke terminal, asty pamit dengan sahabatnya setelah sampai di terminal.
Mereka berpisah untuk bertemu kembali.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...