
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, asty diam tanpa ada kata. Tatapannya kosong.
ingin sekali ia melabrak erina.
'Kenapa harus erin'. Gumamnya dalam kemarahan.
"Kita jemput arga dulu ya". Ucap anto.
Asty tidak menjawab, ia muak dengar suara anto. Ia muak lihat wajah itu.
"Mas yang turun, hanya ambil arga saja". Anto berkata lagi, meskipun tidak ada respon dari istrinya.
"Arga, ini papa sayang. Mari kita pulang". Anto memanggil arga dari luar rumah erina .
"Mas jangan keras-keras, arga sudah tidur. Tinggal angkat aja kalau mau di ajak pulang". Jawab erina lirih, takut arga terbangun.
Asty tak menoleh sedikitpun.
Ingin rasanya ia keluar dari mobil dan menjambak rambut adiknya.
Tanpa pikir panjang, ia pun turun dari mobilnya ia hampiri erin.
Erin pikir asty belum tau kejadian sebenarnya.
Tiba-tiba..
"Plakk Plakkk plakkk!". Tamparan yang sama untuk erina.
__ADS_1
"Dasar tidak tau diri, sudah di tolong juga. Inikah balasanmu padaku?! Kamu ganggu suamiku atau kalian memang saling menyukai hah!". Ia dorong tubuh erin hingga tersungkur ke tanah.
"Sudah sudah, Asty malu di lihat tetangga". Cegah anto, tidak ingin terjadi keributan.
"Kamu masih punya rasa malu rupanya?".
Mata asty melotot, emosinya tidak tertahankan lagi. Satu tamparan lagi untuk suaminya.
ia masuk ke dalam rumah dan membawa arga keluar. Ia tidak peduli dengan bayi yang ada dalam perutnya, dengan cepat ia tinggalkan mereka berdua.
Air matapun rasanya sudah terkuras habis.
Yang ada hanya emosi yang membuncah hebat, kecewa yang luar biasa ia rasakan. sakit.
Anto mengejarnya karena asty tidak menuju ke mobilnya, melainkan ke pangkalan ojeg yang tidak terlalu jauh.
Namun asty tidak mempedulikannya, ia pulang ke rumah dengan naik ojeg.
Setelah sampai di rumah, ia langsung masuk dan mengunci pintu dari dalam.
"Mama kenapa kita tidak pulang sama papa?". Tanya arga. Ia bingung dengan kedua orang tuanya.
"Tidak apa-apa sayang, sekarang kita tidur lagi ya? Arga tidur sama mama". Jawab asty.
Arga mengangguk patuh. Asty mengajak arga masuk ke kamarnya.
Asty membaringkan tubuhnya, ia peluk tubuh arga.
__ADS_1
'Kasihan kamu nak, mama janji akan selalu membahagiakanmu sayang'. Ucap asty dalam hati.
Matanya belum bisa terpejam, pikirannya kacau, ia belum bisa berpikir karena masih shok.
......................
Anto menyesali perbuatannya.
Erina masih terisak dan semakin terisak.
"Mas apa sebaiknya aku gugurkan saja kandungan ini". Ucap erina di sela-sela tangisnya. pikirannya buntu.
"Gila kamu rin! Kamu pikir dengan menggugurkan kandunganmu itu akan merubah keadaan? Ingat rin, itu hanya akan menambah dosa saja. Berpikirlah sebelum bertindak". Jawab anto.
"Mas! Apa kamu sadar dengan perkataanmu? Bukankah apa yang sudah kita lakukan ini merupakan dosa? Dan apa kamu juga pernah memikirkan resiko dari perbuatan kita?". Ucapan asty justru membuat anto sadar. Wajahnya memerah, ia menunduk dan meremas rambutnya.
"Kamu benar rin, mas telah di butakan oleh nafsu. Mas khilaf, tapi anak itu tidak berdosa rin. Kamupun harus pikirkan itu". Ucapan anto melemah, kini ia bingung. Mau pulang ke rumah pun pasty asty akan marah lagi.
Tidur di rumah erin juga tidak enak dengan tetangga.
"Kamu istirahat saja rin, tenangkan pikiranmu. Besok kita sama-sama pikirkan jalan keluarnya.
Anto melangkah keluar dan menutup pintu.
Akhirnya ia putuskan tidur di dalam mobil malam itu, walaupun hanya sekedar untuk menyandarkan tubuhnya melepaskan kepenatan, karena matanya tidak bisa terpajam.
'Nasi sudah menjadi bubur, memulihkan keadaan ini pasti tidak mudah'.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...