
Pagi menjelang.
Ibu sudah siuman.
Asty membuatkan teh hangat untuk ibu.
"Ibu minum dulu ya, biar hangat". Asty membantu meminumkannya.
"Trima kasih as". Jawab ibu masih lemah.
"Iya bu sama-sama, ibu mau sarapan? Asty sudah belikan ibu bubur ayam. Asty suapin ya bu". Asty berlalu ke dapur, ia kembali dengan semangkuk bubur ayam di tangannya.
"Ibu makan dulu". Asty menyuapi ibunya.
Air mata ibu kembali menetes, iya merasa iba dengan kejadian yang menimpa asty, tapi ia juga kasihan pada erina yang menanggung malu atas perbuatan sendiri.
Selesai makan, ibu kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi setengah duduk.
"Asty, apa kamu mau memaafkan erina?". Tanya ibu pada asty, suaranya pelan.
Sementara Erina masih ada di kamarnya, ia takut untuk keluar. Takut ibu pingsan lagi.
Asty berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan ibu.
"Asty belum tau bu. Asty masih belum bisa melupakan kejadian ini, maafkan asty ya bu. Asty masih kecewa". Jawab erina bijak.
Ibu juga belum tau siapa bapak dari janin yang di kandung erina.
Bapak juga belum cerita ke ibu, karena sejak bangun tadi bapak langsung mengajak arga jalan-jalan.
__ADS_1
Bapak takut kalau arga masih mengingat kejadian semalam, ia masih kecil harusnya yang ia lihat adalah hal yang baik-baik.
Setelah mereka pulang.
"Mama, arga di beliin ikan kecil-kecil sama kakek. Lihat nih ma, lucu kan?". Arga berjingkrak kegirangan.
"Iya, bagus-bagus ikannya". Asty berusaha tersenyum
"Ayo sini, ikannya kakek taruh di toples ya. Biar bisa berenang". Bapak mengambil toples bening, agar ikannya kelihatan. Arga terlihat bahagia sekali.
"Nahh sekarang arga main sendiri dulu yaa". Ucap bapak.
"Baik kek". Jawab arga.
"Anak pintar". Ucap kakek mengusap lembut rambut cucunya.
"Iya pak bisa". Asty menghampiri bapak.
"Asty, bagaimana menurut kamu? Apa masih mau melanjutkan pernikahanmu dengan anto?". Tanya bapak pelan.
"Asty masih ragu pak. Asty bingung, mas anto suamiku, papa dari anakku. Dan erina adikku, ia juga sedang mengandung anak mas anto. Nanti akan asty pikirkan pak, mohon bapak bantu doa untuk asty ya pak". Jawab asty.
"Pasti nak, bapak percaya sama keputusanmu nanti. Kamu anak yang kuat, pasti bisa melewati ini semua". Ucapan bapak selalu menguatkan asty.
"Jadi erin hamil dengan anto?". Tiba-tiba ibu sudah berada di pintu tengah.
Kakinya gemetar, seakan tidak kuat menyangga berat tubuhnya. Dan terjatuh lagi.
"Bu bangun bu, ibu harus kuat. Agar kita bisa mencari jalan keluar buat anak kita". Bapak mengguncang tubuh istrinya.
__ADS_1
"Paaaak, benarkah yang ibu dengar tadi?". Tanya ibu dengan suara lemah, matanya berkaca-kaca.
"Syukurlah ibu sadar, ayo kita ke kamar ya? Ceritanya nanti saja".apak memapah ibu menuju ke kamar.
Di baringkannya tubuh renta itu.
"pak, Jawab ibu". Pinta ibu.
"Iya bu". Bapak menunduk kecewa.
Erina memberanikan diri keluar dari kamarnya. ia dekati asty.
"Mbak, maafkan aku yaa. Aku tau aku salah, aku siap menerima hukuman dari mbak. Asal mbak mau memaafkan aku". Erina terisak, ia bersujud di kaki asty.
"Mbak belum tau, apakah perbuatan kalian pantas di maafkan atau tidak!". Jawab asty pelan tapi ketus.
"Tolonglah mbak, jika mbak ingin agar aku menggugurkannya pun aku mau mbak asal mba memaafkanku". isak asty memelas.
"Sudah gila kamu erin, bayi itu tidak bersalah. Tapi perbuatan kalianlah yang membuat dia ada, dasar tidak punya hati!". Masih tetap dengan nada ketus.
Sebenarnya di hati kecil asty, ia merasa kasihan pada adiknya.
masa depannya hancur atas perbuatannya.
Kini ia harus menanggung hasil dari semua itu.
Apa kabar anto.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1