Perseligkuhan Suami

Perseligkuhan Suami
Cucu Pertama


__ADS_3

"Ibu bapak apa kabar?". Tanya asty, setelah kedua orang tuanya duduk di ruang tamu, teh hangat dan beberapa cemilan terhidang di meja.


"Kabar kami baik asty, sudah lama bapak ingin sekali ke sini. Tapi kamu tau sendiri keadaan keluarga kita nak, bersyukur biaya sekolah erin kalian membantunya. Bapak berterima kasih sekali sama kamu dan suamimu sudah mau membantu adikmu". Ucap bapak, dengan mata yang berkaca-kaca. Ada rasa rindu di sana, dan keadaanlah yang membuat mereka jarang bertemu.


"Aah sudahlah pak, itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai seorang anak dan seorang kakak. Bapak tidak usah sungkan. Kehadiran bapak sama ibu saja yang selama ini asty rindukan, asty mohon maaf karena kesibukan mas anto jadi kami tidak bisa berkunjung menemui bapak, ibu serta erin". Mata asty pun berkaca-kaca.


"Oh iya di minum dulu tehnya pak, bu. Mumpung masih hangat, sebentar asty panggilkan mas anto". Asty berlalu meninggalkan mereka.


"Rumah anto besar ya pak? Berbeda dengan rumah kita, pantas saja asty betah di sini seakan lupa dengan kita". Ucap ibu asty, seakan iri dengan keadaan anaknya.


"Husssh jangan bicara seperti itu bu, harusnya ibu itu bersyukur asty mempunyai suami yang baik dan mapan seperti anto, toh mereka tidak menyusahkan kita". Bapak mengingatkan ibu.


"asty itu anak yang baik, jadi ia pantas mendapatkan yang baik juga". Sepertinya bapak tidak suka dengan ucapan ibu tadi.


"Bapak dan ibu sudah datang rupanya, apa kabar pak, bu?". Anto segera mencium tangan kedua mertuanya.


"Kabar baik nak anto, loh nak anto ndak berangkat kerja??". Ibu balas bertanya.

__ADS_1


Asty heran, kenapa ibu lebih bersemangat ketika mas anto yang menemui.


"Oh saya ijin kantor beberapa hari untuk bekerja dari rumah bu. Kasihan asty kalau harus mengurus rumah dan si kecil sendiri, sementara ia belum pulih benar". Jelas anto.


"Coba kakek mau gendong cucu kakek". Bapak berdiri dan meminta arga yang ada di gendongan asty.


"Oh iya pak boleh". Asty menjawab, dan membantu menggendongkan arga pada kakeknya.


Berbeda dengan ibunya yang seolah-olah tidak tertarik dengan keberadaan sang cucu. Asty berusaha menepiskan pikiran tentang ibunya, mereka sudah mau berkunjung saja ia sudah bersyukur.


"Gantengnya cucu kakek hmmmmh wanginyaa, iapa namanya asty?". Tanya bapak.


"Nama yang bagus, ibu mau gendong cucunya bu?". Bapak balik bertanya pada ibu.


"Nanti saja pak, ibu masih capek ini". Jawab ibu memberi alasan.


Degg!!. Bapak heran dengan alasan ibu.

__ADS_1


'bukannya kedatangannya ke sini dengan alasan hendak menengok cucu?'pikir bapak dalam hati.


"Ohh ya sudah, arga sama kakek saja ya". Bapak senang, tidak peduli dengan alasan istrinya yang belum mau menimang cucunya. Akhirnya bisa menimang cucu dari anak pertamanya itu, hal yang sangat luar biasa. Sementara ibu masih berbincang-bincang dengan anto.


Asty sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk mereka ber'empat, ia membiarkan arga sama kakeknya, toh mereka tidak setiap hari ada di sini. Jadi biarkan bapak menggendong puas cucunya.


Nasi goreng, krupuk dan timun sebagai lalapan untuk sarapan mereka kini telah siap di meja. Asty'pun mempersilahkan kedua orang tuanya.


"Sini arga sama mama dulu ya sayang, biar kakek sarapan dulu". Ucapnya lembut pada si kecil.


"Papa temenin kakek sama nenek sarapan ya, biar arga sama mama dulu". Ucap asty dengan suara menirukan anak kecil, seolah arga yang berbicara.


Anto tersenyum sambil menoel hidung mancung istrinya dengan mesra.


"Iyaa sayaangg". Jawab anto masih dengan senyum di bibirnya. Yang jelas hati anto saat itu berbunga-bunga, tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata.


Mereka menikmati sarapan pagi bersama, tidak ada perbincangan di sana.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2