Perseligkuhan Suami

Perseligkuhan Suami
Keputusan Asty


__ADS_3

Tiga hari berlalu.


Selama itu anto tidak konsentrasi dalam pekerjaannya, apa yang ia kerjakan pun selalu salah.


Dan atasan pun datang ke ruangan anto..


"Maaf pak anto,tolong kalau anda sedang ada masalah keluarga, selesaikanlah dulu. Saya beri waktu tiga hari untuk anda ambil cuti,selesaikan masalah keluarga anda. Setelah semuanya beres,barulah kembali bekerja.!" Saran pak Arya atasan anto.


"Baik pak,terima kasih sarannya. Saya akan segera selesaikan masalah saya dan saya mohon pamit pak." Jawab anto.


"Silahkan". Ucap pak boss.


Anto menjalankan mobilnya, ia hendak menyusul asty ke rumah mertuanya.


Tanpa kembali ke rumah terlebih dulu, ia lajukan mobilnya.


Malam harinya ia sampai juga di kampung halaman asty.


"Tok.tok.tok". Suara ketukan pintu, Anto menunggu pintu di buka.


Bapak membukakan pintu.


"Oh kebetulan sekali kamu datang, mari masuk dan duduklah". Bapak menyuruh menantunya untuk duduk.


"Asty ! tolong buatkan teh hangat satu". Sengaja bapak tidak mengatakan kalau minuman itu untuk anto, jika tau siapa yang datang sudah pasti ia tidak akan mau membuatkannya.


"Iya pak, tunggu sebentarr". Suara asty dari dapur, suara yang tiga hari ini tak pernah anto dengar, ia rindu suara asty.


Ingin rasanya ia menghampiri dan memeluk si empunya suara itu.


'Kalau saja tidak ada bapak, pasti sudah ku temui asty' gumamnya.


Asty pun keluar, ia membawa nampan yang berisi satu gelas teh hangat.

__ADS_1


Asty belum menyadari siapa yang datang malam itu, ketika ia menunduk hendak memberikan minuman itu tak sengaja ia menoleh ke arah tamu bapak.


Seketika mimik wajahnya berubah.


"Kamu !!". Asty terperanjat


"Iya ini aku asty, aku kangen sama kamu dan arga. Mau kan pulang bersamaku malam ini ?". Jawab anto seraya mengajak asty pulang.


"Tidak ! Aku masih ingin di sini, kalau kamu mau pulang, pulang saja sendiri sana !!". Tolak asty ketus.


"Tapi rumahmu di sana asty ". Jawab anto memelas.


"Siapa bilang ?! Rumahku itu ya di sini, di kampung ini. Itu kan rumahmu, makanya kamu bisa berbuat semaumu !!". ucap asty tanpa basa basi.


"Begini nak anto, kebetulan kalian kumpul di sini sekarang. Jadi menurut bapak lebih baik kalian selesaikan semuanya saat ini juga ". Jelas bapak tegas.


Kebetulan ibu dan arga sudah tidur, karena malam ini arga memilih tidur sama kakeknya.


Jadi mereka bisa bicara tanpa takut ibu sakit lagi.


"Erin, keluar kamu bapak tau kamu belum tidur. Sekarang selesaikan masalah kalian di sini !". Bapak memanggil erin untuk berkumpul.


Erin membuka pintu, wajahnya kusut rambut acak-acakan. Ia berjalan gontai menuju ruang di mana mereka berada.


"Duduk !". Perintah bapak ketus.


"Sekarang bapak ingin tau, sejak kapan kalian menjalin hubungan?!". Bapak mulai bertanya, seperti hakim dan terdakwa yang hendak di adili.


"Sejak sebelum mbak asty hamil yang kedua pak". Jawab erina menunduk..


"Jadi kalian melakukannya atas dasar suka sama suka?!". Tanya bapak lagi..


"Iya". Jawab erin singkat. Sambil sesekali melirik anto yang diam saja.

__ADS_1


"Kalian tau resiko dari perbuatan kalian??". ucap bapak.


"Iya kami tau dan menyadari resiko yang akan terjadi". Jawab erin.


"Kalian sudah tau resikonya, tapi kalian tetap melakukannya. Dasar b***h !!" Suara bapak gemetar.


"Lalu sekarang apa yang akan kalian lakukan, dengan keadaan yang sudah seperti ini??". Tanya bapak lagi.


Mereka diam dan menunduk, kacau.


"Asty, bagaimana keputusanmu nak ??". Pandangan dan pertanyaan bapak beralih pada asty.


"Keputusan asty menikahlah dengan erin mas, dan ceraikan aku. Erin lebih butuh kamu ". Suara asty pelan, tapi menusuk keduanya.


Anto terbelalak mendengar keputusan asty,


"Tidak asty, kamu tidak boleh gegabah. Ingat ada arga dan calon adik arga di antara kita, apa kamu tega kalau arga kehilangan sosok ayah?". Protes anto, suaranya bergetar matanya berkaca-kaca.


"Terserah kamu mas, itu keputusanku." Jawab asty tegas.


"Tolonglah as, jangan pisah dari mas. Kasihan anak-anak kita nantinya". Anto memohon dengan berlutut di hadapan asty.


"Aku ikhlas mas, toh kalian saling suka. Jadi aku tidak mau jadi penghalang di antara kalian". Keputusan asty sudah bulat.


"Maafkan aku asty, aku mohon". Ucap anto


Bapak menepuk punggung asty pelan, menenangkan asty.


"Asty kalau itu keputusanmu, bapak tidak melarangmu nak. Bapak tau kamu anak yang kuat, jadi kamu mampu mengatasi masalahmu sendiri". Bapak mendukung asty, karena tidak ada gunanya lagi pria seperti itu di pertahankan.


"Maafkan asty ya pak?". Asty memeluk tubuh renta bapaknya.


Anto dan erin saling pandang, tak tau apa makna tatapan mereka berdua.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2