
Hari menjelang pagi.
Hari ini asty memutuskan untuk pulang kampung,
ia tengah bersiap-siap.
Ia bereskan rumah terlebih dulu sebelum ia pergi.
Setelah semua beres, ia bangunkan arga.
"Nak bangun ya, kita ke rumah kakek hari ini". Ucap asty seraya membangunkan arga.
Arga berusaha membuka matanya.
"Kita ke mau ke rumah kakek lagi ma?". Arga bertanya, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Iya sayang, kita ke rumah kakek". Jawab asty dengan senyum kegetiran.
"Horeeee! Arga bisa main di kebun lagi bareng kakek, tapi sama papa kan ma?". Arga bertanya lagi.
"Tidak dulu ya sayang, kan papa harus kerja. Nanti kalau papa tidak kerja arga jajan pakai apa dong?". Jawab asty sambil membereskan pakaian arga yang hendak di bawa.
"O iya, trus kita ke sana naik apa dong ma?". Tanya arga yang semakin besar semakin cerewet dan pintar.
"Kita naik bis aja, gimana?". Asty menawarkan.
"Oke, arga juga suka". Arga menyetujui tawaran mama'nya.
Setelah selesai berkemas, asty memandikan arga terlebih dulu baru setelah itu ia pun mandi, tubuhnya terasa segar.
__ADS_1
Semua sudah beres, sekarang tinggal menunggu angkot. Asty meletakkan kunci rumah di tempat yang hanya di ketahui oleh anto dan dirinya saja.
ia baru akan membalikan tubuhnya, saat itu anto datang.
Wajahnya kusut masam, karena semalaman tidak bisa tidur. Anto kaget melihat anak istrinya sudah siap untuk pergi.
"Kalian mau ke mana sayang?". Anto bertanya, suaranya parau.
"Arga mau ke rumah kakek pa, sama mama naik bis". Arga yang menjawab senang.
"Naik bis?? Papa antar saja ya, kasihan dede bayi nya. Kalau harus naik turun bis kan cape". Pinta anto.
"Tidak usah sok perhatian kamu mas, urus saja kandungan erina. Kami tidak butuh perhatianmu. Ayo nak kita berangkat". Jawab asty ketus tanpa menoleh, ia seakan jijik melihat wajah suaminya.
"Tapi asty, kita bisa bicarakan baik-baik". Ucap anto, ia mengejar asty mencoba mencegah kepergiannya.
'Kenapa aku merusak kebahagiaan ini, maafkan papa arga ,papa akan perbaiki semua. Asalkan kalian mau kembali'.
Anto terisak, kali ini ia tidak peduli dengan dirinya. Ia berubah menjadi lelaki cengeng karena perbuatannya.
Anto kembali kerumah ia mengambil kunci dari tempat persembunyiannya.
Ia masuk ke dalam rumah, dan membersihkan tubuhnya.
Tiba-tiba. 'kruyuukkkk'. Cacing dalam perutnya bersuara.
"Pasti asty sudah masak". Ia bicara sendiri
sambil melangkah, di dapatinya meja makan itu bersih.
__ADS_1
"Hmmmm". Dengusnya.
Terpaksa ia rebus mi instan untuk mengisi perutnya.
Saat ini ia hanya merenung, tidak masuk kerja lagi. kali ini benar-benar ijin.
pikirannya kacau sehingga kerjapun pasty tidak maksimal.
Anto menyandarkan tubuhnya di sofa panjang depan tv. ia memikirkan jalan apa yang akan ia tempuh untuk menyelesaikan masalahnya.
Bagaimana kalau kedua mertuanya tahu akan hal ini, pasti tidak ada ampun lagi.
Pusing.
......................
Begitu juga dengan erina.
seandainya waktu itu ia memilih menolak melakukannya, pasti ini tidak akan terjadi.
Ia menyesal dan malu, apa kata kedua orang tuanya nanti, apa kata tetangga dan juga teman-temannya.
kalau di gugurkan, ia teringat kata-kata anto, itu hanya akan menambah dosa saja.
'kenapa dia baru ingat dosa setelah semua terjadi'. Gumamnya
'Baiklah aku tunggu sampai anak ini lahir'. Erin memutuskan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1