
Pagi hari..
Erina saat ini akan pulang ke kampung, ia merasa butuh tempat sandaran untuk mengadukan kegundahan hatinya.
Ia butuh ibu, ibu yang selama ini selalu menyayanginya, selalu memperhatikannya.
selalu ada di setiap suka dukanya.
'Aku harus cerita pada ibu, mas anto juga tak mengunjunginya sejak malam itu. Mungkin tidak di perbolehkan keluar sama mbak asty'. Gumamnya.
Erina bejalan menunggu angkot yang menuju ke terminal.
'Hanya ibu harapanku saat ini". Ia berkata dalam hati.
Angkot pertama datang, erina segera melambaikan tangannya menyetop dan masuk ke dalamnya.
Dalam hati ia menimbang-nimbang, iapun tau kalau ibu punya riwayat sakit jantung yang kapan saja bisa kambuh, apalagi jika ia mendengar kabar yang tidak baik.
'Lalu bagaimana aku akan bercerita". Pikirnya dalam hati.
Angkot sudah sampai di terminal, karena jarak tidak terlalu jauh.
Erina mencari bis jurusan Kota Bandung.
Sesudah menemukannya, erin membayar tiket, lalu duduk di kursi bagian tengah.
Ia menyandarkan tubuhnya.
Usia kandungannya yang menginjak delapan minggu belum terlihat, hanya ibu-ibu yang sudah mengalami yang bisa memperhatikan perubahan bentuk tubuh orang yang sedang mengandung.
Erina tertidur di dalam bis.
__ADS_1
......................
sore hari.
Erina sampai di kampung halaman.
Ia kaget melihat arga ada di sana.
Langkahnya jadi lambat ia takut juga ada di sana.
Dan tak berapa lama, benar juga ia melihat kakakknya keluar dari dalam rumah ibu.
"Arga sayang, sudah sore. Mainnya sudah ya, kita mandi dulu nanti keburu dingin. Ajak asty pada anaknya, ia belum melihat kedatangan erina.
karena erin sengaja memperlambat langkahnya.
Arga dan asty masuk ke dalam lagi,
"Ee mbak erin apa kabar? Lama ya baru keliatan". Seorang tetangga yang kebetulan lewat menyapa erin.
"Oh kabar baik bu, iya saya baru saja sampai bu. Mari mampir dulu bu". Jawab erina sambil berbasa-basi.
"Syukurlah, lain kali saja saya mampirnya. Ibu pamit dulu ya? Mari mbak erin". Ibu itu berpamitan dan melanjutkan langkahnya.
Erina pun melanjutkan langkahnya.
"Ibu Erina pulang bu". Erina memanggil ibunya, yang saat itu ada di dapur.
Ibu berlari kecil ke arah depan.
"Kamu pulang juga nak, ibu kangen". Ibu langsung memeluk erina, begitu juga dengan erina menyambut pelukan ibunya.
__ADS_1
sambutan yang berbeda ketika asty yang datang.
"Erina juga kangen ibu". Erina terisak haru.
"Kamu baik-baik saja kan?". Tanya ibu.
pandangannya naik turun dari ujung kepala hingga ujung kaki bergantian.
"Iya bu erin baik-baik saja, buktinya saat ini ada di hadapan ibu tak kurang suatu apapun kan". Erina meyakinkan ibunya.
"Iya ibu percaya kok. Ayo masuk, kakakmu juga ada di dalam lagi mandiin arga". Ibu nya menjelaskan.
Erina sudah tau tapi ia pura-pura tidak tau.
"Ibu buatkan teh dulu ya, kamu duduk dulu pasti lelah". Ibuu masuk ke dalam.
"Oh ya kapan mereka datang bu". Tanya erina, setelah ibunya keluar dengan membawa segelas teh hangat.
"Baru kemarin sore, katanya arga kangen sama kakeknya. Ayo di minum dulu tehnya". Jelas ibu, sambil mempersilahkan erina untuk minum.
Jantung erina berdesir, sepertinya mbak asty belum cerita ke ibu. Atau memang ia datang ke sini hanya untuk menenangkan pikirannya saja dengan alasan arga. 'Sebenarnya dia kakak yang baik, hanya aku saja yang tidak menghargainya'. Gumam asty.
"Cuma mereka berdua kah bu?". Erina penasaran.
"Iya cuma berdua, kenapa?". Ibu mengerutkan dahinya, curiga ada sesuatu.
"Ndak apa-apa bu, cuma tumben aja suaminya ndak ikut". Jawab erina.
Cukup lama mereka berbincang.
Bapak belum pulang dari kebun. Asty juga sepertinya sekalian mandi jadi lama.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...