
Keesokan harinya.
Setelah anto berangkat kerja, tugas rutinnya sebagai ibu rumah tangga asty kerjakan.
Sebelum si kecil bangun semua harus sudah beres.
Jadi nantinya tinggal mengurus anaknya..
Setelah semua beres, masih ada waktu untuk menelfon ibu..pikirnya.
'tuuutt tuuutt tuuuuutt'. Nada telepon terhubung.
"Halo bu....apa ibu sibuk?". Tanya asty setelah telepon tersambung.
"Ndak kok ibu ndak sibuk, bagaimana asty? Apa kamu mau memberikan jawaban itu pada ibu sekarang?". Ibu berharap ada kabar baik hari ini.
"Iya bu semalam kami sudah bicarakan, dan mas anto setuju". Jawab asty sesuai keputusan tadi malam.
"Nah gitu dong, bukankah kalian harus tolong menolong. Dan antara kakak dan adik itu tidak ada hitung-hitungan". Ibu tersenyum puas atas jawaban asty serta menegaskan, bukannya terima kasih tapi malah menceramahi asty.
Dasar egois.
"Iya sudah dulu ya bu, asty tutup teleponnya". Pamit asty.
__ADS_1
"Oke". Jawab ibu.
Sebenarnya berat ketika asty memutuskan itu, tapi mau bagaimana lagi.
Ibu memintanya dan seakan memaksa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ibu menyampaikan kabar itu pada suaminya, kebetulan hari ini bapak tidak ke kebun karena ada pekerjaan lain..
"Pak baru saja asty telepon ibu, dan ia mengabarkan kalau mereka setuju bila nanti erina tinggal di sana". Ibu berbicara dengan senyum yang melebar.
"Ya sudah, tapi apa ibu sudah bicarakan sama erina juga? Kan ia yang akan menjalaninya". Bapak memastikan.
Padahal erina juga belum memberikan jawaban pasti. Begitulah ibu erina yang memastikan dan memutuskan sendiri.
Dan ibu juga mencari erina untuk mengabarkan hal ini juga,
erina jg sudah bersiap untuk mendaftar ke sekolah terdekat.
"Erina, sebentar ibu mau bicara". Ibu mengejar erina yang sudah di ambang pintu.
"Ada apa lagi bu? Ini erina sudah terlambat, teman-teman erina sudah menunggu dari tadi". Jawab erina.
__ADS_1
"Sebentar nak, mending kamu urungkan saja mencari sekolah di sini. Ibu ingin kamu sekolah di kota, nah kebetulan tadi kakakmu sudah menyetujui kamu tinggal di sana". Ibu menjelaskan.
"Ibu kok kaya maksa banget agar erina tinggal di sana sih bu? Apa karena mas anto itu kaya, toh belum tentu erina betah tinggal di sana bu". Erina menjawab.
Ia ragu-ragu dengan keputusan ibu, apakah ia bisa menjalani kehidupan di kota tanpa ibu.
Itulah yang ada di pikiran erina, karena selama ini ia tidak bisa apa-apa selain sekolah.
Merawat pakaian sendiri pun ibu yang mengerjakannya.
Erina sedih, ia takut hidup jauh dari ibunya.
"Bu erina takut di sana sendiri, ibu kan tau erin tidak bisa mengerjakan apa-apa. Erina takut merepotkan mba asty nantinya". Erina memohon, agar ibu tidak memaksanya.
"Erina, kamu tidak sendiri nak. Ada kakakmu di sana kok, lagian mana tega mbak asty sama kamu. Dia kan baik, terus nanti ibu juga akan sering-sering ke sana untuk kamu. Sudah ndak usah cemberut gitu, besok kita ke rumah mbak asty". Ibu meyakinkan erina, agar anak itu mau.
Dan akhirnya erina pun mengikuti keinginan ibunya.
"Ya sudah bu erina mau, tapi ibu harus janji sering tengok erina di sana. Siapa tau erina butuh bantuan ibu". Persetujuan bersyarat dari erina.
"Iyaa ibu janji". Sambil mengacungkan dua jari pertanda ibu berjanji.
Ibu tersenyum puas. Akhirnya keinginan untuk anaknya sekolah di kota pun terlaksana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...