Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 21. Rencana Aini


__ADS_3

Banyak hal yang berubah dari kehidupan Indira, kini dia dan Fika tak sedekat dulu. Athaya selalu meminta Fika untuk menjauhi Indira, dia tak ingin calon istrinya itu terhasut oleh Fika. Sebab Athaya tau, jika kekasih Fika adalah sahabat Dirga. Begitupun dengan Carel, yang kini lebih memilih untuk ikut bersama Papa Zaydan dan Mama Febri ke Jogjakarta. Sejak dulu, Carel sangat menyayangi Fika dan juga Indira. Mengingat keduanya sudah memiliki kekasih, Carel lebih memilih pindah ke Jogjakarta. Sebab dia merasa jauh dengan Fika dan juga Indira, padahal mereka selalu bersama-sama.


Setelah pertunangannya dengan Athaya, kini Indira menjadi orang yang lebih menutup rapat dirinya. Termasuk pada kedua orangtua dan juga keluarganya. Indira mendapat kabar jika Alan mengalami kecelakaan, ingin rasanya dia melihat kondisi Kakaknya itu. Tapi semua itu dia urungkan, Indira lebih memilih menemani Elmira menjaga Sweta dan juga Ibam keponakannya.


Elmira merasa sakit, dia tak bisa lagi melihat senyuman indah diwajah Indira.


"Dek, ngelamunin apa sih?" Elmira menepuk bahu Indira.


"Eh, gak ngelamun kok! Ini lagi liatin Ibam, makin sini pipinya makin gembul! Gemes banget pengen gigit, hehehe," Indira mencubit gemas pipi ponakannya yang sedang terlelap tidur.


"Kamu jadi KKN di Sukabumi?" tanya Elmira.


"InshaAllah jadi, Kak! Do'ain lancar ya semuanya," Indira tersenyum pada sang Kakak.


"Pasti dong, kamu harus cepet lulus. Biar cepet dihalalin sama Babang Athaya," Elmira sengaja menggoda Indira untuk tau respon sang adik.


Hening.......


Melihat reaksi sang adik, Elmira yakin jika adiknya itu tak memiliki perasaan pada Athaya. Dia lebih memilih meninggalkan Indira bersama lamunannya.


"Pasti semuanya berat buat kamu, Dek! Kakak cuman bisa mendo'akan yang terbaik untuk kamu, Dira," lirih Elmira dibalik pintu.


Indira meremas kalung yang tak bisa dia lepaskan, dibalik jilbabnya. Kalung yang sempat dia simpan dalam kotak, kini dia pakai kembali. Indira tak bisa melepaskannya, hatinya sangat berat untuk melepaskan kalung berisikan cincin, nama dan liontin matahari itu.


"Aku sangat berharap, cincin ini yang kupakai dijari manisku. Bolehkah aku masih mengharapkanmu, Mas Yoga? Apa kamu sudah bahagia dengannya?" Indira menatap cincin itu, satu buliran airmata berhasil lolos. Dengan cepat, Indira menghapus airmatanya.


Sedangkan Rumah Sakit Sartika Asih, kini Dirga masih terbaring lemah. Operasinya sudah selesai, namun Dirga masih harus melalui masa pemulihan.


"Sya-fa, sya-fa, sya-fa," gumam Dirga dalam tidurnya.


"Yaa Allah, Papa! Mama gak tega liat anak kita kaya gini," tangis Mama Dirga pecah ketika melihat kondisi sang anak, dimana Dirga selalu menyebut nama Syafa dalam tidurnya.


"Kak Dirga udah terlalu banyak mengalami kepedihan, Aini janji! Aini bakal berusaha buat mengembalikan kebahagiaan Kakak!" batin Aini menatap sang Kakak.


* * *


Matahari sudah menampakkan dirinya, seorang gadis cantik kini sedang lari pagi dilapangan Sabuga, Bandung. Dia adalah Aini Clarissa Putri Dirgantara, saat ini dia duduk dibangku kelas 3 SMA. Aini memiliki wajah yang cantik dan juga cukup menarik. Dia menjadi salah satu siswi populer di sekolahnya.


"Hei, tunggu! Ini saputangan milikmu jatuh!" teriak seorang laki-laki pada Aini, tapi sayangnya Aini tak mendengarnya. Sebab kini dia sedang menggunakan earphone.


Tadinya laki-laki itu akan membiarkan saputangan itu begitu saja. Tapi melihat sebuah liontin disaputangan itu, dia mengurungkan niatnya. Laki-laki itu lebih memilih untuk menyimpan dan akan mengembalikannya nanti.


"Aini Clarissa Putri," gumam laki-laki itu saat membaca tulisan di saputangannya.


Sifat Aini hampir sama seperti Indira, dia lebih menyukai kesendirian. Sebab orang-orang mendekatinya hanya karena nama Dirgantara.


"Aku harus bisa ketemu Kak Syafa, tapi dimana?!" batin Aini ketika melihat foto Indira yang dia ambil dari ponsel sang Kakak.


"Yap! Thora Cafe & Resto! Kata Nenek, Kak Syafa selalu nyanyi disana. Dan... Ini malam minggu! Oke oke, calm down Aini! You can do it! Demi Kak Dirga," Aini sangat bersemangat untuk bertemu dengan Indira.


Sore harinya, dia sudah berada di Cafe itu. Kesendirian sudah menjadi sahabat baik Aini. Jadi dia tidak merasa risih, dia menatap Indira dan juga Athaya yang baru saja datang. Aini merasakan sakit yang sama, ketika melihat sebuah cincin tersemat dijari manis Indira.


"Permisi, Kak! Kalo mau bertemu dengan Kakak penyanyi itu, saya harus kemana ya?" Aini bertanya pada sang waiters yang membawakan minumannya.


"Oh Mbak Dira, ada keperluan apa? Biar saya sampaikan," waiters itu menjawab dengan sopan.


"Saya hanya ingin bernyanyi bersama Mbak Dira yang Kakak sebutkan tadi, tolong disampaikan, ya!" pinta Aini.


"Baik Kak, akan saya sampaikan," jawabnya.


Indira masih bersiap didalam Ruangan Cyra, kini nama Indira sudah cukup terkenal di Cafe itu. Para anak muda sangat senang mendengarkan suara Indira.


"Kamu mau nyanyi lagu apa hari ini, Dek?" tanya Cyra.


"Belum tau, Kak! Ini lagi nyari lagu dulu," jawab Indira yang kini tengah sibuk dengan ponselnya.


"Sebelum nyanyi makan dulu, ya! Aku gak mau kamu sakit," Athaya sudah menyiapkan makanan favorite Indira disana.


"Nanti aja udah nyanyi, takutnya tenggorokan aku malah gak enak," tolak Indira.


"Oke, tapi janji makan ya!" Athaya mengusap lembut kepala Indira dan Indira hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Tok tok tok


"Masuk!" teriak Cyra dari dalam.

__ADS_1


"Maaf Bu Cyra, tadi saya dapet titipan pesan dari waiters. Katanya ada salah satu pengunjung yang mau nyanyi bareng Mbak Dira," ucap asisten Cyra yang bernama Mona.


"Laki-laki apa perempuan, Mbak?" tanya Athaya yang memang cukup posesif.


"Perempuan, Pak!" jawab Mona.


"Suruh kesini aja, Mbak Mona! Makasih, ya!" Indira yang meminta.


"Iya Mbak Dira! Saya permisi," Mona pamit undur diri.


Tak lama kemudian, Aini masuk diantarkan oleh Mona.


"Sore semuanya, maaf saya mengganggu!" Aini masuk dengan sedikit gugup.


"Ih, gak apa-apa kok! Sini sini masuk," titah Cyra saat melihat Aini.


"Jadi kamu yang mau duet sama aku?" tanya Indira sambil tersenyum pada Aini.


"Iya Kak, nama aku Aini! Aini Clarissa Putri," Aini dan Indira berjabat tangan.


"Hai Aini, nama aku Indira! Indira Myesha Kirainia Syafa," dengan hangat Indira menjabat tangan Aini.


"Jadi lagu apa yang mau kamu bawain?" Cyra bertanya sambil memberikan sebotol air mineral.


"Lagu 'Sisa Rasa' dari Mahalini, gimana Kak? Boleh gak?" tanya Aini.


"Boleh, boleh kok!" jawab Indira.


"Kalo penonton suka, kamu boleh nyanyi disini sesuka hati kamu," ucap Cyra.


"Serius, Kak?! Makasih banyak ya!" Aini sangat bahagia mendengarnya, artinya akan lebih banyak kesempatan lagi untuk mendekati Indira.


* * *


Indira dan Aini kini sudah berada di stage, Cafe ini cukup ramai pengunjung. Mereka cukup terpukau dengan penampilan kedua gadis yang cantik ini.


"Selamat sore semuanya, kali ini saya tidak sendirian. Gadis cantik bernama Aini Clarissa Putri ini akan menemani saya menyanyi kali ini. Silahkan Aini, sapa semua pengunjung yang ada disini," pinta Indira.


"Kadang semesta menitipkan yang terbaik bukan untuk selamanya, tapi belajar untuk menghargai apa yang tercinta. Saya Aini Clarissa Putri, akan membawakan lagu ini bersama Kak Dira," ucap Aini.


Keduanya sama-sama memetik Gitar, semua orang terpukau bahkan suasana sangat riuh dengan tepuk tangan para penonton.


(Indira)


Anugrah cinta yang pernah kupunya..


Kau buatku percaya ketulusan cinta..


Seakan kisah sempurna kan tiba..


(Aini)


Masih jelas teringat, pelukanmu yang hangat..


Seakan semua tak mungkin menghilang..


Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan..


Tak tersisa lagi waktu bersama..


(Indira & Aini)


Mengapa masih ada..


Sisa rasa di dada..


Di saat kau pergi begitu saja..


Mampukah ku bertahan..


Tanpa hadirmu, sayang..


Tuhan, sampaikan rindu untuknya.. Rindu untuknya..


(Aini)

__ADS_1


Masih jelas teringat, pelukanmu yang hangat..


Seakan semua tak mungkin menghilang..


Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan..


Tak tersisa lagi waktu bersama.. Waktu bersama..


(Indira)


Mengapa masih ada..


Sisa rasa di dada.. Di saat kau pergi begitu saja..


Mampukah ku bertahan..


Tanpa hadirmu, sayang..


Tuhan, sampaikan rindu untuknya...


(Aini)


Oh, masih tersimpan..


Setiap kеnangan..


Semua cinta yang kau beri..


Kau takkan terganti..


(Indira & Aini)


Mеngapa masih ada.. Masih ada..


Sisa rasa di dada.. Rasa didada..


Di saat kau pergi begitu saja..


Mampukah ku bertahan..


Tanpa hadirmu sayang..


Tuhan, sampaikan rindu untuknya..


(Indira)


Sampaikan rinduku untuknya..


Athaya hanya menatap nanar sang calon istri yang sangat menghayati setiap lirik lagu, seolah dia tengah merasakan kerinduan pada seseorang. Selesai menyanyi, Indira menghampiri Athaya yang sudah menyiapkan makanan dimeja.


"Suara kamu bagus sayang, semua orang sampe terpukau," Athaya memuji Indira.


"Bukan cuma aku, tapi Aini juga. Suaranya bagus banget, aku mau tiap minggu nyanyi sama dia!" Indira sangat bahagia, dan Athaya bisa melihat itu semua.


Aini menghampiri Indira, ketika Athaya pergi ke toilet.


"Makasih ya, Kak Syafa! Makasih udah mau duet bareng aku, aku bahagia!" Aini memeluk tubuh Indira.


Deg!


Panggilan itu....


Indira larut dalam lamunannya, hingga tak sadar Aini sudah pergi berpamitan. Ditengah keterkejutannya, Indira memilih untuk melanjutkan makanannya.


"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu," batin Indira sambil mengusap kalung yang tersimpan dibalik jilbabnya.


Sedangkan di parkiran, seorang laki-laki memanggil nama Aini.


"Tunggu! Aini, ini milikmu!" teriaknya mencoba memanggil Aini, tapi sayangnya Aini sudah melajukan Vespa Maticnya.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2