
Sungguh kacau, itulah ungkapan yang tepat bagi Athaya saat ini. Dadanya bergemuruh hebat, emosinya kembali membuncah. Bagaimana tidak, tunangannya itu lebih memperhatikan oranglain ketimbang dirinya. Mungkin memang belum ada cinta diantara mereka, tapi Athaya sangat kecewa dengan sikap Indira.
"Astaghfirulloh, astaghfirulloh, kenapa aku selalu gak bisa mengendalikan emosiku seperti ini? Ini gak bener, gak bener!" Athaya mengusap wajahnya frustasi.
Mobil yang membawa Athaya melaju kerumah kedua orangtuanya, sebab Ummi Athaya kini lebih memilih tinggal di Bandung bersama Athaya. Dengan langkah lesu, Athaya masuk kedalam rumah. Baru saja dia melangkah, terdengar suara bariton Abi nya.
"Kenapa kamu tidak memberitahu jika Oma Dira meninggal? Kalo adikmu tidak memberitahu, kami mungkin tidak akan pernah tahu!"
Deg!
Athaya menghentikan langkahnya, dia menengok keruang keluarga dimana semuanya berkumpul.
"Maaf, saya gak tau kalo Abi disini. Yang saya tau, Abi sedang menikmati masa bahagia bersama madu Abi!" Athaya berucap sambil mendelik kearah Umma Fika.
"Athaya! Jaga ucapanmu!" tegur Ummi, dia tak ingin putranya itu melakukan kesalahan.
"Kenapa, Ummi? Apakah saya tidak berhak mengemukakan apa yang saya rasakan? Saya sedang kacau, Ummi! Saya harus bertanggung jawab pada seorang gadis yang pada kenyataannya dia adalah keluarga Dirgantara! Lalu saya melakukan hal bodoh, mencoba mengesampingkan Indira! Hingga akhirnya dia lebih memilih memperhatikan laki-laki yang dicintainya! Saya lelah, Mi! Lelaaaahhhh!!" semua kegundahan Athaya sudah tak bisa terbendung lagi.
Sambil menangis, Athaya memilih untuk pergi. Dan hal itu membuat orangtuanya khawatir. Mereka mencoba untuk menahan Athaya, tapi sayangnya terlambat. Mobil Athaya sudah melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Aaarggggghhhhhh.......!!! Kenapa harus seperti ini? Kenapa Yaa Allah...!!!" hanya suara isak tangis yang terdengar saat itu, Athaya mengungkapkan kekesalan dan penyesalannya.
"Aku menyesal, Dira! Menyesal! Kenapa aku harus memperdulikan gadis itu?! Dia adalah adik dari orang yang kau cintai! Kenapa harus Aini? Kenapa harus dia?!! Janjiku sudah kuucapkan, dan pantang bagiku melanggar janji, Dira!" titik terendah dari kehidupan seorang Athaya dimulai.
Tringgg....
📩 Aini Clarissa Putri
Aini masuk Rumah Sakit karena coba bunuh diri! Dimana janjimu sebagai seorang laki-laki?! Aku akan menghancurkanmu, jika kau berani ingkar! -HANDINI
Athaya panik bukan kepalang, dia segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Pikirannya sudah semrawut, dia tak bisa berpikir dengan jernih. Sekelebat bayangan Aini yang bersimbah darah dihadapannya masih menghantui dirinya.
"Kamu harus hidup, Aini! Jangan membuatku merasa bersalah seumur hidupku!" Athaya memukul-mukul stir mobilnya.
Sesampainya dirumah sakit, Athaya berlari menuju IGD. Dia bisa melihat, kedua orangtua Aini tengah menangis sambil berpelukan.
"Bagaimana keadaan Aini?" terlihat jelas kekhawatiran diwajah Athaya.
"Dia belum siuman! Kenapa kamu ingkar janji, Athaya!" Handini sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, dia menarik kerah baju Athaya.
"Orangtuamu yang tidak mengizinkanku merawatnya, Kak! Bukan aku yang tidak mau," kini Athaya yang membentak Aini.
Handini mulai melemah, dia menangis sambil memukul-mukul Athaya.
"Aku menyayanginya, Athaya! Aku menyayangi kedua adikku, hatiku sakit ketika melihat mereka tak berdaya! Cukup saat Dirga, kami mengalami kepedihan itu. Jangan Aini, dia terlalu muda untuk menghadapi kejamnya kehidupan ini! Cukup Dirga yang berkorban, jangan Aini! Jangan Aini," Handini terus menangis, hingga kemudian dia ambruk tak sadarkan diri.
"Handini....!!" teriak kedua orangtuanya.
Demi apapun, kepala Athaya rasanya ingin pecah. Dia membawa Handini masuk kedalam IGD, kemudian dia menghampiri kedua orangtua Handini.
"Om, Tante! Saya mohon, jelaskan secara rinci apa yang terjadi pada Aini? Saya akan bertanggung jawab atas Aini, Om!" dengan kesungguhan hati, Athaya bersujud dihadapan kedua orangtua Aini.
"Aini menyerah dengan hidupnya, dia belum bisa menerima kenyataan bahwa dia tidak akan bisa berjalan selama beberapa waktu ini. Dia bilang, dia menyerah! Dia tak mau membebani keluarga dengan kondisinya, dia lebih memilih untuk menyayat tangannya sendiri," Mama Aini berkata sambil terisak.
Athaya semakin tertunduk lesu, dia tidak menyangka kelalaiannya akan membuat Aini seperti sekarang ini.
"Saya akan menjaga Aini sampai sembuh Om, Tante! Saya mohon, saya bukan manusia yang bisa melepas tanggung jawab begitu saja," lirih Athaya.
"Kami hanya tidak ingin ada kesalah pahaman nantinya, kamu ini orang yang sudah memiliki pasangan hidup. Saya tidak mau putri saya mendapatkan cacian ataupun makian," tegas Papa Aini.
__ADS_1
"Tunangan saya itu mengenal Aini, Om. Dia perempuan baik, saya akan bawa dia kemari agar tidak terjadi kesalah pahaman seperti yang Om maksudkan," melihat kesungguhan dimata Athaya, akhirnya kedua orangtua Aini mengangguk.
"Baiklah, lakukan tanggung jawabmu sampai putriku sembuh," mendengar itu, Athaya sedikit bernafas lega.
Athaya menjaga Aini sepanjang malam, dia benar-benar ingin membuktikan kesungguhannya pada keluarga Aini.
* * *
Pagi hari, keluarga Athaya mengunjungi kediaman Indira. Suasana dirumah Indira memang sudah ramai, masih banyak kerabat yang datang. Ayah Fahri menyambut kedatangan keluarga Athaya dengan hangat.
"Maaf Pak Fahri, kami baru datang pagi ini. Perjalanan kemarin cukup macet, saya tiba disini malam hari. Kami turut bela sungkawa atas meninggalnya Oma, InshaAllah saat ini beliau sudah berada ditempat terbaik disisi Allah," Abi Athaya menguatkan calon besannya.
"Terimakasih, Pak Kiai. InshaAllah, kami mohon do'a terbaik saja untuk Oma. Kami semua sudah ikhlas akan kepergiannya, oh ya, dimana Athaya?" tanya Ayah Fahri membuat ketiga orang itu saling berpandangan.
"Athaya mungkin sedang dalam perjalanan, tadi kami tidak pergi bersama-sama," kilah Umma Fika yang tak ingin mencoreng nama Athaya.
Indira menyapa calon mertuanya, matanya masih sembab sisa menangis semalam.
"Ummi, Umma, Abi," sapa Indira sambil mencium tangan orangtua Athaya.
"Kami turut berduka cita ya, Nak. Bersedih boleh, tapi jangan berlarut ya," Ummi Athaya mengelus kepala Indira dengan lembut.
"Terimakasih Ummi, oh iya! Apa Fika gak ikut, Umma?" tanya Indira pada Umma Fika.
"Lho, kemarin dia katanya kesini. Emang gak ketemu?" Umma Fika cukup kaget mendengar pertanyaan Fika.
"Enggak Umma, aku tanya Theresia katanya Fika di Sukabumi," lirih Indira.
"Pasti ada sesuatu yang aku tidak tau," batin Indira.
Ummi Athaya mengirim pesan pada putranya itu, dia meminta Athaya untuk cepat datang kerumah Indira.
Assalamualaikum, Nak. Ummi dan Abi sudah dirumah Indira, tolong cepat kemari. Indira menanyakanmu!
Athaya tidak memperdulikan pesan Ummi nya, dia masih mengkhawatirkan kondisi Aini. Sampai sekarang, gadis itu belum bangun dari tidurnya.
"Aini, aku mohon bangunlah! Aku gak akan pernah maafin diri aku kalo sampe terjadi sesuatu sama kamu," lirih Athaya.
Dirumah Indira, mereka terus berbincang-bincang. Abi Athaya mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada sang anak, apalagi setelah istrinya berbisik jika Athaya tak membalas pesan yang dikirimkannya.
"Begini, Pak Fahri, Nak Dira. Sebenarnya setelah pulang mengantarkan Indira ke Sukabumi, Athaya mengalami kecelakaan. Dia menabrak seorang gadis yang sedang mengendarai motor," sontak ucapan Abi Athaya membuat Ayah Fahri dan Indira tersentak kaget.
"Apa?! Lalu apa yang terjadi pada gadis itu?" tanya Ayah Fahri.
"Dia mengalami patah kaki dan tangan, setelah melakukan operasi mungkin akan berbulan-bulan dia tidak akan bisa berjalan. Athaya berniat untuk bertanggung jawab, tapi ternyata keluarganya menolak," Ummi Athaya menjelaskan.
"Kenapa Ummi? Kenapa mereka menolak? Lalu bagaimana sekarang?" lirih Indira.
"Ummi gak tau, Nak. Tapi yang Athaya tabrak itu, putri keluarga Dirgantara. Namanya, Aini Clarissa Putri," ucap Ummi Athaya.
Bruukkk....
Mereka menoleh kearah suara barang terjatuh, Dirga tak sengaja mendengar ucapan mereka. Mendengar nama sang adik disebut, tubuhnya seketika lemas. Indira refleks menghampiri Dirga.
"Mas Yoga! Mas kenapa?" panik Indira.
"Aini Clarissa Putri Dirgantara, itu adikku, Syafa," lirih Dirga.
"Apa?!" demi apapun, Indira merasa seperti orang bodoh.
__ADS_1
Dirga bangkit dari duduknya, dia menelepon orangtuanya. Setelah mendapatkan jawaban, dia segera bangkit sambil membawa emosi yang membuat dadanya terasa sesak.
"Mas! Mau kemana, Mas?" teriak Indira.
"Aku harus melihat kondisi adikku, Syafa!" lirih Dirga.
"Tunggu, Mas! Aku ikut!" Indira segera berlari mengikuti Dirga, tanpa memperdulikan kedua orangtua Athaya yang masih berada disana.
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan diantara keduanya, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. Sesampainya disana, Dirga segera berlari menuju ruangan sang adik. Sampai tidak sadar jika dia meninggalkan Indira, karena tertinggal akhirnya Indira menanyakan kamar Aini pada suster yang ada disana.
Aini adalah orang yang paling dititipkan oleh Kakeknya sebelum meninggal, mendengar Aini tertabrak hingga patah tulang membuat Dirga emosi. Dia membuka pintu secara kasar, melihat Athaya disana Dirga lantas memberikan bogem pada Athaya.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Dirga!! Athaya!!" teriak mereka panik.
"Brengsek! Kau boleh menghancurkan hidupku, tapi jangan hidup adikku!!" teriak Dirga.
"Mas Yoga! Athayaa!" panik Indira mencoba memisahkan keduanya.
"Ini kecelakaan! Aku tidak sengaja menabraknya karena aku mengantuk! Aku juga akan bertanggung jawab!" teriak Athaya yang tak terima lalu mulai membalas tinjuan Dirga.
"Stop! Cukuuuppp!!!" teriak Indira histeris, membuat kedua laki-laki itu seketika terdiam.
"Ini rumah sakit! Kalian tidak lihat Aini masih terbaring tak berdaya?! Kalian tidak malu adu jotos dihadapan orangtua?!!" teriak Indira yang kesal.
Athaya bangkit, dia mendekati Indira dan bersimpuh dihadapannya.
"Maafkan aku, sayang! Maafkan aku," lirih Athaya.
"Aku sudah peringatkan Athaya, kalo kamu lelah istirahatlah dulu! Jangan memaksakan kehendakmu, inilah hasil keegoisan diri kamu yang gak pernah mau mendengarkan ucapanku," lirih Indira yang mulai terisak.
"Keluar kalian!! Selesaikan masalah kalian diluar!!" bentak Dirga pada kedua pasangan dihadapannya itu.
Indira tersentak kaget, dia diam tak bergeming. Tapi kemudian, Indira memilih keluar setelah mendengar ucapan Dirga.
"Aku menyerah, Syafa! Pergilah dengan kebahagiaan bersamanya, aku sudah mengorbankan seluruh hidupku untuk kamu dan laki-laki ini. Jangan khawatirkan adikku, aku akan menjaganya dengan baik," tegas Dirga.
Hati Indira teriris mendengar ucapan Dirga, dia pergi dengan tangisan yang mengalir dipipinya. Hanya penyesalan yang Indira rasakan saat ini.
"Aku menyesal tidak mencari tau apa yang terjadi padamu, Mas! Aku menyesal!" batin Indira.
Sebelum pergi, Athaya menatap Dirga dengan sendu.
"Kamu boleh membentakku, menghajarku sesuka hatimu. Tapi jangan bentak dia, dia masih sangat mencintaimu! Aku akan tetap bertanggung jawab atas adikmu!" tegas Athaya.
Setelah mereka keluar, Dirga melangkahkan kakinya ke ranjang Aini. Dia bisa melihat bagaimana kacaunya kondisi sang adik.
"Maafin Kakak, Aini. Kakak gak bisa menjaga kamu dengan baik," lirih Dirga.
"Maafin aku, Syafa. Aku menyesal sudah membentakmu," batin Dirga.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤