Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 51. Kembali Pulang


__ADS_3

Terpesona..


Aku terpesona..


Memandang, mandang wajahmu yang manis..


Terpesona..


Aku terpesona..


Menatap, menatap wajahmu yang manis..


Bagaikan mutiara bola (bola) matamu..


Bagaikan kain sutra lesungnya, lesung lesung pipimu..


Cantiknya kamu..


Eloknya kamu..


Semua yang ada padamu..


Membuat aku jadi gelisah..


Sampai aku terjadi dari mimpiku..


Yel-yel TNI AD itu menggema di Lapangan Batalyon, hari ini mereka akan kembali ke kesatuan masing-masing. Kini Dirga sudah tak sabar ingin bertemu dengan sang istri.


'Sayang.. Tunggu aku, nantikan aku! Aku merindukanmu' batin Dirga saat pesawat mulai terbang.


Sedangkan Indira, menginjak kehamilannya yang akan memasuki 6 bulan membuat Indira merasa sering kelelahan. Perutnya mulai membesar, hingga membuat Indira terkadang kesulitan berjalan. "Huh.. Huh.. Huh.. Capek!" keluh Indira.


Dia tengah menikmati cuaca pagi ini, ditemani oleh Papa dan Mama mertuanya. Indira berjalan mengitari lingkungan Batalyon. "Syafa, kok rame-rame itu di Lapangan? Mau ada acara?" tanya Papa Dirga.


"Gak tau, Pa! Coba nanti aku tanya sama Om Panca atau Om Waluyo," ucap Indira.


Tepat di belakang Indira, Athaya tengah mendorong kursi roda milik Aini dan tentu saja dengan bibit ulet keket disampingnya. Azura dengan tidak tau malu meminta ikut menginap di kediamannya. Dengan dalih kelelahan karena mencarikan jeruk bali untuk Indira.


'Cih, emang ulet keket!' batin Indira.


Entah kenapa, semenjak hamil dirinya selalu sensitif dan selalu blak-blakan. Padahal sebelumnya, Indira hanyalah seorang gadis introvert.


Mobil pajero berplat militer kini tengah berjalan kearahnya, Indira mengembangkan senyumnya. Rupanya kedua orang tua nya itu datang, tapi tak hanya satu mobil. Rupanya sang Kakak, Alana dan Husain serta Baba dan Ummi nya itu ikut datang menjenguknya.


Mobil tersebut menepi, Indira merentangkan tangannya ketika melihat sang Bunda yang baru saja turun dan berjalan ke arahnya.


"Bundaa!" bahagia Indira, bahkan tanpa sadar dia tidak memperhatikan langkahnya.


"Diraaa.....!! Syafaaa....!!" pekik mereka bersamaan, sebab Indira hampir saja terjatuh.


Indira terkaget, tapi kemudian memasang senyuman di wajahnya. "Hehehe, maaf ya! Dira kangen sama Bunda!" rengeknya manja.


Bunda Gisya mengelus kepala putrinya itu, "Bunda juga kangen sama Adek, tapi lain kali jalannya hati-hati! Kasian cucu Bunda, pasti dia kaget," ucapnya sambil mengelus perut buncit Indira.


"Bener tuh! Kan berabe kalo ujug-ujug si utun brojol, terus oek oek disini," celetuk Baba Jafran dan kemudian mendapat jackpot capitan kepiting dari istrinya.


"Itu mulut kaga pernah makan bangku sekolahan, makanya begitu!" kesal Ummi Ulil.


Baba Jafran berdecak kesal, "Ck! Bangku sekolah itu di dudukin, emang Ummi rayap? Pake makan bangku sekolahan!"


Mereka tertawa terbahak-bahak, hingga kemudian suara riuh kendaraan masuk membuat tawa mereka terhenti. Sekitar 4 truk yang membawa prajurit serta perwira tiba di Lapangan. Indira sangat berharap itu suaminya, tapi kemungkinan bukan. Sebab Indira mengetahui jadwal kepulangan suaminya itu.


Mata Indira berkaca-kaca, "Ma.. Bun.. Ummi.. Semuanya.. Ke rumah aja yuk! Aku takut gak kuat, makin besar rasa rindu ini sama Mas Yoga," lirih Indira.


Mama Dirga segera memeluk menantunya itu dan berusaha menenangkannya. "Sabar ya, Nduk. Insya Allah, suamimu akan segera kembali. Yuk! Mama tuntun kamu sampe rumah," ucap Mama Dirga.


Kali ini Indira tersenyum, mereka melangkahkan kaki mereka menuju rumah. Dengan canda tawa sepanjang jalan. "Itu yang disamping si Athaya siapa sih dek?" bisik Alana.


"Bibit ulet keket, kasian Aini!" jawab Indira sambil berbisik.

__ADS_1


Alana membulatkan matanya, "Bibit Ulet keket mah musti di basmi!" bisik Alana dan di angguki oleh Indira.


Mereka memang merasa tak nyaman dengan kehadiran Azura, hanya saja Athaya pun tak berdaya. Sebab Azura seorang perempuan dan dia pun teman baiknya selama di Turki.


Pluk


Azura berjingkrak kaget, "Athayaaaaaa.... Apa ini di kepala aku?" rengek Azura.


"Bhahahahahaha, kepala kamu kayaknya dianggap kloset! Itu taik burung," ucap Alana membuat Azura semakin merengek.


"Athaya.. Bantu aku dong, ini jijik!" rengeknya.


Alana dan Indira saling tatap kemudian mengedipkan sebelah matanya, "Heeitt enak aja! Kalian itu bukah muhrim, masa Athaya yang bersiin tu taik burung. Sini biar Kakak bantu, anak manis!" ucap Alana membuat Azura mengangguk pasrah.


Mereka berjalan beriringan memasuki halaman rumah Indira, Alana kemudian menyalakan selang dan mengguyur kepala Azura hingga gadis itu memekik kaget.


"Ah! Kakak! Apa-apaan ini?! Kenapa main guyur kepala aku?!" kesal Azura.


Bukan hanya Azura, tapi keluarga mereka pun sama kagetnya. "Mail! Kamu ngapain sih? Itu anak orang udah kayak kucing kamu guyur begitu!" tegur Ummi Ulil.


"Ckck! Ummi, aku kan cuman bantuin dia buat bersihin taik burung yang ada di kepala sama baju nya! Selain itu, aku juga lagi coba bersihin hati sama kepala dia yang mulai terserang virus uler keket! Dia terlalu nempel sama Athaya, sampe jadi parasit buat hubungan keduanya. Lihat Aini! Dia kecewa tapi tak bisa berucap!" jelas Alana membuat mereka semua terkesiap.


Sedangkan Azura hanya menunduk dan mengepalkan tangannya menahan kesal. "Aku sama Athaya itu temen deket! Bahkan selama di Turki kami selalu bersama-sama, Athaya gak pernah bilang kalo dia bakalan nikah! Lagian sebelum janur kuning melengkung, atau sekalipun ada pernikahan, aku gak akan pernah jauhin Athaya!"


Prok.. Prok.. Prok...


Tepuk tangan Baba Jafran membuat mereka keheranan, "Masih muda, cantik, kulitnya putih seputih kramik porselen, tapi sayang......"


Kalimat orang tua itu menggantung, "Kurang didikan akhlak dari orang tua nya! Masa iya gadis baik-baik akan berucap seperti itu, kuliah di Turki pula. Dengan pendidikan yang tinggi ternyata tidak menjamin akhlak seseorang. Pulanglah, Nak!"


Ucapan Baba Jafran menampar hati Azura, dia menoleh pada Athaya yang kini tengah menatap nya dengan tajam. "Aku sudah menelepon orang tua mu, tunggu saja! Mereka akan menjemputmu!" ucap Athaya dengan wajah sangar nya.


Para orang tua menasehati Azura, sangat di sayangkan jika gadis cantik itu memilih jalan yang salah. Sedangkan Athaya masuk kedalam rumah, mendotong kursi roda Aini. Dia tak ingin kehilangan kembali gadis itu.


"Maaf Aini, aku gak bermaksud buat menyakiti kamu. Aku terpaksa bawa Azura, dia selalu memaksakan kehendaknya. Aku........."


"Kak! Jangan terus minta maaf, Aini tau, paham dan ngerti kok!" ucap Aini dengan senyum mengembang di wajahnya.


Disaat mereka tengah sibuk menasehati Azura, seseorang datang mengagetkan mereka semua.


"Dirga!!!" ucap mereka bersamaan.


Laki-laki itu tampak gagah dengan seragam loreng kebanggaan miliknya, dibelakang tubuh nya terdapat ransel yang cukup besar. Mata Indira berkaca-kaca, bahkan dia tidak bisa beranjak dari tempatnya.


Setelah menyalami para orang tua, Dirga menghampiri sang istri yang tengah duduk memangku sepiring buah-buahan. "Mas Yoga."


Indira berkata dengan lirih, dia menatap manik mata suami yang sangat di rindukannya. "Kenapa pulang sekarang? Huaaaaaa........!"


Tangisan Indira semakin kencang, hal itu membuat Dirga kalang kabut. "Sayang! Kamu gak seneng Mas pulang? Padahal Mas ini rindu, lho... Mas pengen kekepin kamu di kamar lho sayang!"


Astaga!


Para orang tua gemas dengan ucapan Dirga yang mulai nyablak. "Senenglah! Tapi liat dong, aku nya kucem, bau keringet! Aku nya gak dandan buat nyambut kamu!" ucapan Indira membuat mereka semua geleng-geleng kepala.


"Masya Allah, bagi Mas, istriku ini cantik! Mau kucem mau gimana pun, Mas tetep cinta kamu!" ucap Dirga mencium kening istrinya itu.


Pletak!


"Kalo mau mesra-mesraan di dalem! Bikin orang ngiler aja," ucap Baba Jafran sambil menggetok kepala Dirga.


Sedangkan yang di getok hanya nyengir kuda memperlihatkan gigi putihnya. "Mas capek, temenin Mas ganti baju ya!" bisik Dirga tak ingin kena getokan lagi.


Indira mengangguk, dia beranjak dari duduknya. "Lho, ini mblendung apa sayang?"


Sontak ucapan Dirga membuat Baba Jafran kembali menggetok kepalanya, "Suami durjanah, setelah tanam saham di pabrik malah pakek tanya itu apa! Itu anak elu, hadeeehhhhhhh!!" gemas sang Baba.


"Sa-sayang, i-ini hasil ke-keringat kita siang malam di hotel?" tanya Dirga dengan terbata-bata, matanya kini berkaca-kaca menatap manik mata sang istri.


Indira mengangguk, sejak tadi Dirga tidak bisa melihat perut buncit Indira. Sebab dia duduk dan memakai kerudung syar'i yang menutupi perutnya. "Alhamdulillah... Hai anak Ayah dan Bunda," Dirga segera berjongkok dan mencium perut istrinya itu.

__ADS_1


Rasa haru menyeruak kedalam dadanya, hal itu juga di saksikan oleh Bian yang tengah mengantarkan barang milik Dirga yang tertinggal. "Terjawab sudah!" celetuk Bian.


Mereka menoleh kearah Bian dengan keheranan, "Eh maaf Pak, Buk! Itu loh, Komandan disana muntah-muntah terus, mau nya makan kedondong sama mangga muda terus! Ternyata betulan, Bu Danki hamil!"


"Pantesan Dira anteng! Ternyata Dirga yang mabok!" celetuk Ummi Ulil membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


* * *


Sepanjang hari mereka menghabiskan waktu berbincang dengan keluarganya. Kini Indira dan Dirga tengah berada di kamar, Dirga terus memeluk tubuh istrinya itu.


"Mas! Eungap tau, lepasin dong!" kesal Indira.


Dirga menggelengkan kepalanya, "Gak mau! Mas rindu, pengen peluk kamu sampe pagi!"


"Kasian dedek loh, Mas! Nanti kegencet," rengek Indira.


Refleks Dirga melepaskan pelukannya dan mengelus perut Indira. "Dedek gak ngerepotin Bunda kan selama Ayah gak ada? Jangan rewel ya, princes!" bisik Dirga di perut istrinya itu.


Dug!


"Sa-sayang ini........"


"Dedek seneng, akhirnya diajak ngobrol Ayahnya!" ucap Indira dengan mata berkaca-kaca.


Spechless.. Itulah yang dirasakan Dirga, ketika untuk pertama kalinya merasakan tendangan bayi yang ada dalam perut istrinya itu.


"Sakit gak?" tanya Dirga dan Indira menggelengkan kepalanya.


"Mas kok panggil princes? Kan kita belum tau jenis kelamin dedek!"


Dirga mengerenyitkan dahinya, "Emang belum periksa ke dokter, sayang?"


"Udah, Mas! Cuman aku mau liat jenis kelamin dedek barengan sama kamu, nanti kita ke dokter ya!" ajak Indira dengan antusias.


Dirga menggelengkan kepalanya, "Gak usah, sayang. Biar jenis kelamin dedek jadi kejutan, tapi Mas yakin! Dedek itu princess," ucap Dirga dengan percaya diri.


"Aku manut aja deh, Mas! Bener yang Mas bilang, biar jadi kejutan!"


Perlahan Dirga mendekatkan wajahnya ke wajah Indira. Hal itu membuat Indira gugup, "Mas mau apa?"


"Mau nengokin dedek!" bisik Dirga membuat Indira tak bisa berkutik dan hanya bisa menerima setiap sentuhan suaminya itu.


Malam ini kedua insan yang telah lama berpisah, merajut rindu dalam kehangatan ranjang mereka. Tanpa mereka sadari, jika kini para orang tua mendengar suara mereka yang cukup gaduh.


"Astaga, itu si Dirga! Udah lama gak makan kue apem kali, suaranya bikin panas!" celetuk Baba Jafran.


"Kayak setan denger ayat kursi aja!" kesal Fahri.


"Ya ampun! Kalo dirumah, udah ku kerem istriku!" Papa Dirga mengatakan hal yang membuat Baba Jafran dan Ayah Fahri tertawa terbahak-bahak.


Mereka bertiga tidur di ruang tamu, sedangkan para wanita tidur di kamar yang dekat dengan dapur. Mereka memutuskan menginap untuk saling melepaskan kerinduan pada anak-anaknya.


Kegembiraan bertemu membayar rasa sakit karena ketidakhadiran Dirga disamping istrinya, siapa lagi yang tahan? Jelas dia segera menerkam istri tersayangnya itu.


* * * * *


Hai.. Hai.. Reader tersayang! ❤


Maaf rindu jarang UP, sedang sibuk di dunia nyata nih..


Semoga kalian sehat-sehat selalu yaa..


Rindu sayang kalian, Reader 🥰😘


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2