Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Ulang Tahun Pertama, Gemma.


__ADS_3

Usai kegiatan bersama, Indira dan Dirga kembali ke rumah dinas mereka. Tak lupa Panji beserta ketiga ajudan Dirga mengikuti mereka dari belakang. Sesampainya dirumah, Indira membuatkan kopi bagi para laki-laki. Sedangkan Gemma sedang asyik bermain dengan Panji.


"Gemma! Bobok yuk sayang," ajak Indira pada putrinya itu.


"Mimii.. Mimiii.." gadis kecil itu berjalan menuju sang Bunda.


"Kak Panji aku tinggal dulu, ya! Gemma sudah waktunya tidur siang," pamit Indira pada Panji.


"Okay! Byee Gemma cantik!" Panji melambaikan tangannya pada Gemma.


Dirga menatap sahabatnya itu dengan penuh haru, dia tak pernah menyangka jika Panji telah kembali. Mata Dirga terlihat berkaca-kaca, hingga Panji pun membuang wajahnya karena dia pun menahan air mata.


"Lo ngapain tatap gue kaya gitu sih?! Jatuh cinta baru tau rasa!" Omel Panji membuat Dirga tertawa.


"Gimana kabar lo? Semuanya baik-baik aja kan?" tanya Dirga dan Panji menganggukkan kepalanya.


Sebelum berbicara, Panji menghela nafasnya. "Gue sama Fika sejauh ini baik-baik aja, bahkan kedua orang tua kita juga udah nerima semuanya dengan ikhlas. Anak Eki, bagi gue anak gue juga. Gue anggap dia kaya anak gue sendiri. Tapi gue masih sedikit heran sama Fika, dia yang sekarang jauh lebih tertutup sama gue."


"Tertutup? Maksud lo?" tanya Dirga dengan heran.


"Fika sekarang kaya mati rasa, gue ajak dia nikah dan ekspresinya ya biasa aja. Padahal udah sejak lama gue nunggu moment ini. Bahkan dengan kehadiran anak itu, gue udah ngerasa bahagia banget, Ga! Tapi entahlah, mungkin ada keraguan dalam hati dia sama gue," lirih Panji.


"Kak Panji salah!" ucap Indira yang baru saja selesai menidurkan Gemma.


"Itu bukan keraguan Fika, tapi kaya lebih ke rasa bersalah Fika sama Kak Panji. Dia ngerasa gak pantes buat berada disamping Kak Panji. Tugas Kakak sekarang adalah ngeyakinin Fika, kalo Kakak menerima semuanya dengan ikhlas. Lagian Kak Eki juga udah nggak ada, jadi gak ada lagi alasan Fika buat nolak Kakak. Karena Galih butuh sosok Ayah," Indira memberikan saran bagi Panji.


Meraka mengobrol hingga sore hari, bahkan Gemma sudah bangun dan kembali bermain bersama Bian, Panca, Waluyo dan Panji. Sementara Indira sibuk menyiapkan makan malam bagi mereka semua. Dan usai makan malam, Panji pun berpamitan karena ada beberapa hal yang harus dia urus kembali.


"Mas, semoga aja Kak Panji sama Fika bisa bersatu ya! Biar aku deket lagi sama Fika, kaya dulu. Dan Gemma bisa bersahabat baik juga sama Galih," ucap Indira membuat Dirga mengelus kepalanya pelan.


"Insya Allah sayang, kita do'akan yang terbaik ya!"


* * *


Waktu terus berlalu, hari ini tepat hari Ulang Tahun Gemma yang pertama. Seluruh keluarga Indira dan juga Dirga sudah hadir. Mereka semua membantu persiapan Ulang Tahun Gemma. Acara kali ini, Dirga mengundang anak-anak yatim piatu untuk merayakan Ulang Tahun putrinya.

__ADS_1


Yang paling antusias adalah Ayah Fahri dan Papa Dirga. Mereka berlomba-lomba ingin mendandani Gemma. Sedangkan Gemma hanya menatap dengan tatapan polos kearah dua Kakeknya.


"Gemma, pake bando kelinci dari Eyang aja ya!" ucap Papa Dirga.


"Lho gak bisa gitu, besan! Gemma cocoknya pake bando pita dari Opa ya?" ucap Ayah Fahri.


Kedua Kakek tersebut asyik berdebat, hingga akhirnya Dirga menggendong Gemma. Karena dia kasihan melihat putrinya yang kebingungan.


"Stop! Gemma hari ini pake jilbab, gak pake bando! Jadiii Ayah sama Papa stop buat debat," ucap Dirga membuat keduanya menghela nafas panjang.


Gemma tertawa melihat ekspresi kedua Kakeknya. Hingga yang lain pun ikut tertawa.


"Lagian ada-ada aja sih Opa sama Eyang nya Gemma! Hari ini, Gemma mau pake baju sama jilbab buatan Mamoy Alana lho. Cantik kan Opa, Eyang?" tanya Indira sambil memakaikan jilbab pada putrinya.


"Cantik!" jawab keduanya serempak.


"Yoo jelas! Cucu Baba gitu loh!" celetuk Baba Jafran membuat Ayah Fahri dan Papa Dirga menatapnya tajam.


"Wow.. Santai my broh!"


Setelah semuanya berkumpul, acara pun dimulai. Mereka melakukan do'a bersama yang dipimpin oleh Abi Athaya yang kebetulan turut hadir. Usai do'a bersama, Dirga dan Indira memberikan sepatah dua patah kata untuk menyambut para tamu.


"Assalamu'alaikum semuanya, saya mengucapkan terimakasih banyak. Karena semua sudah berkenan hadir mendo'akan putri kecil kami yang hari ini menginjak satu tahun. Banyak hal yang tidak bisa kami ucapkan dengan kata-kata, terutama pada semua keluarga besar kami. Terimakasih banyak telah melimpahkan kasih sayang dan cinta kalian untuk putri kami Gemma Giacinta Indirga. Semoga Allah akan membalas semua kebaikan kalian."


"Untuk Gemma putri Ayah, terimakasih sudah hadir dan menjadi pelengkap cinta Ayah dan Bunda. Semoga Gemma menjadi anak yang soleh dan berbakti pada Nusa Bangsa dan Agama. Ayah janji, Ayah akan selalu menjaga Gemma dan Bunda dengan baik."


Dirga tak bisa menahan rasa haru yang menyeruak dalam dada. Dia memeluk dan mencium putri pertamanya dengan penuh cinta. Setelah Dirga, Indira pun memberikan do'a bagi putrinya.


"Tidak ada hal yang bisa saya ucapkan, selain rasa terimakasih. Pada Ayah, Bunda, Papa, Mama dan seluruh keluarga besar. Terimakasih atas segala cinta dan kasih sayang untuk kami. Walaupun jauh, tapi kami tak pernah merasa kurang dengan seluruh kasih sayang yang kalian berikan."


"Gemma, terimakasih Nak. Terimakasih banyak sudah hadir dalam hidup Ayah dan Bunda. Segala do'a baik selalu kami panjatkan untukmu. Terimakasih sudah menjadi anak yang kuat, penguat hati dan rasa cinta Ayah dan Bunda."


Indira pun mencium dan memeluk Gemma. Gadis kecil itu hanya tertawa saat kedua orang tuanya mencium kedua pipinya.


Acara sangat meriah, karena Baba Jafran yang bertugas menjadi MC dadakan menjadi sorotan anak-anak. Tingkahnya yang lucu membuat anak-anak tertawa bahagia. Tepat pukul 12 siang, acara pun selesai. Para Bapak-bapak melaksanakan sholat dzuhur berjamaah di mesjid. Sedangkan para Ibu-ibu menyiapkan makan siang dan sholat bergantian.

__ADS_1


"Hai Gemma! Sini dong peluk, aunty Aini kangen!" ucap Aini sambil merentangkan kedua tangannya.


Gemma pun berjalan menghampiri Aini, namun saat setengah jalan tiba-tiba tubuh Gemma melayang. Gadis kecil itu pun tertawa.


"No! Jangan peluk Aunty, kasian dedek bayi nya. Mending sama Om Athaya aja ya, kitaaaa terbaaaaanggggg...!"


Athaya yang baru saja datang, langsung menggendong tubuh Gemma dan membuat nya melayang-layang. Gemma pun tertawa bahagia, hingga suara seseorang membuat Athaya tertawa kaku.


"Lo terbangin anak gue, gue buat nyawa lo terbang!"


"Hehehe, hai Kakak ipar!" Athaya tertawa kaku.


Mereka semua tertawa melihat ekspresi Dirga dan juga Athaya. "Udah deh, Ga! Kaga usah iseng sama si Athaya. Liat mukanya pucet amat kayak mayat!" bisik Baba Jafran.


"Udah dateng telat! Terus Gemma di terbang-terbangin gitu! Gimana kalo anak gue pusing, terus muntah!" omel Dirga sambil menggendong Gemma.


"Yayah! Yayah!" celoteh gadis kecil itu.


"Dasar Ayah posesif!" celetuk Athaya membuat Dirga kembali menatapnya.


"Liat aja nanti kalo udah jadi Ayah! Anak lu gue unyel-unyel ampe abis!"


Mereka kembali tertawa bersama-sama. Melepas rasa rindu dan berkumpul bersama keluarga menjadi hal yang paling membahagiakan bagi Indira dan juga Dirga. Kebahagiaan mereka semakin lengkap saat Gemma bisa tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang ceria.


* * * * *


HAI APA KABAR SEMUANYA?


DO'A APA NIH YANG KALIAN PANJATKAN BUAT GEMMA?


MAAF YA RINDU BARU KEMBALI...


SEMOGA SUKAAAA 😘😘😘😘😘


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2