Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 37. Masalah


__ADS_3

Ketika dua anak manusia sudah terikat dalam sebuah ikatan cinta yang halal, maka setiap hal yang mereka lakukan akan menjadi sebuah pahala. Termasuk menjalankan ibadah malam pertama, sayangnya kegiatan itu harus terhenti sebab sahabat karib mereka sudah menunggu.


Dengan wajah yang sedikit kesal, Indira dan Dirga berjalan berdampingan. Sebagai seorang istri, Dira bisa mengerti sikap sang suami. Melihat sahabat baiknya, Indira dengan semangat memeluk erat tubuh Fika. Airmata pun terjatuh begitu saja, kerinduan yang teramat dalam terlalu membuat kedua makhluk yang bernama perempuan itu melupakan sekitarnya.


Panji mengangkat sebelah alisnya, "Lu gak akan peluk gue gitu, Ga?" celetuk Panji membuat Dirga mencebik kesal. "Ck! Lu dateng suka gak tau waktu deh, Ji!". Walaupun kesal, Dirga tetap memeluk erat sahabatnya itu. Meskipun sama-sama berprofesi sebagai Tentara, tapi keduanya memiliki tempat dinas yang berbeda. "Selamat menempuh hidup baru untuk kalian berdua, pada akhirnya cinta kalian sudah berlabuh dalam ikatan suci," ucap Fika.


Indira mengajak keduanya untuk berbincang-bincang di halaman belakang, "Fika, mulai sekarang kamu harus terbuka sama aku. Mau bagaimanapun kamu itu tetep sahabat baik aku. Awas aja kalo kamu sampe ilang-ilangan kaya kemaren!" ancam Indira.


"Iya, Ra. Aku minta maaf ya atas semua kesalahan aku, pada saat itu yang aku pikirkan cuman kebahagiaan keluargaku. Aku juga lakuin itu semua demi kebaikan semua orang," lirih Fika. Tak ingin melihat sahabatnya menangis, Indira segera memeluknya dengan erat. "Pada akhirnya meskipun aku gak jadi sama Athaya, kita akan tetap menjadi sahabat, Fik. Bahkan mungkin ipar," ucap Indira.


Fika membulatkan matanya, "Kamu mau punya suami dua, Ra?" celetuk Fika membuat Panji dan Dirga tersedak minumannya.


Pletak!


"Kamu itu kalo ngomong suka sembarangan deh, yank! Mana ada si Dira punya laki dua, yang satu aja gagal garap gara-gara kita dateng!" ucap Panji sambil menyentil kening kekasihnya itu. "Aww! Sakit tau Kak! Emang si Dira tuh sawah, pake digarap segala! Aku kan cuman nanya, lagian si Dira bilangnya aku sama dia tetep jadi ipar!" ketus Fika.


Dirga menghela nafasnya, sedangkan Indira hanya diam menahan tawanya. "Athaya bakalan nikahin adik gue, Aini," ucap Dirga membuat Fika dan Panji menoleh seketika. "Whaatttt?!"


Sejenak kedua pasangan kekasih itu terdiam sejenak, mencoba mencerna semua hal yang diucapkan oleh Dirga. "Tunggu! Apa Kak Athaya nikahin Aini cuman karena rasa tanggung jawabnya? Lagian Aini itu masih SMA kan? Kok bisa nikah sih? Aku aja bertahun-tahun nunggu gak dilamar-lamar tuh, kalian aja sampe nikah duluan!" ucap Fika membuat Panji menyemburkan minumannya.


"Gila lu, Ji! Ngapain lu sembur-sembur gue? Udah kaya mbah dukun aja lu!" kesal Dirga, sebab minuman itu menyembur tepat diwajahnya. Sambil menahan tawa, Indira membersihkan wajah sang suami. Panji hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kak Panji harusnya tau, itu kode dari Fika. Bunda pernah bilang sama aku, kalo perempuan itu butuh kepastian. Bisa-bisa keburu dilamar orang lain nanti, menurut aku hubungan kalian lebih baik segera dihalalkan. Lagian kalian udah cukup lama kan menjalin hubungan," ucap Indira menyarankan.


Terdengan suara helaan nafas dari keduanya, "Gue gak tau alasan Athaya nikahin Aini itu apa. Tapi yang gue tau, dia laki-laki yang cukup bertanggung jawab. Dia mau ngerawat adik gue dalam ikatan yang halal. Soal sekolah, dia juga udah menyiapkan home scholing buat Aini," ucap Dirga.

__ADS_1


"Sebenernya tujuan kita kesini juga mau minta saran sama kalian berdua," kali ini wajah Fika dan Panji terlihat sangat serius. "Ada apa, Ji? Ngomong aja, siapa tau gue sama istri bisa bantu."


"Fika, hamil!"


Duaaarrrr.......!


Dirga dan Indira kini menatap tajam keduanya, mereka tidak menyangka jika hubungan keduanya sudah sejauh itu. "Itu bukan anak gue, itu anak Eki," ucap Panji yang seketika membuat keduanya terdiam. Indira hanya bisa melihat Fika yang kini menangis terisak. "Mas, boleh aku bawa Fika ke kamar?" tanya Indira dan Dirga menganggukkan kepalanya.


Kini tinggalah Dirga dan Panji disana, baru saja Dirga akan bertanya tapi Panji sudah mulai bercerita. "Gue hancur, Ga! Sahabat gue sendiri udah ngancurin masa depan perempuan yang paling gue cintai! Sorry, gue gak bermaksud buat ganggu malam pertama lu. Tapi gue bener-bener buntu, tadi sore sebelum kesini Fika sempat mau bunuh diri," lirih Panji.


Rasa kecewa, itulah yang dirasakan Dirga saat ini. Kenapa dua sahabatnya ini bisa terjebak dalam hubungan serumit ini. "Kenapa lu tau itu anak Eki? Lu ada bukti yang bisa menguatkan kalo itu anak Eki?" tanya Dirga.


"Sebelum gue dinas ke Kupang, gue sempet minta tolong Eki buat nganter Fika ke acara ulang tahun temennya. Gue khawatir, apalagi saat itu Fika sama istri lu lagi jauh. Ternyata Fika dijebak sama temen-temennya itu, mereka masukin obat ke minuman Fika. Sampe akhirnya mereka melakukan hal bejad itu! Gue gak bisa nyalahin Eki atau Fika, karena secara gak langsung gue juga salah!" lirih Panji yang sudah tak kuasa menahan airmatanya.


Dirga merangkul bahu sahabatnya itu, "Gue ikut prihatin, Ji. Terus Eki tau kalo Fika hamil?" tanya Dirga. Panji menganggukkan kepalanya, "Tapi dia gak bisa tanggung jawab, Ga. Pacar Eki juga hamil," ucap Panji frustasi.


Sedangkan dikamar, Fika menangis tersedu-sedu. "Aku perempuan kotor, Ra! Aku kotor!" lirih Fika.


"Fika! Gak ada perempuan kotor, semua orang pernah melakukan kesalahan. Sekarang kamu cerita sama aku, apa yang sebenernya terjadi?" pinta Indira.


Gadis itu masih menangis tersedu-sedu, "Vero yang jebak aku, waktu itu di acara ulangtahun Wida. Entah apa yang dia masukin kedalam minuman aku, Ra. Aku gak inget apa-apa, yang aku tau pagi itu aku sa-ma Kak Eki......" Fika sudah tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya, Dira mengerti dan kembali memeluk erat sahabatnya itu.


"Kak Eki harus tanggung jawab atas janin yang kamu kandung, Fika. Bagaimanapun kalian harus menikah," ucap Indira. Fika segera menggelengkan kepalanya, "Gak bisa, Ra. Pacar Kak Eki juga hamil, sebentar lagi mereka nikah!"

__ADS_1


Hati Indira begitu sakit, melihat sahabatnya dalam kondisi seperti ini. Bahkan Indira bisa melihat beberapa luka seperti sayatan ditangan sahabatnya itu. Bisa dipastikan, Fika mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Indira menggenggam kedua tangan sahabatnya itu, "Jangan pernah melakukan hal bodoh, janin  itu tidak berdosa. Jangan tambah dosa-dosa mu dengan mengakhiri hidup! Semua akan ada jalan keluarnya, aku sama Mas Yoga bakalan selalu ada disamping kamu," ucap Indira.


Karena sudah larut malam, Indira meminta Fika untuk menginap dirumahnya. Dia tak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi lagi pada sahabatnya itu. Dirga pun tak mempermasalahkan, sebab memang masalah yang dihadapi mereka kali ini bukanlah hal yang mudah. Panji berpamitan untuk pulang, dia menitipkan Fika pada sahabatnya itu. "Gue titip Fika, besok pasti gue jemput dia. Semoga setelah ketemu istri lu, dia bisa berubah pikiran," lirih Panji.


"Lu jangan khawatirin Fika, hati-hati dijalan! Gue gak mau lu kenapa-kenapa," ucap Dirga menepuk bahu sang sahabat.


Melihat Fika sudah tertidur, Indira berniat menghampiri sang suami yang tidur di kamar tamu. Dia melihat sang suami sudah berbaring diatas kasur, "Aku kira Mas udah tidur."


Dirga menggelengkan kepalanya, "Aku kepikiran Panji, yank! Perasaan aku gak enak, aku bener-bener prihatin sama mereka. Mau bagaimanapun, Panji sama Eki itu sahabat aku, yank. Semuanya jadi rumit, padahal Panji udah ikhlas buat bertanggung jawab. Tapi Fika malah nolak."


"Aku ngerti perasaan Fika, Mas. Dia gak mau semakin mengecewakan Kak Panji, duh.. kepala aku jadi pusing, Mas," keluh Indira. Dirga mengusap lembut kepala istrinya itu, dia bisa merasakan bagaimana perasaan istrinya saat ini. "Kita coba cari jalan keluarnya, anggap aja mungkin ini ujian pertama dalam rumah tangga kita. Lagian kalo bukan sama kita, mereka gak ada tempat buat cerita," ucap Dirga.


Mereka saling memeluk dengan erat, "Aku bersyukur dipersatukan sama kamu, Mas. Allah bener-bener mengabulkan semua do'a-do'a aku, meskipun jujur aja aku sempet berprasangka buruk sama Allah. Tapi pada akhirnya aku bersyukur, ternyata Allah menyiapkan kejutan indah buat aku."


Dirga mengecup kening istrinya itu, "Sayang, jodoh itu gak akan pernah tertukar. Tulang rusuk aku itu kamu, dan itu sudah Allah atur. Meskipun kita sempat terpisah, pada akhirnya kamulah rumah untukku pulang. Di Pulau cintamu lah, kapal cintaku berlabuh. Hari ini, esok dan seterusnya tetaplah do'akan aku dalam setiap sujudmu. Semoga Allah menyatukan kita hingga Syurga."


Tak ada malam pertama, mereka hanya tidur saling berpelukan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, mereka memiliki arti sendiri tentang sebuah persahabatan. Bisa saja mereka tak memperdulikan itu, tapi ikatan persahabatan mereka tidak bisa untuk tak peduli. Sebab bagi mereka berdua sahabat sejati bukanlah orang yang membuat setiap masalahmu menghilang. Tapi sahabat sejati adalah orang yang tidak akan hilang saat kamu menghadapi masalah.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2