Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 28. Sebuah Keputusan


__ADS_3

Mendengar bentakan dari Dirga, membuat airmata Indira lolos begitu saja. Dia tidak pernah menyangka, jika Dirga akan tega membentaknya seperti itu. Indira berlari keluar ruangan, dia tidak memperdulikan tatapan aneh dari orang-orang. Dia menghentikan taxi, dan pergi menuju asrama sang Kakak untuk menemui Panji.


"Aku harus tau semua yang terjadi, aku gak bisa terus menerus terjebak dalam sebuah penyesalan," batin Indira.


Kini dia sudah sampai di asrama, melihat Mirda dengan segera dia berlari.


"Dira?! Ada apa? Kenapa kamu lari-lari? Terus kamu kenapa nangis?" panik Mirda ketika melihat sang adik ipar.


"Bang, tolongin aku! Aku harus ketemu sama Om Panji, aku butuh sedikit penjelasan. Aku mohon Bang," Indira memohon sambil terisak.


"Tenang dulu, Dek! Abang panggilkan dulu Panji, ya!" Bang Mirda mengusap lembut kepala adik iparnya itu.


"Bagja! Panggilkan Lettu Panji, bilang suruh menghadap saya!" titah Bang Mirda.


"Siap! Laksanakan!" Jawab Bagja.


Tak lama kemudian, Panji datang bersama Bagja. Mereka memilih untuk berbincang di asrama Elmira dan Mirda. Panji cukup terkejut ketika melihat Indira disana.


"Siap! Komandan memanggil saya?" tanya Panji.


"Duduk! Saya dan adik saya akan menanyakan sesuatu padamu," titah Bang Mirda.


Akhirnya mereka bertiga duduk bersama, Indira masih mencoba meredakan tangisnya.


"Kak Panji, aku mohon! Jelaskan semuanya sama aku, semua yang terjadi pada Mas Yoga dan semua tentang Fika! Aku mohon," lirih Indira.


"Kakak bakalan jelasin, Ra! Tapi hentikan tangisanmu, Kakak bisa dihajar si Dirga kalo dia tau kamu nangis begini," Panji tak mau melihat wanita menangis, apalagi Indira dan Fika.


"Dia yang bikin aku nangis, Kak! Adik Mas Yoga kecelakaan, aku udah kesana! Dan ternyata Athaya yang nabrak Aini," lirih Indira.


"Apa?!!" kaget Panji dan Bang Mirda.


"Athaya dihajar habis-habisan sama Mas Yoga, sekarang jelaskan sama aku, Kak! Apa yang terjadi sama Mas Yoga sebenarnya," Indira memohon pada Panji.


Sejenak Panji termenung, akhirnya dia menarik nafasnya dan mulai menjelaskan.


"Ra! Yang aku ucapkan dulu semuanya bohong, Dirga gak pernah mengucapkan semua itu. Dirga mengalami luka yang cukup serius, dada dan kakinya tertembak. Dia gak mau kamu terus bersedih mengingat dan menunggunya, dia memohon sama aku buat mencarikan alasan supaya kamu lupain dia. Dan itu semua alasan yang Kakak ucapkan," lirih Panji.


"Lalu apa yang terjadi sama Mas Yoga? Kenapa dia selalu mengorbankan dirinya, mengorbankan hatinya buat aku," kini Indira sudah tak bisa menahan lagi airmatanya.


Mirda mengelus lembut pundak Indira, dia tau semuanya sangat berat.


"Dirga hampir mati, Ra! Untung saja keluarganya berasal dari keluarga yang bergelimang harta, sampai akhirnya dia menjalani operasi kedua. Dan itu bertepatan dengan hari pertunangan kamu sama Athaya, sama sekali Dirga gak pernah mengkhianati cinta kamu. Dia cuman gak mau kamu terus bersedih, dia lebih memilih merelakan kamu untuk tersenyum bersama oranglain. Asalkan senyuman kamu itu masih dia lihat, sebesar itulah cinta Dirga untukmu. Sampe kami dilingkungan Militer ini, tau semua cerita cinta kalian," ucap Panji membuat Indira semakin menangis.


Hati Indira hancur berkeping-keping, sebesar itu cinta Dirga untuknya. Tapi semuanya telat dia sadari, apalagi ketika mendengar perjuangan Dirga untuknya.


"Fika menjauhi kamu atas permintaan Kakaknya, Athaya. Dia sampai menangis setiap hari, kamu sama dia itu satu paket. Maka ketika kalian terpisah, semuanya terasa hampa. Athaya bahkan meminta Fika untuk berpisah dariku, dia bener-bener gak mau kehilangan kamu, Ra!" Panji berucap dengan sedikit nada kesal.


"Abang juga tau, Dek! Kemaren Fika datang, tapi Athaya langsung minta dia buat pergi. Maaf Abang gak bilang, karena kami rasa itu diluar urusan kami," ucap Mirda.


Sedangkan Athaya, dia sungguh belingsatan mencari keberadaan calon istrinya itu.


"Dimana kamu sayang, maafin aku! Maafin aku, Indira!" lirih Athaya.


Setelah berkeliling menyusuri jalan mencari sang kekasih. Athaya memutuskan untuk pergi kerumah Indira. Dia datang dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya cukup babak belur setelah dihajar oleh Dirga.


"Bunda, dimana Dira?" tanya Athaya yang panik.


"Dira pergi bersama kekasihnya!" ketus Ummi Athaya.


"Ummi! Athaya disini yang bersalah, tadi kami bertemu dirumah sakit. Tapi Dira pergi meninggalkan Athaya, dia kecewa sama aku!" lirih Athaya.


"Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, Athaya! Temukan Indira dan selesaikan masalah kalian baik-baik! Abi sungguh malu!" bentak Abi Athaya.


"Kami permisi pulang, Pak, Bu! Maaf atas semua kesalahan anak kami," pamit Abi Athaya.

__ADS_1


Bunda Gisya menghampiri Athaya yang tertunduk lesu, dia mengelus pundak Athaya.


"Jika perempuan adalah permukaan danau yang tenang. Maka laki-laki hanyalah perahu nelayan di atasnya. Jika salah dayung maka tenggelam sudah. Bunda percaya kamu bisa menyelesaikan semuanya. Libatkan Allah dalam segala hal, maka kamu akan menemukan jawaban atas masalahmu," ucap Bunda Gisya.


"Athaya mohon Bun, izinkan Athaya untuk mendampingi Dira. Jika memang Dira tidak akan bahagia bersamaku, maka aku akan ikhlas melepasnya," lirih Athaya.


"Bicaralah nanti dengan Dira, Bunda gak bisa memaksakan kehendak. Kalo memang Dira tidak mau, Bunda harap kamu tidak memaksanya," Bunda Gisya menepuk bahu Athaya.


Ayah Fahri menghampiri Athaya, dia tau bagaimana Athaya mencintai Indira.


"Hubungan itu seperti gelas kaca, kadang lebih baik meninggalkan gelas itu pecah daripada menyakiti dirimu sendiri karena menyatukannya. Pulanglah, Nak. Istirahatlah, Ayah tau kamu lelah," dengan lembut Ayah Fahri mengelus kepala Athaya.


"Terimakasih Ayah, dan maaf sudah mengecewakan," lirih Athaya lalu berpamitan.


Dengan langkah gontai, Athaya berjalan keluar rumahnya. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Indira turun dari mobil Mirda.


"Sayang! Maafin aku, Ra! Demi Allah maafin aku," Athaya bersujud dikaki Indira.


"Bangun Athaya, jangan begini! Bangunlah, aku obatin luka kamu," Indira meraih tangan Athaya dan menuntunnya untuk duduk dihalaman belakang.


"Ra! Kita harus bicara," Athaya menahan lengan Indira.


"Aku bawa kotak obat dulu, Athaya. Tunggu disini!" titah Indira.


Athaya menatap Indira dengan sendu, cintanya begitu besar untuk Indira. Dengan telaten, Indira mengobati luka diwajah Athaya.


"Apa lagi yang bisa aku lakukan agar kamu bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu, Indira?" lirih Athaya sambil menggenggam erat tangan Indira.


"Athaya, genggamanmu terlalu erat. Maka dari itu aku lepaskan, ibarat kamu menggenggam pasir. Terlalu erat kamu genggam pasir itu, dia akan tumpah dan jatuh ke bawah. Itupun sama kalo kamu gak menggenggamnya. Solusinya, peganglah, taruhlah diatas kedua tanganmu yang terbuka. Perlahan, namun pasir itu pun tidak akan tumpah. Begitupun sama dengan perihal mencintai. Biarkan aku dengan perlahan mencintaimu, dengan menjauhkanku dengan Fika itu sudah sangat melukaiku, Athaya," Indira menatap Athaya dengan tatapan kekecewaan.


Airmata jatuh begitu saja dipipi Athaya, seumur hidup baru kali ini dia menangisi wanita selain ibunya.


"Maafkan aku, Ra! Aku mohon berikan aku kesempatan untuk membuktikan cintaku memang tulus untukmu. Mencintaimu bagaikan air dan nyala api, karena sikap tak berbalasmu terkadang membunuh jiwaku," isak Athaya menggenggam erat tangan Indira.


"Aku akan melakukan semuanya untukmu, Ra! Aku akan lakukan," tegas Athaya.


Indira menghapus airmata dipipi Athaya, tidak dipungkiri cinta Athaya memang begitu besar. Indira mengusap luka lebam dipipinya, luka yang disebabkan oleh Dirga.


"Yang pertama, biarkan aku bersahabat baik dengan Fika. Hanya dia yang selalu ada disampingku, dalam keadaan apapun. Dan aku mengenalnya sebelum kamu mengenalku," ucap Indira dengan sendu.


"Baik sayang, kamu boleh bersahabat baik dengan Fika. Aku gak akan pernah melarangnya lagi. Maafkan aku," Athaya mencium tangan Indira dengan lembut.


Sambil menghembuskan nafas kasar, Indira mengutarakan permintaan keduanya.


"Yang kedua, aku mau kamu menemani dan merawat Aini sampai dia sembuh. Sampai dia bisa menjalani hari-harinya seperti biasa. Dan aku mau, kamu meminta maaf pada seluruh keluarga Aini. Bagaimanapun semua itu tanggung jawabmu, Athaya. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, karena suatu saat kelak kamu yang akan bertanggung jawab untum keluargamu," tegas Indira membuat Athaya tersenyum.


"Akan aku lakukan sayang, aku akan merawat Aini sampai sembuh dan sampai dia benar-benar pulih. Aku juga akan meminta maaf pada seluruh keluarganya," ucap Athaya mengelus kepala Indira.


Indira melepaskan tangan Athaya, dan mulai mundur satu langkah.


"Dan permintaanku yang terakhir, jangan temui aku sebelum Aini sembuh dan benar-benar pulih. Itu semua hal yang harus kamu penuhi, maka aku akan mencoba membuka diriku untukmu, Athaya. Buktikan padaku, kalo memang kamu mencintaiku dan kamu laki-laki yang mampu bertanggung jawab," keputusan Indira mutlak.


"Tapi, Ra! Aku gak bisa jauh dari kamu, aku mohon jangan siksa aku dengan kerinduan!" Lirih Athaya mencoba meraih tangan Indira.


"Itu permintaanku, Athaya. Kalo kamu tidak sanggup, maka aku akan meminta Ayah untuk melepaskan semua ikatan ini," Indira akan membuka cincin tunangannya.


"Aku akan melakukannya! Tapi jangan lepaskan cincin itu, Ra!" pinta Athaya.


"Baiklah, sekarang kamu pulang! Istirahat, aku juga lelah," ucap Indira.


Pada akhirnya, Athaya harus kembali berjuang demi Indira. Sedangkan Dirga, dia masih termenung memandangi wajah sang adik yang kini memucat.


"Nak, Syafa tidak bersalah. Temuilah dia, pasti dia sangat bersedih mendengar bentakanmu tadi," Mama Dirga mengelus pundak sang anak.


"Nanti, Ma. Setelah Aini bangun," lirih Dirga.

__ADS_1


"Jangan sampai kamu melakukan kesalahan kedua kalinya, Nak. Jangan biarkan dia pergi lagi dari hidup kamu. Do'a Mama akan selalu menyertaimu," lirih Mama Dirga.


Mendengar ucapan sang Ibu, Dirga segera bergegas menuju rumah Indira. Baru saja mobil Athaya pergi, kini mobil Dirga memasuki pekarangan rumah Indira.


"Ayah! Boleh aku bicara pada Syafa?" pinta Dirga ketika menghampiri Ayah Fahri.


"Masuklah, dia dihalaman belakang!" titah Ayah Fahri.


Hati Dirga sangat tersayat, ketika melihat Indira tengah menangis sambil memegangi kalung dan cincin yang dia berikan dulu.


"Syafa," Dirga menghampiri Indira dan bersujud dihadapannya.


"Mas Yoga," kaget Indira menghapus airmatanya.


"Maafkan aku, Syafa! Aku terlalu emosi, melihat Aini terbaring lemah membuatku hancur, Syafa! Dia amanat Kakek, aku harus menjaganya," lirih Dirga.


"Bangun, Mas! Jangan gini," titah Indira.


Akhirnya mereka duduk berdampingan, Indira kembali membuka kotak obat. Dia juga mengobati luka diwajah Dirga.


"Apakah kamu juga mengobati lukanya?" Dirga bertanya dengan wajah sendu.


"Iya Mas, bagaimanapun statusnya adalah tunanganku," ucap Indira sambil mengoleskan salep diwajah Dirga.


"Jadi kamu akan terus bersamanya, Syafa?" lirih Dirga.


"Bukannya kamu menyerah, Mas? Wajar jika aku memberikan kesempatan kedua untuk Athaya, dia mau memperjuangkan cintanya untukku," jawab Indira memaksakan senyumnya.


"Maafkan aku, Syafa! Aku terlampau emosi, aku mau memperjuangkan cinta kita," lirih Dirga menggenggam kedua tangan Indira.


Perlahan Indira melepaskan tangannya, dia menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku udah kasih kesempatan buat Athaya, aku mohon Mas! Biarkan Athaya bertanggung jawab terhadap Aini. Biarkan dia merawat dan menjaga Aini hingga sembuh," pinta Indira, membuat Dirga tersenyum jahat.


"Baiklah, aku akan membiarkannya merawat dan menjaga Aini sampe dia sembuh. Tapi aku punya syarat," ucap Dirga dengan liciknya.


"Apa syaratnya?" tanya Indira dengan sedikit gugup.


"Buka dulu kalung pemberianku," Dirga meminta kalung itu pada Indira.


Dengan berat hati, Indira melepaskannya dan memberikannya pada Dirga. Sambil tersenyum, Dirga membuka cincin yang tergantung dalam kalung itu dan memakaikannya dijari manis tangan kanan Indira.


"Mas!" Indira terkejut dengan perbuatan Dirga.


"Ini syarat dariku, Syafa! Dia menyematkannya dijari manis tangan kirimu, dan aku menyematkan cincinku dijari manis tangan kananmu! Kamu mengerti maksudku?" tanya Dirga dan Indira menggelengkan kepalanya.


"Gadis bodoh! Tanyakan sama Ayah dan Bunda, itu PR buat kamu!" Dirga mengacak kepala Indira.


"Ck! Nyebelin!" ketus Indira.


"Mas balik RS lagi, ya! Ingat, Syafa! Sebut namaku dalam do'amu," bisik Dirga lalu mencium kepala Indira.


Indira hanya terdiam, dan termenung.


"Seandainya kamu tahu, melepas yang hampir tergenggam bukanlah hal yang mudah. Itulah mengapa aku memberikan kesempatan pada Athaya, Mas. Karena jika aku punya pilihan terakhir untuk memilih pasangan hidup, aku harap itu kamu, Mas," batin Indira menatap kedua cincin yang kini terpasang dikedua jari manisnya.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2