
"Yang pergi akan tetap pergi, walaupun kau telah menjaganya dengan begitu kuat. Yang datang akan datang, walaupun kau tidak menginginkan kedatangannya."
Sebulan berlalu, sejak pertemuan itu Athaya lebih memilih untuk fokus terhadap kesembuhan Aini. Dia ingin membuktikan pada Indira, jika dia memang laki-laki yang bertanggung jawab. Sudah hampir sebulan ini Aini mengalami koma dan selama itu Athaya selalu berada disamping Aini. Dia benar-benar menjaga dan merawat Aini.
Begitupun juga Indira dan Dirga, mereka lebih fokus pada kehidupan yang mereka jalani. Dirga disibukkan dengan kagiatan latihannya, dan Indira sibuk dengan kegiatan KKN.
Kebetulan, pagi ini semesta sedang usil. Mereka mempertemukan Indira dan juga Dirga secara tidak sengaja. Mereka bertemu disalah satu kedai kopi yang tidak jauh dari tempat tinggal Indira. Kania menyenggol lengan Indira yang fokus pada laptopnya.
"Ra, itu cowok kamu bukan si," bisik Kania.
"Mmm, cowok yang mana? Kan kamu tau aku mau fokus KKN," jawab Indira tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ra dia nyamperin," bisik Kania menyenggol lengan Indira.
Indira mendongak, dia melihat Dirga yang menatapnya dengan dingin.
"Boleh duduk disini gak?" tanya Bian pada Kania.
"It-itu, boleh kok! Boleh, duduk aja Mas," jawab Kania dengan kikuk.
Kedua manusia itu saling menatap heran, Dirga dan Indira sama-sama bersikap acuh.
"Neng Kania, udah lama disini?" Bian mencoba membuka percakapan.
"Lumayan, Mas! Lagi ngerjain laporan buat ke kampus, lumayan disini ada wi-Fi gratis. Mas Bian gak jalan sama pacarnya?" Kania mulai tak sungkan bertanya pada Bian.
Bian tersenyum, "Saya jomblo, dulu pacar saya gak mau pacaran sama tentara. Takut ditinggal mati katanya," ucap Bian membuat Dirga dan Indira yang tengah minum tersedak.
"Uhuukkk.. Uhhuuukkkk....."
"Yaa ampun, kalian batuk aja barengan! Cocok emang," celetuk Kania menepuk punggung Indira.
"Pot, bilangin sama mantan pacar kamu itu. Pacaran sama tentara gak seburuk itu, ditengah perjuangan kami dimedan perang hanya dia yang menjadi penyemangat hidup setelah keluarga," celetuk Dirga.
"Mas Bian, perempuan itu punya ketakutan tersendiri. Kita sebagai perempuan itu takut, takut kehilangan. Apalagi sudah lama tinggal di dunia militer, banyak sekali kejadian yang membuat perempuan itu trauma," Indira berucap mengungkapkan perasaannya.
Bian menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Tapi mantan pacar saya itu bukan berasal dari keluarga militer nyonya eh maksud saya bu Dira eh gimana sih manggilnya," bingung Bian menatap sang komandan.
"Panggil Dira aja, Mas Bian!" kesal Indira.
"Eh iya," gugup Bian. "Mantan pacar saya itu gak mau pacaran sama tentara itu alasan dia aja, toh tentara seperti kami ini memang gak memiliki pendapatan yang besar seperti orang-orang sukses diluar sana," Bian menghela nafasnya panjang.
"Udahlah Mas Bian, lagian itu mah masalalu. Perempuan itu ada dua tipe, yang bersyukur dan yang tidak bersyukur. Mungkin mantan pacar Mas Bian itu tipe yang gak bersyukur, udah dapet pacar tentara yang ganteng yang bertanggung jawab kok ditinggal. Itumah bodo namanya," kesal Kania sambil meminum kopi dihadapannya.
"Eh, itu punya saya neng Kania!" celetuk Bian membuat Kania tersedak.
"Maaf Mas, emosi saya hehehehe," Kania tersenyum kikuk.
Indira dan Dirga hanya menjadi tim penyimak saja, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Kalo neng Kania udah punya pacar?" Bian bertanya karena ingin memecahkan kecanggungan yang terjadi dimeja ini.
"Belom Mas, mana ada yang mau sama saya," Kania tertawa sinis.
"Iyalah mana ada yang mau, orang dianya aja galak begitu," celetuk Indira membuat Kania menutup mulut temannya itu.
"Hehehe, Indira mah suka gitu. Mana ada saya galak," Kania benar-benar malu.
"Iya saya tau, mana mungkin neng Kania galak. Lalat singgah di minumannya aja gak diusir sama neng Kania," goda Bian.
__ADS_1
Dirga memutar bola matanya malas, memang Bian ini adalah sang pujangga cinta. Dia bisa meluluhkan hati perempuan galak sekalipun.
"Pot, tumben kaga ada yang nyanyi. Kemana si Alex?" tanya Dirga.
"Katanya suaranya serak, tumbang dia! Tuh Kang Sobri masih kebingungan nyari penyanyi, kedai ini kan terkenal live musiknya," jawab Bian.
"Mas Bian kenal sama pemilik kedai ini?" tanya Kania.
"Iyalah kenal, ini milik Abang asuh saya. Kebetulan diurus sama Kakaknya, tuh baru diomongin nyamperin," ucap Bian membuat mereka menoleh.
Kang Sobri menghampiri Dirga yang sedang asyik dengan ponselnya.
"Ga, nyanyi dong! Pengunjung urang sepi euy, ayolah nyanyi! Dikasih makan gratis deh sepuasnya!" pinta Kang Sobri pada Dirga.
"Kaga, suara urang lagi spaneng! Cari aja penyanyi laen, entar urang yang gitarin," cuek Dirga.
"Nih temen aku suka nyanyi di Cafe, dia aja yang nyanyi," celetuk Kania membuat Indira melotot tajam.
Wajah Kang Sobri berbinar, "Serius? Neng nyanyi atuh ya pelis! Nanti ku akang dikasih makan sepuasnya lah, beneran ini mah suer! Akang lagi butuh duit buat biaya lahiran istri," bujuk Kang Sobri.
"Huft! Yaudah, hayuk Mas!" ajak Indira pada Dirga.
Dirga mengerenyitkan dahinya, "Kemana?" tanya Dirga.
"Nyanyi lah! Katanya Mas yang gitarin," kesal Indira melipat kedua tangan didadanya.
"Kirain ke pelaminan!" bisik Dirga membuat Indira diam terpaku.
Akhirnya malam itu Dirga dan Indira menyanyi di kedai kopi itu, Indira menyanyikan beberapa lagu. Dan lagu terakhir yang dinyanyikan adalah lagu ? Maafkan Aku #Terlanjur Mencinta dari Tiara Andini.
Aku tlah tahu kita memang tak mungkin..
Tapi mengapa kita selalu bertemu..
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar..
Namun kenyataan ku tak bisa..
Senyuman itu..
Hanyalah menunda luka..
Yang tak pernah ku duga..
Dan bila akhirnya kau harus dengannya..
Mengapa kau dekati aku..
Kau membuat semuanya indah..
Seolah takkan terpisah..
Aku tlah tahu kita memang tak mungkin..
Tapi mengapa kita selalu bertemu..
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar..
Namun kenyataan ku tak bisa..
__ADS_1
Bila memang hatimu untuk aku..
Salahkah ku berharap..
Berharap kau memilih diriku cinta..
Tapi mengapa kita selalu bertemu..
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar..
Namun kenyataan ku tak bisa..
Aku tlah tahu kita memang tak mungkin..
Tapi mengapa kita selalu bertemu dan bertemu..
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar..
Namun kenyataan ku tak bisa..
Maafkan aku terlanjur mencinta..
Ternyata hati tak sanggup melupa..
Setelah selesai menyanyikan lagu itu, Indira kembali ke mejanya. Dia memasukan laptop dan ponselnya lalu pergi begitu saja. Sontak Kania langsung menyusul Indira. Hati Indira sudah tak sanggup lagi menahan tangisnya. Sikap Dirga yang berbeda membuat Indira sakit, tak ada lagi sapaan manisnya. Tapi bukankah ini yang Indira inginkan?
Disisi lain, Athaya sedang menemani Aini malam ini. Karena besok hari Sabtu, maka Athaya yang akan menemani Aini di Rumah Sakit.
"Aini, buka mata kamu. Aku disini nemenin kamu, maafin aku udah bikin kamu kaya gini. Aku mohon buka mata kamu, Aini," Athaya menggenggam erat tangan Aini, tanpa sadar dia menangis pilu.
Perlahan tangan Aini mulai bergerak, Athaya terperanjat kaget. Dia melihat mata Aini mulai mengerjap, dengan sigap Athaya memencet tombol darurat. Beberapa dokter dan suster datang menghampiri Athaya.
"Dok, jari-jarinya mulai gerak! Dan matanya mengerjap terbuka dok," antusias Athaya.
"Bapak tunggu diluar ya, biar kami periksa keadaan pasien terlebih dahulu," Athaya mengangguk, dia menunggu dengan cemas diluar ruangan.
Setelah pemeriksaan yang cukup lama, dokter kembali dengan senyuman diwajahnya.
"Pasien sudah siuman, tapi jangan terlalu banyak diajak bicara ya! Biarkan pasien merasa nyaman dulu," pinta dokter dan Athaya mengangguk senang.
"Terimakasih banyak, dok! Terimakasih banyak," Athaya segera bergegas masuk, dia melihat mata Aini yang sudah terbuka dengan sempurna.
Athaya menggenggam erat tangan Aini, dan mengelus kepala Aini dengan lembut.
"Akhirnya kamu bangun, Aini. Aku bakalan jaga dan rawat kamu dengan baik, aku mohon jangan melakukan hal itu lagi ya," lirih Athaya.
"Ma-ma, Pa-pa ma-na?" dengan susah payah Aini berucap.
"Aku udah hubungin Papa dan Mama kamu, mereka pasti lagi dijalan mau kesini. Kamu harus cepet sehat, biar Papa dan Mama kamu gak khawatir lagi ya," Athaya berucap dengan mata yang berkaca-kaca begitupun juga Aini.
"Hidup adalah sebuah pemberian, dan hidup memberikan kita keistimewaan, kesempatan, dan tanggung jawab untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Aku akan merawat dan menjagamu hingga sembuh, Aini. Terimakasih sudah mengajarkanku arti menjadi manusia yang bertanggung jawab," batin Athaya.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤