Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 45. Tugas Pertama


__ADS_3

Menjadi istri dari seorang abdi negara tidaklah mudah, waktu suami untuk keluarga secara otomatis berkurang karena tugas. Sudah menjadi konsekuensi bagi istri seorang abdi negara, sebab yang menjadi prioritas utamanya adalah negara. Kita ini hanyalah istri kedua, sebab istri pertama seorang abdi negara adalah senjata yang akan dibawa kemanapun mereka pergi.


Perjalanan rumah tangga Indira baru saja akan dimulai, malam ini dia tinggal dirumah dinas suaminya. Sebab dua hari lagi Dirga akan pergi bertugas ke Ambon dalam waktu 6 bulan. Indira ingin mengurus suaminya sebelum ditinggalkan.


"Mas, mau aku bikinin kopi?" tanya Indira, sebab suaminya itu sedang berkutat dengan laptopnya. Entah apa yang sedang dia kerjakan.


Dirga mengangguk, "Agak pait ya sayang kopinya! Biar agak melek matanya," pinta Dirga.


Indira berjalan menuju dapur, dia membuatkan kopi sesuai yang diminta oleh suaminya. Dua sendok kopi hitam dan satu sendok gula putih, persis yang selalu Indira untuk sang Ayah. "Jadi rindu Ayah sama Bunda," batin Indira.


Bagaimana tak rindu, kini kedua orang tua nya tengah berada di Singapore, menemani Elmira yang tengah dalam ikhtiar untuk menyembuhkan putra tercintanya. Selesai membuat kopi, dia lantas bergegas menghampiri sang suami. "Kopi nya aku taro disini ya, Mas! Aku mau ke kamar dulu, mau beresin baju-baju ke dalam lemari," pamit Indira.


Melihat sang suami mengangguk, lantas Indir pergi ke kamar. Sore tadi beberapa pakaian dan barang-barang pribadi nya sudah dibawa ke Rumah Dinas suaminya. Tak jauh beda dengan Rumah Dinas Elmira di Bandung, rumah sederhana ini hanya memiliki dua kamar tidur yang kecil, ruang tamu minimalis dan dapur yang juga tak begitu besar.


Namun Indira bersyukur, sebab sejak dulu dia pernah tinggal menemani Elmira selama ditinggalkan Mirda. Jadi dia tidak terlalu kaget atau pun mengeluh dengan keadaan itu. Terlihat pula langit-langit kamar yang sedikit meninggalka tanda-tanda bocor, namun sang suami mengatakan jika genteng rumah mereka sudah diperbaiki.


Dengan telaten Indira memasukkan satu persatu pakaiannya ke dalam lemari, dia juga merapikan baju-baju suaminya yang tampak berantakan. "Huft! Kebiasaan nih begini, handuk ditaro di kasur, baju di gantung dibelakang pintu. Mulai sekarang rumah ini harus rapi!" gumam Indira.


Belum juga selesai, Indira di kagetkan dengan tangan suaminya yang memeluk erat pinggangnya. "Astaghfirulloh, Mas! Ngagetin aku aja, untung gak refleks keluarin jurus taekwondo!" kesal Indira mencubit lengan suaminya itu.


"Aww! Sakit yank, kamu kalo nyubit kaya semut rangrang," rengek Dirga bak Sweta yang tengah merajuk.


Indira masih dalam mode kesalnya, "Lagian kalo masuk kamar tuh bilang salam, jangan main peluk-peluk aja Mas! Kan aku jadi kaget, gimana kalo aku sampe...................."


"Ssst! Jangan ngomel-ngomel mulu, nanti cantiknya ilang!" ucap Dirga menempelkan jari telunjuknya di bibir sang istri. "Daripada ngomel, mending sini peluk Mas! Kangen tau," bisik Dirga.


Pipi Indira sedikit merona, "Bersih-bersih dulu, Mas. Baru kita tidur, besok sepulang dari sekolah anter aku ke supermarket ya, Mas! Aku mau belanja keperluan kita, selama Mas pergi juga kan Kania bakalan nemenin aku disini. Masa iya gak ada stock makanan sama sekali," ucap Indira.


"Oke, besok full waktu Mas buat kamu! Apapun yang kamu mau, pasti akan Mas kabulkan," Dirga mencium kening istrinya itu.


Indira mendongakkan kepalanya, "Yakin? Apa Mas beneran bakalan kabulin semua permintaan aku?" Dirga mengangguk sebagai jawaban, lalu kembali mengecup kening Indira.


"Kalo gitu, jangan tinggalin aku sendiri! Aku takut... Aku takut kamu pergi dan gak akan pernah kembali," lirih Indira, tak terasa butiran airmata lolos begitu saja membasahi pipinya.

__ADS_1


Dirga sedikit tersentak, apalagi dia merasakan jika kaos yang dipakainya mulai basah oleh tangisan sang istri. Perlahan Dirga ingin melepaskan pelukan itu, tapi Indira semakin mendekapnya dengan erat. Pada akhirnya, dia membalas pelukan itu sambil mengusap punggung istrinya. "Mas pergi untuk kembali sayang, Mas janji akan pulang dengan selamat. Tolong do'akan dan ridhoi langkah suamimu dalam bertugas."


Tangisan Indira yang tanpa suara membuat Dirga cukup khawatir, "Syafa, ini adalah tugas pertama Mas setelah kita menikah. Ada kekuatan tersendiri dalam diri ini, agar bisa kembali dalam tugas dengan selamat. Ini juga tugas utamamu sebagai istri seorang perwira, tunjukanlah pada seluruh anggota mu, bahwa istri seorang Kapten Dirga Agung Prayoga itu kuat! Tak lama sayang, hanya 6 bulan!"


6 bulan, tak lama? Ah Dirga menyebalkan! Padahal setiap saat, Indira ingin selalu menempel pada suaminya.


"Duh yank! Ingus kamu nempel di baju Mas," goda Dirga. Indira segera mengelap airmata beserta ingus itu dengan baju suaminya, "Kenapa jijik? Ingus yang lain aja kamu doyan!" kesal Indira.


Ingus yang lain? Eh.....


Dirga terdiam, "Ingus yang lain? Ahh, istriku menggemaskan!" batin Dirga. Tiba-tiba saja dia tersenyum penuh arti, kemudian dia membersihkan diri dan mengganti bajunya. Lalu dia menghampiri Indira yang tengah sibuk membereskan ruang tamu.


"Yank! Sholat yuuk," ajak Dirga. Indira memicingkan matanya, saat ini sudah hampir pukul 10 malam lagi pula dia sudah sholat isya. "Aku udah sholat, Mas! Kan tadi jama'ah sama kamu. Masa lupa!" kesalnya.


Melihat suaminya memberengut kesal, Indira baru menyadari maksud dari ucapan suaminya. "A-aku wudhu dulu, Mas! Tunggu ya!" gugup Indira.


Indira sengaja membawa baju dinasnya kedalam kamar mandi, dia selalu ingat perkataan Elmira, "Puaskan suami mu sebelum ditinggal bertugas, siapa tau akan hadir buah hati yang akan semakin menguatkan cinta kalian."


Dirga sudah menanti dengan hati yang berdebar-debar, tak lama kemudian Indira sudah masuk kedalam kamar memakai mukena nya. Kamar mandi mereka berada di dekat dapur, sehingga Indira bisa leluasa memakai mukena di kamar kedua. Mereka melakukan sholat sunnah dengan khusyu, Indira bahkan meneteskan airmata ketika mendengar do'a-do'a yang di panjatkan oleh suaminya itu.


Perlahan Dirga mencium lembut bibir sang istri yang kini menjadi candu baginya, keduanya menyatukan diri dalam ikatan suci yang halal. Berharap akan hadir buah hati yang selalu menjadi penguat cinta keduanya. Mereka melewati malam yang indah, berkeringat bersama dengan degup jantung yang bertalu-talu. Indira benar-benar ingin membuat suaminya itu mabuk kepayang, bukankah menjadi pahala bagi seorang istri yang mampu memuaskan suaminya di atas ranjang?


Jika suami istri itu tengah berkeringat dalam kenikmatan, berbeda dengan Athaya. Keringat mengucur di seluruh tubuhnya, Athaya terkena demam. Beberapa hari ini dia disibukkan dengan kuliahnya, bahkan tak jarang dia melupakan makan siangnya. Tinggal sendiri di Turki tanpa sanak saudara membuat Athaya tak bisa melakukan apapun.


Ponselnya berbunyi, dia membaca pesan yang ternyata dikirimkan oleh Aini. 'Kak Athaya baik-baik saja, kan? Aku gak enak hati sejak tadi, semoga Kakak baik-baik saja. Jaga kesehatan dan jangan lupa makan'.'


Hanya pesan singkat, namun bisa membuat Athaya kembali menguatkan dirinya. "Apa kamu mengkhawatirkanku, Aini? Aku baik-baik saja setelah mendapatkan pesan darimu, aku merindukanmu Aini."


Tanpa membalas pesannya, Athaya meminta kepada Mbok Darmi untuk melakukan panggilan video. Dia ingin melihat apa yang tengah dilakukan oleh Aini saat ini. "Mbok, jangan sampe ketauan Aini. Aku hanya butuh melihat wajahnya," pinta Athaya.


"Nggih, Den. Aden lagi sakit ya? Wajahnya pucat sekali," terlihat wajah si Mbok yang khawatir.


Athaya mengangguk, "Iya Mbok, aku demam. Karena sendiri di negri orang, aku gak bisa ngapa-ngapain. Aku cuma butuh melihat wajah Aini, mungkin demamku ini hanya malarindu," ucap Athaya terkekeh.

__ADS_1


"Dasar ya orang jatuh cinta! Tunggu, Mbok mau ke kamar Non Aini dulu," ucap si Mbok sambil membawa ponsel di tangannya.


Diam-diam Mbok Darmi meletakkan ponsel itu di dekat nakas, Aini tengah tadarus untuk menenangkan kegelisahan hatinya. "Non Aini, kenapa nangis?"


Aini menghentikan tadarus nya, "Mbok boleh peluk aku?" lirihnya.


Mbok Darmi mengangguk dan memeluk gadis itu, "Aku gelisah Mbok, dalam pikiranku hanya ada Kak Athaya. Apa dia baik-baik saja? Apa dia makan dengan benar? Apa dia kesepian disana? Aku menyesal, Mbok! Apa ini yang dinamakan kerinduan? Aku rindu Kak Athaya, Mbok!"


Mendengar ucapan Aini, airmata Athaya tak dapat lagi dibendung. "Aku juga merindukanmu, Aini. Entah perasaan apa ini, tapi aku pun sangat merindukan dirimu," batin Athaya.


"Sabar ya, Non! Insya Allah, Den Gus akan baik-baik saja. Kita berdo'a sama Allah, semoga di manapun dia berada, Allah akan selalu menjaganya," ucap Mbok Darmi.


Aini mengangguk, "Makasih ya, Mbok! Aku lega setelah ungkapin semua perasaan aku, semoga Kak Athaya dalam keadaan baik-baik aja dan bisa hidup bahagia disana."


"Non, kebersamaan akan lebih bermakna setelah kita merasakan kehilangan, dan kehilangan akan lebih bermakna ketika kita saling merindukan," ucap Mbok Darmi.


Athaya menutup sambungan teleponnya, dia tak kuasa lagi melihat Aini yang tengah menangis. "Mungkin saat ini aku hanya bisa menahan kerinduan ini, sampai tiba saatnya nanti aku bisa bertemu dan melepaskan kerinduan ini bersamamu dalam ikatan yang halal."


Rindu tidak hanya muncul karena jarak yang terpisah, tapi juga karena keinginan yang tidak terwujud. Anggap saja jika jarak adalah tapal batas, mungkin saja rindu itu diciptakan sebagai rantai yang mengikat dua hati anak manusia agar tidak terlepas.


* * * * *


ADA YANG RINDU SAMA RINDU GAAAKK???


Maaf kemaren Rindu sibuk di dunia nyata, hingga tak bisa menyapa para readers semua..


Jangan kecewa, ya!


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2