Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 59. Sulitnya menjadi Ibu


__ADS_3

Dari seluruh hak yang dimiliki oleh wanita, yang teristimewa adalah diberi hak untuk menjadi seorang ibu. Jika mentari tenggelam dan meredupkan cahayanya, cinta dan kasih ibu kepada anaknya tak akan pernah hilang hingga akhir hayatnya.


Indira kini bisa merasakan bagaimana pengorbanan dan sulitnya menjadi seorang Ibu. Ketika tubuhnya lelah, matanya menahan kantuk dan suara tangisan putrinya menjadi semua alasan untuknya tetap membuka mata.


"Cup.. Cup.. Anak Bunda sayang, bobok ya Nak. Ini udah malem," bisik Indira ditelinga putri kecilnya.


Namun Gemma tetap menangis, padahal Indira sudah menyusui nya. Bunda Gisya yang akan kembali ke Bandung mengurungkan niatnya, sedangkan yang lain sudah pulang terlebih dahulu sebelum Maghrib. Dia menghampiri Indira dan mengambil alih sang cucu.


"Adek istirahat dulu, Bunda yakin pasti Adek capek," ucap Bunda Gisya membuat Indira tak kuasa lagi menahan airmatanya.


"Ternyata menjadi seorang Ibu itu sulit ya, Bun," lirih Indira sambil terisak.


Bunda Gisya menimang cucunya dan mengelus kepala putrinya bersamaan."Meskipun sulit, tapi kamu harus banyak bersyukur, Nak. Diluar sana banyak sekali mereka yang ingin memiliki anak, hanya saja belum Allah percaya."


Indira menghentikan tangisannya dan memeluk sang Bunda. "Terimakasih ya, Bunda. Terimakasih sudah menjadi Bunda terbaik buat Adek. Maaf kalo selama ini, Adek banyak menyusahkan dan bikin bunda kesal."


Setelah menjadi seorang Ibu, kita akan bisa merasakan kesulitan Ibu kita dulu saat merawat kita. Bunda Gisya meletakkan tubuh cucunya di pangkuannya.


"Kadang, kalo bayi rewel itu karena badannya pegel. Coba Adek bawa baby oil, biar Bunda urutin pelan-pelan badan Gemma," ucap Bunda Gisya.


Indira membawakan baby oil dan melihat apa yang dilakukan sang Bunda. Terlihat Gemma sedikit gumoh, Bunda Gisya segera menggendong dengan posisi mendekapnya.


"Habis nen ASI, dedeknya didekap gini sampe dia sendawa ya, Nak. Biar Gemma nya enggak gumoh," Bunda Gisya memberitahukan putrinya itu perlahan.


Tak mudah menjadi Ibu di usia yang muda, tapi bagaimana pun dia yakin jika Indira mampu melewatinya dengan baik. Selain Bunda Gisya, Ayah Fahri pun menasehati Dirga.


"Sebagai seorang Ayah, pasti kita mau yang terbaik buat istri dan anak. Sekarang kamu harus dan wajib berbagi tugas dengan istrimu. Saat tengah malam anakmu bangun, cobalah temani istrimu dan bergantian menjaga Gemma," ucap Ayah Fahri sambil memegang bahu sang menantu.


"Iya Ayah, Dirga ngerti. Aku gak akan melewatkan masa-masa ini, Ayah. Aku janji akan jadi Ayah dan suami siaga buat Gemma dan Dira," Dirga mencoba meyakinkan sang Mertua.


"Harus itu! Bikinnya berdua, ya ngerawatnya juga berdua. Bukan cuman tugas Ibu atau tugas Ayah, tapi tugas bersama," keduanya tertawa pelan saat mendengar ucapan itu.


Waktu sudah malam, Bunda Gisya dan Ayah Fahri sudah terlelap dikamar yang akan diperuntukkan untuk Gemma nantinya. Sedangkan Indira baru saja terlelap sambil mendekap sang putri.


Dirga masuk kedalam kamar dengan mengendap, tak ingin membangunkan anak dan istrinya. Dia menatap wajah Indira yang terlihat sangat lelah, Gemma menggeliat dan akan menangis. Dengan segera Dirga menggendong dan menenangkannya.


"Anak cantik Ayah gak boleh nangis, ya. Kasian Bunda baru bobok! Kita main berdua aja, ya," bisik Dirga membuat Gemma tersenyum khas bayi.

__ADS_1


Dirga mengajak sang putri untuk keluar kamar, sepertinya Gemma kegerahan.  Indira yang menjadwalkan untuk menyusui dua jam sekali terbangun, namun dia tak mendapati putri dan suaminya disana. Indira bangkit dengan sedikit panik.


"Astaga! Bunda udah panik, ternyata kalian bobok disini," gumam Indira sambil terkekeh saat melihat Dirga tidur terduduk sambil menggendong Gemma.


Indira mengambil alih Gemma dan membuat Dirga terbangun.


"Kok bangun sih, sayang? Istirahat gih, biar Ayah yang boboin Gemma," ucap Dirga membuat Indira menahan tawanya.


"Emang Ayah bisa susuin Gemma?" tanya Indira membuat Dirga menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Akhirnya mereka kembali kedalam kamar, dia memperhatikan buah hatinya yang tengah menyedot nutrisi langsung dari pabriknya.


"Gemma bikin Ayah ngiler!" keluh Dirga membuat Indira mencubit kecil lengannya.


"Sabar! Nunggu indomie Ayah abis," kekeh Indira.


Aha! Dirga teringat jika stock indomie nya telah habis. Dia tersenyum-senyum sendiri.


"Ayah kenapa S3 begitu?" tanya Indira.


"Apa itu S3, Bun?" Dirga menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Stock indomie Ayah udah habis!" ucap Dirga membuat Indira tertawa.


"Bunda belum siap, ih! Bekas lahiran Gemma aja masih kerasa luar biasa!" lirih Indira penuh sesal.


Dirga mengelus kepala sang istri dengan lembut, "Gak apa sayang, kan kata Baba yang bawah disegel kan yang atas bisa!" dengan genit Dirga mengedipkan matanya.


Astaga. Virus Baba Jafran semakin merajalela. Indira hanya tersenyum lantas membaringkan dirinya bersama Gemma dan sang suami.


* *


Pagi harinya, Indira melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Dia mempersiapkan segala kebutuhan Dirga. Tak lupa dia juga membuatkan sarapan, walaupun harus sambil bolak-balik melihat kondisi putrinya.


Bunda Gisya hanya bisa tersenyum, ternyata didikannya selama ini dilakukan oleh putri-putrinya.


"Biar Bunda aja yang masak, Dek," ucap Bunda Gisya.

__ADS_1


Indira menggelengkan kepalanya, "Bunda kalo mau bantu, boleh minta tolong jagain Gemma? Biar Adek cepet masaknya," pinta Indira.


Bunda Gisya lantas mengangguk dan mengambil Gemma dari gendongan Ayahnya. "Sana kamu siap-siap dulu, biar Bunda yang pegang Gemma."


"Makasih ya, Bunda!" ucap Dirga.


Sebelum masuk ke kamar mandi, dia menatap sang istri yang dengan sigap mempersiapkan segala kebutuhan keluarganya. Dirga semakin mencintai Indira, apalagi kini sudah hadir Gemma ditengah-tengah mereka.


'Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Syafa' batin Dirga.


Seorang ibu adalah dia yang dapat menggantikan semua yang lain tetapi yang tempatnya tidak dapat diambil orang lain. Menjadi ibu adalah pekerjaan terberat di dunia. Pekerjaannya tidak ada hari libur, tetapi dia tidak mengomel apa-apa tentang itu. Profesinya menggambarkan cinta tanpa syarat, tidak mementingkan diri sendiri, dan pengorbanan.


"Sarapan dulu ya, Ayah! Bunda mau susuin dulu Gemma," ucap Indira setelah menyiapkan semuanya di meja makan.


Dia menghampiri sang Bunda dan mengambil alih Gemma. "Bunda sama Ayah juga harus sarapan dulu sebelum pulang ke Bandung!" titah Indira.


Bunda Gisya dan Ayah Fahri menurut, mereka terlihat heran saat melihat Dirga membawa piringnya ke kamar.


"Lho mau kemana?" tanya Ayah Fahri.


"Sarapan bareng istri dong, Ayah. Biar sepiring berdua, istriku butuh asupan energi untuk menyusui cucu kalian yang cantik!" ucap Dirga sambil terkekeh.


Ayah Fahri dan Bunda Gisya menatap bangga pada menantunya yang tak melupakan perut istrinya. Bagaimanapun kini Indira harus lebih banyak makan makanan yang sehat agar ASI nya tetap lancar untuk mengasihi Gemma.


"Ayah kok makan disini?" tanya Indira menatap suaminya heran.


"Makan berdua bareng Bunda, biar lebih nikmat! Sekarang buka mulutnya," titah Dirga membuat Indira tersenyum penuh haru.


"Terimakasih suamiku sayang!"


* * * * *


Rindu sayang kalian, Reader 🥰😘


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2