Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 32. Ada apa dengan Cinta


__ADS_3

Jika ditakdirkan untuk berjodoh jarak dan waktu tidak akan menjadi masalah, karena pasti akan ada saja kebetulan yang menyatukan.


🌼 🌼 🌼


Hati Indira sangat berbunga-bunga, malam dimana pertemuan dirinya dan Dirga sudah menyiratkan jika keduanya akan memperjuangkan cinta mereka. Berbeda dengan Athaya yang saat ini masih berjuang untuk menyembunyikan setiap luka dalam hatinya. Dia sedang belajar untuk mengikhlaskan sesuatu yang memang bukan miliknya.


Pagi ini, Athaya baru saja selesai melakukan lari pagi disekitaran komplek rumahnya. Baru saja akan bersiap membersihkan diri, Athaya mendapat telepon dari Rumah Sakit jika Aini mencoba untuk bergerak dari tempat tidurnya dan jatuh seketika. Secara otomatis Athaya pergi menyambar kunci motornya, dia benar-benar mengkhawatirkan gadis itu.


Tak butuh waktu lama untuk sampai disana, Athaya berlari bak seorang atlet. Beberapa orang dia tabrak secara tak sengaja, "Maaf.. Maaf.. Saya buru-buru, maaf..." Itulah kata-kata yang terucap dari mulut Athaya.


Braaaakkkk


Athaya membuka pintu kamar rawat Aini dengan nafas memburu, melihat Aini yang tersenyum dengan balutan perban dikepalanya membuat Athaya berhambur memeluk gadis itu seketika. "Tolong jangan buat aku khawatir, Aini. Aku adalah penanggung jawabmu sekarang, keluargamu sedang berada diluar kota semua. Kalo ada apa-apa kamu bisa hubungin suster, kenapa kamu melakukan semuanya sendiri?" lirih Athaya.


Baju yang Athaya pakai terasa basah, rupanya gadis itu tengah menangis dalam pelukannya. "Aku mau pulang, aku mau tinggal sama Kak Dirga... Aku cape kaya gini, aku mau......" ucapan Aini dibungkam oleh sebuah kecupan dikeningnya.


Perlahan pelukan itu terlepas, Athaya menangkup kedua pipi Aini dan menghapus airmata gadis itu. "Aku akan terus menjaga kamu, aku janji setelah ini aku gak akan pernah ninggalin kamu sendiri, Aini. Kamu adalah tanggung jawab aku, mulai saat ini detik ini kamu adalah hal yang paling aku prioritaskan. Apa kamu paham?"


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, "Kak Athaya itu tunangan Kak Syafa, emmm maksud aku Kak Dira. Aku gak mau kalo sampe Kak Dira salah paham, tolong hubungin Kak Dirga ya, Kak! Aku......" Lagi-lagi ucapan Aini dibungkam oleh sebuah kecupan oleh Athaya.


"Dengar Aini, aku akan tetap pada pendirianku. Kamu adalah prioritas utamaku, dan aku akan menjamin bahwa masa depanmu itu akan sesuai impianmu. Aku akan selalu mendampingi kami untuk meraih semua cita-cita kamu, aku...." kali ini ucapan Athaya sedikit tercekat.


"Aku akan mencintai dan menikahi kamu......" tegas Athaya.


Deg!


Aini shock, dia tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Athaya. "Kak! Kalo memang semua itu sebagai bentuk tanggung jawabmu, aku rasa tidak perlu! Aku gak pernah mau menghancurkan hidup seseorang, hanya untuk mendampingi aku yang cacat ini! Pergilah Kak! Aku gak butuh dikasihani, pergi!!!" Aini menangis dengan histeris.


"Gak Aini, aku gak akan pernah pergi. Semua yang aku ucapkan itu serius, bukan karena aku kasihan sama kamu! Tapi karena aku sudah mengikhlaskan Dira bersama Kak Dirga! Aku mohon Aini jangan seperti ini," lirih Athaya mencoba membawa Aini dalam dekapannya.


Semakin Athaya mendekap Aini, semakin dia berontak. "Aku mohon pergilah! Aku bisa menjalani semuanya sendiri, aku gak butuh dikasihani! Pergiii........" teriak Aini mencoba berontak, dan tak lama kemudian dia kembali tak sadarkan diri.


"Aini, aku mohon bangunlah! Aini...! Suster, tolong suster...!" teriak Athaya yang khawatir.


Tak lama kemudian datanglah dokter dan beberapa suster untuk mengecek kondisi Aini. "Saya harap pasien tidak mengalami tekanan dulu, itu bisa memicu rasa depresinya. Sebaiknya keluarga harus selalu mendampingi pasien, walau bagaimanapun kehadiran keluarga setidaknya bisa membuat suasana hatinya lebih baik. Dia pasti akan merasa diperhatikan dan memiliki semangat untuk sembuh," ucap dokter menerangkan.


"Baik dok, saya janji gak akan pernah meninggalkan dia sendiri lagi. Saat ini semua keluarganya sedang berada di luar kota, saya akan menghubungi beberapa temannya untuk menghibur dia disini," jawab Athaya pada dokter.


Selepas dokter pergi, Athaya mengirim pesan pada Indira.


📩 Calon Istri

__ADS_1


Dira, boleh minta nomor Kak Dirga? Ini penting!


Indira yang baru saja selesai mengajar sedikit tertegun membaca pesan dari Athaya. "Ada apa antara mereka? Apa sesuatu yang penting itu? Apa soal Aini? Atau soal hubungan aku sama Mas Yoga?" batin Indira bermonolog sendiri.


📩 Athaya


+62 812 2255 * * * * itu nomor Dirga. Ada apa? Apa ada masalah? Jangan sampe kalian membuat keributan lagi.


Athaya tersenyum sinis membaca pesan Indira, "Sekhawatir itukah kamu, Ra? Aku rasa keputusan aku buat melepaskan kamu itu adalah keputusan yang tepat," batin Athaya. Dia tak ingin berlarut, lalu Athaya memutuskan untuk menghubungi Dirga untuk membicarakan hal penting yang ingin dia katakan.


Dirga yang baru saja selesai memberikan pelatihan pada para tamtama seketika tersentak kaget. Dia memutuskan untuk bersiap kembali ke Bandung. Sedangkan Indira yang khawatir, langsung meminta Kania untuk mengantarkannya ke asrama Dirga.


Tepat di Pos, Bian yang juga bersiap mengantar Dirga menghampiri keduanya. "Ada apa pot? Kok gak disuruh masuk?" tanya Bian pada adik asuhnya yang bernama Ahmed.


"Baru itu mulutnya mau mangap, Abang datang begitu saja," jawab Ahmed.


"Huff.... Lain kali langsung arahkan ke asrama Kapten! Dia itu calon nyonya, calon Bu Danki!" bisik Bian.


"Wooooowwww.... Matii aku!" celetuk Ahmed.


Setelah gerbang dibukakan, Bian menuntun jalan menuju asrama Dirga dengan motornya. Bian akan mengantar Dirga dengan mobil milik sang Kapten. Sesampainya di asrama, Dirga melihat gadis pujaan hatinya itu dengan wajah yang cemas. "Ada apa, Syafa?"


Indira mencebik kesal, "Jadi aku gak boleh dateng kesini?!" Seketika wajah Dirga berubah menjadi panik, "Bukan begitu, kan Mas cuman kaget kamu dateng kesini. Dengan senang hati, Mas menyambut kehadiran kamu. Ayo masuk!" ajak Dirga.


Indira menyipitkan matanya, menatap Dirga dengan tatapan tajam. "Mas lagi gak bohong kan sama aku?" ucap Indira penuh selidik.


"Eh, enggak lah! Ngapain Mas bohong sama kamu, tanya aja sama Bian!" Dirga menunjuk Bian dengan dagunya, hingga membuat Bian yang tengah ngobrol dengan Kania menoleh.


"Apa? Kok pada ngeliatin saya begitu," gugup Bian.


Tubuh Bian mendadak kaku ketika Indira menghampirinya, "Emang bener kalian ke Bandung ada tugas? Bukan mau aneh-aneh kan?" tanya Indira.


"Lah emang ada tugas kok, Bu! Eh Dira, lagian saya gak akan aneh-aneh! Saya udah punya pawang, mana galak lagi! Bisa-bisa saya dipanggang," celetuk Bian membuat Indira dan Dirga menatap Kania penuh selidik.


Wajah Kania berubah pias, "Kok jadi pada liatin aku? Kan niatnya mau interogasi Mas Dirga! Ja-jadinya gimana, Ra?!" Kania mencoba mengalihkan perhatian Indira.


Kini Indira menatap Dirga dengan wajah sendu, "Aku gak tau ya, Mas bohong sama aku atau enggak. Aku serahkan semuanya sama Allah, tapi Mas aku mohon jangan buat keributan. Aku sayang sama kamu, aku gak mau kamu kenapa-kenapa," lirih Indira.


"Jadi kamu khawatir, hm? Tenang aja, Mas janji gak akan aneh-aneh dan bikin kamu khawatir. Mas sayang sama kamu," Dirga mengelus kepala Indira dengan lembut.


"Tuhkan! Ketauan bukan mau tugas!" kesal Indira mencubit pinggang Dirga.

__ADS_1


Wajah Dirga tiba-tiba melongo, "Ada apa dengan cinta? Orang pinter jadi bego, orang teliti jadi ceroboh, emang bener-bener yee!" celetuk Bian membuat Dirga melototkan matanya.


"Huft....! Athaya mau ngomong hal penting sama Mas, jangan khawatir ya! Mas akan bicara baik-baik sama dia. Do'akan saja supaya Mas selamat sampai Bandung," Dirga mencoba menenangkan hati Indira.


"Bener ya, Mas. Jangan pake ribut-ribut, apalagi kalo sampe Mas pulang bonyok! Kalo besok aku gak ngajar pasti aku maksa buat ikut, kali ini Mas selamat!" ucap Indira mencubit pipi Dirga. Mendengar ucapan sang kekasih, sontak Dirga memeluk tubuh Indira dan mengecup keningnya. "Mas gak akan bikin kamu khawatir, semuanya akan baik-baik aja. Love you, Syafaku."


Mereka merasa dunia milik berdua, "Yaa Allah, gini amat ya tinggal di bumi! Pindah ke mars enak kali ya, mengcapek ngontrak di bumi!" celetuk Kania.


"Heleeeh, sok-sokan mengcapek! Tinggal di gabrug aja itu Aa Bian nya," Dirga menatap kedua pasangan itu malas.


"Kalian berdua itu cocok, gak pinter akting gak pinter nyembunyiin! Dari muka aja dah keliatan, si Doni siap-siap patah hati aja," goda Indira.


"Tuhkan! Si Ical emang informan terbaik, bener kan si Doni-doni itu naksir kamu!" kesal Bian tanpa sadar merajuk.


"Aelah, si Ical di percaya! Makhluk dua dunia itu emang biang gosip!" kesal Kania.


"Cieeee... Cieeee...... Ada apa dengan cinta? Yang galak ae luluh sama si pujangga cinta! Alhamdulillah Bian tobat!" goda Dirga.


"Berisik kapt!" kesal Bian menatap Kania yang sudah bagai banteng yang siap menyeruduk.


"Eit... Berani kamu?! Push Up 10x!" titah Dirga dan Bian menurut begitu saja.


"Mas berangkat, ya! Kamu jaga diri dan hati-hati, boleh keluar asal sama Kania sama makhluk dua dunia itu. Jangan sama yang lain!" ucap Dirga mengelus kepala Indira.


"Ck! Namanya Faisal, Mas! Dia itu laki-laki! Yaudah Mas juga hati-hati, kabarin aku kalo udah sampe Bandung. Dan jangan lupa ingat pesan aku, ya!" pinta Indira dan Dirga mengangguk.


Dirga menatap mata Indira, "Mencintai kamu itu bagaikan terbang mengendarai pesawat. Memiliki tanggung jawab yang besar dengan tingkat resiko yang sangat tinggi. Mas pengen banget ngasih dunia ke kamu. Tapi karena itu nggak mungkin, maka aku akan kasih hal yang paling penting dalam hidupku, yaitu duniaku, Syafa."


Indira menusap pipi Dirga dengan lembut, "Sebelum ketemu kamu, aku nggak pernah tahu kayak apa rasanya memandang seseorang sampai nggak bisa berhenti tersenyum. Aku memang gak sempurna, Mas. Tapi aku yakin kamu adalah yang sempurna untukku. Hati aku itu cuma ada satu. Kalau ada dua, berarti satunya punya kamu, Mas."


"Ekheeemmm.........!!! Hayuk berangkat kapt? Nggak kelar-kelar entar kalo terus pandang-pandangan!" kesal Bian.


"Ck! Sejak kapan lu nyebelin sih, pot!!" Dirga memberengut kesal.


"Udah.. Jangan marah-marah, aku duluan ya, Mas!" pamit Indira.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2