
Aku telah lelah mengikuti semua, langkah kakimu..
Dan berharap, bisa memilikimu..
Berbagai cara telah aku lakukan untuk hidupmu..
Hingga aku, mengorbankan hidupku..
Buka hatimu.. Bukalah sedikit untukku..
Sehingga diriku.. Bisa memilikimu..
Berbagai cara telah aku lakukan untuk hidupmu..
Hingga aku, mengorbankan hidupku..
Buka hatimu.. Bukalah sedikit untukku..
Sehingga diriku..Bisa memilikimu..
Betapa sakitnya..Betapa perihnya hatiku...
Selalu dirimu tak menganggap ku ada...
Rasanya itu adalah lagu yang terputar cukup tepat untuk menggambarkan perasaan Athaya saat ini. Didalam mobilnya Athaya termenung sendiri memikirkan Aini dan Indira bersamaan. "Huft... bener kata Kak Dirga, perempuan itu memang rumit," keluh Athaya. Dia melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit tempat Aini di rawat.
Sedangkan Dirga baru saja menyelesaikan sarapan paginya, dia menggelengkan kepala ketika melihat Athaya berjalan menuju ruangan adiknya. Bagaimana tidak, ini baru jam setengah 6 pagi tapi anak itu sudah berada disana. Namun Dirga sedikit bersyukur, tandanya Athaya memang benar-benar melakukan tanggung jawabnya. "Pot, kamu balik ke kantin! Bungkusin satu nasi kuning sama kue basah buat Aini," tiitah Dirga.
Bian membulatkan matanya tak percaya, "Komandan bukannya udah makan? Emang belum kenyang dan? Itu perut apa kadut Dan?" tanya Bian. Dirga mendengus kesal, "Jangan kebanyakan tanya napa Pot! Cepet beli sekarang!" kesal Dirga membuat Bian menggerutu kesal. "Huft! Untung situ Komandan, kalo enggak sudah ku tendang kau ke antartika," kesal Bian meninju udara.
__ADS_1
Dirga belum masuk kdalam ruangan sang Adik, dia memperhatikan interaksi kedua anak manusia itu. Dia bisa melihat Athaya yang sedang membujuk Aini untuk sarapan pagi. "Ayo Aini, sarapan pagi dulu. Kakak suapin, ya!" bujuk Athaya dengan lembut. Sedangkan Aini masih mendengus kesal, "Kak Athaya ngapain sih kesini pagi-pagi banget! Aku belom ke kamar mandi, suster juga belom tensi aku pagi ini. Kerajinan banget sih!" ketus Aini.
Namun sikap Aini yang seperti itu membuat Athaya gemas, "Mau Kakak bantu ke toilet? Lagian kamu selalu cantik, meskipun gak mandi!" ucap Athaya menggoda Aini membuat pipi sang empu bersemu merah. "Apaan sih! Udah sanaan kenapa sih, malah deket-deket. Aku udah ada Kak Dirga kok yang ngurusin aku, jadi Kak Athaya gak perlu khawatir," tegas Aini.
Lagi-lagi Athaya hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, "Terserah kamu mau bilang apa, yang penting sekarang kamu sarapan pagi dulu! Biar banyak tenaga buat ngomlin aku. Mau aku suapin pake sendok apa pake mulut?" ancam Athaya membuat Aini membuka mulutnya begitu saja. "Good girl!" ucap Athaya mengusap lembut kepala Aini.
"Ck! Dasar buaya luar angkasa! Bisa juga dia ngeluluhin hati Adek gue," gumam Dirga. Melihat Dirga yang seperti mengintip membuat Bian terheran, "Ngapain ngintip begitu Dan?" tanya Bian membuat Dirga terperanjat kaget. "Yaa Allah pot! Kamu mau bikin saya jantungan! push up 30x!"
Mau tidak mau Bian melakukan push up sesuai perintah sang komandan, meskipun dalam hatinya mengumpat sang Komandan. Athaya yang mendengar keributan segera keluar, "Lho lagi latihan, Kak? tanya Athaya mengagetkan Dirga. "Astaghfirullohaladzim! Kalian mau bikin saya mati muda, kenapa bisa-bisa selalu ngagetin orang!" kesal Dirga membuat Athaya memberengut kesal.
"Jangan mengumpat saya dalam hati! Nih, sarapan dulu. Saya tau kamu belum sarapan pagi!" ketus Dirga. Bian membulatkan matanya ketika sarapan yang dia beli itu diberikan pada Athaya yang jelas-jelas 'rival' sang Komandan. "Gak abis pikir gue, apa sih yang dipikirin tu orang!" batin Bian.
Diam-diam Aini tersenyum melihat sikap dingin sang Kakak pada Athaya, meskipun dingin tapi Dirga masih memperdulikan orang lain. Dirga menghampiri sang adik, dia melanjutkan tugas Athaya untuk menyuapi sang adik. "Selesai makan, ada yang harus Kakak bicarakan sama kamu dan juga Athaya. Kamu percaya sama Kakak kan? Setiap keputusan yang akan Kakak ambil kedepannya itu untuk kebaikan kamu," ucap Dirga dan Aini menganggukkan kepalanya.
Kini mereka sudah duduk bersama dengan suasana yang cukup tegang, "Kak, sebenarnya aku udah mengucapkan niat baiku pada Aini. Tapi sepertinya dia menolakku mentah-mentah," ucap Athaya tersenyum sinis. Dirga mengerutkan dahinya, "Memang apa yang akan kamu katakan? Sampai adiku menolakmu seperti itu?" tanya Dirga.
Athaya menghembuskan nafasnya, lalu dia menatap Aini yang kini tertunduk menahan airmatanya. "Aku akan menjaga Aini sampai kapanpun, maka dari itu aku berniat untuk menikahinya agar aku bisa menjaganya tanpa takut melakukan dosa," ucap Athaya membuat Dirga dan Bian tersentak kaget. "What? Lu itu masih tunangannya nyonya eh Syafa, eh itulah! Gila ya lu!" kesal Bian.
Dirga menatap sang adik yang kini menundukkan kepalanya menahan tangis. Dia tau jika adiknya itu pasti terluka, "Kenapa kamu nangis? Apa laki-laki ini melakukan sesuatu hal yang bikin kamu terluka? Apa perlu Kakak juga bikin dia gak bisa berjalan lagi?" tanya Dirga dengan nada dinginnya membuat Athaya menelan ludahnya karena gugup.
Aini mendongakkan kepalanya, dia menggeleng dan meminta Dirga mendekat padanya. "Aku gak mau Kakak melukai orang lain, apa yang terjadi padaku itu adalah sebuah kecelakaan. Aku juga tau, niat Kak Athaya itu baik. Tapi Kak Athaya itu masih berstatus tunangan Kak Syafa, bagaimana bisa aku menerima ucapannya. Terlebih aku tau, dia melakukan itu hanya sebatas tanggung jawab. Dan aku gak mau membebani orang lain, Kak. Aku bisa hidup sendiri meskipun aku cacat," lirih Aini yang sudah tidak bisa lagi membendung airmatanya.
Siapa sangka Athaya bersujud didepan gadis itu, "Demi Allah Aini, aku mulai tertarik padamu sejak pertemuan pertama kita. Hanya saja saat itu aku masih terobsesi pada Indira," ucap Athaya membuat dahi Aini mengkerut. "Pertemuan pertama kita, saat kamu menjatuhkan sapu tanganmu. Sejak saat itu aku selalu penasaran dengan sosok kamu, Aini. Butuh waktu buat aku untuk mengutarakan niat baikku, demi Allah Aini aku gak main-main!" tegas Athaya.
Semua orang terperangah, otak Dirga bahkan tidak bisa bekerja saat ini. Begitupun Aini, dia belum bisa mencerna semuanya. "Aku akan memikirkan niat baikmu, Kak. Aku ini masih sekolah dan aku masih mau melanjutkan semua cita-cita dan impian aku," lirih Aini. Mata Athaya berbinar, "Aku tidak akan memintamu untuk melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Aku hanya ingin menjagamu dalam ikatan halal, Aini. Kamu tentunya harus terus belajar untuk menggapai cita-citamu dan aku akan selalu mendampingimu," ucap Athaya membuat Dirga semakin sulit mencerna semuanya.
Gadis itu terlihat menghela nafas panjangnya, "Aku akan mempertimbangkan semuanya, tapi dengan satu syarat!"
Setelah mendengar ucapan Aini, laki-laki itu langsung mengajak Dirga untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Kedua orangtua Athaya pun menyetujui semuanya, kini mereka akan bersilaturahmi kerumah Indira untuk memenuhi semua persyaratan yang diberikan oleh Aini.
__ADS_1
Sedangkan Indira, gadis itu kini sedang asyik memasak untuk makan siang. Hari ini kebetulan mereka tidak ada kegiatan mengajar, Kania dan Faisal sedang membersihkan rumah. Hari ini mereka membagi tugasnya masing-masing. Ketika Indira sedang asyik dalam kegiatannya, terdengar suara ponselnya berdering. "Bunda.... Perasaan baru tadi subuh Bunda nelpon ngabarin kondisi Ibam," batin Indira.
...IN CALL...
"Assalamu'alaikum, Bun. Ada apa? Tadi perasaan baru subuh Bunda nelepon," tanya Indira.
"Walaikumsalam, Nak. Apa Bunda ganggu? Ada hal penting yang harus Bunda sampaikan," ucap Bunda Gisya.
"Enggak kok, Bun! Ada apa? Ibam baik-baik saja kan, Bun?"
"Ibam baik-baik aja sayang. Begini, Nak. Keluarga Athaya tadi pagi datang untuk melamar kamu, Ayah sama Bunda udah menerima lamaran mereka. InshaAllah besok Om Bagja jemput kamu kesana ya, Nak. Kita akan melangsungkan akad nikah kamu, lusa," ucap Bunda Gisya.
Bruuukkk!
...END CALL...
Indira menjatuhkan ponselnya hingga terpecah belah, dia sudah tidak bisa lagi menahan sesak dalam dadanya. Kania yang mendengar suara benda jatuh langsung menghampiri Indira, "Yaa Allah, Dira! Kamu kenapa?" panik Kania. "Caaaallll...... Icallll......!! Kamu terusin Dira masak!" teriak Kania membuat Faisal datang sambil menekuk wajahnya. "Eikeu kan cape cyin..... Eh! Lu kenape, Ra! Ah elah, jangan mewek begitu dong yey! Cerita-cerita, ni kompor eikeu metongin dulu dah!" Faisal dan Kania memapah Indira dan membawanya ke kamar.
Mereka hanya bisa terdiam dan saling memandang, "Athaya udah ngelamar aku, lusa aku bakalan akad nikah sama dia," ucap Indira membuat keduanya sontak membulatkan matanya. "Apa?!" pekik Faisal dan Kania bersamaan.
Kania membawa Indira dalam pelukannya, "Sabar ya, Ra! Aku gak tau mesti ngomong apa sekarang. Nanti aku coba hubungin Mas Bian, mau bagaimanapun Mas Dirga harus tau, Ra!" ucap Kania membuat Indira menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau dia berhenti memperjuangkan aku, tapi aku juga gak mau bikin kedua orangtuaku malu, Nia. Mereka udah nerima lamaran keluarga Athaya, biar nanti aku yang menjelaskan semuanya sama Mas Dirga," ucap Indira sambil sesegukan.
"Maafkan aku, Mas Yoga. Sepertinya semesta tidak mengizinkan kita untuk bersama," batin Indira.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤