
Mentari pagi dengan kicauan burung menyambut pagi hari Indira dengan semangat penuh, hari ini dia akan pergi jalan-jalan bersama suaminya. Lusa suaminya itu akan berangkat bertugas, maka Indira tidak akan menyia-nyiakan hari yang tersisa ini.
"Selamat pagi istriku!" sapa Dirga memeluk dan mencium pipi Indira.
Indira menoleh dan tersenyum, "Selamat pagi juga suamiku, duhh ganteng banget siii!" gemasnya.
"Baru sadar suaminya ganteng, Bu?" goda Dirga mencolek dagu Indira.
Ucapan Dirga membuat Indira mencebik kesal, "Iya baru sadar! Apalagi setelah tau kalo disini banyak yang naksir!" dengan ketus Indira menjawab ucapan suaminya itu.
Alamak!
Dirga menepuk jidatnya, "Gak gitu konsepnya istriku, Mas kan gak maksu buat.........."
"Udahlah gak usah di bahas! Bikin badmood," Indira sengaja memotong ucapan suaminya itu, kemudian dia bergegas menuju kamar untuk berganti baju.
Sebenarnya Indira hanya berniat mengerjai suaminya itu, bahkan dia mengunci pintu kamar agar Dirga tidak dapat masuk.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang! Buka pintunya dong, kok di kunci segala sih?" rengek Dirga seperti anak kecil.
Didalam kamar, Indira tertawa geli membayangkan wajah suaminya itu. "Sengaja di kunci, takut buaya masuk!"
Mendengar ucapan sang istri, Dirga hanya menghela nafasnya. "Mana ada buaya, sayang! Buka dong, Mas janji bakalan penuhin semua permintaan kamu hari ini!"
Aahhaaa! Ide cemerlang tiba-tiba saja muncul di kepala Indira, dia bukan tipe perempuan yang senang pamer kemesraan di hadapan orang lain. Tapi untuk kali ini, bolehkah Indira ingin memperlihatkan jika Dirga itu suaminya.
Ceklek
Indira membuka pintu, lalu memberikan hoodie berwarna lilac pada suaminya itu. "Kita mau ke supermarket, pake itu! Awas kalo enggak, gak dapet jatah naik!"
"Haaaaaahhh??" Dirga melongo, sejak kapan istrinya itu terkontaminasi ke absurdan keluarganya. Hoodie berwarna lilac bertuliskan 'Milik Istri', berkali-kali dia mengucek matanya itu.
Tak ingin membangunkan singa betina, Dirga lebih memilih untuk menurut saja. Bukankah membahagiakan istri itu akan membuat rezeki lancar, pikirnya.
Keduanya memilih untuk memakai motor, Dirga akan mengantarkan Indira ke sekolah terlebih dahulu. Dia mendapatkan jadwal mengajar hingga pukul 10 pagi, begitu pun juga dengan Dirga yang akan melaksanakan apel pagi.
"Ckckck! Sejak kapan komandan mau pake baju warna gitu? Haduh, Dan.. Dan.. Malu-maluin aja! Celana loreng kok jaketnya ungu, yo pake jaket kulit gitu lho biar keliatan keren!" ucap salah satu anggota yang bernama Waluyo.
Bian mendecak sebal, "Situ belom pernah ngerasain jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sih, Yo! Makane wis cari istri, mosok kalah sama junior mu si Abeng!"
"Huft! Aku iku ya pengen koyo ngono, tapi mau gimana lagi! Hilal jodohku belum terlihat, tapi bener lho aku iku salut sama komandan. Demi membahagiakan bojo ne dia mau pake baju koyo ngono!"
__ADS_1
Bian mengangguk, dia pun merasakan perubahan sikap Dirga. Semenjak lebih dekat dengan Indira atasannya itu jauh lebih kalem dan slow. Biasanya Dirga akan cepat marah dan cenderung tempramen.
Pukul 10 tepat, Dirga sudah menjemput istrinya itu. Kali ini dia membawa mobil, sebab istrinya itu akan berbelanja kebutuhan mereka. Indira mengerenyitkan dahinya, "Mas kok pake mobil? Aku kan maunya pake motor, biar bisa peluk kamu gitu loh!" rengek Indira.
Kali ini Dirga menyesali keputusannya untuk membawa mobil, "Kan mau belanja, yank! Nanti baranh belanjaan kita gimana?"
Sejenak Indira berpikir, memang benar apa yang di ucapkan oleh suaminya itu. Tapi hari ini dia benar-benar ingin terus memeluk suaminya. Dia menghela nafas pelan, "Yaudah pake mobil aja!"
Tak tega melihat wajah sang istri, lantas Dirga menghubungi juniornya. "Tolong bawakan motor saya ke depan SD!"
Wajah sendu itu berubah menjadi berbinar, ah! Dirga gemas sendiri. Ingin rasanya dia mengurung istrinya itu seharian didalam kamar.
Wohooo, Binggo!
Bagai mendapatkan berlian, Dirga tersenyum menatap wajah cantik istrinya itu. "Pulang belanja kita pergi ke tempat yang Mas mau, ya!" Indira hanya menganggukkan kepalanya.
Seorang laki-laki bernama Panca dan Waluyo kini sudah sampai disana, "Siap Dan! Ini motornya, bensin nya seperti nya kosong. Jangan lupa diisi, Dan!" ucap Panca.
"Ck! Iya nanti saya isi, sekarang kamu bawa mobil saya! Saya mau ke IndoGajah untuk belanja, nanti kamu susul kesana pake mobil!" kedua juniornya itu mengangguk patuh.
Indira benar-benar memeluk erat tubuh suaminya, "Aku cinta kamu, Mas!"
Dirga tersenyum penuh kebahagiaan, dia menggenggam tangan istrinya yang melingkar di pinggang. "Aku lebih mencintai kamu, Syafa!"
Jujur saja, ini pertama kalinya Dirga berbelanja ke supermarket. Dia cukup lelah, ditambah dia merasa risih dengan tatapan orang-orang. Hoodie berwarna ungu ini sangat tidak pas di padu padankan dengan celana loreng, ditambah lagi tulisan nya yang membuat orang lain terkikik geli.
"Masih banyak yang mau dibeli sayang?" tanya Dirga dengan hati-hati. Sedangkan yanh ditanya malah berbalik dan menatap dengan tajam, "Kamu gak liat, Mas? Ini baru makanan, belum lagi sabun-sabunan! Udah kalo cape duduk aja sana sama anak buah kamu!"
Dirga mengangguk, terlihat sekali binar bahagia di matanya. Baru saja dia akan melangkah, "Tapi gak ada jatah buat main odong-odong!"
Duaaarrrrrrr!
Jika kartu AS sudah dikeluarkan, maka dia tak bisa berkutik. Sekitar satu jam setengah, keduanya baru menyelesaikan semua itu. Apa yang dikatakan oleh mertua dan Kakak iparnya itu benar adanya. 'Meskipun banyak duit, tapi perempuan di keluarga ini pasti membandingkan harga dan jumlah gram yang tertera. Belum lagi kalo ada diskon, beda 50 rupiah pun tetep ambil yang diskon. Belanja nya bisa setengah jam, tapi mikirnya yang bisa jadi satu setengah jam'. (Hayoohhh reader ada yang gitu juga gak? 🤣✌😝)
Selesai membayar, Dirga mendorong trolley menuju parkiran mobil. Disana kedua juniornya tengah menunggu, rupanya mereka tertidur di dalam mobil.
Braaaakkkk!!!
Keduanya terperanjat kaget ketika mendengar suara pintu mobil ditutup dengan kasar, Dirga kesal bahkan sangat kesal. Dirinya lelah menemani sang istri, tapi kedua juniornya itu malah asyik tertidur.
"Wes beres to Ndan? Kok ndak bangunin kita orang?" tanya Waluyo dengan polos.
Ingin rasanya Dirga menghajar kedua juniornya ini, "Bangunin Mbahmu! Makanya kalo molor itu ya jangan kebablasan, orang masukin barang ke mobil emang gak kerasa! Gimana nanti kalo kalian tugas?! Bisa mati duluan ditembak musuh!" ketus Dirga.
__ADS_1
"Siap salah, Komandan!" ucap Panji dan Waluyo serempak.
"Sekarang balik ke asrama, beresin belanjaan istri saya! Masukin bahan-bahan yang memang harus dimasukin ke dalam kulkas, jangan sampe salah! Malam ini saya gak pulang, sudah izin pada Danyon!" tegasnya.
"Siap laksanakan!"
Setelah memberikan tugas pada para juniornya, kini Dirga menghampiri sang istri yang tengah memakan es krim diatas motornya. "Aduh, kok aku jadi kaya Baba sih! Liat istri makan es krim aja, pikiranku jadi traveling!" gumam Dirga. (Kok bisa yaa 🤪🤣✌)
"Mas mau?" tanya Indira menyodorkan es krim nya. Dirga menggeleng, "Mas mau nya makan kamu aja!"
Oh My God!
Pipi Indira bersemu merah, suaminya itu kadang suka tidak tau tempat. "Sekarang kita kemana, Mas?" tanya Indira.
"Ke tempat special!" jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Astaga! Sejak kapan suaminya yang terkenal dingin itu menjadi pria genit? Indira hanya bisa mengucapkan dalam batinnya.
Mata Indira membulat ketika suaminya itu membelokkan motornya ke parkiran hotel. "Mas kita ngapain ke hotel? Itu belanjaan aku belom di beresin, Mas! Lagian aku juga belom siapin keperluan kamu buat tugas!"
Dirga membuka helmnya, "Udah aman sama Panca dan Waluyo, Mas mau seharian ini sama kamu! Hari ini, Mas milikmu!" bisiknya membuat tubuh Indira menegang.
Setelah check in dan menunjukan identitas bahwa keduanya sah suami istri, mereka sudah menuju kamar. 'Hotel Bali' memiliki nuansa yang romantis, mata Indira terperangah ketika melihat kamar yang sudah di hias sedemikian rupa.
Dua angsa diatas kasur, tak lupa kelopak bunga mawar yang berbentuk hati. Ternyata suaminya itu sangat romantis! Indira menutup mulutnya seakan tak percaya.
"Kamu suka, sayang?" Dirga memeluk istrinya itu dari belakang, dan menciumi leher Indira yang tertutup hijab.
Indira mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku suka, Mas! Suka banget!"
"Mas mau malam ini kita lembur, berharap si dedek segera hadir ditengah-tengah kebahagiaan kita. Yang akan menjadi penyejuk dan pelengkap hidup kita," ucap Dirga sambil mengelus perut istrinya itu.
Dua insan anak manusia itu terhanyut dalam suasana romantis, kecupan, decakan bahkan suara-suara yang dapat menggelitik pendengaran terdengar jelas di kamar itu. Keduanya memadu kasih, berkeringat bersama lalu menuju pelepasan dan berharap jika benih yang ditabur dalam rahim istrinya itu dapat segera berwujud menjadi bayi mungil yang akan menjadi pelengkap kehidupan keduanya.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1