Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 56. Kelahiran


__ADS_3

Seorang ibu adalah dia yang dapat menggantikan semua yang lain tetapi yang tempatnya tidak dapat diambil orang lain. Ibu adalah rumah untuk kembali dan berlindung dari segala ancaman. Ibu adalah pahlawan yang selalu bersamamu hingga akhir hayatnya. Murni, teduh, dan lembut. Itulah hati terbaik yang pernah diciptakan Tuhan. Itu semua adalah hatimu, Ibu.


Sudah 8 jam Indira berjuang, gelombang cinta yang datang terus dia rasakan. Tidak seharusnya Indira merasakan mulas, sebab usia kandungannya yang baru berusia 7 bulan. Bunda Gisya dengan setia menemani putri bungsunya itu, dengan lembut dia mengusap-usap punggung sang anak.


"Sakit, Bun..." lirih Indira.


"Sabar sayang, beginilah perjuangan seorang Ibu. Bunda yakin kamu pasti kuat Dek, berjuang sama-sama dengan anakmu ya!"


Tak hentinya Bunda Gisya menyemangati sang anak, begitupun dengan Dirga yang selalu setia berada disamping sang istri. Kini dia menjadi suami siaga bagi istri dan anaknya, walaupun mungkin tugas negara menantinya.


"Bun, aku pipis!" pekik Indira membuat semuanya tersentak kaget.


Dirga segera memanggil bidan yang berjaga, rupanya ketuban Indira sudah mulai rembes. Padahal pagi tadi Indira sudah diberikan obat oleh dokter agar tidak terjadi pembukaan. Rupanya Allah berkata lain, usai melakukan USG dengan terpaksa dokter mengatakan jika Indira harus menjalani Operasi Caesar malam ini juga. Sebab kondisi Ibu dan bayinya ini dalam kondisi yang kurang baik.


Ikhlas.. Begitulah yang kini Dirga dan Indira coba, setelah menandatangani surat persetujuan operasi kini dia menemani Indira untuk melahirkan buah cinta mereka. Bahkan seluruh keluarga kini sudah berkumpul di Rumah Sakit, mereka sangat khawatir terhadap Indira dan juga bayinya.


"Mas, aku minta maaf gak bisa jaga dedek dengan baik. Andaikan kamu diberikan pilihan, tolong pilih anak kita ya, Mas!"


Sontak ucapan Indira membuat Dirga membelalakkan matanya. "Kamu ngomong apa sih, Bun?! Kamu sama dedek harus selamat dan aku akan memastikan itu! Tolong sayang, jangan ucapkan hal-hal yang buat Mas takut!" Dirga berucap dengan airmata yang menetes begitu saja.


Prosedur yang diberikan kepada Indira adalah dengan anestesi spinal block (anestesi tulang belakang). Obat bius yang disuntikkan langsung ke sumsum tulang belakang, sehingga dapat membuat tubuh bagian bawah mati rasa. Dirga meringis sendiri ketika melihat perjuangan sang istri.


Operasi pun sudah dimulai, Dirga terus menggenggam erat tangan sang istri walaupun dirinya pun ikut gemetar ketika melihat proses persalinan dengan jalan Operasi Caesar. Dia terus berusaha kuat, walaupun kepalanya sudah terasa pusing.


Hal yang paling ditunggu pun tiba, terdengar suara tangisan walaupun tak senyaring bayi biasanya. Mata Dirga mulai berkaca-kaca, begitupun Indira.


"Selamat Pak, Bu. Bayi nya perempuan dengan berat 1.9kg dan panjang 45cm. Untuk sementara bayinya akan kami bawa ke ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) untuk mendapatkan perawatan terlebih dahulu. Bapak dapat mengadzani bayi nya sebelum masuk ruang NICU," ucap dokter menjelaskan.

__ADS_1


Dirga mengangguk, sebelum mengikuti suster dia mencium seluruh wajah istrinya itu. "Alhamdulillah, kita sudah resmi jadi Ayah dan Bunda. Sekarang Ayah mau adzanin princess kita dulu, Bunda pasti kuat! Ayah nanti balik lagi kesini."


Indira tersenyum dan mengangguk tanda mengerti. Dirga mengikuti suster, dia bisa melihat bayi mungil itu tengah dibersihkan tubuhnya. Airmata Dirga kembali luruh, tatkala dia melihat hasil jerih payahnya bersama sang istri.


"Kamu bener-bener mirip banget sama Ayah dan Bunda, Nak!" gumam Dirga.


Mata dan bibirnya benar-benar mirip sekali dengan Indira, sedangkan hidung dan alisnya mirip dengan Dirga. Selesai dibersihkan, Dirga mengadzani putri pertamanya itu dengan tangis haru. Dia belum bisa memeluk dan mencium putri kecilnya, sebab kini bayi mungil itu berada dalam inkubator.


Indira sudah selesai menjalani Operasi Caesar, setelah beberapa waktu dia berada dalam ruang pemulihan. Kini Indira sudah dapat dipindahkan ke ruang rawat biasa. Tentu saja bukan sembarang ruang rawat, sebab mereka mengambil kelas VVIP dimana seluruh keluarga dapat berkumpul disana. Iyalah sultan mah bebaaasss 😁✌🤣🤪


"Yaa Allah, alhamdulillah sekarang dedek bayi dan ibunya selamat. Insya Allah, kalian akan segera pulih dan kembali kerumah, ya! Tadi gimana kata dokter, Mas?" tanya Mama Dirga.


"Dedek bayi alhamdulillah sehat, Ma. Cuman untuk saat ini dalam observasi dokter, soalnya berat badan dedek bayi masih 1.9kg dan mungkin juga beberapa organ dalam tubuhnya belum berfungsi dengan baik. Kami mohon do'anya dari semuanya ya!" jawab Dirga kemudian mencium kening sang istri yang terlihat bersedih.


Mama Dirga dan Bunda Gisya memahami itu, tak mudah menerima kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Keduanya terus menyemangati Indira, sebab mereka tak ingin putri dan menantunya itu bersedih.


Bunda Gisya menghampiri sang putri, "Jangan pernah bersedih dengan takdir yang sudah Allah berikan, Dek. Bunda ngerti gimana perasaan Adek, tapi kalo begini terus Bunda malah kasian sama cucu Bunda."


Yang dibutuhkan Indira saat ini adalah semangat dan dorongan agar dirinya kuat dan mampu memberikan yang terbaik untuk putri kecilnya.


* * *


Ini adalah hari kedua Indira dirawat, pagi ini seluruh keluarga berkumpul disana termasuk Elmira, dia terus menyemangati sang adik. Seperti saat ini dia membuatkan sayur daun katuk dan telur rebus khusus untuk Indira. Daun katuk memiliki khasiat melancarkan ASI, sedangkan telur rebus mempercepat keringnya luka pasca operasi. (Katanya, mohon dikoreksi apabila salah 🤗)


"Makan yang banyak ya, adikku sayang! Setelah makan, suster bilang kamu boleh liat dedek bayi!"


Indira yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung tersenyum walaupun tubuhnya masih terasa sangat lemas. Walaupun memakai cateter, tapi untuk buang air besar dia lebih memilih pergi ke kamar mandi dengan dituntun oleh sang suami.

__ADS_1


Dirga menyuapi Indira dengan telaten, tadi pagi untuk pertama kalinya Indira diminta untuk memeras ASI nya menggunakan alat. Dan ASI yang dia hasilkan rupanya masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sang bayi. Maka dari itu saat ini Indira lebih bersemangat memulihkan dirinya, supaya dia dapat menghasilkan ASI yang cukup bayi putri kecilnya.


"Bunda nya dedek bayi hebat banget makannya, Ayah aja sampe kenyang liat Bunda makan!" goda Dirga menaik turunkan alisnya.


Indira menunduk malu, "Apa sih, Ayah!" rengek Indira.


Seluruh keluarga hanya mampu menahan senyuman mereka, kini semuanya bersyukur jika Indira dapat kembali bersemangat. Tak lama kemudian suster datang memberitahukan jika Indira dapat melihat putrinya itu.


Mata Indira berkaca-kaca ketika melihat seorang bayi mungil yang berada didalam inkubator. "Putri kecil, Bunda. Cepet sehat ya, sayang. Supaya kita bisa kembali kerumah, Bunda pengen merawat kamu dengan baik, Nak."


Tiba-tiba saja bayi mungil itu menggenggam jemari telunjung sang Bunda, hal itu semakin membuat Indira bersemangat untuk memberikan ASI terbaiknya. Kini Indira diizinkan melakukan gendongan dengan metode kangguru, bayi mungil itu diletakkan pada dadanya.


"Masya Allah, istri dan anakku cantik sekali. Ayah jadi bingung, cinta Ayah sama besarnya untuk putri kecil kita. Jadi Bunda jangan cemburu, ya!" bisik Dirga membuat Indira tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Bunda ikhlas, sekalipun cinta Ayah sepenuhnya untuknya."


Sebab, kasih sayang seorang Ibu melebihi apapun. Jika bisa, dia akan memberikan seluruh dunia demi memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.


* * * * *


Semoga kalian sehat-sehat selalu yaa..


Rindu sayang kalian, Reader 🥰😘


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2