
Pertengkaran dalam rumah tangga tidak bisa kita hindari, Athaya menurunkan ego dalam dirinya. Dia kembali mengingat ucapan Kakak iparnya tadi.
"Ibu hamil itu hormon nya naik turun, belum lagi setelah melahirkan dia akan mengalami fase baby bluuues. Dia akan ketakutan, gak bisa jaga anaknya dengan baik. Tugas kita sebagai seorang suami hanyalah mendampingi. Jika bisa, usahakanlah selalu ada disampingnya. Kuatkan hatinya, karena perjuangan seorang istri itu sangatlah berat.."
Athaya menurunkan ego nya, dia kembali ke kamar setelah pikirannya tenang. Aini masih menangis terisak dipelukan Mbok Ratmi, karena Dirga dan Indira sudah berangkat kerumah Ayah Fahri.
"Sayang.." panggil Athaya dengan lembut.
Mbok Ratmi pun mengerti, dia meninggalkan sepasang suami istri itu. Athaya menghampiri Aini dan berlutut dihadapan istrinya itu. Dia mendekatkan kepalanya ke perut Aini.
"Maafin Ayah ya udah bentak Buna nya dedek bayi.. Dedek jangan marah sama Ayah, ya! Asal dedek tau, Ayah sayang banget sama dedek.. Apalagi sama Buna.. Ayah gak mau kehilangan kalian berdua. Bagi Ayah, kalian adalah harta yang paling berharga!"
Athaya mengecup perut Aini, seolah mengerti bayi itu menendang perut Aini hingga dia meringis. Dengan sigap Athaya mengelus kembali perut istrinya itu.
"Jangan keras-keras ya nendangnya! Kasian lho Buna kesakitan.." bisik Athaya membuat Aini tersenyum sambil menahan airmatanya.
"Maaf ya Mas.. Maaf kalo aku bikin Mas kesel.. Maaf kalo.."
"Udah sayang.. Mas paham kok! Mas berharap gak akan denger lagi kata itu dari mulut manis kamu. Mas gak mau! Kalo Mas bisa, Mas mau menukar seluruh yang Mas punya supaya kamu bisa selalu tersenyum dan hidup bahagia.."
Dua insan manusia itu saling memeluk dengan erat, Athaya sungguh mencintai Aini. Bukan hanya karena rasa bersalah, tapi karena cinta yang telah terarah.
Dirga dan Indira pun baru sampai di kediaman Ayah Fahri, rencananya memang mereka akan menginap disana selama Dirga melaksanakan kegiatan.
"Masya Allah cucu Oma! Gemes banget nih Gemma!" Bunda Gisya terus menciumi pipi cucu nya yang gembul itu.
"Iya nih, Oma! Gemma doyan banget ngemil sekarang.. Alhamdulillah pertumbuhannya pesat!" ucap Indira membuat Bunda Gisya tersenyum.
"Gak ada lagi kebahagiaan seorang Ibu selain melihat anaknya tumbuh sehat, Nak!" ucap Bunda Gisya.
"Masuk yuk! Ayah masih latian tembak tuh dibelakang sama Bang Mirda!" Bunda Gisya mengajak anak serta cucunya ke ruang tengah.
"Lho Bang Mirda aja? Kak El gak ikut Bun?" tanya Indira, sedangkan Dirga sudah bergabung bersama Ayah Fahri dan juga Mirda.
"Ikuuuttt dooongggg... Mumpung tugas ke Bandung!" jawab Elmira sambil menggendong Ibam.
"Kak El!" Indira memeluk Elmira dengan erat, jarak membuat keduanya memupuk rindu.
"Darimana Dek? Kok baru sampe jam segini?" tanya Elmira sambil merangkul adik bungsunya itu.
"Dari rumah Papa, Kak! Nengok Athaya sama Aini dulu.. Eh kebetulan mereka tadi lagi ada gitulah.. Mungkin Athaya ngerasa bersalah dan Aini ngerasa gak mampu untuk membesarkan anak mereka.." lirih Indira.
"Itulah Nak.. Setiap rumah tangga kan memiliki ujian nya masing-masing. Insya Allah.. Bunda percaya, Athaya lelaki yang baik dan Aini perempuan yang sabar. Kita do'akan saja yang terbaik untuk mereka ya!" ucap Bunda Gisya dan keduanya menganggukkan kepalanya.
Saat Indira tengah asyik mengobrol bersama Bunda Gisya dan Elmira, Dirga berlari bersama Mirda menghampiri keduanya.
"Sayang kita ke rumah sakit sekarang, ya! Athaya telpon katanya Dira mau lahiran!"
__ADS_1
Dirga sangat panik begitu dikabari jika adik bungsunya akan melahirkan, hingga butiran keringat bercucuran didahinya.
"Ya Allah! Tunggu sebentar, Ayah! Gemma gimana?" tanya Indira yang kebingungan.
Dirga pun menatap putri kecilnya yang tengah bermain bersama Ibam. Dia pun enggan meninggalkan Gemma, tapi jika dibawa dia takut Gemma sakit.
"Kalian pergilah! Biar Gemma sama Kakak sama Bang Mirda.. Lagian ada Ayah sama Bunda juga! Nanti kalo Gemma mau minum susu, Kakak kabarin kamu, Dek!" ucap Elmira membuat Indira berpikir.
"Pergilah, Nak.. Bunda udah berpengalaman pegang cucu-cucu Bunda, jangan khawatir! Percayalah sama Bunda.."
"Bukan gak percaya, Bunda.. Adek takut ngerepotin Bunda.." lirih Indira.
"Enggak sama sekali! Udah sana.. Kasian Athaya pasti panik. Mama kalian juga masih di Jakarta kan? Aini pasti butuh kamu Dek.." ucap Bunda Gisya meyakinkan keduanya.
Akhirnya Indira dan Dirga pergi ke Rumah Sakit menggunakan motor, agar cepat sampai. Benar saja dugaan Bunda Gisya. Athaya sudah berdiri dengan gelisah didepan ruang pendaftaran.
"Dampingi Aini! Biar Kakak yang urus administrasi!" ucap Dirga membuat Athaya mengangguk dan melesat menemui sang istri.
"Sayang.." Athaya menggenggam jemari Aini dengan lembut.
"Mbok.. Tolong belikan teh manis hangat, ya! Biar Aini ada tenaga.." pinta Indira.
"Nggih Non.."
"Istighfar ya Dek.. Insya Allah semuanya dilancarkan sama Allah.. Kamu juga jangan panik, Athaya! Sekarang Aini butuh kekuatan dan support besar dari kamu sebagai suami.."
Sudah pembukaan delapan, Aini tidak menyangka mulas yang ia tahan sejak semalam adalah pembukaan. Karena memang perkiraan melahirkan masih sekitar 2 minggu lagi.
"Istighfar Dek.. Insya Allah kamu kuat.." Dirga mengecup kening sang adik.
Mereka benar-benar mendampingi Aini, menggantikan kedua orang tua mereka yang berada diluar Kota dan tidak mungkin tiba saat itu juga.
"Kak muless.. Aku gak kuat, bayinya mau keluar!" teriak Aini membuat Athaya panik.
"Suster..! Istri saya sudah gak kuat!" panik Athaya.
Indira dan Dirga, juga Mbok Ratmi menunggu diluar. Sedangkan Athaya mendampingi Aini yang sedang berjuang untuk melahirkan secara normal. Dia merasa bahwa dirinya bisa dan dirinya mampu.
Setelah 30 menit berjuang, akhirnya terdengar suara tangisan bayi menggema di ruang bersalin. Athaya tidak bisa menahan lagi airmatanya. Rasa cintanya pada Aini bertambah seribu kali lipat. Apalagi dia menyaksikan sendiri perjuangan istrinya itu saat melahirkan.
Oeekkk.. Oeeeeekkk...
"Alhamdulillah.. Selamat ya Ayah dan Bunda.. Anaknya laki-laki, panjangnya 49cm.. Semuanya lengkap, sehat dan sempurna.." ucap dokter membuat Athaya bersujud syukur.
Dokter memberikan bayi itu pada Aini untuk melakukan IMD, Athaya dan Aini menatap takjub pada bayi mungil yang menggeliat mencari sumber kehidupannya.
"Masya Allah tabarakallah.. Anak Buna.." lirih Aini dengan airmata yang tak bisa tertahan lagi.
__ADS_1
"Selamat sayang.. Sekarang kamu jadi Buna dan aku jadi Ayah.. Kita udah jadi orang tua.. Semoga adek bayi jadi anak yang soleh.."
"Aamiinnn.." lirih keduanya. Rasa bahagia sungguh membuncah didalam dada.
Usai dibersihkan, Athaya diminta suster untuk ke ruangan bayi. Dia akan mengadzani putra pertamanya itu.
"Cuci tangan dulu ya, Pak!" pinta suster dan Athaya menurut.
Dengan tangan gemetar dia menggendong putranya yang mungil, wajahnya sangat mirip dengan dirinya. Hanya hidung dan alis yang mirip Aini.
"Masya Allah.. Selamat datang di dunia anakku sayang.."
Aini sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Dirga dan Indira turut merasa lega. Karena kondisi Aini dan bayi nya baik-baik saja.
"Alhamdulillah.. Selamat ya dek! Sekarang kamu udah resmi jadi seorang Ibu.." Dirga mengecup kening sang adik.
"Kamu pasti bisa merawat anak kamu dengan baik, Dek.. Kakak akan selalu dampingi kamu, walaupun dari jarak jauh.." Indira mengelus lembut kepala Aini.
"Terimakasih ya, Kak.."
Tak lama, suster membawa bayi mungil itu ke ruangan sang Ibu. Karena memang kondisinya sangatlah baik.
"Masya Allahh.. Mirip banget Athaya ya, Ayah! Plek ketiplek banget!" ucap Indira terkekeh.
"Gantengnyaa anak Pakde.." ucap Dirga membuat Athaya mencebik.
"Anak gue itu, Kak! Jangan ngaku-ngaku!" omelnya.
"Hush! Kalian ini ya!" Indira mencubit lengan suaminya.
"Masya Allah.. Buna kebagian hidung doang ya, Nak.." Aini mengecup kening putranya itu.
"Namanya siapa? Kalian udah siapin nama?" tanya Dirga dan Athaya menganggukkan kepalanya.
"Gus Adzka Faizan Dirgantara Rahadian.."
"Masya Allah.. Semoga barokah ya, jadi anak yang soleh dan membanggakan keluarga.."
* * * * *
Haiiii...
Maafkan Othor baru menyapa novel ini kembali..
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤