
Prajurit sejati bertempur bukan karena dia membenci apa yang ada di depannya, namun karena dia mencintai apa yang ada di belakangnya. Prajurit TNI harus berani terima resiko. Yang menentukan apakah seseorang itu ikhlas berjuang atau memerintah atau berani, harus terima resiko apa saja. Ketika hidup menang, ada kelahiran, ketika itu digagalkan, ada kematian. Seorang prajurit selalu terlibat dalam hidup dan mati untuk perdamaian.
Sudah empat bulan ini Dirga tak berkabar dengan sang istri, terjadi penyerangan di Barak. Hingga bangunan itu porak poranda, bahkan ponsel milik Dirga pun hancur tak berbentuk.
"Aarrggghhhh..!!! Siaaalan....!!!" geram Dirga.
Rasa rindu sudah menggebu, walaupun sisa tugas nya di Ambon tinggal 2 minggu lagi, tapi bagi Dirga waktu itu terasa sangat lama.
Bian hanya diam, dia mengerti perasaan sang Komandan. Sebab dirinya pun merasakan kegalauan yang sama. "Sabar, Dan! Tinggal dua minggu lagi...!"
Keresahan dirasakan Bian, sebab dia belum mengetahui kondisi istri sang Komandan. Hingga saat ini, Dirga masih mengalami mual dan muntah. Meskipun begitu, kedondong, mangga muda hingga buah-buahan asam lainnya yang berada disekitar daerah itu mampu mengobati Dirga.
"Pot! Apa istriku hamil ya? Tadi kata warga, mungkin saya ini kena syndrom kehamilan simpatik. Kok saya baru kepikiran ya? Ah... Rasanya ingin cepet balek!" Dirga mengacak rambutnya frustasi.
"Huft..." Bian menghela nafasnya. "Mungkin aja sih Bang, saya sebenernya mau bilang sejak tiga bulan yang lalu! Tapi kan Abang rese, minta ini itu yang aneh-aneh. Saya sama Boni udah kaya suami yang menuhin ngidam istrinya!" ucap Bian mengeluarkan unek-uneknya.
Mata Dirga berkaca-kaca, "Jadi pengen pulang, pot!"
Astaga! Sejak kapan komandannya itu begitu melankolis. Bian menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.
Sedangkan di Sukabumi, Indira kini tengah menikmati perannya sebagai Ibu Persit. Walaupun tengah hamil, tapi tak menyurutkan semangat Indira untuk melakukan aktifitas. Kini dia tengah ikut andil dalam acara bakti sosial, pembagian sembako bagi warga yang kurang mampu.
Selain Panca dan Waluyo, kini Indira di temani oleh Siska. Dia merupakan istri dari anggota Kompi yang di pimpin oleh Dirga.
"Neng! Istirahat dulu," bisik Siska.
Indira menggelengkan kepalanya, "Nanti dulu ah, Teh! Belum beres, gak enak sama ibu-ibu yang lain. Nanti di gosipin lagi, males!"
Siska tiga tahun lebih tua dari Indira, mungkin dia seusia suaminya. Tapi jika tengah bersama Ibu-ibu Persit, Siska akan memanggil Indira dengan panggilan formal. Kini usia kandungan Indira menginjak 5 bulan. Perutnya sudah terlihat mulai membuncit.
"Tuh kan, masa iya 5 bulan perutnya gede gitu! Yakin gak tuh anak Danki?"
"Kan ditinggal Danki, kok bisa bunting cepet banget! Kayak nya gak sesuai usia kandungannya tuh!"
Bisik-bisik seperti itu sering Indira dengar, tapi dia mencoba untuk tidak memperdulikan itu. Fokusnya saat ini adalah agar bayi nya tumbuh dengan baik dan sehat.
"Mohon izin, Bu! Ada panggilan dari Pos, katanya ada tamu berkunjung, atas nama Athaya dan Aini!" ucap Panca.
Indira sedikit terkejut, "Arahkan ke Rumah ya, Om! Nanti saya nyusul!"
Athaya dan Aini datang berkunjung, mumpung liburan semester. Athaya ingin mengunjungi Dirga dan juga Indira. Dia datang bersama keluarga Dirga, Aini dan juga... Azura.
Gadis itu ikut ke Indonesia bersama Athaya, dia tinggal di Bandung. Dan entah kenapa, gadis itu selalu ingin ikut kemana pun Athaya pergi. Azura memang satu-satu nya teman yang di miliki oleh Athaya. Tapi tak di sangka, gadis itu jatuh cinta pada pesona Athaya.
Indira mulai kesulitan berjalan dengan perutnya yang mulai membesar, dia menunggu di teras rumahnya. Sebab jarak dari pos ke Rumah dinas nya cukup jauh.
__ADS_1
"Assalamu'alaikuum!" ucap mereka serempak.
"Walaikumsalam, Mama! Papa!" Indira memeluk kedua mertuanya yang kini kondisi nya mulai semakin membaik. Papa Dirga pun mulai bisa berjalan kembali.
Mama Dirga mencium seluruh wajah menantunya, "Masya Allah, cucu Enin sama Abah. Sehat sayang?" ucap Mama sambil mengusap perut Indira.
"Sehat Enin, Abah! Yukk masuk yuukk...!" ajak Indira.
Namun netra matanya menatap seorang gadis yang tersenyum disamping Athaya. Bahkan Indira bisa melihat raut wajah kecewa Aini. Athaya terlihat berdiri di belakang kursi roda Aini.
"Waaahh bumils! Apa kabar Dira?" tanya Athaya.
Indira tidak memperdulikannya, "Aini sayang, yuk masuk! Om Uyooo, tolong dorong kursi roda adik ipar saya ya!" titah Indira.
"Siap Bu!" jawab Waluyo dengan tegas.
Athaya mengerenyitkan dahi nya, "Heii.. Sahabatku yang budiman! Kenapa kamu gak nyambut aku, Dira?" kesal Athaya.
"Huft! Masuklah, ajak juga teman kamu!"
Setelah mengatakan itu, Indira masuk kedalam rumah. Entah kenapa, semenjak hamil Indira selalu menunjukkan sikap tidak suka nya pada hal-hal yang dia kesalkan. Tentu saja hanya pada orang-orang terdekat.
Azura tersenyum kecut mendapat perlakuan seperti itu, "Ck! Sahabat kamu itu gak punya sopan santun ya? Katanya istri prajurit, kok begitu," sindir Azura.
"Jaga ucapanmu, Azura! Sudah aku bilang, ini acara keluargaku. Kenapa kamu maksa banget buat ikut?!" geram Athaya.
Mereka berbincang-bincang hangat, kedua mertua nya itu sangat bahagia ketika mendengar jika Indira tengah mengandung.
"Jadi cucu Enin ini laki-laki apa perempuan?" tanya Mama Dirga.
Indira mengelus perutnya dan tersenyum, "Belum tau, Ma! Rencananya nunggu Mas Yoga pulang, baru mau USG cek jenis kelamin. Biar bahagia nya semakin sempurna!"
Papa Dirga mengelus kepala menantunya itu, "Kapan anak nakal itu pulang? Apa dia tau kalo kamu lagi hamil?"
Indira menggelengkan kepalanya, "Sudah hampir empat bulan ini Mas Yoga gak ada kabarnya, tapi kata Ayah semuanya baik-baik aja. Di Barak tempat Mas Yoga katanya ada penyerangan, mungkin ponsel Mas Yoga hilang atau rusak. Untung nya, saat itu katanya semua pasukan sedang berjaga di sekitar hutan. Itu info yang Ayah kasih," lirih Indira.
"Sabar ya, Nduk! Insya Allah, semuanya baik-baik aja. Suami kamu pasti pulang selamat, anak nakal itu kuat! Papa yakin itu," ucap Papa Dirga menguatkan.
"Iya Pa, Insya Allah semuanya baik-baik aja! Oh ya, adik kesayangan Kakak kok malah diem aja sih? Gimana kabar kamu, Aini?" Indira menggenggam tangan adik iparnya itu.
Aini tersenyum, "Alhamdulillah Aini baik-baik aja Kak, sekarang lagi seneng nulis! Sama kaya Kak Syafa."
'Ah Aini, senyuman mu terlihat sangat di paksakan!' batin Indira.
"Bagus! Nanti siapa tau kita bisa join bikin buku bareng," ucap Indira dengan semangat. Lalu dia melirik ke arah Athaya, "Oh ya, Athaya. Kok Abi sama Ummi gak ikut?"
__ADS_1
Athaya tersenyum lega, "Abi sama Umi di Bandung, kan Fika baru lahiran! Masa kamu lupa?" sindir Athaya.
Fika memang baru saja melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki. Dan Panji... Dia masih setia dalam tidur panjang nya. Entah kapan Panji akan bisa membuka matanya, Indira selalu sedih jika teringat pada sahabat-sahabatnya itu.
Oh my god! Indira menepuk jidatnya, "Aku lupa hehehe! Terus soal pernikahan kamu sama Aini akan ditunda berapa lama?"
Sontak ucapan Indira membuat Azura mendelik, "Pe-pernikahan?" tanya Azura.
"Ah iya, Dira ini Azura. Temen aku di Turki, kebetulan dia juga orang Bandung," ucap Athaya menjelaskan.
Indira hanya ber-oh ria dan mangut-mangut. "Jadi gimana?" tanya Indira.
Athaya menghela nafasnya, "Rencananya aku mau ijab kabul dulu, setelah itu bawa Aini berangkat ke Turki. Aku gak mau kehilangan Aini lagi," ucap Athaya.
"Benar, sayang! Mama dan Papa sendiri akan ikut mereka sama Mbok Darmi, sekalian coba cari alternatif pengobatan lain disana. Mungkin setelah Dirga balik, baru kita obrolin tentang ijab kabul nya," Mama Dirga memberikan penjelasan pada menantunya itu.
Terlihat wajah Azura mulai memerah, bahkan terlihat dia mengepalkan tangannya. Indira hanya tersenyum puas, bagi Indira, Azura tak lebih dari sekedar bibit-bibit uler keket.
"Kakak gak ngidam selama ditinggal Kak Dirga?" tanya Aini berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ngidam sih, kebanyakan di beliin Om Waluyo sama Om Panca! Hehehehe," Indira tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
"Waaahh... Hebat kamu, Ra! Bener-bener ibu yang tangguh!" puji Athaya.
Tiba-tiba muncul ide jahil di kepala Indira, entah darimana. "Mmmm... Athaya, boleh gak minta tolong?" tanya Indira.
Athaya menyipitkan matanya, "Kamu lagi pengen sesuatu kan? Jangan yang aneh-aneh!"
Indira mengangguk dengan mata berbinar, "Aku mau jeruk bali!"
"Haaah?? Jeruk Bali??" tanya Athaya dan Indira menganggukan kepalanya.
"Tapii..... Aku mau temen kamu yang beliin," lirih Indira.
Astaga! Bumil yang satu itu bener-bener ngerjain bibit uler keket! 🤣
Mau tidak mau, pada akhirnya Athaya membujuk Azura untuk ikut mencarikan Jeruk Bali. "Sahabat kamu itu nyusahin, udah jutek, ketus! Sekarang malah ngerjain!" gerutu Azura.
Indira bersorak dalam hati, "Rasain lu!" tapi kemudian dia istighfar dan mengelus perutnya.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤