
Kebahagiaan seseorang tidak dapat diukur oleh apapun, kebahagiaan sesungguhnya adalah berasal dari hati dan rasa syukur Terkadang hal yang menurut kita kecil bahkan sepele, mungkin bagi sebagian orang itu adalah hal yang paling membahagiakan.
Pesantren Nurul Iman, disinilah mereka berada. Salah satu Pesantren yang masih milik kedua orangtua Athaya, Pesantren pertama adalah Al-Huda yang berada di Semarang dan ini adalah Pesantren kedua yang berhasil didirkan oleh keluarga Athaya. Mereka mendirikan pesantren ini untuk membantu pendidikan anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu.
Hari ini pernikahan Athaya dan juga Aini akan digelar dengan sederhana, tidak ada acara resepsi sebab itulah yang diinginkan oleh Aini. Dia tidak ingin Athaya menjadi bahan olok-olok para tamu undangan dengan kondisinya yang masih harus hidup mengandalkan kursi roda.
Dirga dan juga Indira belum sempat menemui Aini ataupun Athaya, sebab sejak kemarin keduanya terlampau disibukkan oleh beberapa kejadian diluar dugaan mereka. Sesampainya di Malang, mereka segera menemui kedua orangtua mereka terlebih dahulu. Rasa haru kian membuncah ketika melihat Dirga bersimpuh di kaki kedua orangtuanya. "Maafkan Dirga, Pa, Ma. Dirga terlalu egois dengan sebuah kata kebencian, maaf karena selama ini Dirga tidak pernah memperhatikan Mama dan Papa."
"Semuanya sudah berlalu, Nak. Mama dan Papa jauh lebih bersalah padamu, anggap saja ini adalah teguran yang Allah berika untuk kami. Mama mohon, Nak. Jadilah wali untuk adikmu, Mama dan Papa bisa hidup tenang setelah kalian semua menikah. Handini sudah berkeluarga, begitu juga denganmu. Maaf karena Mama dan Papa tidak bisa mendampingimu," lirih Mama Dirga.
Keduanya saling berpelukan, "Dirga hanya butuh do'a dari Mama, ridho Allah untuk Dirga ada pada ridho Mama. Izinkan Dirga membina rumah tangga bersama wanita yang paling Dirga cintai. InshaAllah, apa yang Allah berikan untuk Dirga tidak pernah salah. Ridhoi kami, Ma."
Mama Dirga mengangguk, dia meminta Indira untuk mendekat, kemudian memeluknya dengan erat. "Terimakasih sudah mau menjadi bagian dari keluarga Dirgantara, Mama mohon jaga anak Mama dengan baik. Kalian berdua saling mencintai dan Mama yakin, Allah akan selalu menjaga kalian berdua. Mama dan Papa merestui pernikahan kalian. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah."
Rasa haru semakin terasa, tatkala melihat Aini yang sudah cantik dengan balutan kebaya putih pada tubuhnya. Mata gadis itu sudah berembun, airmata sudah tak bisa lagi tertahan. "Kak Syafa...."
"Aini...." Indira mendekat dan berhambur memeluk tubuh Aini. Dia mendudukkan diri sejajar dengan tubuh Aini, "Jangan bersedih, ini adalah hari bahagiamu. Athaya adalah orang yang bertanggung jawab, dia akan menjaga dan merawatmu hingga sembuh. Berjanjilah untuk tetap semangat, Kakak akan selalu ada untukmu."
"Terimakasih, Kak. Maafkan Aini, sama sekali tidak ada niat Aini untuk menghancurkan hubungan Kakak dan Kak Athaya. Aini mohon maaf, tapi salah satu keinginan Aini sudah terkabul. Maka jika suatu saat terjadi sesuatu pada Aini, maka Aini bisa pergi dengan tenang," lirihnya.
"Apa yang kamu katakan, Aini?! Jangan pernah mengatakan hal-hal seperti itu! Kakak menikahkanmu bukan untuk menderita, tapi untuk bahagia! Jika pernikahan ini sama sekali tidak membuatmu bahagia, lebih baik batalkan saja! Kakak tidak mau kamu ataupun Athaya pada akhinya saling menyakiti!" bentak Dirga.
Semua orang yang ada disana hanya bisa terdiam ketika melihat amarah Dirga, "Pernikahan itu bukan main-main Aini, Kakak menikah dengan Syafa karena memang kami saling mencintai. Sekalipun kamu tidak memaksa, Kakak akan tetap memperjuangkan Syafa! Karena Kakak hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidup!" tegasnya.
Indira mengelus lembut lengan suaminya itu, berharap Dirga bisa kembali tenang. Sedangkan diluar sana, Athaya tanpa sengaja mendengar semua percakapan mereka. Jujur saja hatinya terluka, penolakan dirinya oleh Aini secara tidak langsung sudah melukai harga dirinya. Sejauh ini dia sudah berkorban banyak hal untuk Aini. "Apakah ini hukuman atas dosaku terhadap Ummi dan Abi?" batin Athaya.
"Aini, jika kamu menikah hanya untuk membuat kami bersatu maka semua itu salah. Kamu tidak harus mengorbankan hatimu bahkan hidupmu, Aini. Pernikahan itu adalah sebuah ikatan yang suci, Kakak menikahi Mas Yoga karena memang dia adalah orang pertama yang menempati hati Kakak. Athaya tidak bersalah, dengan kamu seperti ini maka kamu sudah mempermainkan hidupnya, Aini. Athaya itu laki-laki yang baik, dia tulus ingin menikahimu. Karena dia tidak ingin kalian mendapatkan dosa ketika kalian bersama-sama. Athaya ingin merawatmu, menjagamu hingga pulih." lirih Indira.
"Mari kita batalkan pernikahan ini!"
Mendengar suara bariton itu, seketika membuat mereka semua menoleh.
__ADS_1
"Athaya....." gumam semua orang.
Dengan senyuman mengembang diwajahnya, dia mendekati Aini dan Indira yang duduk bersebelahan. "Mari kita batalkan pernikahan ini, Aini. Aku tidak akan pernah memaksamu seperti aku memaksa Indira dulu. Aku lelah Aini, aku juga hanyalah manusia biasa yang ingin mencintai dan juga dicintai. Seperti Kak Dirga, akupun hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. Jadi, mari kita batalkan," ucap Athaya.
Senyuman memang terukir diwajahnya, tapi sorot matanya tak bisa berbohong. Sorot mata kecewa itu tak bisa Athaya sembunyikan, Aini hanya bisa tertunduk lesu. Bukan ini yang diinginkannya, dia hanya tidak mengerti bagaimana harus bersikap.
"Kak Athaya, maaf......"
"Tak apa Aini, jujur saja aku kecewa. Tapi itu wajar, bukan? Aku hanyalah manusia biasa, mulai saat ini aku tidak akan memaksakan apapun lagi. Tenang saja, aku akan tetap bertanggung jawab terhadapmu. Nanti akan ada orang yang merawatmu, percayalah dia orang yang bisa dipercaya. Baiklah Aini, aku permisi dulu!" pamit Athaya.
Keluarga Dirga menjadi tak enak hati, Dirga mengejar Athaya yang keluar begitu saja dari ruangan itu. Kini mereka berdua duduk disebuah taman yang berada dibelakang Pesantren.
"Athaya, maafkan Aini. Atas nama keluarga besar, aku pun meminta maaf. Aku sangat mencintai Indira, begitupun juga denganmu. Mungkin Aini hanya takut jika kamu menjadikannya sebuah pelarian. Sekali lagi aku mohon maaf," ucap Dirga.
Athaya tersenyum, senyum yang sungguh menyiratkan kekecewaan. "Aku tak apa, Kak. Insha Allah aku menerima semua keputusan Aini, aku tak ingin terus memaksakan perasaan orang lain. Untuk apa, jika pada akhirnya semuanya hanya membuat kami saling kecewa dan terluka," jawab Athaya.
Tak lama kemudian, Indira ikut datang menyusul. "Boleh aku bicara berdua sama Athaya, Mas? Insha Allah, aku tau batasanku sebagai seorang istri. Aku hanya ingin bicara dengan Athaya sebagai seorang teman."
"Maaf...."
Kata itu lolos begitu saja dari mulut Indira, "Maaf sudah melukai hatimu, maaf sudah membuatmu mengorbankan segalanya untukku. Aku tau Athaya, cintamu padaku begitu besar, maka dari itu aku tak bisa menampungnya. Sebab cintaku untuk Mas Yoga juga sudah terlampau besar, jauh sebelum aku mengenalmu. Maafkan aku, Athaya," lirih Indira yang tak kuasa lagi menahan airmatanya.
"Hey..! Jangan menangis! Bisa- bisa aku digantung suami kamu kalo dia lihat! Hehehe.... Aku tak apa, Ra! Aku banyak belajar dari semua ini, bahwa sesuatu tidak bisa dipaksakan. Mungkin aku dan Aini tak berjodoh, maka biarkanlah Allah mendatangkan jodohku dengan caranya. Jangan menyalahkan dirimu, karena aku pun tidak menyalahkan siapapun," ucap Athaya.
Indira tersenyum, "Aku suka Athaya, temanku yang seperti ini. Athaya yang jauh lebih dewasa dalam berpikir, aku bangga menjadi teman baikmu, Athaya. Berjanjilah untuk selalu hidup bahagia."
Athaya tersenyum dan mengangguk, "Begitupun juga denganmu, Ra! Hiduplah dengan bahagia, bersama orang yang sangat kamu cintai."
Kota Malang menjadi saksi yang menimpa kemalangan hidup Athaya. Beruntung semua keluarga Athaya bisa menerima keputusan itu. Aini hanya bisa mengurung diri, dia menangis tersedu-sedu. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan oleh hatinya. Berkali-kali dia mencoba mengirim pesan pada Athaya, tapi tak ada satupun yang dibalas.
Sedangkan Athaya, kini dia sudah memiliki keputusan sendiri. Dia akan kembali mengejar pendidikannya, dia bertekad kembali ke Turki. Walapun harus hidup sendiri disana, Athaya ingin melupakan semua hal yang menyakitkan. Dia sedang mengurus beberapa dokumen, dia tak lupa dengan janjinya yang akan merawat Aini. Meskipun bukan dirinya sendiri, tapi melalui tangan oranglain.
__ADS_1
Malam itu, Dirga dan Indira sama sekali tak bisa tertidur. Keduanya memikirkan Athaya yang tak kunjung kembali, juga Aini yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Mereka khawatir, sangat khawatir. "Mas, aku coba ke kamar Aini lagi, ya. Aku khawatir, Mas," lirih Indira.
Dirga menggelengkan kepalanya, "Jangan sekarang, yank! Aini butuh waktu untuk sendiri, Mas tau Aini bagaimana."
Indira menurut, dia merebahkan tubuhnya disamping sang suami. "Begitu banyak masalah yang menerpa diawal rumah tangga kita ya, Mas. Semoga Allah senantiasa menjaga rumah tangga kita, Mas," lirih Indira.
"Sayang, anggap saja ini sebagai gambaran. Didepan sana, badai rumah tangga kita menanti. Kita harus sama-sama menguatkan, jujur saja saat ini Mas rapuh, yank! Mas butuh pelukanmu yang menenangkan," ucap Dirga yang kini memeluk erat tubuh istrinya.
Hati Indira ikut teriris, "Mas harus kuat, dirimulah tempatku bersandar. Mari kita lewati semuanya sama-sama, Mas. Semuanya akan terasa ringan, kalo Mas mau membagi semua sama aku," ucap Indira mengelus lembut kepala sang suami hingga keduanya tertidur lelap.
Pagi ini, Athaya sudah bersiap untuk kembali ke Bandung. Dia sudah berpamitan pada keluarganya, juga pada keluarga Dirgantara. Kecuali Dirga, Indira dan tentunya Aini. "Do'akan Athaya, semoga Athaya bisa menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi."
Hanya itu permintaan Athaya, dido'akan agar menjadi manusia yang jauh lebih baik. Selepas Athaya pergi, Indira dan juga Dirga baru keluar dari kamar mereka. "Ada apa, Ma? Kenapa Mama nangis?" panik Dirga.
"Athaya pergi, dia pergi," lirih Mama Dirga membuat keduanya tersentak. "Pergi bagaimana maksud Mama?"
"Dia memutuskan untuk kembali ke Turki, Ga. Mama gak bisa menahan, dia hanya minta di do'akan agar bisa menjadi manusia yang lebih baik," ucap Mama Dirga disertai dengan isak tangisnya.
Praaannkkk
Mereka semua menoleh kearah jatuhnya gelas, "Aini..............."
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1