
Begitu berat merestui orang yang kita cintai untuk bersanding dengan orang lain. Cinta itu sesuatu yang sangat indah, walau harus merasakan luka karena tak dapat memilikinya. Sebesar apapun rasa kita padanya, jika dia berbahagia dengan oranglain maka kita juga harus berbahagia. Melakukan segala yang terbaik adalah tugas kita dan memberikan keputusan terbaik adalah kuasa Allah. Itulah yang menjadi keyakinan hati seorang Athaya.
Kini dia sudah menyaksikan sendiri jika gadis yang sangat dia cintai sudah resmi menjadi milik orang lain. "Aku bahagia melihatmu tersenyum disampingnya, daripada terluka dalam genggamanku. Berbahagialah Dira, jangan biarkan pengorbananku untukmu menjadi sia-sia," batin Athaya.
Harusnya aku yang di sana..
Dampingimu dan bukan dia..
Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia..
Harusnya kau tahu bahwa..
Cintaku lebih darinya..
Harusnya yang kau pilih bukan dia..
Entah sengaja atau tidak, Bian menyanyikan lagu itu diatas panggung kecil disana. Athaya menatap Bian dengan kesal, tapi dia mencoba untuk tidak terpengaruh. Sebab tujuannya kali ini adalah demi Aini. Selesai menyapa para tamu, Indira mengajak kedua lelaki itu untuk berbicara. "Coba sekarang jelaskan! Siapa yang mau menjelaskan terlebih dahulu!" ketus Indira sambil menatap tajam kedua laki-laki itu. Sedangkan Dirga dan Athaya hanya bisa menggaruk kepala mereka yang tak gatal.
Indira menghela nafasnya, "Athaya, maaf dan terimakasih atas semua cinta dan kasih sayang yang selama ini kamu berikan buat aku. Maaf aku gak bisa membalas semua perasaan kamu, tapi aku mohon setelah ini kita bisa tetap bersahabat baik," lirih Indira.
"Gak! Kamu gak boleh sahabatan sama dia, yank! Gak ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan," kesal Dirga membuat Athaya melotot tak percaya. "Yaa ampun, Kak! Lu bucin amat! Gitu aja cemburu! Heran gue, lagian nih Kak bentar lagi kan gue jadi adik ipar elu," ketus Athaya.
Saat ini Indira benar-benar kesal, dia berkacak pinggang dan memarahi keduanya seperti Ibu yang memarahi anaknya. "Kalo gak ada yang mau jelasin sama aku, jangan harap kalian bisa pulang dengan selamat!"
Alamak.... "Aku suami kamu lho, yank! Mau durhaka sama suami?"
Laki-laki itu kini sudah punya senjata pamungkas, "Huff... Yaudah sekarang Mas jelasin sama aku," rengek Indira. Duh gemesnya....
Dirga meminta Indira duduk disampingnya, dia merengkuh pinggang gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya itu. "Pengantin baru itu duduknya deketan begini, bukan jauh-jauhan," bisik Dirga membuat jantung Indira berdegup kencang. "Yaa ampun suamikuuu..... bisa mati mendadak aku, hei jantung! biasa aja dong...." batin Indira.
Athaya menatap kedua pasangan ini jengah, mereka sama sekali tidak memikirkan perasaannya. "Aku mau nikahin Aini, Ra! Ini semua syarat yang diberikan oleh Aini, aku mau bawa dia berobat, Ra! Aku mau merawat dan menjaga dia dalam ikatan yang halal," ucap Athaya.
__ADS_1
Indira menitikkan airmatanya, "Aku turut bangga sama kamu, dan aku yakin kamu bisa menjadi suami yang baik buat Aini. Jadi rencananya kapan kalian akan melangsungkan akad?" tanya Indira.
"Rencananya mereka akan nikah di Malang, lusa kita juga berangkat kesana. Mau tidak mau, dia akan menjadi adik ipar kamu juga, yank! Jadi aku mohon, jangan biarkan aku dan adikku dilanda kecemburuan karena bagaimanapun kalian dulunya adalah sepasang anak manusia yang terikat sebuah ikatan pertunangan!" tegas Dirga.
"Huft.... Aku tau batasan aku sebagai seorang istri, Mas. Dan aku mohon jangan pernah ada kesalah pahaman diantara kita semua. Karena seperti yang kamu bilang, mau tidak mau, suka tidak suka kita ini akan menjadi sebuah keluarga. Tentunya kamu pun mengingat pesan Ayah, Mas. Kita harus tetap menjalin tali silaturahmi keluarga dengan baik." ucap Indira.
Athaya membenarkan ucapan Indira, "Itu bener, Kak. Lagian aku udah janji sama diri aku sendiri akan selalu membahagiakan Aini. Karena ketika ijab kabul terucap, maka janjiku itu sudah pada Allah. Bucin boleh, tapi kaga usah curigaan sama hal yang belum tentu terjadi," kesal Athaya.
"Eh eh eh, kan kudu sedia payung sebelum hujan, maka dari itu gue wanti-wanti dari sekarang! Dahlah, balik rumah sakit sana! Kasian Aini sendirian," usir Dirga dengan cara halus. Indira mencubit pinggang sang suami, "Mas! Kita juga harus liat Aini. Aku mau ketemu dia," pinta Indira.
Dirga menghela nafasnya, "Syafaku sayang.. Ini masih banyak kerabat kita, lagian lusa juga kita pasti ketemu mereka. Kan kita mau ke Malang sayang, hari ini biarkan Mas menikmati waktu untuk merasakan kehangatan keluarga ini," ucap Dirga dengan lembut.
Athaya sudah pergi berpamitan, begitupun dengan Bian dan Kania yang memutuskan untuk pulang ke Sukabumi. Carel yang baru saja datang bersama Papa Zaydan langsung berhambur memeluk sang sahabat yang kini sudah sah menjadi istri dari cinta pertamanya. "Rara kudiraaa... Selamat ya! Wah lu dah jadi bini orang aja nihhhh!" antusias Carel.
Dirga membulatkan matanya ketika ada laki-laki yang memeluk istrinya, "Siapa lu? Enak aja main peluk-peluk bini orang!" ucap Dirga mengapit kepala Carel diketiaknya hingga dia meronta-ronta.
"Aww! Ampun Bang jago! Gue Carel, anaknya Mama Febri! Sahabat si Dira sejak dalam kandungan!" pekik Carel, mendengar itu sontak Dirga langsung melepaskanya. "Sorry... sorry.. lagian maen peluk-peluk aja sih!"
Mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat Dirga yang menahan malu. "Emang bener ye, Rempong Family mah bucin semua! Heran gue.. Kalo leher gue patah gimane coba?!" kesal Carel. Dirga hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Tinggal ganti pake leher kucing, kan mana pernah kucing patah tulang leher," celetuk Dirga.
Oh my God... "Lu baru sehari jadi anggota resmi keluarga dah ketularan gesreknya ya, emang hebat keluarga ini!"
Sungguh kebahagiaan yang tak terduga bagi Indira, statusnya kini sudah berubah menjadi seorang istri. Dimana dia harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri untuk mencapai Ridho suaminya. Mereka makan malam bersama, walaupun tidak semua personel lengkap. Makan malam yang benar-benar didambakan oleh Dirga selama ini. "Aku mau kita punya banyak anak, biar rumah ramai," bisik Dirga membuat pipi istrinya itu bersemu merah.
Seperti biasa, setelah makan malam para istri akan bersama-sama membersihkan piring-piring dan para suami bercengkrama di ruang keluarga. Ummi Ulil menghampiri Indira, "Ini kado pernikahan dari Ummi, jangan lupa nanti kamu pakai buat unboxing! Jangan lupa pake plastik," bisik Ummi.
Indira menggerutu kesal, "Emangnya paket musti di unboxing! Tapi makasih ya, Ummi," ucap Indira. Kali ini Mama Febri juga memberikan hadiah untuk Indira, "Ini buat kamu dari Mama, nanti sebelum unboxing pake dulu! Biar suami kamu makin tergila-gila sama lubang sorga dunia," ucap Mama Febri mengedipkan sebelah matanya.
Yaa Allah... "Kenapa keluarga gue mesum semua sih!" batin Indira.
Selesai membersihkan semuanya, Indira terlebih dahulu pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Tidak lupa dia membawa dua paperbag yang diberikan oleh Mama dan Umminya itu. Dia pergi ke kamar mandi, mata Indira terbelalak seketika. Didalam paperbag itu terdapat tiga buah lingerie dari Ummi Ulil, parfum dan pembersih kewanitaan dari Mama Febri. "Yaa ampun, ini mah baju kurang bahan!"
__ADS_1
Indira memilih untuk menyimpan semua itu, dia segera membersihkan diri sebelum suaminya itu datang ke kamar. Dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi dada hingga atas lututnya. Karena dia pikir suaminya itu masih bersama keluarganya.
"Ekhemmm......"
Deg Deg Deg!
Jantung Indira berdegup kencang, begitupun juga Dirga. Bagaimana tidak, dia baru kali ini melihat Indira tanpa hijabnya ditambah saat ini Indira tanpa sengaja memperlihatkan lekuk tubuhnya. Perlahan tapi pasti, Dirga mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang. "Istri aku cantik dan wangi banget," bisik Dirga sambil mengecup lembut leher Indira.
"Ma-mas Yoga, mandi dulu gih!" gugup Indira. Dirga terkekeh melihat tingkah sang istri yang menggemaskan, "Kata Ummi, kamu punya kejutan! Mas mandi dulu, ya. Jangan lupa kejutannya," bisik Dirga.
Tubuh Indira seakan lemas tak bertulang, wajah nya sudah bersemu merah dengan detak jantung yang berdisko ria. "Yaa Allah, emang harus malem ini ya!" panik Indira. Dia segera memakai gaun tidurnya yang tidak terlalu terbuka, lalu duduk didepan meja rias sambil mengeringkan rambutnya.
"Sholat sunnah dulu, yuk!" ajak Dirga dan Indira mengangguk. Dia sadar statusnya yang kini sebagai seorang istri, selesai mengambil air wudhu mereka melakukan sholat sunnah dua rakaat. Usai sholat, Indira mencium punggung tangan suaminya dan Dirga mengecup kening istrinya itu. Dirga merebahkan tubuhnya dipangkuan sang istri, sedangkan Indira mengusap lembut kepala suaminya itu. "Mas bahagia, yank! Pada akhirnya Allah mendengarkan semua do'a-do'a kita. Allah mempersatukan kita dalam ikatan suci pernikahan."
Indira pun tersenyum bahagia, "Allah selalu mendengar do'a tulus umatnya, Mas." Perlahan tapi pasti, Dirga mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Kecupan di bibir Indira membuat jantung keduanya memburu. "Boleh Mas minta hak malam ini?" tanya Dirga dengan suara berat dan tatapan sayu menahan hasrat yang menggelora didada. Istri cantiknya itu mengangguk dengan wajah yang bersemu merah. Baru saja mereka akan melaksanakan ibadah terindah, suara ketukan pintu membuyarkan keduanya.
Tok tok tok....
"Dek! Ada Fika sama calon suaminya didepan!" teriak Alana.
"Iya Kak! Sebentar lagi Dira kebawah!" jawab Indira.
"Panjiiiiiii........!" kesal Dirga mengusap wajahnya kasar.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤