
Diruangan VIP Rumah Sakit Santosa, Aini mulai mengerjapkan matanya. Tubuhnya terasa sakit, bahkan dia kesulitan menggerakan kakinya. Aini menahan sakit saat dia memaksakan diri untuk bergerak.
"Aini, kamu udah sadar?!" Athaya yang tengah tertidur disamping ranjang lantas terbangun ketika merasakan pergerakan Aini.
Dengan segera dia memanggil dokter dan suster, tak lama kemudian dokter pun memeriksa keadaan Aini.
"Kondisinya baik-baik saja, hanya saja mungkin pasien masih sedikit shock. Untuk beberapa minggu kami akan mengecek kondisi kaki pasien pasca operasi. Dan untuk sementara tangannya kami gips, mengingat keretakan tulang yang berada disiku nya," ucap dokter menjelaskan.
"Terimakasih, dokter!" Athaya menghampiri Aini, gadis itu tampak menangis.
Athaya sungguh bingung, dia memang bersalah karena mengemudi dalam keadaan mengantuk. Melihat Aini menangis, ada gelenyar aneh dihatinya.
"Aini, maafkan aku! Aku gak sengaja nabrak kamu semalem, boleh aku minta nomor telepon orangtua kamu? Pasti mereka khawatir sama kamu," Athaya mencoba berbicara dengan Aini.
"Dimana ponselku?" Aini bertanya dengan suara seraknya.
"Ini, semalem aku juga coba buat ngehubungin keluarga kamu. Tapi hp kamu dikunci, tolong kabari mereka. Aku pasti akan bertanggung jawab," dengan tegas Athaya berbicara.
Sedangkan Aini dilanda kebimbangan, sang Ayah kini tengah sakit. Dan ibunya pasti sibuk mengurus Ayah dan Neneknya. Dia memilih menelepon Handini, Kakak perempuannya.
📩 Kak Dini
Kak aku di Rumah Sakit Santosa, semalem aku jadi korban tabrakan. Aku gak bisa hubungin Papa atau Mama, jadi jangan kasih tau siapapun.
Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Aini. Suster datang membawa sarapan pagi untuk Aini. Tapi sayangnya, Aini belum bisa makan dengan tangannya sendiri.
"Sus, biar saya saja!" Athaya mengambil sendok dari tangan suster.
"Gak usah, biar sama suster aja!" dengan lantang Aini menolak.
"Aku tau, aku salah udah nabrak kamu. Dan aku mohon, biarkan aku mempertanggung jawabkan perbuatanku. Setidaknya sampai kamu sembuh," Aini bisa melihat keseriusan diwajah Athaya.
Suapan demi suapan Athaya berikan pada Aini, baru juga Athaya akan berbicara tapi pintu ruangan sudah terbuka dengan terburu-buru.
"Aini....!! Astaghfirulloh, Ainii...!" Handini datang dan langsung terkejut ketika melihat kondisi adiknya yang sangat mengkhawatirkan.
Meskipun gugup, Athaya mencoba bersikap tenang. Bagaimanapun semuanya adalah kesalahannya.
"Maaf, Bu! Saya tidak sengaja menabrak Aini semalam," lirih Athaya.
"Apa?! Jadi kamu yang nabrak adik saya?! Saya gak mau tau, kamu harus tanggung jawab!" tegas Handini.
"Maaf Kak! Saya pasti akan tanggung jawab, semua biayanya akan saya tanggung," tergas Athaya.
Plaaaaakkkkk
Satu tamparan mendarat dipipi Athaya, perih dan panas rasanya. Ditambah lagi ucapan Handini yang cukup menghujam jantungnya.
"Semua ini bukan soal biaya! Bagi kami keluarga Dirgantara, biaya segini hanyalah secuil kuku! Apa kamu berpikir bagaimana kondisi psikis adik saya?! Bagaimana kondisi tubuh adik saya setelah kecelakaan?! Bagaimana masa depan adik saya yang sudah susah payah dia raih?! Apa kamu berpikir kearah sana?!" bentak Handini.
MATI KUTU!
Itulah yang Athaya rasakan saat ini, dia kembali teringat ucapan sang kekasih sebelum dirinya berpamitan pulang.
"Hati-hati dijalan, Athaya! Jangan ngebut, kalo ngantuk istirahat dulu!"
__ADS_1
Kata-kata itu terus terngiang ditelinga Athaya, dan kata 'Keluarga Dirgantara' menambah kekalutan dirinya.
"Saya akan menemani Aini sampai dia sembuh, saya akan bertanggung jawab atas semua kesalahan saya. Saya berjanji!" tiba-tiba saja Athaya mengatakan hal itu.
"Baiklah! Saya pegang janji kamu, dan ingat! Laki-laki yang dipegang itu ucapannya, jangan pernah jadi laki-laki pengecut!" ketus Handini.
Baru kali ini Athaya memiliki tekad sekuat itu, dia akan bicara pada Indira atas apa yang terjadi pada dirinya. Dia tak ingin Indira menjadi salah paham kedepannya.
* * *
Pagi ini Indira dan Kania sudah sibuk didapur, mereka sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua. Mata Indira cukup sembab akibat menangis semalaman. Hatinya sungguh gundah gulanah tak karuan, padahal hari ini adalah hari pertamanya mengajar.
"Kamu baik-baik aja kan, Ra?" Kania menepuk bahu Indira yang kedapatan melamun.
"Aku gak apa-apa, Nia! Makasih ya," senyuman sendu terpampang diwajah manis Indira.
Mereka menikmati sarapan pagi yang ala kadarnya itu, sepiring nasi goreng ditambah dengan telur ceplok dan juga sosis goreng.
"Buset! Masakan lu enak juga Ra!" celetuk Doni.
"Hooh, ngonah beut! Pantesan si Athaya cinta metong sama iyey," ucap Faisal, teman satu kelompok Indira yang gemulai.
"Waah, ini mah jurig Ical nya masih ketinggalan! Faisal mana woy!" Doni mengguncang-guncangkan tubuh Faisal.
"Apa?! I'm here," jawab Faisal dengan suara khas laki-laki, sontak hal itu membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Setidaknya, kekocakkan kedua temannya itu mampu menghibur hati Indira yang tengah gundah gulanah. Sebelum berangkat, Indira mengirim pesan di grup keluarganya. Dia meminta do'a pada mereka semua, agar hari pertama mengajarnya diberikan kelancaran.
Empat motor sudah melaju, mereka akan mulai mengajar di SDN 1 Bantargadung. Kania memarkirkan motornya, Indira melepaskan helmnya dan menarik nafas.
Dengan langkah pasti, mereka berjalan menuju ruang Kepala Sekolah. Disana mereka semua disambut baik dengan penuh keramahan.
"Selamat datang di sekolah kami, semoga kalian betah berada disini. Dan semoga anak-anak tidak merepotkan kalian semua," ucap Pak Mukti selaku Kepala Sekolah.
"Kami yang berterimakasih, Pak. Karena kami sudah diterima disekolah ini, kami mohon bimbingannya," Kania selaku ketua kelompok menjawab ucapan Kepala Sekolah.
Indira mendapat jatah mengajar dikelas 1 dan 2 bersama Faisal. Mereka berjalan dengan gugup menuju kelas, ditemani oleh Pak Mukti. Kegugupan Indira berkurang ketika melihat wajah manis dan imut siswa-siswi kelas 1 itu.
"Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak!" Indira menyapa anak-anak yang sudah duduk manis dan rapi dibangkunya masing-masing.
"Walaikumsalam, selamat pagi Kak guru," jawab mereka serempak, jawaban mereka membuat Indira dan Faisal terkekeh pelan.
"Kita kenalan dulu, ya! Nama Kakak Indira dan ini teman Kakak, namanya Kak Faisal. Kakak akan menemani kalian belajar disini untuk beberapa bulan kedepan, jadi kalo ada yang mau ditanyakan jangan sungkan ya!" ucap Indira.
"Baik Kak guru!" lagi-lagi Indira tersenyum mendengar jawaban mereka.
Dalam waktu sekejap, Indira bisa mengakrabkan diri dengan anak-anak. Faisal memotret semua kegiatan Indira, sebab dia harus melaporkannya pada Athaya. Itupun karena terpaksa, dia tak ingin membuat masalah dengan Athaya yang memang posesif.
Tak terasa, sudah dua sesi Indira mengajar. Kelas satu dan kelas dua, kini sudah waktunya jam makan siang. Indira dan Faisal memilih untuk makan disalah satu warteg yang tak jauh dari sekolah. Begitupun dengan Kania dan Doni yang mengajar dikelas tiga.
"Makanan disini lumayan enak juga ya, Ra!" Kania makan dengan lahapnya.
"Pelan-pelan, Nia! Gak ada yang bakalan rebut," tegur Indira.
"Iya Nia! Lu makan kaya orang kesetanan begitu," celetuk Doni.
__ADS_1
"Iiihhh....! Yey nyebutin setan sambil liat eikeu begitu, emangnya bengeut eikeu kaya setan apa!" kesal Faisal.
"Yaampun, Cal! Awas ya kalo kamu begitu dihadapan murid-murid," Indira menegur Faisal dan dia menganggukkan kepalanya.
Entah mereka berjodoh, entah semesta memang merestui keduanya. Dirga masuk kedalam warteg bersama Bian.
"Bu Imas! Nasi dua kaya biasa ya!"
"Siap Jang Kapten,"
Deg deg deg!
Mendengar suara itu, jantung Indira berdegup kencang. Bahkan dia tersedak makanannya sendiri.
"Uhukk... Uhukkk... Uhukkkk......"
"Pelan-pelan makannya, Dira!" Faisal memberikan segelas airputih pada Indira.
Dengan santainya, Dirga duduk tepat disamping Indira yang memang bangkunya kosong.
"Boleh kami duduk disini? Semua bangku penuh," ucap Dirga dengan wajah dinginnya.
"Si-silahkan," jawab mereka gugup, kecuali Indira.
"Ra! Lu gak meler? Dingin banget mukanya, brrrrbrrrr," bisik Kania.
"Cepetan abisin makannya!" titah Indira dan dengan dijawab dengan anggukkan.
Selesai makan, Indira bangkit dari duduknya. Tapi sayangnya, langkahnya terhenti ketika dia merasa jika ada yang menahannya.
"Lepasin, Mas! Aku mau balik ke sekolahan," celetuk Indira membuat Dirga menyemburkan air minumnya ke wajah Faisal yang tepat ada didepannya.
"Yaa ampyun pak kacang ijo yang ganteng! Kenapa muka eikeu disembyur?!" kesal Faisal.
"Baju kamu nyangkut dipaku! Berharap banget ditahan si Masnya," bisik Kania membuat wajah Indira memerah seketika.
Refleks dia berbalik melihat kearah tangannya, dan benar saja bajunya tersangkut dipaku yang ada dimeja. Rasanya Indira ingin menenggelamkan diri di Pantai Pelabuhan Ratu.
Malu! Itulah yang Indira rasakan saat ini, dia segera berlari keluar dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Apalagi Kania yang terus menggodanya.
"Diem, Nia! Lama-lama aku tinggal juga deh," kesal Indira.
"Tinggal gimana, wong kunci motornya ada di aku! Ternyata benar, jatuh cinta bikin oramg pinter jadi bego," Kania tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Indira.
Sedangkan Dirga, dia tersenyum bahagia ketika melihat Indira seperti itu. Tandanya, cinta dan sayang Indira untuknya itu masih ada.
"Bolehkah aku memperjuangkanmu, Syafa?! Aku akan bertanggung jawab atas semua luka dihatimu," batin Dirga menatap Indira dari balik kaca jendela warteg itu.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤