
Hari-hari terus berlalu, tanpa terasa kini usia Gemma hampir menginjak satu tahun, kira-kira satu bulan lagi. Gadis kecil itu sudah mulai bisa berdiri dan mulai berjalan sendiri. Indira terkadang merasa takjub dengan tingkah putri kecilnya itu. Terlebih sekarang Gemma lebih lengket pada Ayahnya.
"Mas, sebelum berangkat sarapan dulu! Aku bikin sayur sop sama goreng tempe," teriak Indira sambil memakaikan baju pada Gemma.
"Yayah, yayah!" panggil Gemma saat melihat sang Ayah yang melewati kamarnya.
"Iya sayang sebentar, Ayah siapin dulu sarapan buat kita. Nanti Ayah gendong Gemma," ucap Dirga yang sibuk memasukkan lauk pauk pada piring nya.
Dia tau jika istrinya itu tengah sibuk dan pastinya dia tak akan sempat memakan sarapannya. Maka dari itu, Dirga memilih untuk menyuapi istri sekaligus anaknya.
"Aaaaaa, buka mulutnya sayang!" titah Dirga pada Indira. Namun sebelum mulutnya terbuka, Gemma menyela sang Bunda.
"Mamam, mamam!" antusiasnya meraih sendok yang ada ditangan Dirga.
Indira terkekeh dan mencium pipi sang putri, "Yaa ampun, Gemma! Kamu cemburu sama Bunda, Nak? Ayah itu mau suapin Bunda, bukan suapin Gemma!"
Begitulah kelakuan Gemma, bahkan dia tak akan membiarkan Ayah dan Bundanya berduaan. Tapi Indira sama sekali tak terganggu, sebab dia pun begitu pada sang Ayah. Memang benar, Ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuannya.
"Ciee, liat Gemma! Bunda ngambek, kayaknya kita harus kasih kamu adek laki-laki deh! Supaya Bunda kamu gak kesepian. Iya kan, Nak? Ayolah, berpihak sama Ayah!" rengek Dirga pada gadis kecil yang hanya bisa mengerjapkan matanya.
Plakkk!
Tangan mungil itu memukul wajah Ayahnya, tanpa dosa pun dia mencium pipi sang Ayah.
"Tuhkan! Gemma gak mau punya adik kan sayang? Ayah sih, masa Gemma belum satu tahun udah mau punya adik aja!" omel Indira. Sedangkan Dirga hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Namanya juga usaha! Yaa siapa tau kan," elak Dirga membuat Indira mendelik tajam.
"Ampun Ibu Negara, gak lagi-lagi deh!" Dirga menggendong Gemma sambil menyuapi makan untuk gadis kecil itu.
"Jangan dipikirin, sayang! Cepet siap-siap nanti kita kesiangan," ucap Dirga membuyarkan lamunan Indira.
Menyebalkan sekali suaminya itu, Indira bahkan masih mengingat bagaimana takutnya dia saat melahirkan Gemma. Tapi dengan mudah, Dirga meminta adik untuk Gemma. Padahal selama ini dia tak pernah luput memperhatikan sang suami.
Kini Indira sudah bersiap dengan seragam Persitnya, dia akan menghadiri kegiatan bersama sang suami. Hari ini akan ada 'Jam Komandan', kegiatan ini bertujuan agar Komandan dapat mengetahui dengan detail bagaimana kondisi-kondisi prajuritnya. (Mohon dikoreksi apabila salah 😁✌)
"Sudah siap, sayang?" tanya Dirga lalu menggenggam tangan sang istri.
"Siap dong! Ayok jalan!" jawab Indira dengan ceria.
Dirga bersyukur, karena Indira tak pernah memperpanjang hal-hal yang tak mengenakan dihatinya. Namun ada setitik rasa bersalah dalam hati Dirga, sebab dia pasti tau jika istrinya itu tak nyaman dengan ucapannya.
__ADS_1
"Nanti kita katanya kedatangan Komandan Kompi baru ya, Mas?" tanya Indira membuka percakapan, kini keduanya sudah berjalan kaki menuju Aula.
"Iya sayang. Tapi Mas juga belum tau, kan kemarin Mas cuti."
Memang benar, kemarin mereka menghabiskan waktu cuti untuk berjalan-jalan bersama buah hatinya. Setelah beberapa bulan yang lalu Dirga disibukkan dengan berbagai kesibukan, maka dia mengajukan cuti untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.
"Oh ya, Mas. Nanti ulang tahun Gemma jadi disatukan sama acara tujuh bulanan Aini?"
Kini usia kandungan Aini sudah memasuki bulan ketujuh. Mereka pun terpaksa menjalani LDM, karena Athaya tak ingin membahayakan istri dan anaknya itu.
"Kayaknya enggak deh, sayang! Masa iya ulang tahun disatuin sama tujuh bulanan, jadi Gemma ikut mandi kembang sama dimasukin belut gitu!" tolak Dirga.
Astaga! Indira menepuk dahinya, "Mas kamu itu gemesin deh! Nggak gitu konsepnya Ayah Dirga!" kesal Indira membuat Dirga terkekeh.
"Mas tetep gak mau acara itu di satu-satuin! Pokoknya ulang tahun Gemma ya sudah ulang tahun saja, gak ada tuh pake disatuin sama acara tujuh bulanan! Keenakan si Athaya ntar!" omelnya membuat Indira tertawa terbahak-bahak.
Tak terasa kini mereka sudah sampai di Aula, sebagai Komandan Kompi, Dirga pun mendapatkan hormat dari para prajurit juniornya.
"Sudah duduk aja, saya sama istri didepan!" ujarnya pada para junior.
"Siap! Boleh Gemma kami bawa saja? Kami mau ajak dia bermain dibelakang," izin Panca dan Dirga mengizinkannya.
Gemma memang menjadi salah satu gadis kecil yang paling menggemaskan disana, hingga Panca juga Bian dan Waluyo tak akan melewatkan waktu untuk bermain dengan gadis kecil itu.
Betul sekali! Pada akhirnya sahabatnya itu akan menjadi bagian dari Batalyon ini karena menikah dengan Bian.
"Alhamdulillah, Bu Danki! Semuanya lancar, Insya Allah minggu depan kami menghadap. Jadi Ibu bisa bertemu Kania," ucap Bian membuat Indira tersenyum bahagia bahkan tanpa sadar dia memegang bahu Bian.
"Ekhemmm!" Dirga menatap tajam Bian yang seketika menunduk.
'Aduh! Ini sih namanya bangunin singa yang lagi molor!' batin Bian.
"Kamu keselek, Mas?" tanya Indira dengan polosnya, membuat Bian refleks menepuk jidatnya.
"Itu tangan ngapain bertengger disana?" tanya nya sambil menunjuk tangan Indira dengan ujung matanya.
Ah! Menyebalkan sekali suaminya ini. Rupanya Dirga cemburu, Indira lantas menurunkan tangannya dan tersenyum manis kearah sang suami. Dirga pasti langsung luluh, benar saja kini tak ada lagi kerutan didahi suaminya itu.
"Udah ayo kedepan, sayang!" ajak Dirga dengan lembut. "Dan kamu! Push up 10x lalu kembali ke tempat!" titah Dirga dengan galak.
Saat Bian melakukan push up, mereka semua tertawa. Sebab mereka tau jika Komandan mereka itu pencemburu. Dirga bahkan menjadi role model para Ibu Persit, agar sikap suaminya sama seperti Dirga.
__ADS_1
Acara pun segera dimulai saat Komandan Batalyon sudah hadir didampingi oleh sang istri yang merupakan Ketua Persit disana. Jam Komandan merupakan suatu hal yang wajib digelar di setiap satuan TNI AD. Bukan hanya menyampaikan segala informasi maupun tugas yang nantinya di emban oleh para prajurit. Namun, Jam Komandan juga sangat efektif dalam memperkuat tali silaturahmi hingga membangun kepedulian antara seorang prajurit dan pimpinan.
Dirga dan Indira menyimak, sekaligus menuliskan apa-apa saja yang disampaikan oleh Komandan Batalyon. Jam Komandan ini juga merupakan sarana dalam menyampaikan setiap kebijakan dari Komando atas. Sekaligus hal-hal menonjol yang berkaitan langsung dengan situasi dan kondusifitas disetiap wilayah teritorial TNI AD.
"Yayah, yayah!" Dirga menoleh setelah mendengar suara putrinya. Rupanya gadis kecil itu lelah karena lama bermain dengan Om-om Tentara.
"Bunda bawa dulu Gemma, ya!" ucap Indira hendak bangkit, namun Dirga mencegahnya.
"Biar Ayah aja," tegas Dirga. Dia kemudian bangkit dan menghampiri Gemma untuk di gendongnya.
Semua menjadi perhatian, bahkan Komandan Batalyon pun memuji sikap Dirga yang selalu mengutamakan istri dan anaknya. Banyak yang kagum, namun ada juga yang iri dengan hubungan keduanya.
"Kayaknya dia haus deh, Bun!" bisik Dirga pada Indira.
"Itu di tas ada ASIP di dot. Kasih aja," ucap Indira dan Dirga pun melakukannya. Bahkan dia menggendong Gemma hingga gadis kecil itu terbangun.
Indira kembali mencatat apa-apa saja yang dikatakan oleh sang Komandan Batalyon. Acara pun usai, kini Komandan memperkenalkan perwira yang akan menjadi bagian dari Batalyon itu.
"Panji!" pekik Dirga tak tertahan. Matanya berkaca-kaca, saat melihat sahabatnya sudah kembali pulih.
Setelah semuanya bubar, Dirga menghampiri Panji dan memeluknya dengan erat. "Gue bahagia lo udah sehat!" lirih Dirga tak tertahan hingga akhirnya airmata pun lolos.
"Ckck! Lo laki, masa nangis! Malu noh diliatin bini sama anak lo," ejek Panji. "Dira apa kabar?" tanya Panji dengan lembut.
Dirga menoyor kepala sahabatnya itu. "Aduh! Lo itu, tadi nangis-nangis! Sekarang maen toyor kepala gue!" kesal Panji.
"Abisnya ngapain lu sok lembut-lembut ngomong sama istri gue!" sungut Dirga seraya mengapit kepala Panji disela ketiaknya.
"Astaga! Laki lo ini, Dira! Masih aja cemburu akut," ejek Panji lagi hingga mereka tertawa bersama-sama.
"Udah ah! Kalian becanda aja, kita lanjutin ngobrolnya dirumah aja, Kak! Aku juga sekalian mau tanya gimana hubungan Kakak sama Fika!" ucap Indira.
Mereka akhirnya kembali ke Rumah setelah Panji menyelesaikan laporan kepindahannya. Kembalinya sahabat membuat Dirga bahagia, sangat bahagia.
* * * * *
Rindu sayang kalian, Reader 🥰😘
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤