
Jangan pernah membandingkan rumah tanggamu dengan rumah tangga orang lain. Setiap rumah tangga memiliki masalah sendiri-sendiri untuk dihadapi. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, tetapi kita harus selalu bersyukur dengan pasangan yang kita miliki.
Selama ini, hubungan rumah tangga Athaya dan Aini baik-baik saja. Bahkan keduanya kini tengah menikmati masa-masa menanti buah hati. Hanya saja, kini Aini jauh lebih sensitif. Karena dia merasa tak pantas untuk mendampingi Athaya dengan kondisinya yang seperti ini. Dia masih harus duduk di kursi roda, karena belum bisa berjalan.
"Sayang.. Kok ngelamun sih? Ada apa hmmm?" tanya Athaya memeluk samg istri.
Aini diam saja dan tidak menjawab. Sepulang dari Sukabumi, sikap Aini menjadi jauh berbeda.
"Kamu sayang aku, Mas?" tanya Aini membuat Athaya mengerenyitkan dahinya.
"Kok nanya gitu? Jelas lah aku sayang kamu.. Apalagi sekarang ada dedek bayi, sayang aku ke kamu bertambah seribuu persen!" Athaya mengecup pipi istrinya itu.
"Berarti aku boleh minta apapun sama kamu kan, Mas?" Aini menatap manik mata Athaya.
Athaya mendudukkan dirinya di kursi, dia menarik kursi roda sang istri agar berhadapan. "Buna nya dedek bayi mau apasih dari Ayah? Pasti Ayah akan kabulin selagi bisa dan Ayah mampu," ucap Athaya sambil mengecup perut istrinya yang sudah mulai membesar.
"Ceraikan aku setelah melahirkan, Mas..! Carilah istri yang mampu mengurus kamu dan anak kita," lirih Aini.
Jantung Athaya berdegup kencang mendengar ucapan sang istri. "Apa maksud kamu, Aini?! Kenapa kamu ngomong kaya gitu?!" Athaya masih berusaha untuk menahan emosinya.
"Apa yang kamu harapkan dari perempuan cacat ini?! Aku gak akan bisa ngurus kamu dan anak kita nantinya! Aku harap, kamu akan menemukan perempuan yang mau mengurus bayi kita dan menyayanginya setulus hati," kini Aini mulai terisak.
"Dengerin aku, sayang! Sampe kapanpun, aku gak akan pernah menceraikan kamu! Apalagi untuk menikah lagi! Enggak sama sekali, Aini! Darimana kamu punya pemikiran seperti ini?!"
Aini masih terisak, sedangkan Athaya tak mampu lagi menahan emosi dalam dadanya.
"Aku berjuang untukmu, Aini! Aku berjuang! Tidakkah kamu menghargai perjuanganku?! Kita akan membesarkan anak kita bersama! Kenapa kamu menyerah, Aini?! Kenapaaa?!" bentak Athaya membuat Aini tersentak.
Tak ingin emosi menguasai dirinya, Athaya meninggalkan Aini di dalam kamar. Mbok Ratmi yang mendengarkan percakapan keduanya, menghampiri Aini yang masih menangis tersedu-sedu.
"Non.. Sudah jangan menangis! Kasian dedek bayi," lirih Mbok Ratmi mencoba menenangkan Aini.
"Aku capek, Mbok.. Aku takut gak bisa ngurus Mas Athaya dan bayi ini. Sekarang aja, aku masih sering ngerepotin Mbok sama Mas," isak Aini.
__ADS_1
"MasyaAllah, Non.. Mbok kan kerja disini memang untuk itu. Dan Mbok sama sekali gak merasa kerepotan buat bantu Non Aini. Apalagi semenjak ada dedek bayi dalam perut Non, Mbok makin bersemangat buat ngejagain kalian berdua," ucap Mbok Ratmi.
Entah bagaimana pikiran Aini, namun saat ini dia merasa sangat rapuh.
"Non, setiap rumah tangga pasti mempunyai masalah. Yang harus diselesaikan adalah masalahnya, bukan malah rumah tangganya. Bicarakan baik-baik dengan Den Gus.. Bicarakan dengan kepala dingin, apa yang membuat Non Aini seperti ini. Jangan sampai, nantinya Non menyesali semua ucapan yang keluar saat diri kita emosi."
Aini menganggukkan kepalanya, dia memeluk erat Mbok Ratmi yang selama ini selalu membantu dan menemaninya. Sedangkan Athaya, dia berada di Taman belakang rumahnya. Hatinya teramat pedih, seluruh rasa sesal seolah menyesakkan dadanya.
"Aku menyesal Aini.. Aku menyesal membuatmu seperti ini.. Aku menyesal membuatmu menderita seperti ini.. Apa yang harus aku lakukan, Aini?" lirih Athaya.
Seolah ikatan batin terjalin, Dirga dan Indira baru saja sampai di Bandung. Karena Dirga akan ada kegiatan selama seminggu penuh disana, maka dia membawa serta istri dan anaknya. Sebelum kerumah Ayah Fahri, mereka mampir kerumah Papa Dirga. Karena kini Athaya dan Aini tinggal disana. Sedangkan Papa Dirga masih melanjutkan pengobatan di Jakarta.
"Assalamu'alaikum..." ucap Indira dan Dirga serempak.
"Walaikumsalam... Den Dirga, Non Dira.." Mbok Asih menyambut keduanya.
"Lho, dimana Athaya sama Aini, Mbok?" tanya Indira.
"Anu Non.. Tadi sepertinya Den Gus dan Non Aini bertengkar. Mbok Ratmi sedang menemani Non Aini di kamar. Kalo Den Gus sepertinya di Taman untuk menenangkan diri."
"Kak.." lirih Athaya memeluk Dirga dan menangis.
"Ck! Cengeng amat sih! Ada masalah apa?" tanya Dirga sambil menepuk pundak adik iparnya itu.
"Aini minta gue ceraikan dia setelah melahirkan," Dirga dan Indira tersentak kaget.
"Kok bisa?! Pasti ada sesuatu yang gak beres," tebak Indira.
"Gue gak tau, Dira. Dia cuman bilang, kalo dia takut gak bisa ngurus gue dan anak kita. Dia malah nyuruh gue buat cari perempuan lain yang dengan tulus mau ngurus anak kita. Hati gue sakit, Kak, Dira.. Gue nyesel karena gue yang buat dia kaya sekarang! Semuanya salah gue," isak Athaya dipelukan Dirga.
"Udah.. Udah.. Jangan nangis terus. Nanti aku coba ngobrol dari ke hati sama Aini. Kamu harus maklum, karena ibu hamil memang sensitif karena peningkatan hormon juga. Nih main sama Gemma, kita kan kesini karena Gemma kangen sama Om dan Aunty nya. Aku ke kamar Aini dulu," pamit Indira.
Dia membiarkan Gemma bermain bersama Athaya dan juga Dirga. Sesampainya di kamar, dia pun melihat Aini yang masih menangis di pelukan Mbok Ratmi.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum.. " sapa Indira.
"Walaikumsalam, Kak Syafa?!" Aini dan Mbok Ratmi menoleh.
Mbok Ratmi melepaskan pelukannya dan meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa adikku sayang? Kok nangis? Nanti ponakan Kakak juga ikut sedih, lho.."
Aini menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata Indira. Namun Indira paham, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Dengerin Kakak ya, Aini. Setiap pernikahan memiliki ujiannya masing-masing, bagaimana kita bisa melewatinya kalau kita tidak saling menguatkan dengan pasangan?"
"Aini takut, Kak.. Banyak sekali orang yang bilang, jika Aini gak akan bisa mengurus Mas Athaya dan anak kami," lirih Aini.
"Sayang.. Sayang.. Lihat Kakak!" Indira mengangkat dagu Aini agat bisa menatapnya.
"Apakah Athaya belum cukup membuktikan jika dia mencintai kamu? Apapun dia lakukan untuk kamu dan anak kalian, Dek.. Dia berjuang untuk kalian berdua.. Apa kamu bakalan rela melepaskan Athaya dan anak kalian nantinya?" tanya Indira dan Aini menggelengkan kepalanya.
"Gak akan sanggup, kan? Maka dari itu sayang.. Bicarakan baik-baik dengan kepala dingin, ya.. Kakak yakin, kalian akan bisa melewati ujian apapun itu kalo kalian terus sama-sama."
"Satu hal lagi, Aini. Jangan pernah dengerin ucapan orang, karena itu hanya akan menyakiti kamu, Dek. Cukup masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Sekarang waktunya buat kamu untuk membuktikan pada manusia-manusia itu, jika kamu bisa dan kamu mampu! Ngerti kan maksud Kakak?" tanya Indira dan Aini menganggukkan kepalanya.
"Makasih banyak ya, Kak. Maafin Aini," lirih Aini memeluk Kakak iparnya itu.
"Minta maaflah sama suami kamu, Dek. Tidak ada rumah tangga yang dapat mencapai kebahagiaan tanpa usaha suami dan istri. Jadi, tetaplah melangkah bersama meskipun banyak masalah dan cobaan."
Keharmonisan sebuah rumah tangga terletak pada sikap tanggung jawab dan terbangunnya komunikasi yang sehat. Semahal apa pun harga sebuah bantal, tak akan mampu menggantikan nyaman dan tenangnya bahu seorang suami untuk bersandar.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤