
Tiada komunikasi terindah kecuali komunikasi dan saling menyapa antara suami dan istri. Kini kedua pasangan pengantin baru itu sudah berada di kamar pengantin. Keduanya sangat lelah, sebab tamu undangan yang hadir rupanya tidak sedikit. Tapi rasa lelah itu terbayar oleh rasa bahagia dihati keduanya.
"Kak Athaya mau mandi dulu? Biar Aini siapkan pakaian Kakak," ucap Aini sambil memegang tangan suami yang berada di pundaknya.
"Kamu mau sampe kapan panggil aku Kakak, sayang? Kita ini suami istri lho!" Athaya terkekeh ketika melihat rona merah dipipi istrinya itu.
Aini menunduk malu, "Terus mau dipanggil apa sayang?"
Athaya terkesiap, "Kamu panggil aku sayang?" tanya Athaya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu. Sedangkan Aini mengangguk sambil menunduk malu.
'Ah! Menggemaskan sekali istriku ini' batin Athaya.
Dia mendorong kursi roda istrinya itu menuju sisi ranjang, kemudian dia duduk sambil menatap wajah perempuan yang kini halal untuknya. Perlahan tapi pasti, Athaya membantu Aini melepaskan jilbabnya. Dia sangat terpesona dengan kecantikan sang istri, dengan lembut sebuah kecupan mendarat di kening Aini.
Cukup lama Athaya mengecup kening sang istri, kemudian dia menatap manik mata Aini yang kini sudah mulai berkaca-kaca.
"Ada apa sayang? Apa kamu gak bahagia dengan pernikahan kita?" Athaya sangat takut jika istrinya itu menyesal telah menikah dengannya.
Aini menggelengkan kepalanya, "Aku sangat bahagia, hanya saja.... aku malu dengan keadaanku. Harusnya aku bisa melayani suamiku, tapi kondisiku sungguh terbatas. Aku takut nantinya kamu bakalan ninggalin aku, Mas!"
Athaya mengusap airmata istrinya itu, dia mengecup kedua mata Aini. "Sayang, aku tidak perlu kamu layani seperti itu. Aku menerimamu apa adanya dirimu dan aku harap kamu pun begitu. Rumah tangga bukan hanya sekedar melayani dan dilayani sayang, tapi kita bersama-sama menjalani semua ini. Jadi lupakan itu, yang penting saat ini aku ingin memilikimu seutuhnya."
Untuk pertamakalinya dia mengecup bibir sang istri, hal itu membuat detak jantung keduanya menjadi tak beraturan. Hanya sebuah kecupan tapi mampu membuat udara terasa panas. Athaya melepaskan bibirnya dari bibir sang istri, dia mengusap pelan kepala Aini.
"Sekarang kamu istirahat, pasti capek! Aku minta mbok Darmi buat bantu ganti pakaian kamu ya sayang." Athaya melangkahkan kakinya untuk keluar kamar, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan istrinya.
"Kenapa gak kamu yang bantu ganti, Mas? Bukankah aku ini halal untukmu, jangan biarkan istrimu ini menahan rasa bersalah, Mas!" lirih Aini.
Jantung Athaya berdegup kencang, tak ingin membuat istrinya itu bersedih dia kemudian menghampiri Aini dan memeluknya. "Baiklah sayang, aku akan membantumu mengganti pakaian dan membersihkan diri," bisik Athaya.
Tubuh Aini tiba-tiba menegang, apalagi ketika Athaya menggendongnya tanpa aba-aba. Dia lantas segera mengalungkan tangannya dileher sang suami. Athaya membawa istrinya itu ke kamar mandi dan mendudukannya di dekat wastafel.
Keduanya saling menatap penuh cinta, jantung keduanya sudah bertalu-talu. Perlahan tapi pasti, Athaya melepaskan kebaya yang melekat pada tubuh istrinya itu. Untuk pertama kalinya dia melihat keindahan dunia, berkali-kali Athaya menahan salivanya. Keduanya sangat gugup, hingga Aini tiba-tiba mengecup bibir sang suami.
__ADS_1
Athaya tertegun, namun kemudian dia menahan kepala sang istri. Kini kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman yang menuntut. Keduanya melepaskan bibir mereka untuk mengambil nafas dan meraup oksigen sedalam-dalamnya. Kini jiwa lelaki Athaya sudah terpancing, dia melepaskan seluruh pakaian yang melekat pada dirinya dan istrinya.
"Mas, aku malu!" lirih Aini sambil menutup bagian sensitifnya.
"Izinkan aku memilikimu seutuhnya, sayang!" Setelah mengucapkan itu, Athaya menggendong sang istri menuju ranjang. Dengan hati-hati dia membaringkan istrinya itu, keduanya saling menatap dan kemudian..... (Para reader traveling 😁✌)
Kini kedua pasangan pengantin itu tengah mengecap manisnya madu asmara, kini Aini sudah menjadi milik Athaya sesungguhnya. Keduanya berharap jika ibadah yanh mereka lakukan dapat menghasilkan keturunan yang soleh dan soleha.
* * *
Pagi itu semua orang sudah bersiap di meja makan, untuk pertama kalinya Athaya makan bersama keluarga besar seperti ini. Hatinya menghangat, bahkan dia bisa melihat Fika yang kini tengah menggendong putranya.
Panji sudah sadar, kini dia duduk diatas kursi roda sama seperti Aini. Karena koma cukup lama, tubuhnya membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali. Dirga pun sangat bahagia, terlebih saat ini dia bisa merasakan kehangatan dalam keluarganya sendiri.
"Alhamdulillah, kini semuanya bisa berkumpul disini. Papa bahagia, jujur saja Papa menyesal telah memeperlakukan Dirga tidak semestinya. Maafkan Papa, Nak!"
Dirga mengangguk dan merangkul tubuh sang Papa. "Sudahlah Pa, kini kita buka lembaran baru dalam hidup kita. Semoga keluarga kita selalu dalam lindungan Allah!"
Usai sarapan pagi, Dirga dan Indira memutuskan untuk pulang bersama Ayah Fahri dan Bunda Gisya. Entah kenapa, Dirga sangat ingin berdekatan terus dengan mertuanya itu.
"Gak apa-apa dong, Dek! Mungkin bawaan cucu Ayah!" ucap Ayah Fahri sambil terkekeh. Sedangkan Dirga mengangguk dan mengiyakan.
Sesampainya dirumah, Dirga dan Indira masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Baru juga Dirga akan masuk kedalam kamar mandi namun suara istrinya membuat Dirga panik bukan kepalang.
"Mas, perut aku mules banget, sakit banget ini Mas!"
Dirga segera menghampiri Indira dan mengusap perut sang istri, "Ini baru 7 bulan kan sayang? Kok udah mules-mules?"
"Gak tau, Mas! Sakiiitttt!" lirih Indira.
Keduanya semakin panik ketika melihat ada lendir bercampur darah yang keluar dari jalan lahir. "Kita ke Rumah Sakit sekarang!"
Dirga segera menggendong tubuh istrinya, dia sangat panik, takut sesuatu terjadi pada istri dan anaknya. Bunda Gisya dan Ayah Fahri terkejut bukan kepalang.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Kamu kenapa, Nak?" panik Bunda Gisya sambil mengikuti sang menantu dari belakang.
"Kayaknya Syafa kecapean, Bun! Ada lendir campur darah, aku takut!" lirih Dirga.
"Yaa Allah, biar ajudan Ayah yang nyetir! Kita ke Rumah Sakit!" tegas Ayah Fahri.
Sesampainya disana ternyata Indira sudah mengalami pembukaan, padahal usia kandungannya baru 7 bulan. Dengan terpaksa, kemungkinan Indira melahirkan sebelum waktunya. Dirga dengan setia menemani sang istri.
Suara detak jantung bayi terus dipantau oleh suster, Indira terus berdo'a untuk keselamatan dirinya dan bayinya.
"Mas... Maafin aku, ya! Aku gak jagain dedek dengan baik." lirih Indira.
"Sssttt.. Jangan ngomong gitu, sayang! Kamu adalah wanita terhebat dalam hidupku, kita berjuang sama-sama ya buat dedek. Kamu harus tenang, Insya Allah dedek dan Bunda nya akan baik-baik saja. Ayah akan selalu ada disisi Bunda!" Dirga mengecup kening Indira dan terus berdo'a unruk keduanya.
Bunda Gisya pun turut memberikan semangat untuk sang anak. "Bunda yakin, Adek bisa melalui semua ini. Berjuang sama-sama dengan cucu Bunda, ya!"
"Iya Bunda, do'ain Adek ya! Maafin Adek kalo selama ini banyak salah sama Bunda. Sekarang Adek tau, bagaimana perjuangan Bunda untuk melahirkan Adek kedunia ini."
Perjuangan seorang Ibu untuk melahirkan anaknya tidaklah mudah, diantara hidup dan mati. Maka sayangilah Ibumu selagi dia masih ada.
* * * * *
Hai.. Hai.. Reader tersayang! ❤
Maaf rindu jarang UP, sedang sibuk di dunia nyata nih..
Semoga kalian sehat-sehat selalu yaa..
Rindu sayang kalian, Reader 🥰😘
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤