Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 31. Menunggu


__ADS_3

Hallo Reader...


Maaf author belum bisa jawab komen kalian satu-satu..


kondisi othor sudah jauh lebih membaik..


Othor hanya sanggup untuk UP, tapi komen kalian othor baca kok..


makasih banyak do'a baiknya untuk othor..


do'akan agar othor cepat lulus dengan gelar M. Cov dari Universitas Wuhan ini ya..


❤❤❤❤


* * *


"Berdamailah dengan hatimu, sebab yang kamu benci belum tentu harus kami jauhi. Dan apa yang kamu cintai, tidak harus kamu miliki. Sebab Allah pemegang kuasa tertinggi, yang paling mengetahui mana yang terbaik."


Itulah yang Indira tulis dalam buku hariannya, sikap Dirga yang 180° berbeda membuat hati Indira diselimuti sebuah kerinduan. Athaya sendiri hingga kini masih sering menghubunginya, untuk sekedar bertanya kabar. Tapi Dirga?


"Huff, sudahlah! Fokus pada tujuanmu disini, Indira!" gadis itu berucap pada dirinya sendiri didepan sebuah cermin.


Sedangkan laki-laki yang dia rindukan, kini tengah makan siang bersama keluarga besar Indira. Ya, laki-laki itu adalah Dirga Agung Prayoga. Caranya memperjuangkan Indira adalah dengan mendekatkan diri pada keluarga besarnya.


Ayah Fahri tersenyum senang, "Jadi kamu sama sekali gak pernah menghubungi Indira?" pertanyaan itu membuat Dirga menjadi pusat perhatian semuanya.


"Enggak, Ayah. Saya cuman ingin mengetahui sejauh mana Syafa mempertahankan keteguhan hatinya untuk tidak berhubungan dengan seorang abdi negara seperti saya. Jika memang Syafa tidak menginginkan saya, maka saya akan melepaskannya," jawaban yang sangat mencengangkan bagi semua keluarga Indira.


"Kamu gak mau gitu nikah sama Dira? Kok gak mau meyakinkan dia?" tanya Husain, dia sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran Dirga.


"Begini, Bang. Siapa sih yang tidak mau menikah dengan orang yang paling kita cintai? Tapi saya tidak mau memaksakan kehendak, jika memang Syafa tidak ingin menikah dengan abdi negara mau bagaimana lagi? Saya lebih mementingkan kebahagiaannya, Bang. Sebab istri adalah jantung rumah, maka jika istri bahagia maka rumah tangga yang kita jalani pun akan bahagia."


Jawaban Dirga lagi-lagi membuat mereka tersenyum penuh arti. "Apa kamu akan mengundurkan diri dari kesatuan, kalo Indira memintanya?" pertanyaan dari sang Bunda membuat Dirga sedikit tersentak.


"Maaf Bun, tapi saya sudah bersumpah pada diri saya dan pada Allah. Saya akan mengabdikan diri saya untuk negara ini," tegas Dirga.


Bunda Gisya mengelus bahu Dirga, "Tetaplah pada pendirianmu, Bunda hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk anak-anak Bunda. Kalo memang kamu menjadi jodoh Indira, pasti Allah akan menyatukan kalian dalam ikatan suci. Berdo'alah, mintalah pada sang pemilik-Nya."


Selepas acara makan siang bersama keluarga besar Indira, kini Dirga akan menjenguk sang adik. Dengan wajah berseri, Dirga masuk kedalam ruangan rawat Aini.


Ceklek


"Assalamu'alaikum, Kakak datang," Dirga menghampiri Aini yang tengah disuapi bubur oleh Athaya. Melihat Dirga datang, Athaya hanya bisa tersenyum sinis dan memberikan ruang untuk Kakak beradik itu.


"Wa-laikumsalam," jawab Aini sedikit terbata, sebab suaranya belum pulih sepenuhnya.


Dirga mengusap kepala Aini dengan lembut, ada pancaran kerinduan disudut mata Aini. Karena memang sudah cukup lama mereka tidak bertemu.


"Bagaimana kondisi Adek sekarang? Apa kata dokter?" tanya Dirga, hanya saja Aini belum bisa menjawab pertanyaan Dirga.


"Kondisi Aini udah cukup baik, Kak. Setelah dirasa kondisi nya cukup stabil, Aini bakalan menjalani therapy," jawab Athaya menjelaskan kondisi Aini.

__ADS_1


Dirga menghela nafasnya, "Maaf ya, Kakak belum bisa menjaga Aini dengan baik. Setelah pulih, Aini ikut Kakak tinggal di asrama, ya! Biar Kakak bisa menjaga Aini dengan baik. Bagaimanapun, Papa sama Mama itu orang sibuk. Mereka pasti akan susah membagi waktu untuk menemani kamu," lirih Dirga.


Aini menganggukkan kepalanya, "Aini mau sama Kakak aja, Aini gak mau sama mereka. Apalagi mungkin Aini akan cacat, gak seperti dulu." Dengan susah payah Aini mengatakan hal itu, dengan lelehan airmata dipipinya.


"Sssttt, udah jangan nangis! Aini akan sembuh, mau bagaimanapun caranya. Aini harus sembuh, jangan sampe Kakak ikut lumpuhin orang yang sudah membuat kamu seperti ini," perkataan Dirga cukup membuat Athaya sedikit tersentak kaget.


Setelah melihat sang adik terlelap tidur, Athaya mengajak Dirga untuk berbicara empat mata. Kini mereka berdua tengah duduk di kantin Rumah Sakit tersebut.


"Gue minta maaf, Kak. Semuanya diluar kendali gue, dan gue gak tau kalo pada akhirnya akan seperti ini. Tapi sampe kapanpun, gue akan tetep ngejaga dan ngerawat Aini sampe dia bener-bener pulih kaya dulu lagi," ucap Athaya dengan penuh ketegasan.


Dirga tersenyum sinis, "Gue tau lo bakal ngomong kaya gini. Apa menurut lo gue gak tau kondisi Adek gue? Sedikit kemungkinan Adek gue bisa jalan lagi. Lo pikir Adek gue bakal terima aja statement lo yang seperti itu? Nggak Athaya, pemikiran Adek gue itu jangka panjang. Dia mikirin cita-citanya, dia mikirin masa depannya. Itu yang bikin Adek gue ngerasa down, ibarat kaca yang pecah mau lo susun serapi apapun gak akan pernah balik lagi kaya dulu. Semuanya gak sesimple itu!"


Athaya menunduk, kini dia mengerti mengapa Indira bisa jatuh hati pada Dirga. Pemikiran dirinya dan pemikiran Dirga jauh berbeda. Ucapan Dirga membuat Athaya merasa sesak, seolah dadanya terhantam sesuatu. Dia menunduk dan tanpa sadar meneteskan airmata.


"Gue nyerah, Kak. Lo harus bahagiain Indira! Mau sekuat apapun gue menggenggam dia, pada akhirnya dia akan tersakiti," lirih Athaya.


Bagaimanapun kebahagiaan Indira menjadi prioritas Athaya. Anggaplah ini sebagai pengorbanan cinta dari seorang Athaya untuk Indira.


"Athaya, gue bukan tipikal orang yang akan mengambil kesempatan dalam kesulitan oranglain. Gue gak akan pernah maksa lo buat ngelupain perasaan lo buat Syafa, maksud gue Indira. Karena cinta emang gak tau pada siapa dia berlabuh, gue juga gak akan pernah memaksakan perasaan Indira. Semua keputusan ada ditangan dia, antara lo atau gue. Jadi gue harap, perlakukan Indira seperti biasanya. Kita berjuang masing-masing, gue tau lo orang yang baik. Bahkan jauh lebih baik dari gue."


Tanpa sadar Athaya memeluk Dirga dengan sangat erat, dia menumpahkan semua airmatanya dihadapan Dirga yang notabene adalah 'Competitor' nya dalam memperjuangkan seorang gadis bernama Indira. Namun, Athaya tidak mau terus menerus berada dalam sisi egoisnya.


"Gue tau, latar belakang keluarga kita sama-sama gak mulus. Gue sama lo punya rasa trauma tersendiri dengan sebuah keluarga. Tapi gue juga yakin Kak, lo bisa bahagiain Indira. Karena seperti yang lo bilang, lo adalah pemilik hatinya sejak awal. Gue mohon sama lo, Kak. Tolong perjuangin dia."


Dirga lagi-lagi menghela nafasnya panjang, entah apa yang dia pikirkan saat ini.


"Gue gak tau Athaya, dia pernah bilang sama keluarganya. Kalo dia gak mau berhubungan dengan abdi negara. Dan gue menyadari itu, resiko pekerjaan gue itu terlalu besar. Maka dari itu, sejak dulu gue mengikhlaskan lo buat menjalin hubungan sama dia. Ah! Dahlah, cinta itu rumit buat pemikiran kita sebagai laki-laki. Gue pamit ya! Tolong jaga Adek gue, sampe suatu saat gue yang akan bawa dia," pamit Dirga menepuk bahu Athaya.


"Pada saat aku memutuskan untuk jatuh cinta padamu, saat itu juga aku sudah menyiapkan diri untuk patah hati, Dira. Memilikimu adalah halusinasi, sebab kamu objek yang nyata namun terasa fatamorgana."


Sedangkan disisi lain, malam ini Indira tengah berkumpul bersama dikedai kopi Kang Sobri. Faisal dan Kania kini yang menemani Indira, mereka cukup mengerti perasaan Indira yang tengah dilanda kegalauan.


Faisal menjentikan jarinya didepan wajah Indira, "Iyey please deh! Kita kesini teh mau ngopi-ngopi cantik cyin! Kalo mau ngelamun mah, cus kita balik aja lah. Puguh deui eikeu bisa rebahan syantik, aduh gustiiii......" keluh Faisal.


Pletak


Kania menyentil kening Faisal, membuat laki-laki setengah perempuan itu memekik kesal.


"Awwchh! Iyey ih sakit nyaho, cewek kok Lakiiik! Tanaga na meuni ampun ih iyey, ieu kening eikeu sampe sedud sedud syalalala," kesal Faisal.


"Berisik, Cal! Lama-lama gue lempar lo ke benua antartika!" geram Kania.


"Waw.. Waw... Siapa yang mau dilempar neng?" celetuk Bian membuat Kania dan Faisal tersentak kaget.


"Astaghfirulloh, gustiii... Untung yey eikeu teu boga panyakit jantung, kasep-kasep otak na geser ih! Eikeu reuwassss!" pekik Faisal dengan suara laki-lakinya.


Sontak hal itu membuat orang disekitar mereka tertawa terbahak-bahak. Bian baru saja datang bersama Dirga, namun Indira tidak menyadarinya. Sebab sejak tadi dia hanyut dalam lamunannya. Bahkan suara orang terbahak-bahak sekalipun tidak membuat lamunannya buyar. Dirga memberikan kode pada Faisal dan Kania untuk beranjak, kini Dirga duduk didepan Indira yang tengah asyik dengan lamunannya. Wajah Indira mengadap kesamping, menyaksikan hamparan sawah yang terbentang luas.


Huf huf huf


Dirga meniup mata Indira, jarak mereka cukup dekat hingga membuat Indira menoleh.

__ADS_1


"Ngelamunin siapa, hm?" tanya Dirga membuat Indira melongo. Dia mengucek-ngucek matanya, lalu mencubit pipi Dirga dengan keras.


"Aw.. Aw.. Sakit yank! Kamu nyubit kenceng-kenceng banget sih," kesal Dirga.


"Ma-mas Yoga? In-ini beneran kamu?" gugup Indira membuat Dirga tersenyum.


Tanpa menjawab, Dirga menarik lengan Indira untuk pergi darisana.


"Tunggu, lepas Mas! Aku kesini sama temen-temen aku," Indira mencoba melepaskan genggaman tangan Dirga.


"Jangan banyak protes, temen-temen kamu lagi asyik sama Bian! Sekarang ikut Mas," titah Dirga membuat Indira mencebik kesal.


"Ck! Dasar tukang maksa!" kesal Indira sambil mengerucutkan bibirnya.


Kini Indira sudah berada diatas motor Dirga, dengan sengaja Dirga melajukan motornya dengan kecepatan penuh.


"Mas pelan-pelan! Aku belom mau ketemu malaikat Izrail!" kesal Indira menepuk-nepuk bahu Dirga, namun kemudian Dirga mengerem mendadak membuat Indira memeluk Dirga begitu saja.


"Nah, apa susahnya sejak tadi begini," ucap Dirga dengan penuh kemenangan.


Dirga membawa Indira ke Pantai Pelabuhan Ratu, kali ini dia hanya ingin memastikan bagaimana perasaan Indira padanya. Mereka berjalan menyusuri pantai, Indira tampak menikmati angin malam yang menerpa tubuhnya.


"Syafa, ada yang ingin aku tanyakan. Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya, aku gak akan pernah mengulangi pertanyaan ini lagi. Apakah kamu benar-benar tidak mau memiliki hubungan dengan seorang abdi negara sepertiku?"


Deg deg deg!


Jantung Indira berdegup dengan kencang, dia berbalik dan menatap Dirga dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Indira menggelengkan kepalanya, "Aku memang takut menjalani sebuah hubungan dengan seorang abdi negara, Mas. Tapi aku terlalu takut melihat kamu bahagia bersama oranglain. Selama ini aku membentengi diriku, aku gak mau sembarangan memilih pendamping hidup, Mas. Tapi kehadiran kamu sejak awal sudah meruntuhkan semua benteng yang aku bangun," suara Indira tercekat, dia mulai menangis sambil memukul-mukul dada Dirga.


Mendekap erat gadis yang sangat dicintainya, itulah yang dilakukan oleh Dirga.


"Kami jahat, Mas! Aku ini merindukan kamu, merindukan semua sikap manis kamu! Tapi kamu apa? Dingin kaya kulkas 18 pintu, aku flu mas ngadepin sikap dingin kamu! Aku sumpahin hati kamu beku cuman buat cinta sama aku!" kesal Indira membuat Dirga tertawa bahagia.


"I LOVE YOU INDIRA MYESHA KIRANIA SYAFA!" teriak Dirga membuat Indira tersentak kaget. Dia menutup mulut Dirga dengan tangannya, "Kamu ngapain sih, Mas! Malu tau, liat itu orang-orang jadi ngeliatin kita!" kesal Indira.


Dirga menggenggam erat kedua tangan Indira, dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu itu ibarat buku yang tebal, hanya laki-laki seperti aku yang mampu membacamu hingga halaman terakhir. Apakah kamu mau menungguku, Syafa? Menungguku melantunkan ijab kabul didepan orangtuamu," tanya Dirga.


"Salah satu hal yang paling bahagia untukku dan yang paling aku nantikan adalah mendengar ijab kabul yang terucap dari mulutmu, Mas. Tapi aku juga masih terikat dengan Athaya, jadi aku mohon juga sama kamu Mas. Tunggu aku menyelesaikan hubunganku dengannya," lirih Indira.


Dirga mengangguk dan membawa Indira dalam pelukannya, "Mari kita sama-sama menunggu hingga saat itu tiba."


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2