
"Kau boleh lari dari kenyataan, asalkan tahu jalan pulang. Pergi dengan kekanakan, pulang dengan pendewasaan."-Fiersa Besari
~
Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Aku pergi bukan karena keinginanku..
Aku pergi membawa luka hati..
Berharap nanti ketika kembali,
Luka ini telah pulih..
Aku hanyalah manusia biasa..
Yang ingin mencintai, dan juga dicintai..
Namun pada kenyataannya..
Diriku ini tertolak dua kali..
Oleh dua wanita yang enggan mencoba membuka hati..
~
Athaya menuliskan sebuah postingan pada sosial medianya, tak mengharapkan apapun. Sebab dia tak memiliki tempat untuk mencurahkan seluruh kekecewaan dalam hatinya. Berkali-kali Aini menghubungi Athaya, tapi laki-laki itu enggan walau untuk sekedar membacanya.
Panggilan untuk perjalanannya ke Turki sudah terdengar, Athaya segera bergegas untuk menuju ke Pesawat. "Bismillah! Come on Athaya, you can do it!"
Laki-laki itu melangkah dengan pasti, dengan tekad yang kuat. Walaupun bayang-bayang senyuman Aini dan Indira kembali menghiasi ingatannya. Namun Athaya terus mencoba menepis semua itu. Perjalanan yang ditempuh, kurang lebih 16 jam. Athaya memilih untuk menikmati perjalanan dengan tidur.
Sedangkan di Malang, Aini tak kuasa menahan air matanya ketika mendengar jika Athaya sudah pergi meninggalkannya.
Indira terus mencoba untuk menenangkan adik iparnya itu, "Tenang ya, Aini. Insha Allah, jika kalian berjodoh maka Allah akan mempertemukan kalian lagi kelak. Athaya pasti akan baik-baik saja, dia hanya butuh waktu, Aini."
"Aku salah, Kak. Aku bodoh! Pernikahan ini bahkan aku yang memintanya, bukan Athaya! Aku bodoh, Kak!" histeris Aini.
Dirga memijit kepalanya yang mulai terasa sakit, "Stop, Aini! Stop! Kamu pikir setelah kamu bersikap seperti ini, Athaya akan kembali?! Enggak, Aini! Nasi udah jadi bubur, tidak perlu menyesali! Belajarlah untuk menjadi dewasa!" bentak Dirga, membuat Aini terdiam seketika.
"Yaa Allah, kenapa ujian diawal pernikahanku ini terasa berat sekali," batin Indira.
Mereka semua meninggalkan Aini, sebab gadis itu meminta untuk ditinggalkan sendirian. "Kak Athaya, maafin Aini! Entah kenapa semuanya jadi kaya gini, Aini juga gak ngerti sama perasaan ini, Kak."
Aini kembali mencoba menghubungi Athaya, tapi sayang ponselnya sudah tidak dapat dihubungi. Kini hanya penyesalan yang Aini rasakan.
Indira mencoba menguatkan sang suami, Dirga terlihat sangat kusut. Terlalu banyak beban dalam pikirannya, ditambah dia dikabari oleh Bian jika harus segera kembali. Sebab mereka sudah mendapatkan penugasan ke Ambon selama 6 bulan. Dirga tidak tau bagaimana cara untuk memberitahukan semuanya pada Indira.
"Mas, kamu gak apa-apa kan? Kamu pucet banget, Mas!" panik Indira.
Dirga menggenggam tangan Indira, "Aku gak apa-apa, Syafa. Aku cuma butuh istirahat, nanti sore kita pulang, ya! Minggu depan aku harus pergi bertugas ke Ambon," ucap Dirga.
Hati Indira sedikit terhenyak, "Apakah aku siap harus berpisah denganmu lagi, Mas?" batin Indira.
__ADS_1
Melihat sang istri hanya terdiam, Dirga membawanya kedalam pelukannya. "Aku janji akan pulang dengan selamat, setelah pulang tugas dari Ambon kita adakan resepsi pernikahan kita ya, sayang!"
Indira tak bisa berkata-kata, dia hanya menganggukkan kepalanya dan mempererat pelukannya.
Sebelum pulang, mereka memastikan dulu jika kondisi Aini akan baik-baik saja. Athaya tidak mengingkari janjinya, Mbok Darmi adalah orang yang disiapkan oleh Athaya untuk menjaga dan merawat Aini dengan baik.
"Mbok, saya titip adik saya, ya! Maaf kalo sikapnya agak kurang baik, tolong kabari saya kalo ada sesuatu!" pinta Indira.
"Nggeh, Non. Insha Allah si Mbok akan menjaga Non Aini dengan baik, Den Gus juga sudah memberitahu saya mengenai kondisi Non Aini," jawabnya.
Tak lupa keduanya berpamitan pada orang tua mereka, "Pa, Ma. Kami pamit, do'akan Dirga. Minggu depan Dirga penugasan ke Ambon, semoga Papa dan Mama juga sehat selalu. Sebisa mungkin, Dirga akan menghubungi Mama dan Papa," ucap Dirga.
Mama Dirga langsung berhambur memeluk putra satu-satunya itu, "Mama akan selalu mendo'akan kamu, semoga Allah selalu menjagamu dan menjaga keluarga kecilmu. Berhati-hatilah dan pulang dengan selamat, sebab ada istri dan keluargamu yang menanti kepulanganmu."
Suasana haru kembali menyelimuti, terlebih ketika Aini dengan sengaja menghindar dari kedua Kakaknya itu. Hatinya terlalu sakit untuk sekedar mendengar kata perpisahan.
* * *
Athaya menggeliatkan tubuhnya, kini dia baru saja tiba di Turki. Apartment sang Kakek kini sudah ditempati oleh penyewa, seorang mahasiswi yang berasal dari Malaysia. Maka dari itu, Athaya lebih memilih mencari apartement lain yang tak jauh dari kampusnya.
Dia berbenah terlebih dahulu, apartment disana lumayan nyaman. Athaya hanya tinggal membawa diri, sebab semuanya sudah difasilitasi. Dia mencoba menghidupkan ponselnya kembali, rupanya Aini tak hentinya mengirimkan pesan.
"Semoga kita sama-sama belajar untuk lebih dewasa, Aini. Aku pasrahkan semuanya pada Allah, jika kamu memang jodohku maka aku yakin kita akan bersatu seperti Dirga dan Indira,," batin Athaya.
Sapu tangan bertuliskan nama Aini selalu dia bawa kemanapun, anggap saja Athaya sudah jatuh hati pada gadis itu. Terdengar bunyi ponsel Athaya kembali, dia tersenyum ketika melihat pesan yang kembali dikirimkan oleh Aini.
💌 Putri Dirgantara
"Mari kita lihat, Aini. Do'amu atau do'aku yang akan dikabulkan, aku akan selalu memperjuangkanmu dalam sepertiga malamku," gumam Athaya.
Dia menutup kembali ponselnya, tak berniat sama sekali untuk membalas semua pesan Aini. Secara tidak langsung Athaya sedang menghindar dari Aini, dia ingin membuat Aini memahami perasaannya yang sesungguhnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang waktu Turki, perut Athaya sudah berbunyi. Dia sangat lapar dan juga lelah, Athaya menyambar jaket dan dompetnya lalu pergi menuju salah satu minimarket yang menjual berbagai jenis makanan Asia.
Saat terburu-buru, tanpa sengaja Athaya menubruk seorang gadis berjilbab hingga terjatuh.
Bruk!
"Awww! Sakit sekali!" rintihnya.
Athaya segera bangkit dan meminta maaf, "Sorry! Aku gak sengaja, apa ada yang terluka?" panik Athaya.
"Saya tak apa, sudahlah! Terimakasih dah nak tolong awak," ucapnya.
"Kamu orang Indonesia?" tanya Athaya, dan gadis itu menggeleng. "Ayah saya Malaysia, Ibu saya Palembang!" jawabnya.
Athaya terkikik, "Itu namanya kamu setengah orang Indonesia. Oh ya, nama saya Athaya! Sekali lagi saya mohon maaf........."
"Azura, nama saya Azura!" ucapnya.
"Oke Azura, sebagai permintaan maaf, saya traktir kamu makan. Lagian nasi kotak itu udah hancur," tunjuk Athaya pada bungkusan yang dibawa Azura.
Gadis itu mengangguk, "Terimakasih, Athaya!"
__ADS_1
Jika Athaya baru saja bertemu dengan teman baru, berbeda dengan Indira. Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, kini keduanya sudah sampai di Sukabumi. Mau tidak mau, Indira dan Dirga harus berpisah sementara. Sebab Indira dan Dirga belum diizinkan untuk tinggal bersama di Rumah Dinas.
"Mas balik dulu ke Asrama, nanti kalo semua persiapan udah selesai kamu pindah kesana, yank!" ucap Dirga sambil mengelus lembut kepala sang istri.
Indira mengangguk, "Iya, Mas. Lagian aku juga mesti menyelesaikan dulu tugas-tugas KKN, udah beberapa kali aku absen, Mas."
"Oke yank! Huft! Kita pengantin baru, tapi harus terpisah seperti ini," keluh Dirga.
"Sabar, Mas. Ini ujian pertama untuk rumah tangga kita," senyuman Indira bagai obat yang menenangkan hati Dirga.
"Huft mana baru sekali kan Mas nengokin" lirihnya.
"Uhuukkkk... Uhukkkk..."
Faisal yang tak sengaja melewat tersedak minumannya ketika mendengar ucapan Dirga. "Please deh iyey! Jangan suka ngabibita eikeu, cyiinn!" kesal Faisal.
"Hahaha! Emang kamu doyan apem, Cal?" ledek Dirga.
"Eikeu mah apem iyes, pisang juga iyes cyiinn!" goda Faisal mengedipkan sebelah matanya.
Seketika Indira menyembunyikan tubuh Dirga dibalik tubuhnya, "Istighfar, Ical! Ngapain kamu kedap kedipin itu mata kaya lampu disko!" kesal Indira.
"Iyey! Takut kalah saing sama eikeu?" ledek Faisal membuat Indira memelototkan matanya.
"Hahahaha" Dirga tertawa terbahak-bahak melihat tingkah makhluk seperti Faisal. "Dah ah! Jangan godain terus Ibu negara! Denger ya, Cal! Kamu harus selalu jagain ibu negara dimanapun dia berada, kalo enggak... Kamu tau sendiri konsekuensi nya!"
Faisal bergidik ngerii, "Ah iyey jangan suka nakutin eikeu begitu, Masee! Dah gih pergi sana, Ibu negara aman bersama eikeu!" usir Faisal.
"Ckckck! Sana balik badan dulu, Cal! Jangan ngintip, nanti mata kamu bintitan!" titah Dirga.
Bagai kerbau yang dicocoki hidungnya, Faisal menurut begitu saja.
Cupp 💋💋
Dirga mengecup kening, kedua pipi dan bibir istrinya itu. "Mas pamit, ya! Besok Mas jemput, semoga semuanya bisa cepet diselesaikan!" ucap Dirga.
"Iya sayang, hati-hati dijalan!" Indira mengucapkan itu dengan pipi yang sudah bersemu merah.
"Wuuuu....." Faisal bersorak, "Eikeu mau dong dipanggil cayaaaankkk...!" ledeknya.
Indira bahagia, sangat bahagia. Dia dan Faisal mengantarkan Dirga hingga masuk kedalam mobilnya. Setelah Dirga pergi, tibalah Kania yang datang sambil menangis. Indira mencoba mengejar Kania, tapi sayangnya Kania segera mengunci kamarnya secepat kilat. Dia bahkan menghindar dari tatapan Faisal dan Indira.
"Ada apalagi ini, Yaa Allah!" batin Indira.
* * * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1