Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 43. Drama Kejepit


__ADS_3

Setelah menikah, kehidupan seseorang akan berubah bukan? Tapi hal itu belum berlaku bagi Dirga. Pagi ini dirinya masih harus menyiapkan pakaian dan sarapannya sendiri, sebab surat pengajuan mereka baru akan dilakukan hari ini.


Sementara Indira saat ini sudah berkutat di dapur, dia harus menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga teman-temannya. Pagi ini dia sedikit kesiangan, semalam Kania terus menangis hingga Indira harus menemaninya.


"Caaaallll.....! Ambilin mangkok dong," teriak Indira.


Faisal datang tergopoh-gopoh, "Iyey meuni riweuh ih! Eikeu masih jemur baju cyin, itu manusia seenak jidatnya aja jam segini belum pada beranjyak dari tempat tidur!" kesal Faisal pada teman-temannya.


"Udahlah jangan ngomel lagi, sekarang ambilin mangkok tiga sama beresin jemuran kamu. Udah jam setengah enam, nanti kita telat buat ngajar anak-anak," ucap Indira.


Meskipun sambil menggerutu, Faisal tetap melakukannya. Meskipun seorang perempuan setengah jadi, Indira memuji keahlian Faisal dalam beberapa bidang. Dia sangat suka merajut dan membuat syal, Faisal juga sangat pandai dalam membuat kue.


Setelah memberikan mangkok, Faisal pergi begitu saja. Indira pikir Faisal kembali menjemur, ternyata........


"BANGUUUN WOOYYY!! GUA SIRAM JUGA LO SEMUA!!" geram Faisal dengan suara kelaki-lakiannya.


Hal itu membuat mereka semua segera memaksakan membuka matanya, "Jangan kira gue gak penah demo! Lu pada bisa seenaknya sama gue! Bangun! Ngepel sama cuci piring! Bagi-bagi tugas bego, bukan malah enak-enakan molor!"


BRAAAKKK


Faisal membanting pintu dengan kencang, "Astaga, itu si Ical kerasukan jin dari mana dah, sumpah kaget gue! Padahal lagi mimpi enak," keluh Doni.


"Udah ayo kita bangun! Makhluk setengah jadi kaya si Ical nyeremin kalo udah marah!"


Hati Indira sedikit sakit mendengar teman-temannya menyela Faisal. Setelah sarapan sudah siap, Indira kembali membersihkan dirinya. Rencananya siang ini dia akan menghadiri panggilan dari kesatuan Dirga, sekaligus untuk mengurus surat-surat.


"Cal, kamu gak apa-apa kan?" tanya Indira ketika melihat Faisal melamun didepan teras.


Faisal menggeleng, "Tangan eikeu kejepit cyin!" lirih Faisal sambil memperlihatkan kedua jari tangannya yang mulai membiru.


"Astaghfirulloh ical! Ini mah mesti ke Rumah Sakit, tunggu disini! Aku panggil Kania dulu," panik Indira lalu memanggil Kania yang tengah berada dalam kamar mandi.


Tok..Tok.. Tokk..


Indira mengetuk pintu kamar mandi cukup kencang, "Astaga Dira, ada apaan sii?! Baru juga aku mau setor, bikin ilang mood deh!" kesal Kania.


"Darurat! Tangan si Ical kejepit, kukunya udah pada biru-biru! Kalo dibiarin bahaya, gimana kalo mesti di amputasi?" Indira membuat Kania juga menjadi panik. Dia segera memakai sweter lalu menyambar kunci mobil milik Doni.


"Don! Lu izinin kita bertiga, gue mau bawa si Ical ke Rumah Sakit. Tangannya mesti di amputasi," sontak ucapan Kania membuat Faisal mendelik lalu menangis sejadi-jadinya.


"Eikeu gak mau ke Hospital, tangan eikeu kaga apa-apa begini aja! Huuu..Huuu.. Jari-jari lentikku, eikeu tak mau terpisahkan dengan kalian," rengek Faisal sambil memandangi kedua jarinya sambil meringis.


Mereka memutar bola matanya jengah, "Lu mau ke Rumah Sakit atau jari tangan lu bakalan gue potong disini!" ancam Kania.


Pada akhirnya mereka bertiga pun pergi ke Klinik yang cukup besar, karena Faisal tidak mau dibawa kerumah sakit. Dia terlihat meringis ketika tak sengaja menyentuh jari-jarinya yang terluka. Tak ada percakapan sepanjang jalan, mereka sangat mengkhawatirkan kondisi tangan Faisal. Bagaimana tidak? Jari-jarinya tercetak jelas terluka, kukuny bahkan sedikit demi sedikit terangkat.


"Makasih ya, cyin! Udah mau peduli sama eikeu," lirih Faisal mencoba memecahkan keheningan.


Kania dan Indira menoleh ke bangku belakang, "Cal! Kamu itu temen baik, bahkan sahabat baik kita. Gak ada kata maaf atau terimakasih bagi sebuah persahabatan," ucap Indira.


"Bener itu, Cal! Lagian lu ngapain si? Itu tangan kok bisa kejepit?" tanya Kania yang kini tengah menyetir.


Faisal masih menunduk, "Eikeu tadi mau benerin engsel pintu belakang, semalem itu ada orang yang mau nyolong, cyin! Nah eikeu benerin dong, pas mau test eh malah ini tangan stand by ditempat! Ya otomatislah, tangan eikeu yang indah rupawan ini jadi penyok begini. Wong eikeu menutup pintu dengan kekuatan Faisal, bukan kekuatan Ical," lirihnya sambil kembali meringis.


Indira dan Kania menahan tawanya, mereka menjaga perasaan laki-laki berhati lembut ini. Mau bagaimanap pun, Faisal adalah teman dan sahabat yang baik. Dia bahkan selalu ada ketika Indira dan Kania sedang membutuhkannya.


Kini mereka sudah sampai di klinik, rupanya jari-jari tangan Faisal mengalami keretakan. "Awwcchhh, pelan-pelan dong ne! Tangan eikeu kan sakit!" rengek Faisal pada suster.

__ADS_1


"Saya masih muda, belum nenek-nenek!" ketus sang suster. Indira dan Kania hanya menahan tawanya ketika melihat wajah Faisal yang cemberut. Sebenarnya wajah Faisal cukup tampan, ditambah lagi tubuhnya yang tinggi. Hanya saja Faisal memiliki alasan lain mengapa dirinya berubah menjadi laki-laki feminim seperti sekarang.


"Icch! Eikeu bilang pelan-pelan, iyey malah di pencet-pencet. Mau bikin eikeu metong ya!" geram Faisal.


Suster itu mencebik kesal, "Saya baru tau kalo tangan kejepit begini bisa bikin orang mati!"


Saat Indira tengah mengamati interaksi Faisal dan sang suster, ponselnya berdering dan saat dilihat itu panggilan dari suaminya.


~ In Call ~


"Assalamualaikum, Mas!"


"Walaikumsalam, sayang kamu dimana? Mas udah di depan SD ini," ucap Dirga.


"Aku di Klinik Pratami, Mas!"


"Klinik? Kamu sakit yank?! Tunggu disana, Mas berangkat sekarang!" panik Dirga.


"Gak usah, Mas! Aku sama Kania........."


"Pokoknya tunggu disana!"


Tut....


~ End Call ~


Dirga panik bukan kepalang ketika mendengar sang istri tengah di Klinik, "Pot, ke Klinik Pratami sekarang!" titah Dirga pada Bian.


"Lah? Bukannya mau ke kantor?" tanya Bian dengan heran, hal itu membuat Dirga kesal. "Istriku sedang di Klinik sama Kania! Kalo kamu gak mau nganter aku bisa pergi sendiri! Minggir!" geram Dirga.


"Mau mati kamu, Pot!" bentak Dirga sambil memegang keningnya yang sakit.


Bian hanya menoleh sejenak, "Embuh diem lah, Dan! Wes kalo ada apa-apa sama mereka itu gimana?!" panik Bian.


"Kalo situ ngejalanin mobil kaya gini, kita yang mati duluaaaan pooootttt!" teriak Dirga.


Rupanya ucapan itu cukup membuat Bian tersadar, "Sialan kamu, Bang! Emboh lah aku kalo mati sekarang, kawin aja belom! Situ enak dah ngerasain kue legit, nah aku? Mati sia-sia toh!"


Astaga


Ingin rasanya Dirga membungkam mulut juniornya itu, 30 menit kemudian keduanya sudah sampai di Klinik. Mereka segera menanyakan keberadaan dua wanita pujaan hati mereka. "Sus! Pasien atas nama Indira!" panik Dirga.


"Sebentar, Mas. Kami cek dulu," ucap sang perawat laki-laki.


Bian mengerenyitkan dahinya, "Kalo suster laki-laki emang disebut sus juga?" bisik Bian.


"Gak tau lah, gak mungkin kan aku panggil paster!" jawab Dirga dengan asal.


"Maaf Mas, tidak ada pasien bernama Indira," ucapnya, Bian dan Dirga menjadi bingung sendiri. "Coba Kania, Paster!"


Haaahh? Paster??


Perawat laki-laki itu terlihat menahan tawanya, "Maaf tidak ada juga pasien bernama Kania."


"Masa gak ada sih, Paster! Tadi mereka bilang di Klinik Pratami kok!" kesal Bian.


"Kenapa gak coba ditelepon lagi aja, Mas?" saran perawat laki-laki itu.

__ADS_1


Dirga dan Bian menepuk dahinya bersamaan, "Lu jadi bego begini sih, poottttt!" cibir Dirga.


Belum telepon Dirga tersambung, tersengar suara lembut memanggilnya. "Mas!"


Melihat sang istri, Dirga langsung berhambur memeluknya. "Kamu kenapa yank? Aku khawatir! Apa yang sakit? Mana yang luka?" tanya Dirga sambil memutar-mutar tubuh sang istri.


"Ckck! Ibu negara bisa pingsan kalo di puter-puter kaya gitu, Dan! Malu dilihat orang!" celetuk Bian.


Sedangkan Indira terkikik geli, "Bukan aku yang sakit, Mas! Tapi Ical!"


"Haaaaaaahhhhh?" pekik Dirga dan Bian bersamaan.


"Astaga! Jadi aku kebut-kebutan kemari cuman gara-gara makhluk setengah jadi!" Bian memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Hahahahahaha," terdengar suara Kania yang menertawakan tingkah keduanya.


Bian mendekati Kania, "Kamu gak apa-apa?"


Kania menggeleng, "Ical yang sakit, Mas. Tangannya kejepit pintu, dua jarinya retak sama kuku lentik nya copot!"


Dirga semakin memijat dahinya pelan, "Mas sampe dicium dashboard, yank! Gara-gara si Bian ngebut waktu aku bilang kalian di Klinik. Eh tau nya si makhluk dua dunia yang disini, mana gara-gara kejepit doang lagi! Ckckck!"


"Hei anak muda! Jangan suka nyepelein ye, jari-jari chantik eikeu jadi begindang itu buat jagain Ibu negara sama Ibu mentri! Semalem ampir kecholongan cyin, seenak jidat iyey bilang kejepit doang!" kesal Faisal.


Dia sudah diperbolehkan pulang saat ini, "Nanti Mas bilang sama warga sekitar, kalo perlu kamu tinggal di asrama aja buat sementara! Biar aman," ucap Dirga.


"Enggaklah, Mas! Bisa dapet tindak disiplin kalo gitu. Aku gak apa-apa kok, Mas! Lagian kan surat dari kantor belum diberesin, aku gak mau jadi bahan gosip!" tolak Indira.


Terdengar helaan nafas Dirga, "Yaudah kita pulang sekarang! Pot kamu bawa mobil Kania, aku sama istriku mau ke kantor!" titah Dirga.


"Siap Dan! Saya juga mau izin, ada hal yang penting yang harus saya bicarakan dengan Kania," ucap Bian.


"Hei! Hei! Eikeu gimenong?! Masa yang sakit yang ditinggal!" kesal Faisal.


"Naik ojek!" serempak Bian dan Dirga mengucapkan itu.


"Eikeu sumpahin ya, burung iyey kejepit! Biar nyahoooo!" teriak Faisal membuat Dirga dan Bian sontak segera membalikkan badan dan menghampiri Faisal.


Bian dan Dirga kompak memberikan uang dua ratus ribu, "Kalo begini aman, cyiinnn! Sono-sono pergi!" usir Faisal sambil mengipas-ngipaskan uang empat ratus ribu ditangannya.


Dia pun melangkah menyusul mereka untuk pulang, namun perawat laki-laki menghentikannya. "Mas eh Mbak eh, aihhh! Ini total biaya administrasi nya, 350 ribu rupiah. Tolong diselesaikan di kasir!" titahnya.


Faisal membulatkan matanya, lalu........... "Kacang ijo, kacang tanah, kacang kaprii.... Dasar monyet, gajah, jerapah, buayaaaa....... Eikeu jadiin buaya guling tau rasaa!" pekik Faisal.


Kini dia mengerti kenapa dua orang itu berbalik dan memberinya uang, tapi mereka tak sekejam itu juga. Sudah ada anak buah Dirga yang akan mengantarkan Faisal kembali ke kost nya.


"Dasar drama, pake kejepit segala!" gerutu Faisal sambil melihat dua jarinya.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2