
Hai.. hai.. hai..
Author rindu menyapa, 🥰
Ada tulisan yang othor lupa UP sebelum jadi Mahasiswa Universitas Wuhan 😁
Ini othor UP buat melepas kerinduan kalian 🥰
Do'akan othor segera pulih ❤❤
Miss you reader ❤❤❤
* * *
"Kesempatan itu seperti matahari terbit, jika sedikit saja kamu terlambat maka kamu bisa melewatkannya keindahannya."
Athaya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Indira untuknya. Pagi ini, dengan penuh semangat Athaya bergegas menuju rumah sakit. Dia bertekad akan merawat Aini hingga sembuh. Maka dari itu, sebelum berangkat ke tempat KKN dia memutuskan untuk menjenguk Aini terlebih dahulu.
Waktu menunjukan pukul 6 pagi, Athaya sudah memarkirkan mobilnya dipelataran Rumah Sakit. Karena Aini pasien VVIP, maka Athaya bisa datang kapanpun dia mau.
"Assalamualaikum, selamat pagi Om, Tante, Kak Dini," sapa Athaya.
"Walaikumsalam, eh Nak Athaya. Ada apa pagi-pagi sudah kemari?" tanya Mama Aini.
"Ck! Lu sebutin semua orang disini kecuali gue, lu kira gue ghoib!" celetuk Dirga yang mengagetkan Athaya.
"Eh, sorry sorry! Gue gak liat ada lo, tadi ketutupan sama Kak Dini!" kikuk Athaya, entah kenapa berhadapan dengan seorang Dirga membuat dirinya sedikit melunak.
"Anak ini! Udah jangan tegang begitu, ada apa Nak? Ini masih jam 6 pagi, kami kaget kamu tiba-tiba datang kemari," Papa Dirga menatap Athaya penuh tanya.
Athaya menghela nafas panjang, terlebih dia melihat tatapan tak bersahabat dari kedua Kakak kandung Aini.
"Begini Om, Tante dan semuanya. Saya mau meneruskan niat baik saya, saya akan menjaga dan merawat Aini sampai sembuh!" Athaya berkata dengan sungguh-sungguh.
"Nggak! Cukup sekali lo ingkarin janji lo! Busuk semua emang janji laki-laki," ketus Kak Handini menatap Athaya tajam.
"Ck! Gue gak termasuk laki-laki yang lo omongin, ya! Jangan samain semua laki-laki sama mereka yang ingkar janji! Gue selalu pegang omongan gue dari dulu sampe sekarang!" kesal Dirga ketika Handini berbicara seperti itu.
"Cukup! Kepala Papa pusing, Aini belom sadar sampe sekarang! Tolong jangan buat pikiran Papa semakin berat," Papa Dirga berkata lirih sambil memegang dadanya.
Sejenak mereka terdiam, hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
Tok tok tok
Handini beranjak dan membukakan pintu, dia tertegun melihat seorang gadis cantik bersama dua pria yang berada dibelakangnya.
"Si-silahkan masuk, Syafa," Handini sangat terkejut, hingga dia gugup.
"Makasih, Kak!" jawab Indira seraya tersenyum.
__ADS_1
Ya, gadis itu adalah Indira. Sebelum kembali ke Sukabumi, Indira ingin melihat kondisi Aini terlebih dahulu. Dia menyukai Aini sejak pertama kali mereka bertemu, Indira bisa merasakan kasih sayang terhadap Aini. Namun dia juga cukup kaget, ketika melihat Athaya dan Dirga berdiri berdampingan. Keduanya tersenyum pada Indira, tapi gadis itu tak menghiraukan keduanya.
"Tante, Om. Gimana kabarnya? Maaf, kemaren aku belum menyapa Om dan Tante dengan benar," lirih Indira menyalami kedua orangtua itu.
"Syafa, gadis cantik kesayangan almarhum Kakek," Mama Dirga memeluk Indira dengan tangisan dipipinya. Hal itu membuat Athaya sedikit tercengang, terlebih panggilan yang dilontarkan oleh kedua orangtua Dirga.
"Nenek gimana kabarnya, Tante?" dengan suara bergetar Indira menanyakannya.
"Beliau baik-baik saja, Nak. Hanya saja, semenjak kepergian Kakek beliau jadi lebih banyak diam." susah payah Mama Dirga menjawab pertanyaan itu, mengingat kondisi sang Ibu yang kini tak seperti dulu.
Indira menatap Mama Dirga dengan tatapan kasih sayang, dia menghapus airmata yang keluar dari pelupuk matanya.
"Nanti jika ada waktu, boleh aku mengunjungi Nenek, Tante?" mendengar ucapan tersebut sontak membuat Athaya semakin tercengang.
"Bagaimana Dira bisa sedekat ini dengan keluarga Aini, sementara dengan keluargaku saja dia hanya sebatas menyapa," batin Athaya.
"Boleh, Nak! Sangat boleh, Nenek pasti seneng kalo kamu mau mengunjungi beliau," Mama Dirga lagi-lagi memeluk Indira dengan erat.
Perlahan, Indira melepaskan pelukannya dan menghampiri Aini yang masih terlelap dalam tidurnya. Tanpa terasa, airmata lolos begitu saja dari pipi Indira.
"Aini, ini Kak Syafa. Maafkan Athaya ya, dia gak sengaja bikin kamu terluka. Tapi kamu tenang aja, dia akan merawat kamu sampe kamu sembuh. Sampe kamu sehat seperti sedia kala, itulah janjinya padaku, Aini. Bangunlah gadis cantik, nanti kita duet bareng lagi di Thora Cafe. Kak Syafa tunggu, sampe Aini sembuh," Indira menggenggam erat tangan Aini, hatinya terasa pilu melihat kondisi Aini.
Semuanya merasakan kesedihan yang sama, Indira beranjak dan meminta waktu pada Athaya dan Dirga untuk bicara bersama-sama.
"Aku mau bicara sama kalian berdua sebelum aku balik ke Sukabumi,"
"Nanti aja, aku belum laper sayang," Athaya menatap Indira dengan sendu.
"Terimakasih, Syafa! Kamu emang pengertian," Dirga tersenyum lalu menyantap makanan yang dipesankan oleh Indira.
"Makan, Athaya! Setelah ini aku perlu bicara serius, jadi siapkan tenaga kalian. Siapa tau kalian mau baku hantam," ketus Indira membuat Dirga tersedak.
"Uhuukkk... Uhuuukkk... Uhuuukkkk....."
Athaya dan Indira kompak menepuk punggung Dirga, dan memberikan airminum.
"Kenapa kalian romantis begini? Berasa aku yang jadi perempuan," celetuk Dirga sambil menyambar minuman yang diberikan oleh Indira.
"Ck! Enak aja, gue masih normal ya!" kesal Athaya menggeplak bahu Dirga.
"Gue elo gue elo, yang sopan! Gini-gini gue lebih tua dari lo," Dirga menggetok kepala Athaya dengan sendok ditangannya.
Entah mengapa melihat hal itu Indira jadi tersenyum sendiri, sontak hal itu membuat Athaya dan Dirga keheranan.
"Kenapa kamu senyam-senyum begitu? Kesambet kunti rumah sakit?" tanya Dirga.
"Naudzubilah mulutnya, Mas! Amit-amit lagian siapa yang kesambet," karena kesal Indira mencubit lengan Dirga.
"Ya abis ngapain kamu senyum-senyum sendiri begitu, kan ngeriii.. hii..." Dirga bergidik ngeri, hal itu membuat Indira mencebik kesal.
__ADS_1
Diam-diam Athaya mengamati interaksi keduanya, hatinya sedikit tercubit ketika Indira memperhatikan Dirga.
"Apakah senyaman itu kamu bersamanya, Ra? Apakah kamu akan bahagia bersamanya? Apakah aku tak memiliki tempat dihatimu, walaupun hanya sedikit saja?" batin Athaya.
Tak ingin membuat Indira kecewa, Athaya menyantap makanan yang dipesankan oleh Indira. Tanpa sengaja dia melirik jari manis kanan Indira yang terselip cincin disana. Dia menghentikan makannya, dan memegang tangan Indira.
"Ra! Ini cincin dari siapa?" tanya Athaya, tatapan nya menyiratkan kekecewaan.
Indira melepaskan tangan Athaya, kini dia menatap kedua laki-laki yang berdiri dihadapannya ini. Dia menatap keduanya bergantian, lalu melepas kedua cincin yang terselip dikedua jari manisnya.
"Cincin ini adalah cincin pertunanganku dengan kamu, Athaya. Dan cincin ini adalah cincin yang diberikan Mas Dirga jauh sebelum kita bertunangan." Indira meletakan kedua cincin itu dihadapan mereka masin-masing.
"Kamu janji mau kasih aku kesempatan, Ra! Kamu janji gak akan ngelepasin cincin itu dari jarimanis kamu," lirih Athaya.
Jika Athaya bersedih, tapi tidak dengan Dirga. Dia ingin tau, apa yang akan dilakukan oleh gadis pujaan hatinya itu.
"Aku tau, Athaya. Aku juga tetep kasih kamu kesempatan, tapi aku gak mau ada cincin apapun yang terselip dijari manisku. Ayah udah bilang sama Abi, kalo aku dan kamu masih harus memikirkan hubungan kita kedepannya. Aku ingin menikah sekali seumur hidupku, Athaya. Berdo'alah pada Allah, jika memang kita berjodoh pasti kita akan dipersatukan kembali. Dan kamu pun harus menepati janji kamu, Athaya. Dampingi Aini, rawat dia sampe sembuh. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab, tunjukkan padaku jika kamu mampu menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab!" Indira memberi pengertian pada Athaya.
Hancur, itulah yang Athaya rasakan saat ini. Dia hanya bisa menunduk dan mengusap kasar wajahnya dengan frustasi.
"Dan Mas Yoga, maksudku Mas Dirga...."
"Kamu gak perlu ucapkan apapun padaku, karena aku sudah mengerti apa yang akan kamu ucapkan. Cukup simpan saja cincin pemberianku seperti dulu kamu menyimpannya dalam kalung yang kini ada dilehermu," Dirga dengan wajah datarnya mengatakan hal itu. Indira hanya terdiam, dia merasa aneh kenapa Dirga tau jika kini Indira memakai kalung pemberiannya itu.
Sebelum beranjak, Dirga mengatakan sesuatu hal pada Athaya.
"Bukan hal sulit bagiku untuk mendapatkan hati Syafa, karena memang akulah pemilik hati itu sejak dulu. Tapi aku mengizinkan kamu memilikinya, karena aku tau dia tak ingin memiliki masa depan yang berhubungan dengan seorang TNI. Maka dari itu aku melepaskannya, yang aku inginkan hanya selalu melihat senyuman terukir diwajah cantiknya. Meskipun bukan aku yang membuatnya tersenyum, itulah definisi cintaku untuk Syafa. Aku tidak takut kehilangannya, sebab dia milik Tuhan-Nya. Yang perlu aku lakuka hanyalah memintanya pada sang pemilik," setelah mengatakan hal itu dia pergi begitu saja.
Perkataan Dirga, membuat Athaya dan Indira diam membisu. Pikiran Athaya sungguh sangat kacau, dia memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Kenapa aku harus jatuh hati padamu, Ra? Kenapa Allah mempertemukan kita, jika pada akhirnya harus seperti ini?" lirih Athaya menahan setiap rasa sakit yang menghujam hatinya. Indira menggenggam erat tangan Athaya, hal itu membuat Athaya mendongak.
"Kamu percaya jodoh, rezeki, kematian itu sudah Allah atur sejak kita baru terbentuk. Seperti Mas Dirga, mintalah yang terbaik pada Allah. Aku yakin, kamu jauh lebih memahami hal itu. Aku gak mau terjebak dalam dua cincin, maka dari itu Bunda memintaku mengembalikan keduanya. Ingatlah Athaya, kesempatan itu masih terbuka untukmu. Buktikan padaku jika kamu benar-benar mencintaiku,"
Athaya terdiam, kini dia mengerti perasaan Indira.
"Baiklah, lakukan seperti apa yang kamu lakukan pada cincin milik Dirga. Kembalikan padaku jika nantinya aku bukan pilihan hatimu," Athaya pun pergi meninggalkan Indira sendirian di kantin itu.
"Jika kedua cincin ini bisa berbicara, mereka akan lebih banyak cerita untuk diceritakan mengenai cinta yang rumit ini. Huft!" Indira menghela nafasnya dengan kasar.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1