Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 58. Aqiqah Gemma


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Dirga berada di Sukabumi, dia membersihkan rumah dan mempersiapkan kamar yang akan ditempati oleh putrinta nanti. Tentu saja dengan bantuan Bian, Panca dan juga Waluyo.


"Aku jadi ndak sabar liat anak Komandan!" ucap Waluyo saat mereka tengah memasangkan waallpaper berwarna pink di dinding kamar.


"Iya pasti cantik kaya Ibuk," ujar Panca memuji.


"Ekheeemmm...! Yang pasti mirip Ayahnya," celetuk Dirga sambil meletakkan kopi beserta cemilan untuk mereka semua.


Panca dan Waluyo tesenyum kaku, sedangkan Bian mati-matian menahan tawanya. Memang benar, Gemma diibaratkan fotocopy wajah Dirga hanya saja hidung dan alisnya mirip dengan Indira.


"Memang jadi minggu depan Ibuk dan adek bayik pulang, Komandan?" tanya Bian.


"Insya Allah, sekalian kita persiapan mengadakan aqiqah untuk Gemma. Nanti tolong bantu saya carikan satu ekor kambing yang cukup besar ya. Supaya bisa dibagikan untuk seluruh Batalyon!" titah Dirga pada Panca dan juga Waluyo.


"Siap Komandan!"


* *


Waktu terus berlalu, kini Gemma sudah diperbolehkan pulang karena berat badannya sudah normal. Indira dengan penuh cinta merawat buah hatinya, Gemma termasuk anak yang anteng dan jarang menangis.


"Cantiknya ponakan aunty," ucap Aini saat melihat Gemma tengah berjemur bersama sang Ibu.


"Masya Allah, aunty Aini sama Om Athaya nengokin Gemma nih!" Indira menghampiri Aini dan memeluknya.


"Kak, aku boleh gendong?" tanya Aini dan diangguki oleh Indira.


Dengan hati-hati Aini menggendong Gemma diatas kursi rodanya, sedangkan Athaya hanya memperhatikan wajah Gemma yang semakin mirip Ayahnya.


"Ckckck! Ibunya kebagian idung sama alis doang, yang lainnya Ayah Dirga!" ucap Athaya terkekeh.


"Iya nih, Om Athaya. Ibunya kebagian gembol doang!" tawa Indira membuat Gemma menangis karena kaget.


"Sssttt... Sssttt... Maafin Bunda ya, Nak!" Indira menepuk-nepuk Gemma dipangkuan Aini.


Mereka terkekeh saat mendengar suara kentut yang dikeluarkan oleh Gemma. Konon jika anak bayi mengeluarkan kentut, tandanya mereka akan tumbuh besar.


"Jadinya Aqiqah dimana, Kak?" tanya Athaya yang kini mulai merubah panggilannya terhadap Indira.


"Ayahnya sih maunya di Sukabumi, tapi Oma Opa sama Kakek Neneknya minta disini juga Aqiqahan. Alhamdulillah banyak yang sayang Gemma," ucap Indira sambil mengusap lembut kepala sang putri.


"Yaudah sih, mau disini atau disana juga yang penting do'anya untuk Gemma. Tapi Papa sama Mama sih pengennya disini," Aini terkekeh sendiri saat mendengar obrolan kedua orangtuanya pagi tadi.


Indira sangat bersyukur, kedua Mertua dan kedua orangtuanya sangat memperhatikan putri kecilnya.

__ADS_1


"Cucu Opa udah berjemurnya! Ayo kita masuk!" ajak Ayah Fahri menuntun mereka semua untuk masuk kedalam rumah.


Mereka makan siang bersama sambil berbincang-bincang, ponsel Indira berdering menandakan panggilan dari sang suami.


In Call


"Assalamu'alaikum, Ayah Gemma!" sapa Indira membuat Dirga terkekeh.


"Walaikumsalam, Bunda Gemma. Gimana kabar anak kita sayang?" tanya Dirga.


"Dih yang ditanyain sekarang anaknya dulu, nih! Ibunya belakangan," cibir Indira membuat orang sekitarnya menahan tawa.


"Hahahahaha, jangan cemburu istriku sayang! Prioritas Ayah tetep Bunda kok, kan yang akan menemani Ayah sampai akhir hayat itu Bunda. Biarkan Gemma menentukan pilihan hidupnya nanti!" ucap Dirga membuat Indira tersipu malu.


"Apasih, Ayah! Gombalnya nanti aja deh, Bunda lagi mau makan siang ini. Ayah udah makan?" tanya Indira.


"Udah sayang, Ayah cuman mau ngabarin kalo untuk persiapan acara Aqiqah Gemma sudah selesai. Insya Allah tiga hari lagi Ayah jemput kalian berdua!"


"Iya sayang, nanti Bunda siap-siap disini sebelum Ayah jemput!" jawab Indira.


"Yaudah, makan siang dulu gih! Dadahh istrikuu, love you!"


"Love you to, saranghae♥︎"


Ayah Fahri dan Bunda Gisya hanya bisa tersenyum mendengarkan interaksi putri bungsunya bersama suaminya. Mereka tak berhak lagi untuk ikut campur, bagaimana pun keputusan suami anak-anaknya adalah yang utama.


* *


Hari ini tibalah dimana Dirga menjemput Indira dan putrinya, Gemma. Bukan hanya Indira dan Gemma yang berangkat ke Sukabumi, tapi seluruh anggota keluarga sebab mereka akan melangsungkan acara Aqiqah untuk Gemma.


"Istirahat dulu dikamar, sayang!" titah Dirga pada sang istri saat mereka baru saja sampai di Rumah Dinas.


"Terimakasih, Ayah!" ucap Indira sambil membaringkan putrinya diatas kasur.


Sedangkan rombongan keluarga beristirahat di Rumah yang telah Dirga sewa untuk keluarganya. Acara Aqiqah Gemma akan dilaksanakan esok hari, oleh karena itu Indira diharuskan untuk beristirahat.


Beruntungnya Indira dikelilingi oleh orang-orang baik, bahkan Ibu-ibu Persit disana membantu acara Aqiqah putri pertamanya itu. Pagi ini semuanya sudah berkumpul di kediaman Indira untuk mempersiapkan acara Aqiqah yang akan dilaksanakan ba'da Dzuhur.


"Hatur nuhun, Ibu-ibu semuanya atas bantuannya!" ucap Indira sungkan.


"Mohon izin Ibu Danki, Insya Allah kami semua akan selalu saling membantu. Kita semua disini adalah keluarga."


Ucapan istri salah satu anggotanya membuat perasaan Indira menghangat, dia menoleh pada Bunda Gisya yang tengah mengobrol bersama Ibu-ibu Persit yang lain begitu juga dengan Elmira yang termasuk dalam anggota Persit.

__ADS_1


* *


Acara Aqiqah Gemma sudah dimulai, Ustadz menerangkan jika ketentuan aqiqah tidak bisa ditentukan sendiri sesuai keinginan kita, tetapi ketentuan aqiqah harus sesuai dengan sunnah dalam hadits. Menurut ketentuan aqiqah dari sabda Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa yang ingin menyembelih untuk anaknya, maka hendaknya ia menyembelih untuknya. Untuk anak laki-laki, dua kambing dan untuk anak perempuan, seekor kambing.”” (H.R. Abu Daud).


Ayah Fahri memberikan sambutan sebagai perwakilan keluarganya. "Saya ucapkan terimakasih kepada seluruh hadirin yang hadir pada Acara Aqiqah cucu kelima kami, yang merupakan putri pertama dari Dirga dan Indira putri bungsu kami. Semoga cucu kami ini menjadi anak yang soleha dan menjadi kebanggaan bagi keluarga."


Acara selanjutnya dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang dilantunkan oleh Baba Jafran. Walaupun sengklek dan absurd tetap saja bacaan Al-Qur'an beliau yang terbaik.


"Gemma adalah cucu kami juga, Insya Allah hari ini kita semua panjatkan segala do'a baik untuk Gemma Giacinta Indirga. Semoga jadi anak yang soleha dan menjadi kebanggan keluarga, terutama menjadi anak yang berguna bagi Nusa Bangsa dan Agama," ucap Baba Jafran selesai membacakan ayat suci Al-Qur'an.


Berikutnya adalah sholawat dan pencukuran rambut bayi. Dirga dengan hati-hati menggendong putri kecilnya, sedangkan Indira mengikuti dibelakangnya sambil memegang baki berisi gunting dan mangkuk kecil untuk rambut putrinya.


"Liat, dia anteng banget!" bisik Dirga pada istrinya.


"Anak Bunda gitu loh! Kalemnya kaya Bunda," bisik Indira terkekeh.


Usai itu dilanjutkan dengan acara pengajian dan ceramah yang diisi oleh Ustadz setempat. Acara berakhir dengan makan-makan bersama. Sepanjang acara, Gemma sangat anteng dan sesekali menggeliat karena kehausan.


"Kasih ASI dulu sayang, kasian Gemma," titah Mama Dirga.


Indira pun mengangguk menuruti ucapan sang Mertua, dia menyusui Gemma dikamarnya.


"Terimakasih sayang, sudah hadir ditengah-tengah kehidupan Ayah dan Bunda. Semoga kelak kamu akan menjadi anak yang Soleha, Hafizah dan yang pasti berguna bagi Nusa Bangsa dan Agama."


“Allahumma Bariklii Fii ‘Aulaazdii Waahfathhum Wa Laa Tathurra Hum Waarzukna Birrohum.”


Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan yang banyak kepada anak-anak hamba, jagalah mereka dan jangan Engkau celakakan mereka. Karuniakanlah kepada kami ketaatan mereka.”


Bukankah do'a Ibu itu sangat mujarab, maka Indira akan terus memanjatkan do'a yang terbaik bagi Gemma.


* * * * *


Haii.. haiii.. haii...


apakabar kalian?


Rindu is back ❤


Doakan rindu supaya bisa istiqomah untuk update 🤣


Semoga suka dengan ceritanya


Salam RINDU, AUTHOR❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2