Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 48. Bibit Unggul


__ADS_3

Malam pertama kepergian tugas sang suami, Indira lewati dengan derai air mata. Kerinduan terasa menelusuk kedalam relung hatinya. "Mas aku rindu," lirih Indira sambil memeluk baju terakhir yang digunakan oleh suaminya itu.


Waktu terasa berjalan sangat lambat, bahkan sang suami belum memberikan kabar jika dia sudah tiba di tempat tujuan. Hal itu membuat hati Indira semakin gundah gulanah. Disinilah peran Bunda Gisya sangat di butuhkan.


Tok.. Tok.. Tok..


"Dek, Bunda boleh masuk?" tanya sang Bunda.


Indira segera mengusap air matanya, "Boleh Bun, masuk aja!"


Bunda Gisya tersenyum, dia mengusap lembut kepala sang putri. Dia mengerti jika saat ini putri bungsu nya ini berada dalam fase awal ketika ditinggalkan bertugas. Bunda Gisya terkikik geli, dia pun mengingat masa-masa itu. Untuk pertama kalinya dia menangisi kepergian sang suami untuk bertugas.


Melihat sang Bunda terkekeh, Indira mengerenyitkan dahinya. "Bunda kenapa ketawa sendiri begitu? Bunda aman kan?" tanya Indira.


"Hush! Aman lah, emang kamu pikir Bunda kesambet gitu?" kesal sang Bunda membuat Indira sedikit tertawa. "Bunda itu ngeliat kamu sekarang ini, jadi keingetan waktu dulu pertama kali Bunda di tinggal tugas sama Ayah. Beuh waktu itu rasanya berjalan lambat banget, kalo gak salah pas hamil kamu tuh Bunda juga ditinggal tugas! Ah pokoknya banyak lika-liku deh," ucap Bunda Gisya.


Indira memeluk erat sang Bunda, "Rasanya gak enak Bunda, baru ditinggal belum sehari aja Adek rasanya rindu sama Mas Dirga. Kalo Adek minta dia buat berhenti jadi tentara apa Mas Dirga gak keberatan?" lirih Indira yang mulai terisak.


Deg!


Semua prediksi Bunda Gisya terhadap putri bungsunya ini selalu benar, perlahan dia mengusap lembut punggung putrinya itu. "Dek, perjuangan menjadi seorang tentara itu gak mudah. Latihan fisik, mental dan lainnya itu gak mudah, Nak. Dirga menemukan jati dirinya disini, sebagai seorang istri kita diwajibkan untuk mendukung apapun yang menjadi pilihan suami."


"Nak, kewajiban istri hanyalah mendo'akan serta mendukung semua keputusan suami. Bunda yakin, suami kamu itu gak akan pernah menolak semua permintaan kamu. Termasuk untuk keluar dari kesatuan, tapi apa kamu akan mengerti isi hati suami kamu yang sesungguhnya itu?"


Indira menggelengkan kepalanya, "Suami kamu akan merasa semua perjuangannya selama ini sia-sia, dia bangun sejak pukul 4 pagi melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim lalu menekuni latihan fisik yang memberatkan dirinya. Tapi menjadi tentara adalah pilihan hidupnya, begitu pun kamu. Maka jangan biarkan suami mu itu untuk berada dalam posisi memilih. Sebab itu sama saja kamu tidak menerima dia dengan baik," tutur Bunda Gisya menasehati.


Mendengar semua ucapan sang Bunda, Indira kini mengerti. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk dari sang suami membuat Indira merasa lega.


'Mas sudah sampai, ini Mas di Barak. Maaf bikin kamu khawatir, sayang. Tidurlah, peluk cium jauh dari Mas. Selamat tidur bidadari surgaku'


Indira melewati malam pertama itu dengan berbalas pesan dengan sang suami, hingga dirinya terlelap tidur begitu saja sambil memeluk erat baju milik Dirga yang sengaja tak ia cuci.


* * *


Hari-hari terus berlalu, Indira mulai terbiasa tanpa kehadiran sang suami. Dia lebih banyak menghabiskan waktu mengikuti kegiatan Persit, disela-sela kegiatan KKN nya. Indira akan segera menyusun skripsinya, hanya saja dia memutuskan untuk mengambil cuti kuliah sementara. Sebab dia tak ingin meninggalkan Rumah Dinas suaminya itu. Dia akan terus tinggal disana, Bunda Gisya bergantian menjaga Indira dan juga Elmira. Jarak Singapore-Bandung kini sudah seperti jarak dari kamar ke kamar mandi.


Indira cukup bisa berbaur dengan baik, sudah hampir dua bulan Indira tinggal disana. Kania dan teman-temannya sudah kembali ke Bandung, sebab KKN mereka telah usai. Namun setiap hari Jum'at hingga minggu, Kania selalu pergi ke Sukabumi dan menginap disana, seperti hari ini.


"MashaAllah, Nia! Kamu minggat? Bawa koper segede gaban begini," kaget Indira ketika melihat sahabatnya itu turun dari mobil.


Kania mencebik kesal, "Ini tuh oleh-oleh dari sahabat elu yang nyebelin!"


"Waah, Fika emang terbaik! Makasih ya, Nia. Udah mau bantu aku jaga Fika juga," Indira memeluk erat tubuh Kania.


Fika kini tengah mengandung, usia kandungannya hampir lima bulan. Keluarga Panji menerima Fika dengan baik, hanya tinggal menunggu Panji yang saat ini masih anteng terbaring dalam tidur panjangnya. Segala biaya rumah sakit Panji ditanggung oleh Dirga, dia tak peduli berapapun biayanya asalkan sahabatnya itu mendapatkan perawatan terbaik.


"Aduh gustiiii....! Jadi menurut iyey si Nia sama si Fika aje yang terbaik? Eikeu enggak gituu cyiinn? Aduuuuduuu.. Sukak nyesel deh eikeu nganterin sohib iyey kemareee..." celetuk Faisal.

__ADS_1


Indirs tertawa geli, "Hihihi, jangan ambekan dong madam Ical! Malu di liat sama tentara ganteng!" bisik Indira sambil mengedipkan sebelah matanya.


Faisal melirik ke arah samping rumah dinas sahabatnya itu, dia melihat Waluyo dan Panca yang tengah makan siang bersama. "Yaa ampyun, mata eikeuuu! Gak butuh roghto, cukup eikeu main kesini cyin! Mata eikeu bersih bersinar moonlight...!" heboh Faisal.


Sedangkan yang di lirik mengidigkan bahunya, "Amit-amit Pot, kok bisa sih Ibu negara iku punya temen koyo ngono! Lakik kok lembek koyo bubur, pot!" bisik Waluyo.


"Diem kau! Dia mendekat, dia mendekat!" mulut Panca mulai komat-kamit.


Indira dan Kania yang melihat itu hanya menahan tawanya, begitu Faisal mendekat ke arah mereka. Entah kenapa perut Indira terasa mual, "Hoeeeekkk... Hoeeeeekkk...!"


"Aduh gustiiii.....!!! Sepatu eikeuu cyiiinnn! Heyy yettiii, menurut iyey eikeu ini wastafel apa? Kenapa muntah disiniiii?" rengek Faisal.


"Bhahahahaha, bukan wastafel tapi closet dudhuk gitu lho!" ledek Waluyo yang tertawa terbahak-bahak.


"Eikeu syebel, syebel, syebelllll.....!"


Indira tak menggubris rengekan Faisal, kepalanya terasa pusing dan berputar. Sejurus kemudian.....


Bruuuk!!


"Bu negara!! Dira!!!" teriak mereka bersamaan, Indira pingsan begitu saja.


Mereka segera membawa Indira ke Klinik yang berada tak jauh dari rumah dinasnya. Sementara di Ambon, sudah hampir sebulan ini Dirga sering mendapatkan perawatan. Tubuhnya lemah, dia sering muntah-muntah. Padahal keadaan disana sedang genting.


"Komandan! Sebaiknya ke Klinik lagi, wajahmu pucat sekali Dan!" ujar Bian yang khawatir.


Dirga menggelengkan kepalanya, "Apa aku penyakitan ya, Pot? Kok sering banget mual muntah begini! Gak kuat aku, pooottt!"


Bian tak menggubris ucapan sang Komandan, dia segera membawa Dirga ke Klinik. Dokter selalu mengatakan jika Dirga mungkin terkena penyakit maag yang cukup kronis. Karena kondisi nya yang semakin lemah, Dirga di bawa ke Rumah Sakit yang berada di kota.


Bian mencoba menghubungi Indira, namun di tahan oleh Dirga. "Jangan buat istriku khawatir, Pooott!!!"


"Embuh lah, kalo dia gak tau lebih snewen aku Bang! Kalo ada apa-apa nanti aku yo yang disalahken, apalagi aku juga punya pawang toh yang dekat dengan beliau! Bisa-bisa gagal kawin aku Bang!" ujar Bian lalu kembali menghubungi Indira.


Sayangnya nomor Indira tak aktif, mungkin ponselnya kehabisan baterai. Bian kemudian menelepon dua rekannya, Panca tak mengangkat teleponnya. Tapi kemudian saat dia menelepon Waluyo, Bian hanya mendengar krasak krusuk seperti orang yang tengah panik.


"Wooiii... Bantu dong angkat Ibu dong! Mosok temen ne pingsan malah ngurusin sepatu buluk," kesal Waluyo.


"Iyeey sabar dong! Eikeu kan mesti buka dulu sepatu, jijyiikkk hueeekkk! Lagian ni si cincay pakek pingsan segala sih cyyiiinn...!!"


Bian membulatkan matanya, "Hallo... Halloo.. Waluyo! Uyoo, yoooo, poottttt!!!"


Sepertinya ponsel Waluyo disimpan dalam saku dan tak sengaja mengangkat telepon Bian. "Ada apa, Pot?" tanya Dirga dan Bian menggelengkan kepalanya.


"Si Waluyo angkat telepon, tapi gak ngomong apa-apa!" bohong Bian.


Kemudian, Dirga melakukan berbagai macam test, mulai dari test darah, urine hingga USG. Begitupun juga dengan Indira, namun mereka tercengang ketika melihat hasil test dari Indira.

__ADS_1


"Hamil?!!!" pekik mereka bersamaan.


"Alhamdulillah.....!" ucap mereka serempak.


Indira mulai mengerjapkan matanya, "Ra! Masih pusing?" tanya Kania yang langsung menghampiri Indira.


"Aku gak mau liat si Ical begitu! Mual aku liat dia begitu, hapus make up kamu Cal!!" kesal Indira.


Gubrag!


"Buuk, amit-amit gitu lho! Jangan di pandang terus, saya juga mual toh kalo liat laki-laki begitu," celetuk Waluyo.


Faisal mendelik kesal, "Gustiii.. Anak iyey belom ape-ape udah gemesin deh cyin! Okey deh okey, demi bumils yang lagi hamidun eikeu jadi lakik nih! Lakikkk!" ucapnya dengan suara laki-lakinya.


"Hahhh? Ha-hamil?" mata Indira mulai berkaca-kaca, dia lalu memeluk Kania dengan erat.


"Dijaga baik-baik ya, Ra! InshaAllah semuanya baik-baik aja, nanti kita cek kandungan ke Rumah Sakit ya!" ucap Kania yang juga ikut terharu.


Tak lama kemudian datanglah Baba Jafran dan Ummi Ulil yang diperintahkan oleh sang sahabat untuk menengok putri tersayang nya. Namun saat diberi tahu Indira di bawa ke Klinik mereka jadi kalang kabut.


"Yaa Allah, Adek! Kamu kenapa sih? Ummi snewen, kata Om-Om di pos katanya kamu pingsan ya? Kenapa sayang?!" Ummi Ulil langsung memeluk Indira.


"Dira hamil, Ummi!" ucap Indira dengan suara lirih.


"Oh, hamiill..." ucap Ummi Ulil dan Baba Jafran bersamaan.


Tapi kemudian, "Apaaa?!! Hamillll?!!" pekik mereka bersamaan juga.


"Si Dirga gak pake sarung kalo mendaki gunung lewati lembah?" tanya Baba Jafran dengan polosnya.


"Haaaaaahhhh???" mulut ketiga laki-laki plus satu perempuan polos disana menganga ketika mendengar ucapan Baba Jafran.


Ummi Ulil mencubit lengan suaminya itu, "Ckck! Ini tanda nya adonan dodol yang si Mas Dirga buat teruleni dengan sempurna, hingga tumbuhlah bibit benih kecebong ini!"


"Haaaaaaahhhhhhhh???" mereka menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Astaga, Ummi, Baba!" rengek Indira yang pipinya sudah bersemu merah.


Ummi Ulil tersenyum seraya mengelus kepala Indira, "Alhamdulillah sayang, dijaga baik-baik kandungannya! Bibit unggul itu, sekali longok langsung tokceerrrr!"


Kabar bahagia itu segera disampaikan oleh Baba Jafran dalam grup keluarganya, mereka dengan suka cita mengucapkan selamat pada Indira.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2