Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 23. Kebetulan macam apa ini?!


__ADS_3

Seorang yang bertubuh tinggi, gagah dengan seragam lorengnya menahan tubuh Indira yang hampir saja jatuh. Tatapan mereka berdua bertemu, kedua mata itu menyiratkan kerinduan yang mendalam.


"Dira, kamu gak apa-apa?!"


Suara Kania mebuyarkan keduanya, Indira dengan cepat melepaskan tubuhnya dari Dirga.


"Aku gak apa-apa, ayo kita pergi!" ajak Indira yang tak ingin berlama-lama disana.


"Mas, makasih ya udah nolongin temen saya!" ucap Kania sebelum Indirs menyeretnya.


"Syafa, aku mau bicara!" Dirga menahan tangan Indira.


"Maaf aku harus balik ke kosan, temen-temen aku nunggu!" ketus Indira.


Tak ingin mendengar penolakan, Dirga menggendong tubuh Indira. Hal itu membuat Indira kesal, sebab mereka menjadi pusat perhatian.


"Mas! Turunin aku, turunin!" kesal Indira memukul-mukul tangan Dirga.


"Maaf jika semuanya kurang nyaman, istri saya sedang merajuk!" dengan lancarnya Dirga berkata seperti itu, membuat Kania melongo tak percaya.


"Haaaaa??"


Dirga menggendong Indira menuju mobilnya, dia meminta bawahannya untuk turun.


"Pot, tolong antarkan temannya! Bawakan dan bayarkan belanjaannya, aku ada urusan dulu!" titah Dirga pada Bian.


"Siap kapten!" jawab Bian, dia lalu menuju kasir dan membayarkan semua belanjaan milik Indira dan juga Kania. Semenjak kepulangannya dari Lebanon, Dirga sudah naik pangkat menjadi seorang Kapten.


"Neng, mari ikut saya! Biar saya antar sampe tujuan," dengan sopan Bian mengajak Kania.


"Eh, iya!" gugup Kania.


Sedangkan kini, Indira mencebik kesal. Dia tak tau kemana Dirga akan membawanya. Tapi tidak bisa dipungkiri, dia sangat merindukan Dirga.


"Apa kabarmu, Syafa?" tanya Dirga sambil sekilas menatap Indira.


"Gak usah nanya-nanya, nyetir aja yang bener! Bahaya kalo celaka," ketus Indira.


"Akan aku pastikan kamu aman, Syafa," Dirga mencoba meraih tangan Indira.


"Gak perlu, Mas! Pastikan saja istrimu bahagia," ketus Indira.


Sebuah senyuman tipis tersungging diwajah Dirga, nyaris tak terlihat. Kini mereka berdua sudah sampai di Pantai Pelabuhan Ratu, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.


"Ngapain kita kesini? Aku mau pulang!" ketus Indira, dia sudah tak sanggup lagi berada disamping Dirga. Airmatanya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


"Aku merindukanmu, Syafa," lirih Dirga mendekap tubuh Indira.


"Demi Allah, jangan buatku tersiksa seperti ini, Mas! Kamu sudah menjadi milik orang lain, aku pun akan segera menjadi milik orang lain. Lepas, Mas! Lepas!" airmata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh tak terbendung lagi.


Pelukannya masih enggan dia lepaskan, angin bertiup sangat kencang. Dirga melepas jaketnya, dia menutup tubuh Indira yang kedinginan.


"Syafa, Kakek udah gak ada," lirih Dirga membuat Indira melotot tak percaya.


"Apa??!! Apa maksudnya, Mas?!" sebuah kenyataan pahit kembali harus Indira dengar.


"Enam bulan yang lalu, Kakek menghembuskan nafas terakhirnya. Dipangkuanku, Syafa! Dipangkuanku! Bahkan dia memintaku untuk melamarmu saat itu, dia ingin aku menikahimu," ucapan Dirga kali ini berhasil membuat tubuh Indira melemas.


Dirga menuntun Indira untuk duduk dikursi yang tak jauh dari sana, sama sekali tak ada niatan dihatinya untuk membuat Indira menangis.


"Aku mau pulang, Mas! Gak baik seorang pria beristri bersama wanita lain, mungkin dia sedang menunggumu dirumah,"


"Baiklah, kita pulang sekarang!" Dirga mencoba menuntun Indira, tapi gadis itu menolaknya.

__ADS_1


"Semoga istrimu itu wanita terbaik yang kau pilih," batin Indira.


Tak ada obrolan lagi sepanjang jalan, Dirga takut menyakiti hati Indira terlalu jauh. Dia menatap cincin yang melingkar dijari manis Indira.


"Aku memang pengecut, harusnya cincin dariku yang melingkar indah dijari manismu," batin Dirga.


Sesampainya didepan gang, Indira segera berlari dan tak mengatakan sepatah katapun. Dirga hanya melihatnya dari kejauhan, sambil mengelus dadanya yang tadi dipukul oleh Indira.


"Sakit yang kurasakan tak seberapa, dibanding rasa sakit yang kamu terima,"


* * *


Athaya cukup lelah setelah menyetir seharian, dia mulai mengantuk. Padahal jarak dari rumah Indira kerumahnya masih cukup jauh. Tak disangka, Athaya menabrak seorang perempuan yang memakai Vespa Matic.


Braak!


"Aaaaaaa....!!" teriak Athaya dan gadis itu bersamaan.


Dengan segera Athaya menghampiri gadis yang tak sadakan diri itu. Ada beberapa luka ditubuhnya, Athaya semakin panik tak karuan. Untung saja, jalanan disana tidak terlalu ramai.


"Pak! Tolong bantu saya untuk membawa dia ke mobil, saya mau bawa dia kerumah sakit!" pinta Athaya.


"Baik Mas!" jawabnya.


Gadis itu diletakkan dibangku tengah mobil, seorang bapak-bapak menyetir mobil Athaya. Sedangkan dia memangku gadis itu. Athaya tak sadar jika gadis yang dia tabrak adalah Aini, pikirannya kini kalut tak karuan.


Sesampainya di IGD, Athaya membaringkannya diatas blankar.


"Tolong tunggu diluar, Pak! Dan silahkan lakukan administrasi disana," titah suster.


"Saya gak sengaja nabrak dia, sus! Jadi saya gak tau namanya," Athaya benar-benar kalut dan panik.


"Pak! Saya menemukan ini didalam tas nya, dan motornya sudah saya simpan di parkiran ya! Kami permisi dulu," ucap Bapak-bapak itu.


"Aini Clarissa Putri," gumam Athaya.


Selesai mendaftarkan, kini Athaya duduk didepan ruang tunggu IGD.


"Keluarga Aini," panggil suster.


"Ya saya sus!" Athaya segera bangkit dari duduknya.


"Silahkan masuk kedalam, Pak! Dokter akan menjelaskan,"


Dengan langkah gontai, Athaya masuk kedalam ruangan dokter.


"Pasien mengalami patah kaki ditulang kering, sehingga membutuhkan operasi pada kakinya. Belum lagi sikut kanannya juga retak," tutur dokter menjelaskan.


"Yaa Allah, saya akan menghubungi keluarganya dulu, dok! Lakukan yang terbaik untuk pasien, saya akan bertanggung jawab!" tegas Athaya.


Sungguh Athaya tidak menyangka nasib buruk akan menimpanya, dia menghampiri Aini yang masih belum sadarkan diri. Untung saja gadis itu memakai helm, hingga luka dikepalanya tidak terlalu parah.


"Maaf membuatmu seperti ini, Aini," batin Athaya.


* * *


Pagi ini, Indira bersama teman-temannya akan melakukan sosialisasi terlebih dahulu bersama warga sekitar. Tentu saja ditemani oleh aparatur disana, sebab selain mengajar di SD dia juga akan mengajar anak-anak diluar jam sekolah.


"Dira! Semalem itu siapa? Jangan bilang kalo....." ucapan Kania terpotong.


"Dia hanya memori masalalu," Indira menjawab dengan cepat, Kania hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Suasana di balai RW tampak ramai, ternyata ada beberapa anggota TNI dan Polisi yang tengah memberikan penyuluhan kepada para warga dan anak-anak remaja. Mata Indira tertuju pada seseorang yang tengah berbicara, dia terlihat tegas, dingin dan datar.

__ADS_1


"Ganteng juga ya mantanmu, Ra!" celetuk Kania.


"Buat apa ganteng, tapi dingin! Untung gak jadi, kalo enggak nanti aku kebanyakan meler karena kedinginan!" ketus Indira.


Acarapun tiba pada acara puncak, beberapa anak karang taruna menyanyikan lagu. Indira sudah cukup bersosialisasi dengan warga sekitar, dia memutuskan untuk pergi. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara nyanyian seseorang.


Aku ingin engkau ada di sini..


Menemaniku saat sepi..


Menemaniku saat gundah..


Berat hidup ini tanpa dirimu..


Ku hanya mencintai kamu..


Ku hanya memiliki kamu..


Aku rindu setengah mati kepadamu..


Sungguh ku ingin kau tahu..


Aku rindu setengah mati..


Meski telah lama kita tak bertemu..


Ku selalu memimpikan kamu..


Ku tak bisa hidup tanpamu..


Aku rindu setengah mati kepadamu..


Sungguh kuu ingin kau tahu..


Aku rindu setengah mati..


Aku rindu..


Deg!


Jantung Indira berdegup kencang, dia sudah tak bisa lagi menahan airmatanya.


"Dira! Tunggu!" teriak Kania, dia mencekal pergelangan tangan Indira.


"Kita cari tempat yang nyaman! Tunggu aku mau bawa motor dulu," ucap Kania dan Indira mengangguk patuh.


Indira menangis dipundak Kania, rasa sakit dihatinya semakin mendalam kala kerinduan itu semakin menyeruak kedalam dada.


"Aku masih sangat mencintainya, Kania. Dia laki-laki pertama yang berhasil mengusik hatiku. Aku memang pernah mengatakan, kalo aku gak mau punya suami tentara. Tapi gak termasuk dia, aku gak peduli apapun. Tapi dia meninggalkan aku dan menikahi orang lain, Kania. Dia menghancurkan hatiku! Dan kenapa sekarang aku harus ketemu lagi sama dia?! Kebetulan macam apa ini, Kania!" Indira mengungkapkan semua unek-unek dalam hatinya, dan Kania orang kedua setelah Fika yang mengetahuinya.


Kania dengan sabar mendengarkan ungkapan hati Indira, dia mengusap lembut tangan Indira hingga dia tenang. Tidak mereka sadari, Bian dan Dirga mendengat semua ucapan Indira. Hati Dirga sungguh sakit, sangat sakit.


"Aku harus membantu Kapten, dia sudah banyak membantuku! Giliran aku untuk membantunya," batin Bian menepuk bahu sang Kapten.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2