
Bila hidup memberimu dua pilihan yang sama-sama sulit untuk dipilih, satu-satunya hal yang harus diusahakan adalah membuat pilihan ketiga yang bisa kamu lakukan. Waktu tak terasa terus berlalu, masa cuti kuliah Indira telah usai.
Indira tengah dilema, antara melanjutkan kuliahnya yang tertunda atau tidak. Kedua orangtua nya menyerahkan segala keputusan terhadap anak, sebab Bunda Gisya dan Ayah Fahri sudah melepaskan tanggung jawab itu terhadap Dirga, suaminya.
"Gak apa, sayang. Terusin aja kuliah kamu, kita bisa tinggal di Bandung untuk sementara waktu. Ayah akan pulang seminggu sekali, kan semuanya bisa diatur. Pendidikan itu tetap yang terpenting, sebab Bunda yang akan menjadi madrasah pertama untuk Gemma nantinya," sebagai suami Dirga selalu mendukung yang terbaik untuk kehidupan istrinya.
Indira menimbang-nimbang kembali ucapan sang suami, tetap saja terasa ada yang mengganjal dalam hatinya. Apalagi mengingat jarak Bandung-Sukabumi yang cukup jauh, dia tak tega jika harus membiarkan suaminya bolak-balik setiap minggu.
"Bunda pikirin nanti, deh! Bunda masih mau menghabiskan waktu sama Gemma. Sekarang ini adalah masa-masa terpenting dalam pertumbuhan Gemma, Bunda gak mau melewati semua itu," putus Indira pada akhirnya.
Dirga mengelus kepala sang istri, "Shalat istikharah sayang, jangan lupa libatkan Allah dalam setiap perjalanan hidup kita. Yang pasti, Ayah meridhoi Bunda untuk melanjutkan kuliah."
Indira hanya bisa tersenyum seraya memeluk tubuh sang suami, tak lama terdengar suara rengekan dari Gemma yang terbangun dari tidurnya.
"Hmmm... Gemma tau aja nih kalo Ayah mau manja-manjaan sama Bunda, makanya bangun!" gemas Dirga sambil menggendong putri kecilnya itu.
Gemma tertawa khas bayi, kini bayi itu sudah berusia 6 bulan dan akan segera memulai MpASI nya. Indira sendiri mempersiapkan segalanya dengan matang, bahkan dia membuat sendiri makanan pertama yang akan diberikan pada Gemma.
"Gemma sayang, kalo Bunda kuliah lagi boleh? Bunda izin dulu nih sama Gemma!" ucap Indira pada sang bayi yang berada dalam gendongan Ayahnya.
Gemma hanya tertawa, "Boyeh Bunda!" Dirga berkata seolah Gemma yang berkata demikian.
Indira tertawa dan mencubit lengan sang suami, "Bunda kan nanya Gemma ya!" kekeh Indira.
Dirinya bersyukur bisa memiliki suami seperti Dirga, suami yang teramat penyayang dan pengertian. Rasa cintanya terhadap Dirga bertambah 1000%.
"Jalan-jalan pagi, yuk!" ajak Dirga pada sang istri.
"Hayuk, Ayah."
Keduanya saling menggenggam sambil berjalan mengelilingi sekitaran Rumah Dinas, Gemma begitu antusias dalam gendongan Ayahnya. Semua orang yang berpapasan dengan mereka tersenyum sumringah, sang Komandan memang menjadi panutan bagi mereka semua.
"Lihat deh sayang," tunjuk Dirga kearah salah satu anggotanya yang tengah berjalan-jalan bersama keluarganya. Indira memperhatikan mereka semua.
"Istrinya orang Kalimantan, sayang. Mereka hubungan jarak jauh selama empat tahun, suaminya itu mendukung sekali istrinya untuk menempuh pendidikan. Bahkan sekarang istrinya itu lagi kuliah S2 disini. Jadikan sebagai panutan, bahwa kita juga bisa seperti itu. Apalagi jarak kita hanya Bandung-Sukabumi," ucap Dirga sambil menggenggam erat jemari istrinya.
Indira mengangguk mengerti, dia terharu cara Dirga memberitahu nya dengan baik-baik membuat hati Indira semakin menghangat. Dia akan meminta saran dari kedua orangtua serta mertuanya nanti agar lebih meyakinkan dirinya untuk melanjutkan kuliah lagi.
* * *
__ADS_1
Jika Indira tengah dilema untuk menentukan kuliahnya, Aini kini tengah dilema sebab dirinya sudah telat haid beberapa hari. Sedangkan dia dan Athaya juga orangtuanya akan mempersiapkan diri untuk tinggal di Turki hingga kuliah Athaya selesai.
Athaya sendiri sudah pergi lebih dulu, dan saat ini kembali untuk menjemput istrinya. Selama dua minggu ini, Athaya mempersiapkan segala dokumen istrinya untuk tinggal sementara di Turki.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Athaya menatap Aini penuh dengan cinta.
"Emmm.. Aku gak apa, sayang. Jangan khawatir!" ucap Aini.
Dia akan mengecek sendiri, dia tak mau memberikan harapan kosong pada suaminya itu. Apalagi kondisinya yang belum pulih, dia masih belum bisa berjalan tanpa kursi roda atau tongkatnya.
"Kalo ada apa-apa, bilang sama aku ya sayang. Jangan dipendem sendiri, ungkapkan semuanya sama suami kamu ini," Athaya mengelus lembut rambut sang istri.
Aini mengangguk, "Terimakasih ya, Kak. Sudah mau mengerti dan menyayangi aku sepenuh hati."
"Itu kewajibanku sebagai suami kamu sayang. Aku izin ke rumah Fika sebentar ya, katanya Panji mau titip sesuatu sebelum kita pamit ke Sukabumi," ucap Athaya.
Selagi Athaya pergi, Aini meminta Mbok Darmi untuk membelikan testpack untuknya. "Mbok, tolong belikan testpack ya. Tapi jangan bilang dulu sama siapapun," pinta Aini.
Mata Mbok Darmi berkaca-kaca, "Nggih, Non. Bibi belikan dulu sebentar!"
Selama ini, Mbok Darmi yang selalu membantu dan menemaninya saat Athaya tak ada. Hingga kasih sayang Aini untuk Mbok Darmi begitu besar. Hal apapun, pasti Mbok Darmi lah orang pertama yang mengetahuinya.
"Ini Non, Mbok ndak tau mesti beli yang mana. Jadi Simbok beli semuanya saja," ucap Mbok Darmi.
"Nggak apa-apa, Mbok. Boleh minta tolong bantu ke kamar mandi?" tanya Aini dengan penuh kesopanan.
Mbok Darmi mengangguk dan mendorong kursi roda Aini kedalam kamar mandi. Didalam sana jantung Aini berdebar kencang. Dia menampung air seni nya didalam wadah, lalu mencelupkan kelima testpack tersebut.
"Bismillah, Yaa Allah... Semoga.. Semogaaa..." gumam Aini.
Diluar sana, Mbok Darmi khawatir karena Aini tak kunjung keluar. "Non, non baik-baik aja kam didalam?" teriak Mbok Darmi.
Aini tak bisa menjawab, dia menangis terisak sambil memegang kelima testpack yang terlihat bergaris dua dengan jelas.
"Allahuakbar," gumam Aini sambil menyeka airmatanya.
Ceklek
Aira membuka pintu dan merentangkan tangannya pada Mbok Darmi. "Peluk aku, Mbok. Aku bahagia sekali!"
__ADS_1
Mbok Darmi memeluk Aini sambil melihat testpack ditangan majikannya itu. Mata Mbok Darmi tak kuasa menahan rasa harunya.
"Masya Allah, Non. Selamat ya!" lirih Mbok Darmi penuh dengan rasa bahagia.
Pukul 5 sore, Athaya baru kembali dari kediaman Panji dan juga Fika. Dia mencari sang istri ke seluruh ruangan, namun tak menemukannya. Athaya panik.
"Sayang, kamu dimana?" teriak Athaya.
Dia menemukan sepucuk surat, 'Temui aku di Taman Bunga, aku menunggu Kakak disana.'
Athaya bergegas menuju Taman Bunga yang berada dibelakang rumahnya. Dia merasa heran, sebab istrinya tengah menunggunya sambil menggenggam sebuah kotak.
"Kamu bikin aku khawatir, sayang," lirih Athaya memeluk Aini dengan erat.
"Aku gak apa-apa, Kak. Ini aku punya sesuatu buat Kakak," ucap Aini sambil memberikan kotak tersebut.
"Apa ini?" tanya Athaya.
Dia membuka kotak itu, sontak dia menutup mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca.
'Hai Papa!'
Itulah kata-kata yang Aini tuliskan beserta tespack dan juga bukti USG, tadi dia meminta Mbok Darmi untuk mengantarnya ke dokter kandungan untuk memastikan. Dan ternyata memang benar, Aini tengah mengandung berusia 2 minggu.
"Sayang.. Aku jadi Papa?" tanya Athaya dengan mata berkaca-kaca.
Aini mengangguk, keduanya berpelukan dengan sangat erat. "Alhamdulillah Yaa Allah, Masya Allah, Allahuakbar!" bahagia Athaya mengecup perut istrinya itu.
Tapi ada hal yang membuat Athaya dan Aini kembali dilema, antara melanjutkan keberangkatannya ke Turki atau tidak. Mengingat Aini yang baru saja mengandung.
* * * * *
Rindu sayang kalian, Reader 🥰😘
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤