Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 35. Nikah Dadakan


__ADS_3

Seorang laki-laki sudah gagah dengan jas yang membalut tubuhnya, pagi ini dia akan menikahi seorang gadis yang sangat dicintainya. Sudah lama dia menantikan hari ini tiba, "Akhirnya penantianku selama ini terjawab sudah, semoga aku bisa membuatmu bahagia."


Sedangkan Indira, gadis itu masih tetap menangis dan hal itu membuat Alana yang meriasnya menjadi kebingungan sendiri. Elmira yang diberitahu Theresia menyempatkan untuk pulang. Dia ingin melihat kondisi sang adik, meskipun harus meninggalkan putra kesayangannya. Indira menatap sendu wajah sang Kakak, "Aku gak cinta sama Athaya, Kak. Aku gak mau menikah tanpa dilandasi rasa cinta, sekuat hati aku mencoba tapi aku tetep gak bisa. Bolehkah kali ini aku jadi anak yang durhaka, Kak," lirih Elmira.


Elmira membawa adik kesayangannya itu dalam pelukannya, "Istighfar, sayang. Kakak tau kamu pasti kecewa, tapi Ayah sama Bunda mungkin punya alasan tersendiri saat menerima pinangan orangtua Athaya. Yang ikhlas, mungkin ini memang takdir Allah yang sudah ditetepkan buat kamu. Inget, Dira! Apa yang terbaik menurut kamu, belum tentu terbaik menurut Allah. Tapi yang Allah berikan, itu sudah pasti yang terbaik buat kamu," ucap Elmira menasehati sang adik.


Mereka semua menangis ketika melihat Indira seperti itu, sebab mereka tau bagaimana perasaan Indira terhadap Dirga. "Jangan nangis lagi ya, Ra. Kakak harus cepet rias kamu, sebentar lagi calon suami kamu sama keluarganya bakalan datang," ucap Alana dan Indira mengangguk patuh. Airmata masih saja lolos membasahi pipi Indira, meskipun sekuat hati dia menahannya.


Kania dan Theresia akan mendampingi Indira, sedangkan Alana dan Elmira kembali keluar untuk membantu Bunda Gisya yang kerepotan. Sebab pernikahan ini memang serba mendadak, mata Kania terbelalak ketika melihat Bian dari luar jendela. Dia bingung, harus mengatakan hal itu pada Indira atau tidak. Tapi melihat Indira yang mulai tenang, Kania mengurungkan niatnya untuk memberitahu Indira.


Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an sudah terdengar, Indira tau jika itu adalah suara Athaya yang membacakan surat Ar-Rahman. "Nia, aku pinjem headset kamu. Tolong putarkan shalawat sekenceng mungkin!" pinta Indira dan Kania menganggukkan kepalanya. Mereka menunggu Indira dengan hati yang tidak tenang, sebab Indira masih saja terus menangis.


Sedangkan dibawah, Bunda Gisya dan Ayah Fahri sudah bersiap memulai akad nikah. Mereka tersenyum bahagia, pada akhirnya anak gadis bungsu mereka akan menikah. Yang artinya sebentar lagi tanggung jawab mereka sebagai orangtua selesai, "Bunda masih gak nyangka, putri kecil kesayangan kita akan menikah. Rasanya masih terasa seperti mimpi, anak kita harus menikah mendadak seperti ini," lirih Bunda Gisya.


Ayah Fahri menggenggam erat tangan istrinya itu, "Semuanya sudah kehendak Allah sayang, lagi pula kita bisa melakukan pesta pernikahan mereka setelah ini. Yang penting kita melakukan semua ini demi kebahagiaan anak kita dan kebaikan semua orang!" ucap Ayah Fahri dan Bunda Gisya mengangguk.


Kini Ayah Fahri sudah berhadapan dan berjabat tangan dengan laki-laki yang sebentar lagi akan menikahi putrinya. Dia mencoba menahan airmata yang sudah menggenangi, "Bismillahirahmanirahim, Dirga Agung Prayoga saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, yang bernama Indira Myesha Kirania Syafa binti Fahri Putra Pratama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas putih sebesar 50 gram bertahtakan berlian 5 carat dibayar TUNAI!" ucap Ayah Fahri dengan nada yang bergetar.


Dirga melafadzkan ijab kabulnya dengan lantang, "Saya terima nikah dan kawinnya Indira Myesha Kirania Syafa binti Fahri Putra Pratama dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI!"


SAH!

__ADS_1


SAH!


SAH!


Ya! Kini Indira sudah sah menjadi istri Dirga, bukan Athaya yang menikahinya tetapi Dirga. Namun Indira tidak mengetahuinya, bahkan Alana dan Elmira terperangah ketika mendengar nama Dirga yang melakukan ijab kabul. Sedangkan ketiga gadis yang berada dikamar itu tidak begitu mendengarkan ija kabul, yang mereka dengar hanya riuh suara orang-orang yang mengucapkan 'SAH'. Kania menghentikan shalawat yang diputar, dia melepaskan earpod yang terpasang di telinga Indira. "Kita harus bersiap keluar, akad nikahnya telah selesai," ucap Kania.


Indira mengangguk, dia mencoba menarik nafasnya untuk menenangkan diri. Alana dan Elmira datang dengan senyum mengembang diwajah mereka, "Ayo Dek, suami kamu sudah menunggu. Kebahagiaan sudah menantimu," ucap Elmira dan Indira hanya mengangguk memaksakan senyumnya.


Gadis itu hanya menunduk, dari atas dia melihat Athaya yang kini berdiri didepan sang Ayah. Tanpa Indira sadari, jika Dirga yang gugup masih duduk dikursi akadnya. Tubuhnya terhalangi oleh Athaya yang memang berdiri disampingnya. Indira hanya menundukka kepalanya, sedangkan Kania dan Theresia saling menatap lalu saling melempar senyuman. Kini Indira sudah berdiri dihadapan Athaya, dia memberikan tangannya untuk mencium tangan Athaya yang dia pikir sudah resmi menjadi suaminya.


Bunda Gisya sedikit tercengang, "Sayang, kamu salah orang!" ucapnya. Indira lalu mendongakkan kepalanya, Athaya tersenyum "Bukan aku yang menikahi kamu, Dira!" ucap Athaya lalu menggeser tubuhnya.


Senyuman mengembang diwajah Dirga, Indira hanya bisa terdiam mematung lalu menatap Bunda dan Ayahnya. "Dia suami kamu, Nak. Dirga sudah sah menjadi suami kamu. Ayo! cium tangan suami kamu," titah Bunda Gisya dan Indira mengangguk. Airmata sudah tak bisa lagi tertahan, namun kali ini adalah airmata bahagia. Bagi Indira, semuanya masih terasa seperti mimpi.


Acara itu sangat sederhana, hanya beberapa kerabat dan atasan Dirga yang datang. Kenapa mereka bisa menikah dulu tanpa pengajuan? Jawabannya adalah karena Ayah Fahri mengenal atasan Dirga dan setelah akad nikah barulah mereka akan melakukan pengajuan. Bolehkah sekali ini Ayah Fahri sedikit menggunakan kekuasaan dan jabatannya.


Dirga mengusap airmata yang terus mengalir dipipi istrinya itu, "Apa kamu gak bahagia, Syafa?". Indira langsung menggelengkan kepalanya, "Aku sangat bahagia, Mas. Aku gak tau kalo kamu yang ngelamar aku, Bunda cuman bilang kalo keluarga Athaya datang untuk melamar dan mereka sudah menerima pinangannya," ucap Indira menatap kesal kearah sang Bunda.


Sedangkan yang ditatap hanya cengengesan, "Bunda lupa sayang, saking bahagianya Bunda lupa bilang kalo orangtua Athaya melamar kamu untuk Dirga. Soalnya orangtua Dirga sedang ada diluar Kota. Tapi kamu tenang aja, mereka semua menyaksikan akad nikah kamu." ucap Bunda Gisya sambil menunjuk laptop yang sejak tadi tersambung panggilan video disana.


Sungguh Indira tidak menyangka, "Pokoknya kalian harus jelasin semuanya ke Dira, kasian tau Bun sepanjang make up dia nangis mulu. Alana aja sampe kesel banget banget banget!" ucap Alana membuat Indira menunduk malu. "Segitunya ya, kamu gak mau nikah sama aku," celetuk Athaya membuat Indira jadi gelagapan sendiri.

__ADS_1


"Ck! Jangan bikin istriku bersedih! Atau kamu aku pecat jadi adik ipar!" ucap Dirga membuat Indira membelalakan matanya seketika. "Maksudnya gimana, Mas? Kamu harus jelasin semuanya ke aku!" kesal Indira menatap Dirga dan Athaya bergantian.


Ayah Fahri tersenyum menatap kebingungan sang putri, "Kalian bicarakan nanti! Apa princess gak mau peluk Ayah?" tanya Ayah Fahri membuat Indira seketika beranjak dan memeluk Ayahnya dengan erat. Bagi anak perempuan, Ayah adalah cinta pertama mereka. Suasana menjadi haru biru, terlebih ketika Ayah Fahri meminta maaf pada putrinya itu. "Maafkan Ayah, selama ini Ayah selalu memaksakan kehendak. Maafkan Ayah, Nak. Kini tugas Ayah selesai, kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu. Jadilah istri yang soleha, istri yang menuruti perkataan suami. Jadi istri seorang abdi negara itu gak mudah, sayang. Maka dari itu belajarlah dari Bunda dan Kakakmu, jadilah istri yang setia menunggu kepulangan suamimu dalam bertugas. Dan selalu setia mendampinginya kemanapun," ucap Ayah Fahri dengan suara yang bergetar.


Indira menangkup kedua pipi Ayahnya itu "Semua yang Ayah lakukan adalah yang terbaik. Terimakasih sudah menikahkan adek dengan laki-laki yang sangat adek cintai. Adek akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Yoga, adek juga akan belajar sama Bunda dan Kakak tentang bagaimana menjadi istri seorang abdi negara. Adek sayang Ayah," ucap Indira lalu memeluk erat sang Ayah.


Bunda Gisya mengusap airmatanya, "Bunda, keinginan terakhir Bunda sudah Caca laksanakan. Dira sudah bahagia bersama pilihan hatinya, Caca kangen Bunda," batin Bunda Gisya.


Kini giliran Dirga yang duduk bersimpuh dihadapan Ayah Fahri, "Dirga, semua tanggung jawab Ayah sudah beralih pada pundakmu. Bimbing istrimu, bahagiakanlah dia sebab istri adalah jantung sebuah rumah tangga. Sejak kecil Ayah merawatnya dengan baik, menjaga dan membimbingnya dengan baik. Maka dari itu Ayah mohon, jangan pernah lukai hatinya. Kalo suatu saat kamu sudah tidak mencintainya lagi, kembalikan pada Ayah dengan baik-baik. Ayah akan mengambil tanggung jawab itu kembali," ucap Ayah Fahri dengan deraian airmata.


Dirga memeluk sang mertua, "Dirga akan berusaha menjadi suami yang baik, Ayah. Dirga akan membahagiakan Syafa, itu bukan hanya janji semata. Tolong bimbing Dirga, jika dirasa Dirga melakukan kesalahan dan menyakiti putri Ayah. Tapi sekuat hati, jiwa dan raga, Dirga akan terus berusaha untuk membahagiakan dan menjamin keamanan hidupnya," ucap Dirga.


Selepas suasana haru itu, kini Indira tengah duduk bersama Dirga dan juga Athaya untuk mendapatkan penjelasan. "Coba sekarang jelaskan! Siapa yang mau menjelaskan terlebih dahulu!" ketus Indira sambil menatap tajam kedua laki-laki itu. Sedangkan Dirga dan Athaya hanya bisa menggaruk kepala mereka yang tak gatal.


* * * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2