
Takdir memang seperti ini, sangat menarik. Semula kau ingin berkelana ke utara, tapi dia malah membuatmu terbang ke selatan, bahkan berpindah dengan sukarela. Kekecewaan tidak dimaksudkan untuk menghancurkanmu. Itu dimaksudkan untuk memperkuat dan memberikan kamu ketabahan untuk mencapai takdirmu. Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kamu sebut dalam doamu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam doanya.
* * *
Athaya masih terdiam menatap wajah sendu Aini, entah kenapa hatinya memilih untuk mengambil tanggung jawab sepenuhnya terhadap gadis itu. Entah sebuah pelarian ataukah memang cinta tulus yang Athaya rasakan. Tapi setiap kali melihat Aini, dia bisa merasakan hatinya terasa menghangat. "Bukankah terbiasa bersama akan menimbulkan sebuah rasa," pikir Athaya.
Hanya ada mereka berdua di ruangan itu, Athaya yang lelah terlelap begitu saja sambil menggenggam erat tangan Aini. Perlahan Aini mengerjapkan matanya, "Yaa Allah, aku gak mau membuat hidup orang lain hancur. Aku memang menginginkan Kak Syafa menikah dengan Kak Dirga, tapi bukan dengan jalan seperti ini," batin Aini.
Sore hari, Dirga baru sampai di Rumah Sakit. Dia sengaja mampir ke toko kue Bunda Gisya, membeli kue untuk sang adik.
Ceklek
Dirga sejenak tertegun memandang kedua anak manusia yang tengah terlelap tidur dengan tangan yang saling menggenggam. Dia menghampiri keduanya, "Bangun Athaya, pindah di sofa! Badan kamu bisa sakit semua nanti," titah Dirga menepuk bahu Athaya.
Athaya mengerjapkan matanya, "Lho, Kak Dirga udah sampe? Maaf aku ketiduran, jam berapa ya sekarang?"
"Jam 4 sore, makan dulu, terus pulang dan istirahat. Biar malam ini aku yang jaga Aini," ucap Dirga dan Athaya menggelengkan kepalanya.
"Ada yang harus aku bahas sama kamu, Kak. Aku......." ucapan Athaya menguap begitu saja sebab Dirga menyela ucapannya.
"Pulanglah dan istirahatlah, besok kita bahas semuanya. Kamu juga harus dalam kondisi baik kalo memanh kamu mau bertanggung jawab terhadap adikku," keputusan mutlak Dirga tak bisa diganggu gugat.
Pada akhirnya Athaya mengalah, dia menyantap makanan yang dibawa oleh Dirga dengan lahap. Sudut bibir Dirga sedikit terangkat melihat tingkah Athaya, Bian menatap heran pada komandannya itu. "Rival sendiri itu, pake dibaikin segala," batin Bian.
Selesai makan, Athaya berpamitan untuk pulang. Meskipun hatinya masih tak rela untuk meninggalkan Aini. Tapi dia mengerti kekhawatiran yang dirasakan oleh Dirga. "Aku pamit ya, Kak. Kalo ada apa-apa tolong kabarin aku, besok pagi aku balik lagi kesini," ucap Athaya dan Dirga mengangguk.
Aini membuka matanya, sejak tadi dia mengetahui kedahdiran sang Kakak. Hanya saja dia berpura-pura tidur, "Kak....." lirih Aini. Dirga segera berhambur memeluk tubuh Aini dengan erat. "Jangan menangis lagi, Kakak udah disini buat jaga kamu."
Gadis itu terus menangis, "Aku mau pergi darisini, Kak. Aini gak mau jadi beban hidup orang lain. Aini ini gadis cacat, dan aku gak mau hidup dengan belas kasihan orang lain. Aku gak mau lagi disini, aku mau pergi aja, aku........"
"Cukup! Kakak tau, kakak ngerti gimana perasaan Aini sekarang. Kita pasti bakalan pergi darisini, tapi setelah kamu cukup pulih. Kakak bakalan menjaga dan merawat Aini, sekarang tenang ya. Kakak gak mau liat kamu kaya gini lagi," tegas Dirga.
Kedua Kakak beradik itu saling berpelukan, Dirga tak habis pikir pada kedua orangtua dan Kakaknya. Bisa-bisanya mereka pergi keluar kota, sementara anak mereka sedang terbaring lemah di Rumah Sakit. Dirga cukup geram, tanpa dia tau jika kedua orangtua Dirga sedang melakukan therapy pengobatan juga. Papa Dirga mengalami stroke, tekanan darahnya terlalu tinggi karena memikirkan nasib Aini. Tapi dia enggan memberitahukan semuanya pada Dirga, dia sudah mempercayakan Aini pada Athaya.
Tring
💌 Beloved Syafa
Mas sudah sampai? Kok gak ada kabarin aku? Semuanya baik-baik aja kan? Kabarin aku kalo Mas sudah sempat, ya. ❤
Dirga tersenyum, dia bahagia ketika Indira dengan terang-terangan mengkhawatirkannya. Tapi dia juga tiba-tiba mengiba, melihat cinta Athaya yang begitu tulus pada Indira. "Apakah aku terlalu jahat pada Athaya? Apa aku terlalu egois?" gumam Dirga.
Sedangkan di Sukabumi, kini Indira tengah bersiap untuk pergi makan malam bersama teman-temannya. Karena Faisal berulang tahun, dia akan mentraktir semua teman-temannya itu di Kedai Kopi Kang Sobri. Sambil menyelam minum air, begitulah Faisal. Karena jika ada Indira, maka dia akan mendapatkan discount.
__ADS_1
Melihat Indira gusar, Faisal jadi kesal sendiri. "Heii eceuu, kenapa iyey bolak-balik jiga setrikaan?! Kepala eikeu lieuuurrr! Cuusss kita capcus, keburu penuh tempatnya yey," ajak Faisal.
Indira mendengus kesal, "Mas Yoga gak bales chat aku! Kesel banget deh kalo kaya gini! Nia, coba kamu chat pacar kamu si Mas Bian. Siapa tau dia ngejawab," kesal Indira. Sedangkan Kania membulatkan matanya tak percaya, "Gimenong, gimenong? Cincay yey jadian sama si Mas ganteng otak geser itu??!! Alamaakkk... Don, donii kodon doniiii...."
Kania membekap mulut Faisal, "Lu tereak kaya begitu lagi, gue lempar lu ke samudra antartika, Cal! Lagian lu jadi lakik kok ember banget sih," kesal Kania lalu menatap tajam kearah Indira. "Dan elu, Ra! Awas aja lu ngomong aneh-aneh lagi, gue sumpahin besok kawin lu sama si Athaya."
Indira hanya tertegun sejenak, "Enak aja! Sumpahin orangnya begitu banget," kesal Indira.
"Dah ah, capcus yuk! Kepala eikeu udah gak kuat, pusing tujuh keliling ngedenger omongan emak-emak macam yey bedua," ucap Faisal.
Pada akhirnya mereka memutuskan untuk pergi, meskipun dalam hati terasa canggung. Indira yang sedang mengkhawatirkan Dirga, Faisal yang tak enak pada Kania dan Doni. Juga Kania yang canggung, sebab tatapan Doni terlihat penuh kecewa. Benar saja, begitu mereka sampai Kang Sobri langsung menyambut mereka. Tentu saja karena menginginkan Indira menyanyi disana, sebab kedainya selalu ramai jika Indira menyanyi disana. Karena merasa tak enak, Indira mau tak mau menyanyi disana.
"Selamat sore menjelang malam semuanya, seseorang pernah mengatakan bagi dunia kamu mungkin satu orang. Tetapi bagi satu orang kamu adalah dunianya. Cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun tidak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Saya Syafa, akan membawakan lagu 'Cinta Dalam Hidupku' lagu untuk seseorang yang hingga kini selalu mengisi hati saya."
Dalam mimpiku, aku bermimpi..
Tentang kekasih, itu dirimu..
Tambatan hati, yang telah pergi..
Hanya dirimu, tak ada lagi..
Hanya wajahmu, yang terukir di dalam hatiku..
Abadi dan takkan pernah terganti..
Hanya kaulah cinta dalam hidupku..
Meskipun langit, telah memisahkan cinta kita..
Cintamu akan selalu bersemi..
Di hidupku..
Malam-malamku, tanpa dirimu..
Terbuai sepi, dihias rindu..
Resah di dada, ingin berjumpa..
Ku tak berdaya, terbang ke sana..
Hanya wajahmu, yang terukir di dalam hatiku..
__ADS_1
Abadi dan takkan pernah terganti..
Hanya kaulah cinta dalam hidupku..
Meskipun langit, telah memisahkan cinta kita..
Cintamu akan selalu bersemi..
Di hidupku..
Tanpa Indira dan Kania tau, Faisal sengaja melakukan panggilan video pada Bian untuk melaporkan kegiatan Indira saat itu. Kini Faisal resmi menjadi informan bagi Dirga dan juga Bian. Jujur saja, melihat cinta Dirga yang begitu besar untuk Indira membuat Faisal akhirnya lebih memilih untuk berpihak pada mereka. Sebab Faisal tau, jika Athaya memang memiliki sikap yang pemaksa.
Dirga tersenyum melihat Indira yang nampak begitu cantik malam itu, "Bersabar sedikit lagi Syafa, aku pasti akan bisa memilikimu seutuhnya. Mari kita selesaikan semua urusan ini, dan mari kita hidup bersama hingga akhir nanti," batin Dirga.
Sedangkan malam itu, Athaya benar-benar dilanda kegelisahan. Setiap kali memejamkan mata, wajah Aini dan wajah Indira datang silih beeganti. Athaya mengusap wajahnya kasar, "Yaa Allah, tenangkanlah hatiku. Berilah aku jalan terbaik untuk semua ini," lirih Athaya.
Pada akhirnya dia memutuskan untuk melakukan shalat istikharah, selesai shalat Athaya dikagetkan oleh sosok Abinya yang sejak tadi berdzikir dibelakangnya. "Astaghfirulloh Abi, bikin kaget aja!" kesal Athaya memegangi dadanya.
"Kenapa? Abi sejak tadi berdzikir dibelakangmu. Apa yang kamu pikirkan, Nak? Sampe Abi ada dibelakang kamu saja, tidak kamu sadari," tanya Abi Athaya namun putranya itu masih enggan menjawabnya.
Abi Athaya menghela nafasnya, "Ayahnya Fika itu seorang Polisi, dulu Abi sangat mencintai Ibunya Fika. Bahkan kami sudah bertunangan, sama seperti kamu dan Indira. Tapi pada akhirnya, Abi mengikhlaskan Ibunya Fika untuk menikah. Dan Allah gantikan semuanya dengan cinta Ummi kamu, Nak. Abi perjuangkan Ummi kamu dengan susah payah," ungkap Abi Athaya dan hal itu membuat Athaya terkejut.
"Ummi kamu menganggap Abi mengejarnya hanya sebagai pelarian, tapi semua itu tidak benar. Setelah mengikhlaskan Ibunya Fika, Abi selalu mengungkapkan semua kekecewaan itu pada Ummi mu. Tanpa Abi sadari, sejak saat itu Abi mulai mencintai Ummi mu. Maka dari itu, Abi akhirnya memutuskan untuk memperjuangkan cinta Ummi," jelas Abi Athaya.
Athaya menunduk, "Lalu kenapa Abi menikahi Ibunya Fika?! Kenapa Abi melukai perasaan Ummi? Bukankah mereka itu bersahabat baik? Kenapa Abi mengecewakan Ummi, dan membuat semua perjuangan Abi menjadi sia-sia!"
"Abi menikahi Ibunya Fika karena sebuah wasiat, Ayahnya Fika meminta Abi untuk melindungi Ibunya Fika. Sebab saat itu mereka sedang dalam posisi terancam. Banyak pihak yang menginginkan kematian mereka. Abi juga tidak bisa menutup mata, Athaya. Ketika melihat nyawa oranglain dalam bahaya, dan selama ini Abi dan Ibunya Fika hanya menikah siri. Dan Abi sudah menjatuhkan talak semenjak kamu memutuskan untuk pergi. Ummi mu juga sudah mengetahui itu, selama ini Abi dan Ummi menyembunyikan semuanya demi kebaikan Ibunya Fika. Sebab mereka akan tetap aman jika masih dalam status keluarga kita," jelas Abi Athaya.
Seketika Athaya dihujami rasa bersalah, "Kenapa Abi gak bilang semuanya sama aku? Aku berdosa sama Fika dan Ibunya! Aku selalu menganggap dia penghancur dalam keluarga ini, bahkan aku melukai hati Ummi!" lirih Athaya.
"Maafkan Abi, Athaya. Abi melakukan semua hal bukan tanpa alasan, begitupun dengan Kakakmu. Semuanya itu memiliki alasan, melihatmu seperti ini Abi seperti melihat diri Abi dulu. Sholat istikharah lah, lakukan setiap hari hingga kamu akan mendapatkan jawaban dari setiap do'amu," ucap Abi menasehati.
Athaya menganggukkan kepalanya, "Abi... Jika aku menikahi putri keluarga Dirgantara, bagaimana menurut Abi?" lirih Athaya membuat sang Ayah tersenyum. "Jika niat baikmu itu berasal dari hatimu, maka lakukanlah. Tapi jika hanya sebatas rasa bertanggung jawab dan rasa bersalah, jangan pernah lakukan itu, Nak. Sebab rumah tangga itu adalah ibadah terpanjang dalam hidupmu. Menikah itu menyatukan dua hati, dua kepala dan dua keluarga yang berbeda. Niatkanlah dalam dirimu, untuk menikahinya karena Allah. Abi akan mendukung semua niat baik kamu."
Ayah dan anak itu saling berpelukan, menumpahkan setiap rasa rindu dan rasa cinta yang selama ini dibentengi oleh sebuah kebencian.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤