
Sejak pertemuan dengan Aini malam itu, dia menghilang begitu saja. Bukan tanpa sebab, Kakek Aini sekaligus Kakek Dirga telah menghembuskan nafas terakhirnya. Hal itu menjadi duka mendalam bagi Aini dan Dirga, sebab mereka memang telah lama tinggal bersama Kakek dan Neneknya. Aini terus mengingat terus, keinginan terakhir beliau adalah menikahkan Dirga dengan Syafa.
"Kakek, Aini janji! Aini akan persatukan Kak Dirga sama Kak Syafa," batin Aini mengelus nisan bertuliskan nama sang Kakek.
Semenjak bertemu saat mengantarkan Dirga dulu, Indira sempat beberapa kali bertemu dan berbincang-bincang. Kakek Dirga saat menyukai Indira, gadis itu sangat tulus, begitulah yang terpikirkan oleh sang Kakek.
Flashback On
Suasana pagi hari sangat cerah, Indira sangat bersemangat untuk bertemu dengan Kakek dan Nenek Dirga. Pagi ini, dia akan mengajak kedua lansia itu untuk berjalan-jalan disekitar Taman Lansia. Dia sengaja pergi memakai taksi, sebab nanti mereka akan diantar oleh sopir sang Kakek.
Ting tong
Indira menekan bel rumah Nenek Dirga, tak lama kemudian pintu terbuka.
"Assalamu'alaikum, Bu! Saya Syafa, mau bertemu dengan Kakek Kak Dirga," sopan Indira.
"Walaikumsalam, nggih monggo kalebet Neng! Sudah ditunggu sama beliau," ucap Bi Ina.
"MashaAllah, ada bidadari yang baru saja datang kerumahku!" bahagia Kakek Dirga.
"Kakek bisa aja! Tapi gak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Nenek dong tentunya," Indira tersenyum seraya membantu Kakek yang tengah berjalan menuju ruang keluarga.
Disana, Indira bisa melihat banyak sekali foto yang terpajang di dinding.
"Itu foto Dirga ketika berusia 2 hari, sejak lahir Dirga sudah tinggal bersama kami," lirih Nenek yang melihat Indira tengah menatap foto bayi kecil.
"Kak Dirga udah ganteng dari lahir ya, Nek!" Indira tersenyum mencoba mencairkan suasana yang mulai sendu.
"Iya dong! Sama kaya Kakeknya, hanya saja nasibnya kurang baik! Dia menjadi anak yang dingin dan jarang sekali tertawa, semuanya gara-gara orangtua Agung yang terlalu memegang teguh takhayul," Kakek mengusap foto Dirga ketika bayi.
"Jangan sedih Kek, Nek! InshaAllah, Kak Dirga akan bahagia selalu sekarang. Indira yakin, dia akan menemukan kebahagiaanya sendiri," ucap Indira mengusap kedua punggung lansia itu.
"Dan kamu adalah sumber kebahagiaan Dirga," wajah Indira bersemu merah mendengar ucapan Nenek.
Karena jam sudah menunjukan pukul delapan pagi, mereka segera berangkat menuju Taman Lansia. Disana sangat sejuk dan rindang, cocok bagi para lansia untuk berjalan-jalan menikmati hari yang cerah itu. Indira mendorong kursi roda Kakek, dan kursi roda Nenek didorong oleh Bi Ina.
Kakek memegang tangan Indira yang berada dibahunya, sambil mendongak dia berkata.
"Syafa, Kakek berharap kamu bisa menjadi cucu menantuku. Kakek bisa melihat kebahagiaan di wajah anak itu. Sudah terlalu banyak dia mendapatkan luka dari kedua orangtuanya. Kakek ingin melihat kalian menikah," lirih Kakek Dirga.
Indira sedikit kaget dengan ucapan Kakek, kemudian dia mensejajarkan tubuhnya.
"Kek, Syafa dan Kak Dirga sedang mengikuti skenario yang Allah berikan. InshaAllah, jika kami berjodoh pasti kami akan dipersatukan dalam ikatan suci. Kakek harus sehat, Kakek harus mendo'akan kami agar kami berjodoh," Indira mengusap airmata sang Kakek.
Mereka bertiga menikmati pagi itu dengan penuh keceriaan, sungguh mereka berharap jika Syafa akan berjodoh dengan Dirga. Itulah harapan kedua lansia itu.
Flashback Off
* * *
Enam bulan berlalu..
__ADS_1
Athaya dan Indira sama-sama akan melaksanakan KKN, mereka akan mengajar di sekolah-sekolah di beberapa daerah. Ada yang didalam kota, ada juga yang diluar kota. Indira memilih sukabumi sebagai tempat KKN nya, dia akan mengajar di SDN 1 Bantargadung yang tak jauh dari Pantai Pelabuhan Ratu. Sedangkan Athaya akan melaksanakan KKN disalah satu SMA Swasta di Kota Bandung.
Karena lokasi KKN yang cukup jauh, Indira diantarkan oleh kedua orangtuanya beserta Athaya untuk menuju kesana.
"Sayang, kalo udah disana jangan lupa telpon Bunda! Terus jaga diri, jaga kesehatan, jangan makan sembarangan, jangan bergadang," Bunda Gisya terus menasehati Indira.
"Iya Bundaku sayang, ini udah ke 10x nya loh Bunda ngomong gitu sama Adek! Bunda jangan khawatir, Adek pasti akan melakukan semua yang diucapkan Bunda," melihat sang Bunda menangis, Indira segera memeluknya dengan erat.
"Bunda gak pernah jauh dari kamu, pokoknya Adek harus selalu kabarin Bunda,"
Seluruh keluarga mencebik kesal melihat Bunda Gisya, terlebih Elmira dan Afifah.
"Bunda! Dira itu mau KKN, cuman 3 bulan! Bukan mau minggat, yaa ampun nangisnya sampe kayak mo ditinggal kawin aja," celetuk Afifah.
"Iya tau! Tetep aja Bunda sedih, gak akan ada yang nemenin Bunda lagi dirumah! Kalian kan sibuk sama urusan kalian masing-masing," ketus Bunda Gisya.
Jleb
Elmira dan Afifah menunduk, memang mereka kini jarang mengunjungi sang Bunda. Selain disibukkan oleh anak, mereka juga kini disibukkan dengan klinik yang baru saja mereka buka. Sebelum pergi, Indira tak lupa berpamitan pada keponakan-keponakannya.
"Kakak Sweta, kan sekarang Kakak sudah besar! Jadi Kakak harus jagain Adek Ibam sama Adek Wulan, jangan rebutan maninan ya! Nanti onty pulang, kita jalan-jalan ke Lembang Park&Zoo ya!" Indira mengacak jilbab Sweta.
"Otey onty, janan amun aja ya! Yan benel kelja na, teyus tepet puyang," Sweta mengusap pipi Indira dengan penuh kelembutan, hingga Indira meneteskan airmatanya.
Mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah Indira, Athaya menyetir mobil dan Ayah Fahri disampingnya. Sedangkan Indira duduk bersama sang Bunda dibelakang. Sedangkan dibelakang dan didepan mereka, ajudan dari Ayah Fahri yang mengawal.
"Udah gak ada yang ketinggalan kan, Dek?" tanya Bunda Gisya memastikan.
"Kalo Fika KKN dimana Dek? Kenapa gak barengan?"
Deg!
Athaya sedikit gugup, sebab dia sangat melarang Fika untuk dekat-dekat dengan sang calon istri. Dia melirik Indira sekilas dari spion.
"Fika sama kok Bun di Sukabumi, cuman kita beda daerah aja! Lagian kita juga beda jurusan, Bun!" Indira memahami arti lirikan mata Athaya dari spion tengah.
"Yasudah, Kania juga anaknya baik. Berapa orang di kelompok kamu Dek?" Ayah Fahri bertanya pada sang anak.
"Delapan orang, Ayah. Enam perempuan dan dua laki-laki, Ayah kenal kok sama mereka semua," jawab Indira.
"Iya, Ayah tau!"
Tak ada pembicaraan lagi, Athaya cukup berbincang sedikit dengan Ayah Fahri. Indira menyandarkan kepalanya di jendela mobil, hidupnya kini terasa sangat kosong.
"Dunia yang aku tinggali ini kosong dan dingin, kesepian memotongku dan menyiksa jiwaku. Tidak ada hal yang dapat membuat sebuah ruangan terasa lebih kosong, daripada ketiadaan sosok yang sangat dirindukan. Aku merindukanmu, Mas Yoga. Bolehkah aku masih mengharapkan, Allah akan mempersatukan kita," batin Indira.
Dalam spion, Athaya dapat melihat wajah sendu sang calon istri. Terlebih dia masih mengingat ucapan Fika tempo hari, yang mengatakan jika Dirga adalah cinta pertama Indira.
"Kak, kamu bisa saja jatuh cinta berulang kali, namun cinta pertama selalu mendapat tempat di hati. Seperti foto lama, waktu bisa membuat perasaan memudar, tapi kenangan akan cinta pertama tidak pernah hilang," itulah ucapan Fika pada Athaya.
Dalam hatinya, Athaya cukup mengkhawatirkan Indira. Baik soal perasaan ataupun jarak yang akan memisahkan mereka. Ditempat yang akan ditinggali Indira, merupakan daerah yang kini sedang rawan peperangan antar Kampung. Setelah waktu hampir 5 jam yang mereka tempuh, kini mereka sudah sampai di lokasi. Indira bersama kelompoknya akan tinggal disalah satu rumah warga yang sudsh mereka sewa sebelumnya.
__ADS_1
Setelah serah terima kunci, mereka mulai bergotong royong membersihkan rumah. Semuanya terasa cepat, sebab Ayah Fahri meminta para ajudannya untuk membantu.
"Dira! Kita jadi gak ada kerjaan ini, semuanya langsung beres begitu!" bisik Kania.
"Gak apa-apa, Nia! Tenaga gratis, jadi kita bisa pake tenaga kita buat mengerjakan yang lain nantinya," bisik Indira.
Sebelum kembali pulang ke Bandung, Ayah Fahri mengajak mereka semua untuk makan dipinggir Pantai Pelabuhan Ratu. Hanya 45 menit jarak yang mereka tempuh, kini semuanya sudah duduk manis sambil menikmati makanan mereka.
"Faisal dan Dani, kalian laki-laki jadi kalian harus menjaga para perempuan ini! Mata saya banyak, ada dimana-mana jadi pastikan kalian akan menjaga mereka," tegas Ayah Fahri.
"Si-siap, Om!" keduanya gugup mendengar ucapan sang Jendral.
Athaya mengajak Indira berjalan-jalan menyusuri Pantai Pelabuhan Ratu, tak ada pembicaraan diantara keduanya.
"Sayang, jaga diri kamu baik-baik ya! Aku sekarang gak bisa ngejagain kamu disini, jadi tugas aku menjaga kamu untuk sementara aku berikan pada Faisal dan Dani. Kalo ada apa-apa, jangan lupa kabarin aku, ya!" Athaya mengusap kepala Indira lembut.
"Iya Athaya, makasih udah mau nganter aku kesini," Indira tersenyum pada Athaya.
"Sudah kewajiban aku sebagai calon suami kamu, jadi jangan berterimakasih! Inget semua pesan aku, dan jangan nakal!" ucap Athaya mencolek hidung Indira.
Cup 💋
Satu kecupan mendarat di kening Indira, tapi sikap Indira begitu biasa saja. Jantungnya taj berdegup kencang, tak seperti saat dia dicium oleh Dirga.
"Hati-hati dijalan, Athaya! Jangan ngebut, kalo ngantuk istirahat dulu!" pinta Indira.
"Iya sayang, aku pulang! Jangan rindu, berat! Biar aku aja," Athaya menggoda Indira.
Mereka kembali ke Rumah sementara mereka, Kania dan Indira memilih untuk membeli beberapa bahan makanan di mini market. Mereka menggunakan sepeda motor milik Kania yang sengaja dibawanya dari Bandung.
"Ra! Beli berasnya berapa bungkus? Ini isinya 5kg an," ucap Kania.
"Beli 2 bungkus aja dulu, kalo kurang kan gampang beli lagi! Aku cari mie instan dulu disana, ya!" Indira berjalan menuju rak mie instan sambil melihat kertas catatan kebutuhan mereka.
Bruk!
"Ternyata kamu gak berubah, masih ceroboh,"
Deg deg deg!
Mendengar suara itu, Indira memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya.
"Ma-mas Yo-yoga,"
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤