Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 25. Rasa Kehilangan


__ADS_3

Semenjak pertemuan memalukan dengan Dirga hari itu, Indira sudah tak pernah lagi bertemu dengannya. Padahal setiap hari Indira makan di warteg itu, tapi sudah hampir dua minggu ini mereka tak pernah bertemu. Dia mulai merasa kehilangan kembali, rasa rindu itu kembali hadir membelenggu hatinya.


"Mungkin dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya," batin Indira ketika mengingat Dirga, orang yang benar-benar mampu memporak-porandakan hatinya.


Bahkan Indira tidak menyadari, jika sikap Athaya kali ini sedikit berubah. Athaya tidak seposesif dulu, bahkan komunikasi diantara mereka bisa terjadi hanya sekali dua kali. Selama dua minggu ini, Athaya menemani Aini yang masih belum bisa banyak bergerak. Semua keluarga Athaya sudah mengetahui semua kejadian yang menimpanya, dan ucapan mereka kini terngiang-ngiang dikepala Athaya.


"Sholat istikharah, maka kamu akan menemukan jalan keluar dari masalahmu,"


Itulah yang diucapkan oleh Ummi nya, dan jujur saja Athaya mulai merasa nyaman berada disisi Aini. Seperti kali ini, Athaya mengantarkan Aini kembali kerumahnya.


"Kak, maaf ya jadi ngerepotin," Aini mengatakan itu sambil menunduk.


"Kamu gak salah, Aini. Mungkin semuanya sudah takdir Allah, jangan banyak pikiran! Biar kamu cepet sembuh," Athaya mengacak rambut Aini.


"Apa Kak Dira tau, kalo Kakak nemenin aku disini? Aku gak mau Kak Dira salah paham nantinya," lirih Aini.


"Belum, tapi dia gak bakalan salah paham kalo aku jelasin. Dia perempuan yang baik, meskipun sedikit jutek," ucap Athaya sambil tertawa.


Dia mendorong kursi roda milik Aini, jantungnya berdegup kencang. Kali ini, dia akan menemui kedua orangtua Aini untuk meminta maaf. Langkah kaki Athaya berhenti, ketika dia menatap sebuah foto yang ada disana.


"Aini, apa dia keluargamu?" tunjuk Athaya pada foto seorang laki-laki.


"Iya, itu Kakak keduaku. Namanya Dirga Agung Prayoga, dia tentara dan sekarang sedang bertugas di Sukabumi. Kenapa Kak? Kenal?" tanya Aini seolah tak tahu apapun.


"Yaa Allah, inikah jawaban atas sholat istikharahku selama ini," batin Athaya menatap cincin yang mengisi jari manisnya.


"Kak! Kok ngelamun," Aini melambaikan tangannya diwajah Athaya.


"Emm, gak apa-apa! Yaudah kita temuin Papa sama Mama kamu," dia kembali mendorong kursi roda milik Aini.


Papa Dirga dan Mama Dirga tersentak kaget melihat kondisi putrinya, mereka berhambur memeluk Aini dengan sangat erat.


"Yaa Allah, Aini! Kenapa kondisi kamu separah ini, tapi kamu gak mau bilang sama Mama Papa, Nak!" Mama Dirga menangisi anak bungsunya itu.


"Inikah caramu menegurku, Yaa Allah. Setelah putraku satu-satunya berjuang melawan maut, kini putri bungsuku," lirih Papa Dirga.


Deg!


Athaya terhenyak mendengar ucapan Papa Dirga, melawan maut? Apa maksudnya?


Itulah serentetan pertanyaan yang ada di kepala Athaya.


Memberanikan diri, Athaya menyapa kedua orangtua Aini.


"Om, Tante, maafkan kesalahan saya. Dengan tidak sengaja, saya menabrak Aini. Tapi saya berjanji, saya akan merawat Aini hingga dia sembuh!" ucap Athaya dengan tegas.


Kedua orangtua Aini saling berpandangan, terlebih ketika melihat cincin yang berada dijari manis milik Athaya.


"Maaf, Nak. Kami tidak bisa menerima janjimu, masa depan putriku biarlah kami yang memikirkannya. Kamu sudah memiliki pendamping, bukan? Jangan biarkan dia menjadi salah paham. Aini akan menjadi tanggung jawab kami, sekarang lebih baik kamu pulang. Terimakasih sudah memiliki niat baik," ucap Papa Aini dengan tegas.


"Tapi Om..."


"Ayo Aini, kita masuk!" Mama Aini sudah mendorong kursi roda milik putrinya.


"Tante, tunggu! Aini, aku akan merawatmu! Aini, tolong Om!" pinta Athaya.


"Pulanglah. Dan jangan pernah kembali kemari," tegas Papa Aini.


Terpaksa Athaya harus pergi darisana, entah kenapa hatinya merasa sedih. Selama dua minggu ini, dia sudah menjaga Aini dirumah sakit. Ada rasa kehilangan dalam hatinya, kebersamaannya bersama Aini tanpa sadar sudah membuat Athaya bimbang. Ponselnya beberapa kali berdering, itu adalah panggilan dari Indira.


"Maafkan aku, Dira! Aku butuh ketenangan saat ini," batin Athaya, lalu dia menonaktifkan ponselnya.


Sedangkan di Sukabumi, Indira sudah merasa gelisah. Dia mendapatkan pesan dari sang Bunda agar segera datang kerumah Oma nya. Saat ini, dia sedang sarapan pagi disalah satu warung bubur dekat Koramil.


"Yaa Allah, Athaya! Kemana sih kamu, padahal ini urgent!" kesal Indira mencoba menghubungi ponsel Athaya, sayangnya ponsel Athaya kini non aktif.


"Tenang, Ra! Apa perlu aku anter? Tapi pake motor, gak apa-apa?!"  tawar Doni.


"Boleh? Aku harus cepet-cepet pulang sekarang!" Indira sungguh kalut.


Sedangkan tak jauh darisana, Bian mendengar percakapan mereka. Dia segera berlari menuju ke asrama, tanpa mengucap salam dia membuka pintu rumah asrama Dirga.


"Yaa Allah, Pot! Jantungan aing lama-lama," kesal Dirga.


"Siap salah! S.O.S Kapten!" Bian berucap sambil terengah-engah.

__ADS_1


"Apan SOS?! Pembersih lantai!" ketus Dirga, bagaimana tidak dia saat ini sedang menikmati secangkir kopi hitam yang panas, karena kaget kopi itu tumpah ke bajunya.


"Etdah! Ini soal nyonya, Kapten! Dia mau balik, tapi kaga ada yang nganterin. Noh temennya mau nganterin pake motor," ucapan Bian membuat Dirga melotot.


"Kenapa kaga bilang dari tadi, curut!" Dirga segera berlari kedalam kamarnya, menyabet kunci mobil dan bergegas pergi.


"Kapteeeeennnnn.......!!" teriak Bian.


"Apaan sih! Buru-buru ini, Pot!" Dirga sangat kesal pada Bian.


"Buru-buru sih buru-buru, emang sampean mau nyonya snewen gara-gara sampean sempakan doang!" ketus Bian membuat Dirga malu.


"Astaga, Pooooootttt! Kenapa kaga bilang daritadi?!" Dirga kembali masuk kedalam kamarnya.


"Huft! Kapten jadi bego kalo udah urusan nyonya," keluh Bian.


Dirga bisa melihat Indira yang sedang bersiap untuk berangkat, dengan cepat Dirga menghentikan motor Doni.


"Wooyyy! Sape lo, awasin mobil lo, gue rusuh!" teriak Doni menggebu-gebu.


Melihat Dirga yang turun dari mobil, seketika nyalinya menciut.


"Saya yang akan antar Indira ke Bandung!" tegas Dirga.


"O-oke, Bang! Turun lu, Ra! Mending pake mobil sono, biar aman, damai, tentram dan sejahtera!" celetuk Doni sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ck! Nyebelin lu, Don!" kesal Indira lalu masuk kedalam mobil Dirga.


"Yang penting hidup gue aman, Ra!" gumam Doni.


"Ini buat bensin sama makan temen-temen kamu," Dirga menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Doni.


"Waaawww... Makasih Bang! Hati-hati dijalan, ye! Babehnya galak, jangan ampe tu anak lecet barang dikit aja!" ucap Doni dan Dirga mengagguk seraya tersenyum.


Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan serius diantara keduanya, Dirga bisa melihat raut wajah kekhawatiran dimata Indira.


"Syafa, tenanglah...! Everything will be fine, nih minum dulu," Dirga mmeberikan sebotol air mineral untuk Indira.


"Makasih, Mas! Aku khawatir sama kondisi Oma," lirih Indira yang sudah tak bisa lagi membendung airmatanya.


Mungkin karena lelah, Indira terlelap tidur. Hingga Dirga harus menghentikan mobilnya disekitar kebun teh. Karena dia tak tau arah kerumah Oma Syifa.


"Mm.. Udah sampe, Mas?" Indira mengerjapkan matanya.


"Ini udah dilembang, Syafa. Tapi kan aku gak tau jalan," Dirga mengusap kepala Indira.


"Itu jalan kedepan, belok kanan lurus terus, Mas! Udah sampe, deh," ucap Indira membuat Dirga semakin gemas.


Kini mereka sudah sampai dipelataran rumah Oma Syifa, jantung Dirga berdegul kencang ketika melihat banyak sekali orang disana.


"Mana Athaya? Terus ini siapa?" tanya Oma Syifa.


"Hai Oma cantik, saya Dirga temennya Syafa," Dirga mencium tangan Oma Syifa.


"MashaAllah, ada angin apa nih cucu Oma yang satu ini. Katanya anti tentara, tapi temenan sama tentara," goda Oma Syifa.


"Omaaa..." rengek Indira yang pipinya sudah memerah karena malu.


Indira menghampiri Bunda Gisya yang sedang menyiapkan cemilan untuk mereka semua. Oma Syifa menepuk bahu Dirga, membuat Dirga tersentak kaget.


"Tolong panggilkan si Jenderal bucin itu!" titah Oma Syifa.


"Baik, Oma," Dirga bangkit dan menghampiri Ayah Fahri.


"Ayah, dipanggil Oma!" bisik Dirga ditelinga Fahri.


Mereka berdua kembali menghampiri Oma Syifa yang tersenyum kearah mereka.


"Ada apa, Bun? Bunda butuh sesuatu, hm?" tanya Ayah Fahri dengan lembut.


"Jangan ulangi kesalahan Bunda dimasalalu, perjuangkanlah kebahagiaan putrimu. Seperti Bunda memperjuangkan kebahagiaan Caca dulu," lirih Oma Syifa.


"Iya, Bunda! Abang bakalan perjuangkan kebahagiaan anak-anak Abang, tanpa Bunda memintanya pasti Abang akan melakukannya," tegas Ayah Fahri.


"Kalo begitu, lepaskan Dira dari Athaya! Dia tersiksa dengan batinnya, Bang! Anggaplah ini permintaan terakhir Bunda!" Oma Syifa menatap Ayah Fahri dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Dan kamu! Bersiaplah, kamu harus menjadi Imam saat shalat isya nanti!" titah Oma Syifa.


"Baik Oma," jawab Dirga.


Ayah Fahri dan Dirga sama-sama termenung, Ayah Fahri memikirkan baik-baik ucapan sang mertua. Sedangkan Dirga saat ini sangat memikirkan perasaan Indira.


"Kenapa bisa kamu yang mengantar Dira kesini?" tanya Ayah Fahri.


"Athaya sejak pagi gak bisa dihubungi, Ayah! Tadi Dira sempat menolak waktu aku ajak, tapi akhirnya dia mau karena khawatir dengan kondisi Oma," jawab Dirga.


"Yasudah, istirahatlah dulu! Pasti kamu cape menyetir, dan jangan lupa bersiap untuk sholat isya nanti," Ayah Fahri menepuk pundak Dirga.


Dirga memilih untuk bergabung bersama Indira dan Kakak-kakaknya, mereka pun mudah berbaur dengan Dirga. Dan tak terasa waktu sholat maghrib pun sudah tiba, Husain yang menjadi Imam saat sholat maghrib. Mereka melanjutkannya dengan tadarus bersama sambil menunggu sholat isya tiba.


Adzan isya berkumandang, Dirga sudah siap berdiri didepan untuk menjadi Imam. Indira kembali menitikkan airmatanya, kali ini Dirga berhasil membuatnya kembali jatuh cinta. Suaranya Dirga ketika melantunkan ayat suci alqur'an lebih bisa menenangkan hatinya.


Selesai sholat isya, mereka melanjutkannya dengan makan malam bersama. Dirga tercengang melihat panjangnya meja makan yang ada dihadapannya.


"Ga, sini duduk deket Aa," titah Alan pada Dirga.


"Eitt.... Nggak! Sini Ga, duduk deket Abang!" Husain memanggil Dirga.


"Caelah, sini Ga deket gue aja!" kekeh Alan.


"Jangan! Sini deket gue aja," Husain menarik tangan Dirga dan Alan pun sama.


"Stooooopppp!!! Itu kalo tangannya Mas Yoga jadi panjang gimana?! Emang kalian mau tanggung jawab?! Duduk sini, Mas! Deket Ayah sama Bang Mirda aja biar aman," sontak ucapan Indira membuat senyuman merekah diwajah semua orang.


"Cieeee......." kompak mereka semua.


Oma Syifa memberikan isyarat mata dan anggukkan pada Ayah Fahri dan Bunda Gisya.


"Permintaan Bunda, pasti akan kami kabulkan," batin Ayah Fahri dan Bunda Gisya sambil kedua tangan mereka berpegangan erat.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, mereka menggelar tikar diruang tengah. Mereka akan tidur bersama-sama, seperti keinginan Oma Syifa.


"Ca, usapin kening Bunda dong! Sambil sholawatan ya," pinta Oma Syifa.


"Iya Bunda," mereka semua menahan tangis ketika mendengar ucapan Oma Syifa.


Allahumma sholli `ala Sayyidina Muhammadin thibbil qulubi wa dawa-iha.. Wa `afiyatil abdani wa syifa-iha wa nuril abshori wa dhiya-iha wa `ala alihi wa shohbihi wa sallim..


Lantunan sholawat Bunda Gisya membuat mata Oma Syifa mulai terpejam sedikit demi sedikit, Ayah Fahri mendekat pada sang mertua dan membisikkan kalimat.


"Laa illaha illallah..." bisik Ayah Fahri sambil mengelus kening Oma Syifa.


"Laa.. Illaha.. Illallah....." Oma Syifa sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


"Innalillahi wa inna illahi rojiun....." Ayah Fahri mengecup kening mertuanya lalu berhambur memeluk sang istri yang sudah menangis meraung-raung.


"Omaaaaa.....!!" teriak mereka bersamaan.


"Sabar sayang, ikhlaskan Oma," Mirda mendekap erat tubuh Elmira.


"Bang yang tegar! InshaAllah Oma sudah bahagia," Alana pun mendekap erat tubuh sang suami yang kini sudah mulai melemas.


"Oma! Jangan tinggalin Dira, Oma! Dira belum bahagiain Oma," Indira terus menangis menciumi kaki Oma Syifa.


"Syafa, tenanglah! Ikhlaskan, Oma sudah bahagia. Lihatlah, wajah Oma sangat berseri dan wangi. Ikhlas ya," Dirga mengelus kepala Indira dan Indira berbalik memeluk tubuh Dirga. Dia butuh sandaran, hatinya sangat rapuh. Dia benar-benar kehilangan Oma Syifa, karena Oma Syifa memang dekat dengan semua cucunya.


"Oma.. Dirga akan menjaga cucu kesayangan Oma," batin Dirga.


Pagi harinya, Athaya segera menuju kerumah Oma Syifa. Dia merutuki kebodohannya sendiri yang sedih memikirkan kondisi Aini. Tapi kenyataan pahit harus dia terima, ketika Indira menangis dipelukan Dirga.


"Lepaskan! Biar aku yang menemaninya," Athaya memeluk Indira dengan paksa.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2