
Pagi itu menjadi pagi tercerah dalam hidup Dirga, saat dia membuka mata pertamakali yang dilihatnya adalah sosok sang istri. Pipinya yang kini membulat membuat Dirga semakin gemas. Dia mencium-cium pipi tembem sang istri hingga Indira menggeliat karena tidurnya terganggu.
"Mas Yoga jangan deket-deket! Aku belom ibak tau, masih bau iler!" kesal Indira.
Mendengar ucapan istrinya itu, Dirga makin sengaja menciumi pipi sang istri. "Nggak apa-apa! Mas kangen yaaangg!" rengek Dirga.
Pipi Indira bersemu merah, "Mas udah subuh! Kita harus ibak dulu, sebelum semua orang bangun," bisik Indira.
"Ck! Biarin aja kenapa, kan wajar kalo kita mau subuhan mandi dulu. Mereka juga ngerti kok, kalo Mas abis kekepin kamu," sontak ucapan Dirga membuat Indira kesal setengah mati. Dia bangun dari tidurnya lalu bergegas menuju kamar mandi.
Dengan langkah pelan, Indira berjalan menuju kamar mandi. Tapi usahanya itu sia-sia, sebab sang suami berkata terlalu keras. "Hati-hati sayang! Dikamar mandi itu licin, sini biar Mas tuntun! Bahaya kalo sampe kamu sama dedek utun jatoh!"
Astaga!
Secara otomatis, Dirga membangunkan para bapak-bapak yang tertidur ditengah rumah. Wajar saja, suara Dirga cukup keras.
"Kalian kalo mau mandi wajib nggak usah kenceng-kenceng ngobrolnya! Udah semalem nggak pake filter, sekarang bangunin orang pakek mesra-mesraan!" kesal Baba Jafran.
Pipi Indira bersemu merah, dia lantas masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Dirga memilih duduk dimeja makan kecil, tempat makan yang hanya cukup bagi dirinya dan sang istri.
Adzan subuh telah berkumandang, setelah Indira kini giliran Dirga yang mandi. Sedangkan para bapak-bapak yang lain sudah menuju mesjid. Sengaja meninggalkan Dirga yang kini tengah membersihkan diri.
Setelah mandi, Dirga masuk kedalam kamarnya dan melaksanakan sholat subuh bersama istrinya. Dirga benar-benar merindukan Indira, bahkan selepas sholat, Dirga tak mau beranjak. Dia tertidur dipangkuan istrinya itu sambil mengelus perut sang istri.
"Dedek, Ayah kangen banget sama dedek sama Bunda! Ayah beneran gak tau lho kalo dedek udah tumbuh didalam sana. Ayah yakin kamu adalah princes, putri cantik Ayah. Nanti siang kita ke dokter ya! Ayah mau liat sama denger detak jantung dedek," bisik Dirga pada perut Indira.
Hati Indira menghangat, betapa dia sangat menantikan masa-masa ini.
Tok.. Tok.. Tok...
"Kaaak Dirgaaa! Keluar dong, mau ngomong ini!" teriak Athaya.
Dirga mencebik kesal, "Ganggu aja si! Nggak tau apa orang lagi anget-angetnya ini kekepin istri!"
Diluar sana, Athaya bisa mendengar suara calon Kakak iparnya itu. "Kalo lu kagak keluar, gue sumpahin dah anak lu mirip gue, Kak!"
Sontak ucapan Athaya membuat Dirga menjadi semakin kesal, dia beranjak dan membukakan pintu dengan emosi. "Enak aja! Gue yang ngadon, masa anaknya mirip situ! Jangan ngadi-ngadi ya!"
Athaya memutar bola matanya malas, "Kalo nggak ngomong gitu, kan kagak bakalan keluar! Terus aja si Dira di kekepin ampe bertelor!"
Pletak!
"Dikira istri gue ayam pake betelor segala! Durjanah lu jadi adik ipar!" kesal Dirga.
Meskipun kesal, tapi Athaya tidak mau berdebat dengan calon kakak iparnya itu. "Gue sama Baba, Papa juga Ayah tunggu lu didepan, Kak! Ada yang musti gue bahas sama lu!"
"Yaudah ayok!" ajak Dirga lalu mulai berjalan.
__ADS_1
"Kak, lu mau koloran doang ketemu orang tua? Gilak itu mah! Sono pake celana dulu, jangan sampe tu burung gue kasi makan kucing!" kesal Athaya.
Dirga menepuk jidatnya sendiri, dia lalu masuk kedalam kamarnya. Indira mencebik kesal ketika melihat suami hanya tertawa memperlihatkan gigi putihnya.
"Untung Bunda, Ummi sama Mama lagi kepasar! Jadi gak liat kobra kamu! Awas aja kalo berani keluar koloran kaya gitu! Aku kurungin pake rante!" ketus Indira sambil memberikan celana pendek pada sang suami.
"Maaf sayang," lirih Dirga. Padahal dalam hati dia menggerutu pada Athaya. 'Dasar adek ipar rasa mantan! Begini nih jadinya!'
Karena tak enak, Dirga segera bergabung bersama yang lainnya di teras. Athaya sendiri terlihat gugup ketika akan mengungkapkan niat baiknya. "Jadi ada apakah kita semua kumpul disini?" tanya Baba Jafran.
Athaya menghela nafas terlebih dahulu sebelum berbicara, "Jadi gini semuanya, Athaya mengumpulkan kalian semua disini buat mengutarakan niat baik. Insya Allah jika diizinkan, Aku mau menikahi Aini akhir bulan ini. Setelah menikah, aku mau bawa Aini, Papa serta Mama untuk tinggal di Turki. Sambil melakukan ikhtiar untuk kesembuhan Aini. Apakah Kak Dirga mengizinkan? Sebab izin Papa ada ditangan Kakak!"
Susah payah Athaya mengucapkan hal itu, namun Dirga tak menunjukan ekspresi apapun. "Baba setuju sih, pasti Ayah Fahri juga setuju. Gak tau kalo Mamas Dirga!" ejek Baba.
"Aku setuju!" ucap Dirga membuat suasana seketika hening.
"Alha..........." sebelum Athaya mengucapkan sepatah kata, Dirga pun berkata kembali.
"Tapi kalian boleh ke Turki setelah istriku melahirkan!"
Duaaarrrr!!
Itu tandanya, Athaya harus menunggu beberapa bulan. "Whatt?!! Gak salah, Kak?"
Dirga menggelengkan kepalanya, "Enak aja lu mau bawa Mama sama Papa ke Turki! Sejak kecil gue tinggal sama Nenek sama Kakek, sekarang istri gue lagi hamil! Gue mau lah kalo di dampingin Mama sama Papa. Lagian lu siapa? Menantu doang kan? Gue anaknya!"
Papa Dirga meneteskan air mata ketika mendengar ucapan sang anak. Dia memeluk tubuh putra satu-satunya itu, "Maafkan Papa, Nak! Papa sama Mama janji, akan menemani kamu dan Syafa sampai anak kalian lahir ke dunia ini! Pernikahan Athaya dan Aini bisa dilangsungkan akhir bulan ini, dan setelah Syafa melahirkan kita ke Turki sama-sama!"
Indira mendekap tubuh Aini, "Adikku sayang, Insya Allah Athaya adalah laki-laki yang baik. Apapun yang terjadi di masa depan nanti, percayalah padanya. Sebab kepercayaan jika di ibaratkan itu nomor pertama, kesetian itu nol, cinta itu nol, sayang itu nol. Jika kepercayaan tidak ada, maka semuanya akan sia-sia. Rumah tangga itu pondasi utamanya adalah kepercayaan, kalo ada apa-apa cerita sama Kakak ya!" ujar Indira menasehati Aini.
"Terimakasih banyak ya, Kak Syafa! Terimakasih sudah mau menjadi Kakak bagi Aini, demi apapun ini adalah hari paling bahagia buat aku!" Aini menangis dalam pelukan Indira.
Suara tangisan itu terdengar hingga teras, Athaya dan Dirga berebut masuk kedalam rumah hingga keduanya tersangkut di pintu.
"Gue duluan! Lu nyosor aja si, awaaass munduuurrr!" kesal Dirga.
"Laah! Lu yang maju, Kak! Kejepit gue inii!" kesal Athaya.
"Mundur!"
"Maju!"
"Munduuuuuuuur!"
"Majuuuuuuuu!"
Bruk! Bugh!
__ADS_1
Baba Jafran mendorong keduanya hingga tersungkur, "Begini kan aman! Daripada kayak Mak Rini, maju mundur maju mundur, syantiikk.. syantiikkk..!"
Astaga!
Mereka geli melihat tingkah Baba Jafran, "Lho anak cantik kenapa nangis?" tanya Baba.
Aini menggeleng kemudian tertawa, "Lucu liat Kak Dirga sama Kak Athaya, masa betah banget tiduran tumpang tindih begitu!" celetuk Aini membuat Dirga dan Athaya terkesiap.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
"Aaaaa....! Gila lu, bangun! Ngapain lu nibanin badan gue, sorry ya gue masih doyan apem!" kesal Dirga.
Athaya mencebik kesal, "Enak aja! Gue juga masih doyan surabi!"
Dirga dan Athaya terus meributkan hal-hal yang tidak penting, hingga sang bumil merasa kesal. Indira menjewer telinga Dirga dan Athaya bersamaan. "Aaaaww... Aaaaww... Sakit sayang!" rengek Dirga.
"Ra! Diraaaa....! Sakittt, lepasssss..!" jerit Athaya.
"Daripada kalian ribut-ribut, mending sekarang Athaya ambilin mangga didepan sana! Terus Ayah ambilin jambu air dipinggir sawah sana yaa, dedek mau rujak!"
Mata Dirga berbinar, "A-ayah? Dedek mau rujak? Bunda ngidam?"
Indira mengangguk senang, "Dedek mau diambilin jambu air sama Ayah, terus diambilin mangga sama Om Athaya!"
Dengan semangat 45 Dirga menggusur tubuh Athaya, "Ambilin mangga buat anak gue! Atau ijab kabul dibatalkan!" ancam Dirga.
"Whaaattttt??"
Mau tak mau, akhirnya Dirga dan Athaya mengambilkan buah-buahan yang diinginkan sang bumil. Kebahagiaan kini tengah mereka rasakan, Dirga dan Indira yang menanti buah hati juga Athaya dan Aini yang tengah menanti hari bersejarah bagi mereka.
* * * * *
Hai.. Hai.. Reader tersayang! ❤
Maaf rindu jarang UP, sedang sibuk di dunia nyata nih..
Semoga kalian sehat-sehat selalu yaa..
Rindu sayang kalian, Reader 🥰😘
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤