
Definisi orang yang tepat adalah orang yang bisa bikin kamu cerita bebas tanpa takut dihakimi, orang yang mampu menerima segala kekurangan kamu dan dia selalu mensupport kamu untuk jadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Bersama orang yang tepat, kamu bisa menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura menjadi oranglain. Sebab dia akan menerima semua hal pada dirimu.
Suara adzan subuh berkumandang, Indira sudah membuka matanya. Dia bisa melihat wajah Dirga dari dekat, hingga...... "Aaaaaa....!! Ngapain Mas Yoga dikamar aku!" teriak Elmira lalu menendang Dirga hingga jatuh.
Bruuukkk!
"Aww...! Syafa, kenapa kamu teriak-teriak? Ngapain juga kamu tendang Mas?! Kamu lupa, Mas ini suami kamu!" tegur Dirga sambil memegang pinggang nya yang sakit karena terjatuh.
Indira baru teringat, "Yaa Allah, maaf Mas aku gak sengaja!"
Dirga menatap gemas sang istri, rasanya ingin dia menerkamnya saat itu juga. "Obatin dong, sakit nih pinggang Mas, yank!" keluhnya.
Merasa kasihan, Indira dengan polosnya menghampiri Dirga dan mengelus pinggangnya. "Bukan disitu yank ngobatin nya," ucap Dirga.
"Kan yang sakit pinggangnya, Mas! Emang harus dimana ngobatinnya?"
Cup 💋
Sebuah kecupan mendarat di bibir manis Indira, "Ini obatnya! Mas sholat subuh jama'ah sama Ayah ya, kamu dikamar aja yank! Sekalian bangunin Fika."
Gadis itu hanya termenung, jantungnya berdegup kencang ketika suaminya itu mencium bibirnya.
Tak ingin berlarut, Indira kembali ke kamarnya dan membangunkan Fika untuk sholat subuh. Pukul 6 pagi, Fika berpamitan pulang. Tentu saja tidak sendiri, sopir Ayah Fahri akan mengantarkannya sampai rumah. Setelah mengantar Fika, Indira pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Rencananya hari ini dia akan mengunjungi Aini sebelum lusa mereka pergi ke Malang.
Indira memasak sarapan nasi goreng beserta bakwan jagung, dia juga memasak cream soup ayam untuk dibawa ke Rumah Sakit. Bunda Gisya dan Ayah Fahri tidak ikut sarapan bersama, sebab mereka ada kegiatan pagi itu. Sambil menunggu sang istri memasak, Dirga lebih memilih memotong rumput yang mulai tinggi dihalaman belakang.
"Mas, sarapan pagi dulu!"
Mendengar panggilan sang istri, Dirga segera membersihkan tangannya. "Mas mandi dulu ah, kotor ini bajunya," ucap Dirga.
"Yaudah dikamar atas aja, Mas. Nanti aku siapin bajunya."
Pagi yang indah bagi Dirga, dimasakkan sarapan oleh sang istri dan disiapkan berbagai keperluannya. Karena melihat baju Dirga masih dalam koper, Indira membereskannya dan menata rapi didalam lemarinya. Dia tersenyum bahagia, masih tak disangka kini statusnya adalah seorang istri.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, wajah Indira bersemu merah ketika melihat sang suami hanya memakai handuknya saja. "I-itu bajunya diatas kasur, Mas. Pakai dulu, kita sarapan."
__ADS_1
Namun Dirga tidak menyaut, dia menghampiri Indira dan memeluknya dari belakang. "Mas maunya sarapan kamu aja boleh gak?" bisik Dirga membuat tubuh Indira tiba-tiba menegang.
"Mas ini pagi-pagi, ayo sarapan dulu!" gugup Indira. Detak jantung keduanya kini sudah bertalu-talu, "Gak ada malam pertama, pagi pertama pun jadi sayang! Boleh, ya!"
Tanpa mendengar persetujuan sang istri, Dirga melepaskan jilbabnya. Dia mencium lembut bibir sang istri, Indira pun mulai hanyut dalam setiap sentuhan suaminya itu. Keduanya sama-sama menyalurkan kerinduan yang selama ini tertahan, kini apapun yang mereka lakukan menjadi ibadah. Sebab kini keduanya sudah terikat dalam hubungan yang halal.
Keduanya benar-benar menikmati pagi hari yang lumayan dingin, sebab gerimis yang tiba-tiba turun. Seolah menyejukkan dua insan manusia yang tengah bersatu dalam gelora cinta yang semakin memanas. Dirga benar-benar sudah bisa mendaki gunung dan melewati lembah seperti apa yang dikatakan oleh mertuanya. "Ma-as Yoga," pekik Indira ketika merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan.
Cakaran, jambakan bahkan gigitan sudah diterima Dirga demi menuntaskan hasrat yang sudah di ubun-ubun. "Terimakasih sayang, yuk kita mandi! Terus sarapan, kan mau ke Rumah Sakit," ucap Dirga dengan nafas yang terengah-engah.
"Aku duluan aja, Mas!" ucap Indira lalu berjalan dengan hati-hati ke kamar mandi, sebab dia masih merasakan sakitnya.
Dirga bisa melihat noda merah pada sprei putih itu, "Kalo di figurain boleh gak sih?" gumam Dirga seraya tersenyum sendiri.
Hari itu benar-benar menjadi hari paling indah bagi keduanya, Dirga terus menempel pada sang istri. "Aku jadi gak mau kemana-mana deh, yank! Maunya dirumah aja sama kamu," ucap Dirga sambil memeluk erat istrinya dari belakang.
"Ck! Kan kita mau ke Rumah Sakit, Mas. Jangan aneh-aneh deh! Udah tunggu didepan sana, aku ribet kalo nyuci piring tapi kamunya nemplok begini!" kesal Indira.
"Ekheeemmm! Jangan ngadi-ngadi ya, Kak! Lu mesra-mesraan kaga tau tempat, mentang-mentang penganten baru!"
"Kakak abis jalan pagi, nyari sate padang tapi gak ada yang buka. Akhirnya beli sate jando di wastukencana, untung Rere mau nemenin," ucap Alana.
Dirga yang malu, memilih untuk pergi ke halaman belakang. Ponselnya berbunyi, ternyata sebuah pesan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
📩 +62 8134290****
Ga! Gue tunggu di RSHS, Eki sama Panji kritis. Semalem mereka digebukin preman suruhan orangtua ceweknya Eki!
Dia mencoba berpikir jernih, dia tak ingin terbawa panik. "Mas! Ada apa?" tanya Indira ketika melihat suaminya itu berjalan terburu-buru.
"Mas pergi sebentar, yank! Ada urusan, kita tunda dulu kerumah sakit. Mas pamit, ya!" ucapnya sambil mengecup kening istrinya itu.
Dirga melajukan mobilnya menuju RSHS, sesampainya disana dia langsung memarkirkan mobilnya. Ada beberapa rekan sesama tentaranya disana, sepertinya mereka juga mendapat kabar yang sama. "Gimana kondisi mereka sekarang?!" tanya Dirga yang panik.
Dengan langkah gontai, Dirga masuk kedalam ruang ICU dimana kedua sahabatnya itu tak sadarkan diri. Eki mendapat luka bacokan tepat dikepalanya, sedangkan Panji mendapatkan luka di punggungnya saat melindungi Eki. "Kenapa kalian jadi begini?" isak tangis sudah tak bisa dibendung lagi.
Setelah cukup lama menangis didalam, Dirga keluar dari ruangan. Siapa sangka, istrinya sudah berada disana bersama dengan Fika yang kini menangis tersedu-sedu. Melihat mata suaminya yang sembab, Indira meminta Dirga mendekat. "Kenapa gak jujur sama aku, Mas? Kenapa gak membagi kesedihan kamu sama aku," lirih Indira mengusap pipi suaminya itu.
__ADS_1
"Maafin Mas, yank! Mas bener-bener gak tau harus ngapain," lirih Dirga.
Fika masuk didampingi oleh Ibunya Panji, dia berusaha menguatkan Ibunya Panji. Karena mungkin dia jauh lebih terluka ketika mendengar jika putranya itu dalam kondisi kritis.
Tak lama kemudian terdengar suara ricuh, ternyata Ibunya Panji pingsan tak sadarkan diri. Sebab monitor Panji tiba-tiba berbunyi kencang. Fika menangis meraung-raung, Indira mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Aku nyesel, Ra! Aku nyesel udah melakukan hal bodoh! Kak Panji itu orang yang selalu ada dalam kondisi apapun!" isak tangis Fika membuat Indira semakin mengeratkan pelukannya.
Fika mulai sedikit tenang, "Ra, aku masih inget wangi parfumnya dia, bentuk jari tangannya, bentuk kepalanya kalo diliat dari belakang. Aku selalu inget, Ra! Cara dia bawa motor, cara dia nyapa orang, cara dia..... genggam tangan aku. Aku gak mauu kehilangan dia, Ra! Aku gak mau," lirih Fika.
"Tenang ya, Fik! Semuanya akan baik-baik aja, kita berdo'a sama-sama ya!" ucap Indira.
Kini mereka menunggu dengan harap-harap cemas, keluarga Eki dan keluarga Panji kini sudah datang semua. Dirga juga membantu melaporkan kejadian ini ke kantor Polisi. Motif utama penyerangan itu sebenarnya pada Eki, hanya saja malam itu Panji dan Eki berniat untuk bicara dari hati ke hati. Siapa sangka beberapa preman menyerang mereka.
Indira terus berada disamping sahabat dan suaminya, pukul 3 sore dokter memberikan kabar jika Eki sudah berpulang menghadap sang Maha Kuasa. Tangisan menggema disepanjang lorong ruang ICU. Fika pun turut berduka, sebab kini dia tengah mengandung benih yang ditebarkan oleh Eki karena sebuah jebakan.
Dirga ikut mengurusi jenazah hingga ke tempat peristirahatan terakhirnya, begitupun Indira yang setia menemani sang suami. Sungguh pedih, ketika kita kehilangan seorang sahabat yang sudah seperti saudara. "Selamat jalan, Ki. Maafin gue kalo selama ini gue belom bisa jadi sahabat yang baik buat lu sama Panji. Tenang disana ya, Ki. Gue janji bakalan jagain anak yang saat ini dikandung Fika. Beristirahatlah dengan tenang, lu udah gak akan ngerasain sakit lagi!" ucap Dirga mengelus nisan sahabatnya itu.
Pukul 7 malam, Indira dan Dirga kembali ke Rumah Sakit. Fika dan keluarga Panji masih berada disana, "Fika, kita pulang dulu yuk! Kamu harus istirahat, Kak Panji pasti sedih kalo liat kamu begini. Sekarang bukan waktunya kamu mikirin diri sendiri, tapi ada nyawa lain yang harus kamu pikirin," bujuk Indira.
Setelah dibujuk, Indira mengantarkan Fika pulang bersama sopirnya. Sedangkan Dirga kembali kerumah Eki, dia akan melakukan Tahlilan bersama teman-temannya yang lain.
Sepanjang jalan, Fika hanya diam dengan tatapan kosongnya. "Ra! Ternyata Kak Panji itu orang yang tepat buat aku, coba aja aku gak egois ya, Ra! Mungkin saat ini Kak Panji gak kenapa-kenapa, kalo aku gak egois mungkin Kak Eki juga masih ada disini. Kalo aku............"
"Cukup, Fika!! Semua bukan salah kamu, ini semua udah kehendak Allah. Aku mohon jangan gini ya," lirih Indira.
Jagalah orang-orang yang kamu sayang, sebelum kamu benar-benar kehilangan mereka. Karena penyesalan tidak akan mengubah sesuatu yang telah pergi dari kehidupan kita. Tuhan menciptakan penyesalan, agar kita tau bahwa tidak semua hal bisa diulang kembali.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1