
Menghabiskan malam panjang di Hotel, membuat Indira semakin berat untuk melepaskan suaminya dalam bertugas. Jika diizinkan dia akan ikut kemana pun suaminya pergi, sayang nya tugas ini hanya 6 bulan. Banyak hal pula yang harus Indira pikirkan. Kini Indira dan Dirga sudah ada di Rumah Dinas mereka.
Hari ini adalah hari terakhir dirinya bisa bermanja ria dengan suaminya itu. Indira sama sekali tak jauh dari suaminya walau sejengkal pun. "Kenapa, hm? Tumben nempel banget sama Mas, gak kebauan gitu? Mas belum mandi lho!"
Indira menggelengkan kepalanya, dia malah semakin menyusupkan kepalanya di ketiak sang suami. "Mas wangi! Jangan mandi ya, baju ini mau aku pake selama Mas gak ada," lirih Indira.
Dirga mengerti suasana hati istrinya itu, "Jangan sedih yank, Mas jadi berat buat pergi. Do'akan Mas ya, sayang! Do'a istri yang soleha pasti akan di kabulkan oleh Allah," kecupan mendarat di kening Indira.
"Gini ya ternyata rasanya, Mas! Dulu aku selalu kuatin Kak Elmira, sekarang aku harus menguatkan diri aku sendiri," air mata lolos begitu saja.
Menjadi istri seorang abdi negara tidaklah mudah, penantian dan kesetian menjadi ujian. Mental juga harus kuat, sebab kita tidak pernah tau apakah mereka akan kembali dengan utuh atau hanya kembali dengan nama.
Tak ingin berlarut, Dirga mengajak sang istri untuk memasak bersama. Padahal pukul sembilan nanti, Dirga harus menghadap sang Komandan.
"Masak capcay udang ya, sayang! Mas mau itu," pinta Dirga.
Indira mengangguk dan tersenyum, "Apapun yang Mas mau, pasti aku bikinin!"
"Hmmm, kalo gitu gimana kalo kita bikin dedek bayi aja!" bisik Dirga. Dia mencium lembut bibir ranum sang istri yang kini menjadi candu. Hingga....
Tok.. Tok.. Tok...
Suara ketukan pintu membuat Indira tersentak dan melepaskan tautannya, "Mas, ada tamu. Buka dulu pintunya!"
Dirga menghela nafasnya, "Kamu masuk kamar dan pakai jilbab nya ya, sayang!" ucap Dirga mengecup lembut bibir sang istri.
Kesal, itulah perasaan Dirga. Dia yakin jika yang datang itu pasti Bian, atau tidak Panca atau Waluyo. Memang ajudan tak ada akhlak, padahal Dirga tengah menikmati bibir sang istri. Sambil menggerutu, Dirga membuka pintu dengan kesal.
"Ada apa sih, Pot! Kamu itu suka ganggu........."
"Jadi Ayah sama Bunda ganggu?"
Dirga terpaku, sang mertua kini sudah ada dihadapannya. Mulut Dirga menganga, sejurus kemudian sang Ayah mengibaskan tangannya dihadapan wajah sang menantu. "Ayah sama Bunda ganggu kamu, Mas?!"
Eehhh... Dirga salah tingkah!
"Eng-enggak, Ayah, Bunda! Yukk masuk!" Dirga mencium kedua tangan mertuanya itu, dia merasa bodoh kali ini. Bahkan ketiga ajudan lucknut nya itu malah terlihat menahan tawa nya.
"Jam segini masih sarungan aja, Mas! Takut burung nya terbang?" goda Bunda Gisya.
Ayah Fahri mendelik, "Apaan itu Bunda? Pake lirik-lirik burung menantu, emang uler pyton Ayah kurang menggoda?!" kesal Ayah Fahri.
__ADS_1
Astaga... Ingin rasanya Dirga membungkam mulut kedua mertua nya yang kini telah terkontaminasi virus absurd oleh Baba Jafran.
"Ayah!! Bunda!!" Indira berhambur memeluk kedua orang tua nya, ternyata mereka datang.
Saat di Malang, Indira mengabari sang Bunda jika dirinya akan ditinggalkan bertugas oleh Dirga. Mendengar hal itu, Bunda Gisya memutuskan untuk pulang untuk menemani putri bungsu nya itu. Sebab dia mengerti, awal pertama ketika ditinggalkan bertugas oleh suami yang dibutuhkan hanyalah teman dan pelukan agar tak merasa sendiri.
"Anak Bunda jam segini belum mandi? Tumben banget!" goda Bunda Gisya.
Pipi Indira terlihat memerah, "Baru mau masak, Bunda. Rencananya udah masak baru mau mandi," jawab Indira.
"Mandi nya bareng suami ya, Dek? Tuh! Suami kamu masih dekil begitu," ledek Ayah Fahri membuat Dirga membulatkan matanya.
"Aww..." ringis Ayah Fahri, ternyata sang Bunda mencubit paha suaminya itu.
Mereka berbincang-bincang ringan, mencoba memberi pengertian pada Indira mengenai kewajiban istri selama suami bertugas. Indira pun memahami hal itu, Bunda Gisya akan mendampingi Indira selama Dirga bertugas. Dan hal itu membuat Dirga jauh lebih tenang.
"Kita masak yuk! Bunda laper nih," rengek Bunda Gisya.
Dirga menepuk jidatnya, "Jangan, Bun! Biar Mas beli aja di warung depan, maaf ya kelamaan ngobrol jadi lupa ngisi perut," sesal Dirga.
Bunda Gisya mengangguk, Dirga segera meminta Waluyo dan Panca untuk membelikan makanan untuk mertua nya itu. "Waluyo! Saya minta tolong, belikan nasi bungkus di depan sana. Pakai ayam bakar, sama sop iga buat Ibu. Ingat! Punya ibu jangan ada bawang-bawangan, kalo sampe salah saya hukum kamu!"
Sambil menunggu, Dirga dan Ayah Fahri berbincang-bincang di teras. "Dirga! Dulu Ayah katakan ini pada Abangmu, Mirda. Sekarang Ayah akan mengatakan hal ini padamu! Tolong, Ayah mohon! Fokus pada tugasmu, kamu harus pulang dengan selamat. Ingatlah ada istri dan keluarga yang menanti mu pulang! Ayah tau betul, Ambon adalah wilayah rawan konflik. Sebisa mungkin kamu harus berhati-hati!"
Dirga mengangguk, "Ayah jangan khawatir, mau bagaimana pun aku kan mengingat semua pesan dan nasehat Ayah. Dirga titipkan Indira pada Ayah dan Bunda, selama aku pergi bertugas. Aku pasti akan kembali, Ayah."
Tak lama kemudian datangkah Waluyo sambil membawa beberapa bungkusan di tangannya dan menyerahkan semua itu pada Dirga.
"Terimakasih Om Waluyo!" ucap Bunda Gisya yang baru saja datang dan membawa makanan itu.
"Siap, sama-sama Bu!"
Bunda Gisya mengerenyitkan dahi nya, "Om Waluyo, ini air apa? Air putih?" dia menunjukan plastik putih yang berisi air.
"Siap! Itu kuah sop iga, Bu! Komandan bilang punya Ibu ndak boleh ada bawang-bawangan, sedangkan kuah sop iga nya iku mengandung bawang, Bu!"
"Pppfffttt..." Bunda Gisya dan Ayah Fahri menahan tawa nya. Sedangkan Dirga memijat pelipisnya, rasanya ingin Dirga memaki Waluyo. Tapi urung dilakukan, sebab ada kedua mertuanya disana.
"Makasih, Pot! Sekarang kembali ke barak!" titah Dirga, lama-lama Dirga bisa darah tinggi menghadapi para ajudannya itu.
Mereka makan bersama-sama, hingga malam hari Indira masih tak mau jauh dari Dirga. Kedua orang tua nya memaklumi hal itu. Dua insan manusia itu kini sudah berbaring di ranjang, Dirga mengelus kepala sang istri dengan lembut. "Mas pergi untuk kembali, semoga selama Mas pergi si dedek udah tumbuh di dalam sini," ucap Dirga sambil mengelus perut istri nya itu.
__ADS_1
"Aammiin, Mas! Sebisa mungkin, kabarin aku ya!" lirih Indira, dia menelusupkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Syafa istriku, tak ada cinta yang hebat tanpa adanya perjuangan yang hebat pula. Mari kita berjuang sama-sama, ya! Mas berjuang melawan musuh dan kamu berjuang melawan rasa takut. Do'akan ya, Mas pergi untuk kembali," Dirga mencoba menguatkan istrinya, dia selalu memberikan kecupan penuh cinta.
Malam terasa cepat berlalu, usai shalat subuh Dirga sudah siap dengan seragam loreng kebanggaannya. Indira pun sudah memakai baju Persit nya, meskipun dilanda kegundahan dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Anak Bunda semuanya hebat! Kita lewati sama-sama ya, fase ini akan segera berlalu. Enam bulan hanya waktu sekejap, tanamkan itu dalam hatimu. Maka semuanya akan terasa lebih cepat berlalu," ujar Bunda Gisya menasehati.
Indira mengangguk patuh, "Bismillah ya, Bun! Semoga semuanya dilancarkan sama Allah, hanya satu keinginan Adek, melihat Mas Dirga kembali dengan selamat," lirih Indira.
Pukul 8 pagi, semuanya sudah berkumpul di lapangan Batalyon. Semua istri perwira dan prajurit pergi mengantarkan suami mereka bersama keluarga nya. Termasuk Kania, sahabatku.
Dia tak ingin menyesal di kemudian hari, "Aku menerima lamaran Mas Bian, kembali lah dengan selamat dan lamar aku dengan benar!"
Kebahagiaan dan kesedihan bersatu sekaligus, Indira selalu melihat bagaimana beratnya seorang abdi negara yang harus meninggalkan keluarganya. Dan kali ini dia merasakannya, "Kamu harus jaga kesehatan, yank! Mas usahakan untuk mengabari kamu selalu, tersenyumlah! Supaya Mas lebih bersemangat lagi," Dirga mengecup pucuk kepala sang istri.
Indira tersenyum, walaupun hatinya menangis. Truk-truk yang akan membawa pasukan sudah tiba, jantung Indira memompa 2x lebih cepat. "Mas harus pergi sekarang sayang! Mas janji akan kembali dengan selamat, jaga diri kamu baik-baik!"
Dirga kemudian berlutut, dia menciumi perut Indira. "Semoga ketika Papa pulang, kamu sudah ada di dalam rahim Mama mu!"
Indira segera memeluk sang suami dengan erat, "Dirga titip istri ya, Bun! Do'akan Dirga agar semuanya di lancarkan oleh Allah. Do'a Bunda, Mama dan istri akan menjadi pengiring setiap langkah Dirga!"
Bunda Gisya pun turut memeluk sang menantu, "Kembalilah dengan selamat! Do'a kami akan selalu menyertai mu di manapun kamu berada," ucap Bunda Gisya.
Begitu pun Ayah Fahri, "Ingat selalu pesan Ayah! Fokus! Istrimu aman disini."
Dirga segera masuk ke dalam Truk, diikuti para perwira yang lain. Isak tangis menggema di Lapangan Batalyon, anak-anak menangis ketika melihat Ayah nya pergi. Seorang Ibu dan seorang istri pagi itu melepaskan kepergian sang abdi negara untuk bertugas.
"Hati-hati dijalan, perwiraku... Aku akan selalu menanti kepulanganmu, Mas!" batin Indira.
"Tak ada selamat tinggal, istriku. Tapi sampai jumpa lagi, aku pergi takkan lama. Hanya sekejap saja, aku akan kembali lagi.. Tetaplah menantiku!" batin Dirga.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1