
Jangan lewatkan cerita!
Gak semua ceritanya sama dengan cerita season 2 ya 🤗✌
* * *
Jenazah Oma Syifa sudah disemayamkan dirumah Indira, hatinya sangat pedih. Indira menatap sang Bunda yang kini menangis disamping jenazah Oma Syifa. Melihat Sweta merengek dipelukan Kak Elmira, membuat Indira berinisiatif untuk memangku Sweta. Sayangnya dia kalah cepat dengan Dirga yang duduk tepat dibelakang Kak Elmira.
"Anak manis, jangan nangis ya! Liat, Eyang Uti lagi bobo. Kalo Sweta nangis, nanti Eyang Uti sedih. Sweta gak mau kan Eyang Uti nangis?" tanya Dirga mengelus pipi Sweta.
"No! Yangti nda boyeh angis, tata anji ga angis," Sweta memberikan jari kelingkingnya pada Dirga sebagai tanda janjinya.
"Anak pinter! Sekarang buka tangannya, kita harus berdo'a sama Allah. Biar Eyang Uti selalu bahagia, Sweta mau kan selalu do'ain Eyang Uti?" Dirga tersenyum ketika melihat gadis kecil itu mengangguk bahagia.
Interaksi Dirga dan Sweta membuat hati Indira meringis, ingatan jika Dirga sudah menikah kembali menghantui pikiran Indira. Tak sengaja airmatanya lolos kembali begitu saja.
"Sstt, jangan nangis lagi ya, sayang! Oma udah bahagia disana," Athaya terus mengusap lembut kepala Indira.
"Aku mau ke kamar dulu, aku butuh waktu sendiri," Indira beranjak dan berjalan menuju kamarnya. Athaya beranjak, dan mendudukkan dirinya disamping Alan.
Dikamarnya, Indira menangis tersedu-sedu. Dia masih mengingat dengan jelas ucapan Oma Syifa yang tak sengaja didengarnya.
"Kalo begitu, lepaskan Dira dari Athaya! Dia tersiksa dengan batinnya, Bang! Anggaplah ini permintaan terakhir Bunda!"
Kata-kata itu terus terngiang dikepalanya, Indira mengeluarkan cincin dan kalung yang menggantung dilehernya.
"Mas, apakah kita masih bisa bersatu? Mengingatmu sudah menjalin hubungan pernikahan dengan oranglain membuat hatiku hancur, Mas! Kenapa kamu selalu berada disamping aku? Bagaimana aku akan melepaskanmu, Mas!" Indira menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya.
Tok tok tok
"Ra! Ini aku Rere, boleh aku masuk?" tanya Theresia dibalik pintu.
"Iya, masuk aja!" titah Indira.
Theresia dan Indira satu SMA, hanya saja dia tak sedekat itu dengan Theresia. Tidak seperti dengan Fika dan Carel, dia akan mencurahkan semua isi hatinya hanya pada Fika dan Carel.
"Are you okay?" Theresia menggenggam erat kedua tangan Indira.
"I'm okay, Re! Kenapa?" Indira malah balik bertanya pada Theresia.
"Aku cuman khawatir aja, ada Dirga sama Athaya disini. Aku takut kamu ngerasa gak nyaman aja. Kalo ada apa-apa, cerita sama aku ya, Ra! Bukankah aku juga akan jadi bagian keluarga kamu?" dengan cepat Indira berhambur memeluk Theresia, dia memang membutuhkan sandaran saat ini.
"Makasih, Re! Oh ya, apa kamu liat Fika?" lirih Indira.
"Mmm, enggak Ra. Mungkin dia di Sukabumi kan sekarang," Theresia tersenyum kaku.
Sudah waktunya Indira mengantarkan sang Oma ketempat peristirahatan terakhirnya.
"Udah jangan nangis lagi ya, sayang! I'm here for you," Athaya memapah tubuh Indira.
"Jangan gini, Athaya! Kamu itu seorang, Gus. Aku gak mau mendengat ucapan yang enggak-enggak, lagian aku disini sama Rere," Indira melepaskan rengkuhannya.
"Lalu kemarin apa pantas kamu memeluk laki-laki itu?" Athaya mulai emosi.
"Please, aku gak ada tenaga buat debat sama kamu!" Indira hanya bisa membiarkan Athaya yang enggan berjauhan dengannya.
Hati Indira tersentuh, ketika melihat Dirga turun langsung membantu proses pemakaman Oma Syifa. Bahkan dia tidak memperdulikan pakaiannya yang sudah kotor terkena tanah kuburan. Dia menoleh pada Athaya yang kini mengusap kepala Indira dengan lembut.
"Bahkan dia hanya berdiri disampingku, tanpa mau ikut berbaur bersama Kakak dan Ayahku," batin Indira.
Selesai pemakaman, Indira dan Elmira kini tengah menyambut para kerabat yang mengucapkan bela sungkawa. Melihat Dirga yang belum berganti baju, dia hanya membilas bajunya sampai basah. Indira beranjak dari duduknya, dia meminjam baju Mirda pada Elmira.
__ADS_1
"Kak, aku boleh pinjam satu stel baju Bang Mirda gak? Kasian Mas Yoga belum ganti baju, takutnya badannya nanti gatel-gatel," Elmira mengangguk lalu pergi ke kamarnya.
"Ini baju Bang Mirda masih baru, cuman kekecilan di Bang Mirda. Kayaknya kalo di Om Dirga cukup," sambil tersenyum dia memberikan baju itu pada sang adik.
Indira berjalan menghampiri Dirga yang kini tengah bercengkrama bersama Pak Sapto, sopir Oma Syifa dari Lembang. Dia sudah menaruh baju itu di kamar tamu.
"Mas! Bersih-bersih dulu, itu dikamar tamu udah aku siapin baju. Pinjem punya Bang Mirda, ganti sekarang nanti kamu malah masuk angin kalo begitu," titah Indira.
"Terimakasih, Syafa!" Dirga sungguh sangat bahagia dengan perhatian Indira.
"Jangan lupa hubungi istrimu, Mas! Takutnya dia khawatir," Indira berucap dengan wajah datar dan terkesan ketus, dia lalu berbalik.
"Aku belum menikah!" dengan sungguh-sungguh Dirga berucap.
Deg!
Mendengar hal itu, Indira membalikkan tubuhnya. Baru saja Indira akan bertanya, Athaya tiba-tiba datang dan menyeret Indira untuk mengikutinya.
"Lepas, Athaya! Sakit!" Indira menghempaskan lengan Athaya.
"Kenapa kamu perhatian sama dia, Ra?! Ada aku disini, apa kamu gak bisa menghargai aku sebagai calon suami kamu?!" sungguh emosi Athaya mulai tersulut.
"Aku cuman kasih dia baju ganti punya Bang Mirda! Dia yang udah anterin aku jauh-jauh kesini, disaat kamu menghilang, saat aku butuh!" Kesal Indira.
"Aku minta maaf, Dira! Aku tau, aku salah! Tapi......."
"Cukup Athaya! Aku masih dalam masa berkabung! Simpan semua kekesalanmu, dan luapkan padaku nanti," Indira pergi dengan penuh amarah. Athaya langsung berpamitan, dia tak ingin terlihat buruk dimata keluarga Indira.
Melihat sang Paman yang datang jauh-jauh dari Palembang, Indira memeluknya dengan erat. Begitupun Ayah Fahri yang memeluk erat sang adik, kini mereka sudah sama-sama yatim piatu. Indira menitikkan airmatanya melihat itu.
"Aku turut berduka cita ya, Bang! Bunda orang baik dan soleha, InshaAllah jadi ahli Surga. Teh Caca, yang kuat ya!" Fabian memeluk sang Kakak ipar.
"Ck! Udah pelukannya," kesal Ayah Fahri melepaskan pelukan Fabian.
"Itu bukannya Dirga ya? Dia kan prajurit yang hampir tewas di Lebanon, Bang! Kisah cinta dia sampe ramai dijagat Militer, karena operasi jantungnya dua kali dia sampe merelakan pacarnya diikat orang! Kalo gak salah, dia juga anaknya Agung Dirgantara, Bang! Pasti Abang tau kan?" sungguh ucapan Pamannya itu menohok hati Indira.
"Iya Abang tau, dia tadi membantu proses pemakaman. Dia memang anak yang baik, setia pada negara! Meskipun harus kehilangan cintanya," Ayah Fahri menatap Indira dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Deg deg deg!
Jantung Indira berdegup sangat kencang, tubuhnya mendadak lemas bagaikan tak bertulang. Untung saja Theresia ada disampingnya.
"Re, bisa minta tolong anterin aku ke kamar," lirih Indira menahan airmatanya.
"Ayok, Ra! Aku temenin kamu ya!" Theresia memapah tubuh Indira yang tampak lemah.
Brukkk!
Tubuh Indira ambruk, dan orang pertama yang panik adalah Dirga. Melihat sang pujaan hati tak sadaekan diri, dia berlari menghampirinya.
"Syafaa...! Bangun syafa," Dirga menepuk pipi Indira.
"Tolong bawa Dira kekamarnya," pinta Bunda Gisya yang kini ikut menangis.
"Iya Bunda!" dengan segera Dirga menggendong tubuh Indira dan dibawa menuju kamar gadis itu.
Dirga membaringkan tubuh Indira diranjang, dia menatap lekat wajah gadis yang mengisi relung hatinya. Tak lama kemudian, datanglah Afifah yang memeriksa kondisi Indira.
"Jangan khawatir, Bun! Dia cuman kecapean aja," ucap Afifah menenangkan sang Bunda.
"Yaa Allah, Nak. Kuat ya, anak Bunda!" Bunda Gisya mengelus lembut kepala putrinya itu.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dirga berpamitan untuk kembali ke Sukabumi. Sebab besok dia harus mengikuti apel pagi, meskipun Ayah Fahri dan Bang Mirda sudah mencoba mencegahnya.
"Besok saja pulangnya, nanti Ayah telepon atasan kamu," cegah Ayah Fahri yang khawatir, pasalnya perjalanan kesana cukup memakan waktu.
"Iya Ayah bener, kalo perlu Abang juga telpon kesana!" Bang Mirda pun menahannya.
"Betul itu, Ga! Jarak dari sini kesana aja bisa nyampe 5 jam lho, kamu bisa tengah malem sampe sana," Husain ikut menimpali.
Dirga tersenyum kearah mereka semua, dan menggelengkan kepalanya.
"Saya punya tanggung jawab, Bang! Saya Komandan Kompi, gak bisa seenaknya. InshaAllah saya akan berhati-hati," Dirga mencium tangan Ayah Fahri.
Setelah itu, Dirga menghampiri Bunda Gisya dan mencium tangannya.
"Bunda, jangan sedih ya! InshaAllah, Oma sudah berada disisi Allah ditempat terbaik. Saya pamit, minta do'anya supaya saya selamat sampai Sukabumi," pamit Dirga.
"Gak ketemu Dira dulu?" Bunda Gisya mengelus pipi Dirga.
"Lain kali aja, Bunda! Aku pamit, Assalamualaikum," senyuman Dirga membuat airmata kembali lolos membasahi pipinya.
"Walaikumsalam," ucap mereka serempak.
"Ga! Tunggu! Biar Kang Bimbim antar, dia sopir hotel Aa! Jangan nolak, kamu gak bisa bikin kami semua khawatir disini," Alan menahan Dirga.
"Baiklah, makasih ya A!" Dirga memeluk Alan.
"Hati-hati dijalan, ada hati yang mengkhawatirkanmu disini," bisik Alan sambil menunjuk kamar Indira dengan ujung matanya.
Sebelum pergi, Dirga menatap kearah kamar Indira.
"Cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudra, bahkan langit. Namun tidak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Jika tahun kemarin aku hanya bisa menyebutmu dalam do'a, semoga tahun ini bisa menyebut namamu dalam ijab kabul, Indira Myesha Kirania Syafa," batin Dirga menatap jendela kamar Indira.
Sedangkan didalam kamar, Indira yang sudah sadar mulai menangis terisak.
"Dimana Mas Yoga, Re?" lirih Indira sambil mengusap kasar airmatanya.
"Dia udah pamitan, Ra! Kamu mau ketemu dia? Biar aku panggilkan!" Theresia beranjak, namun tangan Indira menahannya.
"Jangan! Aku belum siap ketemu dia," isak Indira yang terus mengingat ucapan sang paman.
Ting!
📩 Pencuri Hati
Suruh Dira ke jendela, pangerannya mau balik! Besok musti apel pagi katanya, bilangin kata si pangeran jangan sedih. Besok dia ambil cuti buat balik bandung!
Itulah pesan yang tertera diponsel Theresia, pesan yang baru saja masuk dari Alan. Theresia menarik tangan Indira menuju jendela.
"Lihat! Dia udah mau pulang, katanya besok ada apel pagi. Besok juga dia bakalan cuti, buat nemenin kamu disini," ucap Theresia membuat Indira sedikit menyunggingkan senyumannya.
"Aku harus temuin Fika sama Kak Panji! Mereka pasti tau semuanya," batin Indira.
Melihat Dirga menoleh, secepat kilat Indira menutup tirai kamarnya.
"Aku menunggumu, dan masih mengharapkanmu memperjuangkanku," batin Indira.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤