Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 49. Ngidam?


__ADS_3

Kehamilan adalah hal yang paling ditunggu-tunggu dalam sebuah pernikahan, Indira sangat beruntung dirinya diberi rezeki berupa kehamilan diawal kehidupan rumah tangganya.


Bunda Gisya semakin menjadi protektif terhadap putrinya itu, hingga saat ini Indira belum memberitahukan kabar ini terhadap suaminya. Sebab Dirga tak bisa dihubungi, Bunda Gisya selalu bilang mungkin suaminya itu tengah bertugas ditengah hutan belantara.


"Sabar ya, sayang! Kita do'akan Dirga akan baik-baik aja, jangan stress! Nanti cucu Bunda ikut stress," ucap Bunda Gisya mencoba menenangkan Indira.


Indira tersenyum lalu memeluk sang Bunda, "Makasih ya, Bun! Selalu ada disaat Adek seperti ini. Panjang usia ya, Bunda. Supaya Adek bisa bahagiain Bunda," lirih Indira.


Bunda Gisya mengangguk, dia mencium pucuk kepala putri bungsu nya itu.


"Bun....." panggil Indira.


"Kenapa sayang?" tanya Bunda Gisya.


"Dira mau rujak, tapi.........." Indira menggantungkan ucapannya, dia lalu menatap manik mata Bunda nya dengan berkaca-kaca.


"Tapi apa sayang? Bilang aja, sebisa mungkin Bunda bakalan penuhi," dengan penuh kelembutan Bunda Gisya mengusap kepala Indira, dia mengerti pasti putrinya itu tengah mengidam sesuatu.


"Tapi mangga nya mau dari pohon yang dibelakang kantor Mas Dirga, samping mesjid Batalyon," ucap Indira dengan suara pelan.


Bunda Gisya mengangguk, "Nanti Bunda minta tolong Om Waluyo atau Om Panca buat ambilin ya, tunggu sebentar disini!"


Tak lama kemudian, Panca dan Waluyo segera datang ke Rumah Dinas komandan nya itu. "Assalamu'alaikum!" ucap mereka serempak.


"Walaikumsalam!" jawab Bunda Gisya, dia lalu menghampiri kedua ajudan menantunya itu. "Begini Om Panca, Om Luyo......"


Ucapan Bunda Gisya terhenti, sebab Waluyo berdemo. "Nyuwun pangapunten, Buk! Panggil saya Waluyo saja toh, Buk. Kalo panggil Luyo, iku kesan ne saya iku seperti di panggil Loyo dan ndak ada semangat hidup gitu Buk!"


Bunda Gisya menahan tawa nya, "Nggih Om, maaf ya!"


Panca mencebik kesal, "Jadi gimana Buk? Ada yang bisa kami bantu?"


"Tolong petikkan mangga yang ada di samping mesjid Batalyon, belakang kantor mantu Ibu. Sepertinya Bu Danki kalian ngidam!" ucap Bunda Gisya membuat kedua laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Siap Bu!" jawab keduanya dengan tegas.


Waluyo dan Panca menatap pohon mangga yang ada dihadapan mereka ini. Cukup tinggi, sampai tangga pun hanya mencapai ranting kokoh pertama.


"Piye iki? Naik kamu pot!" titah Waluyo.


Panca mendelik, "Kamu yang naik! Masa saya?! Atau saya laporkan sama Ibu, kalo kamu ndak mau ambilkan mangga nya!"


"Ckckck! Yo wes, pegang tangga ne baik-baik, yang bener! Sopo yang tanem saham, sopo yang repot! Hadeuhhhhh... Dan.. Dan.. Mbuhlah, wes baleeek!" gerutu Waluyo.


Rupanya dia cukup cekatan, dia memetik hampir seluruh buah yang ada di pohon itu. Tentu saja sebelumnya dia meminta izin, saat Waluyo tengah asyik memetik buah mangga. Dihadapannya sudah nampak seekor ular, hal itu membuat Waluyo tersentak kaget dan......


BRUUKKKKKK!!


"Ulaaarrrrrrr......!!!" Waluyo berjingkrak kaget hingga terjatuh dari pohon dan menimpa matras yang disiapkan oleh Panca.


Mereka takut terjatuh, hingga akhirnya memutuskan untuk memasang matras yang mengelilingi pohon mangga itu.

__ADS_1


"Adduuuhhh... Pinggangku!" keluh Waluyo.


Ingin rasanya Panca tertawa, tapi dia tak tega melihat Waluyo yang memegangi pinggangnya itu. "Wes jangan ngeluh! Kita segera berikan mangga ini pada Bu Danki, anaknya ngeces baru tau rasa! Danki pasti ambekan," ucap Panca.


Indira menatap mangga dalam keranjang besar itu dengan mata yang berkaca-kaca, "Makasih ya Om Waluyo, Om Panca!"


Melihat istri sang komandan senang, perasaan keduanya sedikit menghangat. Terlebih lagi mereka tau, pasti rasanya tak nyaman jika sedang mengandung dan dalam kondisi berjauhan.


"Mmm... Om Panca, Om Waluyo! Temani saya makan rujak ya!"


Duaaarrrrr!


Panca dan Waluyo menelan ludahnya dengan kasar, dia bisa melihat daging mangga yang masih berwarna putih itu dan juga bumbu rujak yang pastinya sangat pedas. Tak kuasa menolak, pada akhirnya mereka memilih menganggukkan kepalanya.


"Haaaasyeeeemmmm!!!" Keluh Waluyo sambil memeletkan lidah dan matanya mengerling.


Ekspresi wajah Waluyo membuat Indira terkikik geli, "Maaf ya Om Waluyo, kalo aja Mas Dirga ada disini....." mata Indira mulai berkaca-kaca.


Waluyo panik, "Enak Buk! Seyegeeerrrr!!" ucapnya sambil menahan rasa masam.


Sedangkan jauh di Ambon sana, kondisi Dirga pun semakin menurun. Mual dan muntah selalu dia rasakan, padahal dari hasil pemeriksaan semua kondisi tubuhnya baik-baik saja.


"Hoeeekkk... Hoeeeekkkk...."


Suara itu sudah menjadi sebuah simfoni di telinga Bian, hampir setiap pagi dia akan mendengar itu. Tentu saja sambil memijat tengkuk komandannya itu.


"Diminum dulu teh manis nya, Dan!" titah Bian sambil memberikan segelas teh manis hangat itu.


Dirga meminum itu hingga tandas, tenaga nya benar-benar terkuras. "Pot, sepertinya di dekat pemukiman sana ada pohon kedondong! Pasti rasanya enak, petikin ya Pot!"


"Haaaaahhhhhh??" Bian membulatkan matanya.


"Gak mau?! Kalo gituuu......." ucapan Dirga menggantung, sebab Bian menyelanya.


"Akan saya petikan bersama Boni, Bang!"


Mau tidak mau Bian mengikuti semua keinginan Komandan nya itu, diatas motor dia menggerutu sang atasan. "Heran! Udah muntah muluk, minta aneh-aneh juga! Kedondong kan asem, kalo asam lambung nya naik kan aku juga yang repot! Asem emang, aseeemmmm!" kesal Bian.


Boni tertawa renyah, "Mungkin ngidam kali, Bang! Komandan udah nikah kan? Dulu Kakak saya begitu, istrinya yang bunting tapi dia yang repot!"


"Ha-hamil?? Bener juga ya, Bon! Sek coba nanti aku tanyaken sama si Waluyo!" ucap Bian.


Keduanya memetik kedondong secukupnya, setelah meminta izin dari pemilik tanah. Saat mereka akan bersiap, seekor anjing menggonggong membuat keduanya berlari sekencang mungkin.


"Anjiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnggggggg.........!!!" teriak Bian dan Boni bersamaan.


Guukkk.. Gukkk... Guuuukkk....


Anjing itu berlari mengejar keduanya, mereka mengelilingi tanah lapangan itu. Hingga sebuah suara memanggil anjing itu. "Biboooooooooo....!!"


"Huh.. Huh.. Huh.. Anjing sialan! Tenaga ku habis!" geram Bian dengan nafas yang ngos-ngosan.

__ADS_1


"Bener, anjing emang itu anjing! Huh.. Huh.. Huh..." keduanya bergegas pergi dari sana membawa sekeresek kendondong, tak lupa mereka mengucapkan terimakasih.


Bian dan Bobi mendatangi komandan mereka yang tengah berjongkok, sepertinya Komandan mereka itu habis muntah kembali.


"Dan! Ini kedondong nya!" Bian menyodorkan satu keresek kedondong.


Mata Dirga berbinar, mata nya bahkan sampai berkaca-kaca. "Makasih, pot!! Kupasin ya," rengek Dirga membuat Bian dan Bobi bergidik ngeri.


Keduanya mengangguk, sambil mengupas kedondong mereka saling berbisik. "Ngeri aku liat Komandan! Matanya kek mata kucing yang mohon-mohon dikasih ikan," bisik Bobi.


"Sama! Ngeri, masa komandan galak plus dingin kaya kulkas 18 pintu begitu ngerengek! Fix ini mah, kayaknya Ibu negara bunting!" bisik Bian.


"Siapa yang sinting?" ucap Dirga tepat di belakang keduanya.


"Astahgfirullohaladzim...! Jantung koeeee...!!" pekik Bian memegangi dada nya.


"Naudzubillah Dan! Persis bisikan setan!" kesal Bobi sambil menyerahkan sepiring kedondong yang sudah dikupasnya.


Dirga menaikan satu alisnya, "Mmmm... Enak, rasanya manis! Kalian cobain!"


Mata Bian dan Bobi membulat sempurna, manis katanya? Sebelum dipinta, mereka sudah nyomot duluan dan rasanya asam.


Sepiring kedondong sudah tandas, wajah Dirga kembali terlihat sehat. Bian mengamati hal itu, padahal sebelumnya wajahnya sangat pucat pasi. "Sepertinya memang Ibu Negara tengah mengandung bibit-bibit komandan! Nanti aku harus cari tau!"


Sayangnya, ponsel mereka tak mereka bawa di Barak. Sedangkan mereka kini tengah berjaga di sekitar pegunungan.


Malam pun tiba, kedua insan yang tengah terpisahkan oleh jarak itu menatap langit malam ini. Kerinduan menyeruak di dada kedua insan manusia ini.


"Mas aku rindu kamu, dedek udah tumbuh dalam rahimku, Mas! Cepatlah pulang!" batin Indira.


Seperti telepati, Dirga merasa jika dia mendengar suara sang istri. "Mas juga kangen kamu, sayang! Mas rindu.. Sangat rindu...!" gumam Dirga.


Kruyuuukk


Bunyi perut Dirga bergema, "Pot! Banguuunnn....!"


Dirga membangunkan Bian dan Bobi yang kini tidur bersamanya dalam tenda yang sama. "Ada apa Dan? Saya ngantuk!" ucap Bobi sambil mengucek matanya.


Sedangkan Bian menggeliat, "Wes malem! Tidor!" titahnya.


"Buatkan saya nasi goreng pete! Saya lapar!" titah Dirga membuat rasa kantuk keduanya menghilang.


"Apaaaa?!!!" pekik mereka bersamaan.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2