Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 57. Gemma Giacinta Indirga


__ADS_3

Perjalanan hidup setiap manusia pasti berbeda-beda, ada yang diuji melalui hubungan pernikahan, ada yang diuji melalui anak. Dan saat ini, Indira dan juga Dirga tengah mendapat ujian berupa kelahiran anak mereka yang prematur.


Sudah seminggu Indira di rawat, kini dirinya diperbolehkan untuk pulang. Tapi tak ada raut bahagia dalam diri Indira, bagaimana bisa dia bahagia jika kepulangan dirinya tanpa sang anak. Berat badan dan kondisi putri kecilnya belum memungkinkan untuk dibawa pulang.


"Sayang, kita pulang yuk! Besok kita tengokin lagi dedek disini, Bunda harus istirahat yang cukup biar bisa meng-ASIhi adek. Kalo Bunda stress, kasian dedek nanti ikut sedih," bujuk Dirga pada sang istri.


Indira semakin terisak, "Gimana Bunda bisa pulang tanpa permata hati kita? Kasian dia sendirian disini, Ayah!"


Huft...


Tidak mudah bagi Dirga untuk menaklukan hati sang istri saat tengah merajuk seperti sekarang ini. Dia juga tidak ingin meninggalkan putri kecilnya, tapi dia harus memperhatikan kesehatan istrinya. Karena tidak mungkin jika mereka terus-terusan di rawat di Rumah Sakit, bukan soal biaya tapi soal kesehatan istrinya itu.


"Dek, kita pulang ya. Ayah janji, setiap hari Ayah dan Bunda temenin kamu kesini buat nemuin cucu Ayah. Harus ingat dong kata dokter! Supaya cucu Ayah cepet pulang, Ibunya harus semangat, istirahat yang cukup dan yang pasti gak boleh stress. Kalo kamu nya kaya gini, kasian dong cucu Ayah!" bujuk Ayah Fahri pada putri bungsunya itu.


Setelah drama tangisan Indira, akhirnya mereka pulang menuju kediaman Bunda Gisya. Kebetulan, jatah cuti Dirga berakhir dua hari lagi. Artinya dia harus kembali bertugas di Sukabumi. Dirga terus memikirkan hal itu, sebab dirinya tak mau jauh dari istri dan juga anaknya.


"Jangan ngelamun! Anak sama istri kamu aman dirumah Ayah sama Bunda. Kamu harus balik tugas dan menjalankan kewajiban kamu," tegur Ayah Fahri seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran menantunya itu.


Sepanjang jalan, Indira tertidur lelap dalam pelukan sang suami. Sedangkan Dirga masih larut dalam pikirannya sendiri. Kini mobil sudah memasuki gerbang rumah Bunda Gisya dan Ayah Fahri. Tak aneh lagi jika rumah kini ramai, semua keluarga kini tengah menyambut kedatangan Indira.


Mata Indira berkaca-kaca, dia menangis terharu dengan sambutan keluarga besarnya. Ditambah sang anak belum diperbolehkan pulang, hal itu semakin membuat Indira menangis terisak.


"Eh, eh, eh! Kok malah nangis sih bunatu, kan Baba kasih suprise ini!" celetuk Baba Jafran.


"Dira nangis bahagia kok, Baba! Makasih ya, maaf dedek bayi belum bisa pulang. Do'ain ya, semoga dedek bayi bisa secepatnya pulang," lirih Indira.


Elmira menghampiri sang adik dan memeluknya dengan erat, "Insya Allah, ponakan Kakak pasti bakalan cepet pulih. Dia anak yang kuat, soalnya Ayah sama Bundanya juga orang-orang kuat dan hebat."


Mereka semua sangat mensupport Indira agar terus bersemangat dalam menjalani hidupnya. Kehadiran keluarga memang sangat diperlukan, biasanya pasca melahirkan sang ibu sangat rentan mengalami Syndrome Baby Blues.


Syndrome Baby Blues adalah perubahan suasana hati setelah kelahiran yang bisa membuat ibu merasa terharu, cemas hingga mudah tersinggung. Kondisi ini dapat membuat ibu jadi tidak sabaran, mudah marah, khawatir dengan masalah menyusui, hingga khawatir dengan kesehatan sang bayi. Bahkan tak jarang, sang ibu baru merasa lelah tapi sulit tidur dan terus menangis tanpa alasan yang jelas.


Beruntungnya Indira, semua orang sangat memperhatikannya. Dia makan dengan baik dan istirahat dengan teratur hingga ASI nya melimpah, ditambah lagi makanan yang sehat yang membuatnya dapat menghasilkan ASI yang berlimpah untuk mencukupi kebutuhan sang bayi.


"Masya Allah, Ayah...."

__ADS_1


Begitu membuka kamar, Indira tertegun dengan dekorasi indah itu. 'GEMMA GIACINTA INDIRGA' itulah nama yang disiapkan oleh Dirga.


Dia memeluk sang istri dari belakang, "Gemma artinya perhiasan, permata. Giacinta artinya cantik. Indirga adalah persatuan nama kita berdua. Jadi Gemma Giacinta Indirga adalah Perhiasan permata yang cantik milik Indira dan Dirga."


"Namanya indah dan cantik, terimakasih Ayah. Semoga kita bisa segera memeluk Gemma, Bunda rindu!" lirih Indira.


"Insya Allah sayang, besok kita ke Rumah Sakit buat nengok Gemma ya! Ayah juga harus pamit sebelum pulang ke Sukabumi. Bunda gak apa-apa kan Ayah tinggal sebentar?" tanya Dirga dengan hati-hati.


Indira mengusap lembut tangan suami yang melingkar diperutnya. "Gak apa-apa, Ayah! Banyak yang jagain Bunda disini. Ayah hati-hati ya!"


Baru saja Dirga akan mencium sang istri, namun...


"Ekhem! Lupa kali disini masih banyak ribuan pasang mata yang nonton!" celetuk Baba Jafran.


Dirga dan Indira tersentak kaget, bahkan Indira sudah menyembunyikan wajahnya dalam pelukan sang suami.


"Hilihhhh...! Heran deh Baba, ganggu keuwuan anak-anak muda aja! Dahlah yuk kita tinggalin kedua Ibu dan Bapak yang baru resmi ini. Tapi inget! Noh, indomie menunggu!" kali ini Alan yang berucap hingga membuat mereka menahan tawanya.


Plaaak!


"Kaga anak kaga bapak sama aja! Udah-udah keluar sana, bubar-bubaaarrrrrr....!" usir Ummi Ulil setelah menggeplak suami beserta anaknya itu.


"Haaaahhhhhhhh?" Indira dan Dirga melongo mendengar ucapan sang Ummi.


Tak ambil pusing kini keduanya beristirahat, Dirga pun kurang tidur sebab dia ingin menjadi suami yang siaga bagi istri dan anaknya. Keduanya tidur saling berpelukan.


* * *


Pagi ini, Dirga harus kembali ke Sukabumi. Tentu saja dia akan menemani sang istri terlebih dahulu untuk melihat kondisi putri tercintanya.


"Wah, Ayah dan Bunda sudah jenguk dedek!" ucap suster dengan suara anak kecil.


"Silahkan Bun, kondisi putri Bunda sudah mengalami banyak peningkatan. Berat badannya sudah naik menjadi 2kg, jika memungkinkan naik 200 gram lagi maka putri Bunda diperbolehkan pulang. Sekarang kita coba untuk menyusui langsung ya, Bun!"


Indira mengangguk dengan bahagia, dia masuk kedalam ruangan khusus menyusui. Tak lupa Dirga selalu ada disamping sang istri. Kini untuk pertama kalinya dia akan menyusui putri kecilnya itu.

__ADS_1


"Yaa ampun anak Ayah, pelan-pelan sayang!" Dirga sangat antusias saat melihat putri kecilnya itu menyedot nutrisi dari pabriknya langsung.


"Mirip Ayahnya banget," ucap Indira seraya mengelus pipi putri kecilnya itu.


"Iya dong, eh emang Ayah kalo sedot nutrisi kaya gitu ya?"


"Haaahhhh?"


Pluk!


Indira menggeplak lengan sang suami sambil menahan senyumnya. "Maksud Bunda, sekarang wajahnya mirip Ayah! Ih Ayah pikirannya traveling terus!"


Dirga menggaruk kepalanya yang tak gatal, gara-gara ucapan sang Baba dan Ummi nya makanya pikiran Dirga berkelana entah kemana.


"Jangan diabisin ya, Gemma sayang! Sisain buat Ayah!" bisik Dirga membuat Indira kembali menahan tawanya.


Rupanya sang bayi merespon, tangannya tiba-tiba saja mengarah pada mata Dirga. "Aduh! Anak Ayah gak mau bagi-bagi ya? Yaudah deh, buat Gemma semua. Tapi kontraknya dua tahun aja ya! Sisanya buat Ayah, seumur hidup!"


"Hahahahaha, Ayah.. Ayah..." Indira tak kuasa lagi menahan tawanya.


Usai memberi ASI, kini giliran Dirga menggendong sang putri. "Gemma, Ayah pulang dulu ke Sukabumi ya. Ayah siapin dulu kamar dan keperluan Gemma disana. Jadi anak soleha ya sayang, besok Bunda tengokin Gemma sama Opa dan Oma. Pokoknya nanti Ayah usahakan jemput kalo Gemma udah boleh pulang. Jangan lama-lama ya, Nak! Ayah dan Bunda rindu, pengen bobok bareng Gemma!"


Keduanya keluar dari ruang bayi dengan wajah yang ceria, Indira memeluk tubuh sang suami. Meskipun berat, keduanya harus menjalani semua dengan ikhlas.


"Hati-hati dijalan ya, sayang! Kabari kalo udah sampe!"


Dirga mengecup pucuk kepala sang istri, "Pasti dong, Bunda! Nanti Ayah kabari, ya. Insya Allah Ayah juga mau bebenah rumah, sebelum Gemma sama Bunda pulang ke Sukabumi, Ayah bakalan pastikan kenyamanan kalian."


* * * * *


Rindu sayang kalian, Reader 🥰😘


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2