Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Kabar Bahagia


__ADS_3

Cinta Ibu itu menenangkan, karena disetiap keluhan kita ia


hadir meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Sebagai seorang Ibu, Indira


pun tak ingin melewatkan setiap moment pertumbuhan sang anak. Rasa dilemanya


tak bisa ia simpan sendiri, hanya pada Bunda Gisya lah dia bisa meluapkan


segalanya.


“Adek harus gimana, Bun?” lirih Indira saat ia menelepon


sang Bunda.


Diujung telepon sana, Bunda Gisya tersenyum. Meskipun telah


menyerahkan semua keputusan pada anak dan menantunya, tapi tetap saja mereka


meminta pendapat dari kedua orangtua.


“Dek, Bunda gak akan pernah memaksa kamu kalo memang kamu


enggan meneruskan kuliah kamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, bahwa kelak


kamu yang akan menjadi madrasah pertama bagi Gemma. Setiap keputusan akan ada resikonya,


bicaralah dengan suamimu. Karena ini adalah keputusan paling penting dalam


hidup kalian. Saat ini ridho mu sudah ada ditangan suamimu. Alangkah lebih


baik, kalo Adek bicara dari hati ke hati sama Dirga. Bunda yakin, menantu Bunda


yang satu itu akan memutuskan yang terbaik untuk keluarganya.”


Indira menganggukkan kepalanya, walaupun sang Bunda tak bisa


melihatnya.


“Yaudah deh, Bun. Nanti Adek bicara sama Mas Dirga, semoga


saja keputusan kami nanti itu yang terbaik buat semuanya,” lirih Indira seraya


menghela nafas panjangnya.


“Ingat sayang, do’a Bunda dan Ayah selalu menyertai kalian. Jangan


lupa, mohon petunjuk pada yang Maha Kuasa. Bunda yakin, kalian pasti bisa


melewati semuanya,” sebagai seorang Ibu, Bunda Gisya selalu memberikan kalimat


penyemangat pada setiap anaknya.


Setelah telepon di tutup, Indira menatap Gemma yang tengah


tertidur pulas.


“Apapun keputusan Bunda nantinya, Bunda gak akan pernah mau


melewatkan tumbuh kembangmu, Nak. Bunda akan memberikan segala yang terbaik


buat Gemma,” lirih Indira sambil mengelus lembut kepala putrinya itu.


Ceklek!


Dirga membuka pintu kamar, senyuman merekah di wajahnya. Pemandangan


yang paling indah bagi Dirga adalah ketika melihat istri dan anaknya.


“Ayah udah selesai apel pagi? Mau makan sekarang?” tanya


Indira sambil mencium tangan suaminya itu.


“Makan Bunda aja boleh?” goda Dirga sambil menaik turunkan


alisnya.


“Hush! Ada Gemma! Ayah mau Gemma punya adik lagi?” Indira


terkekeh saat mengatakan hal itu.


Dirga tertawa pelan lalu memeluk istrinya itu, “Jangan dulu


lah sayang. Ayah mau kasih semua perhatian dan curahan kasih sayang Ayah buat


Gemma sampai dia merasa jika kasih sayang kita gak akan pernah kurang, walaupun


nantinya dia punya adik.”


“Ah! Udah yuk makan, kok bahasannya udah ke adik Gemma aja!”


kekeh Indira lalu mengajak suaminya untuk makanan.


Tak ada hidangan mewah, hanya hidangan sederhana yang Indira


buat. Orek tempe, balado kentang dan sambal beserta timun yang di panen saat


giat Persit di Batalyonnya. Namun semua masakan Indira menjadi menu favorit


bagi Dirga.


Usai makan, Indira membuatkan kopi untuk suaminya itu. Keduanya


berbincang hangat di ruang depan. Pintu kamar sengaja Indira buka, agar dia


bisa tetap memperhatikan Gemma.

__ADS_1


“Ayah, menurut Ayah apa Bunda boleh gak nerusin kuliah lagi?”


tanya Indira dengan hati-hati.


Dirga tersenyum dan meminta istrinya untuk semakin mendekat.


“Apa yang membuat Bunda enggan buat meneruskan kuliah? Gak sayang, dengan ilmu


yang udah Bunda dapet?”


“Enggak, bagi Bunda sekarang Ayah dan Gemma adalah


prioritas. Bunda bisa belajar darimana saja, gak harus di kampus dan kuliah. Bunda


sama sekali gak menyesal, Bunda gak mau sedikitpun kehilangan moment


pertumbuhan Gemma yang gak akan pernah bisa kita ulangi. Jadi apa Ayah


meridhoi?” lirih Indira.


Mendengar pertanyaan sang istri, Dirga lantas membawa


istrinya itu kedalam pelukannya.


“Ayah ridho, apapun keputusan Bunda. Terimakasih karena


sudah memprioritaskan Ayah sama Gemma. Insya Allah, Ayah yakin Bunda bisa


mendidik anak-anak kita dengan baik nantinya.”


Kebahagiaan istrinya adalah hal yang utama bagi Dirga, dia


tak mau memaksakan hal apapun pada Indira. Saat Dirga hendak mengecup bibir


sang istri, terdengar suara rengekan Gemma yang terbangun dari tidurnya.


“Masya Allah, anak Ayah bener-bener bikin gemes. Baru juga


Ayah mau nyicip, Gem!” Dirga bangkit dan menghampiri putri kecilnya itu.


Indira tersenyum penuh haru, dia tak akan menyesal sudah


meninggalkan pendidikannya demi anak dan suaminya. Apalagi saat melihat kasih


sayang Dirga begitu besar terhadap Gemma. Memang benar, Ayah adalah cinta


pertama anak perempuannya. Bahkan Gemma akan berhenti menangis saat Dirga yang


menggendongnya.


**


Athaya terus memeluk Aini dan menciumi perut istrinya itu. Rasa


bahagia sungguh dia rasakan, pada akhirnya buah cintanya bersama Aini tumbuh


“Sehat-sehat ya, anak Papa. Jangan rewel dan jangan nyusahin


Mama ya, sayang,” bisik Athaya diperut Aini.


Perempuan itu terkekeh sambil mengusap kepala sang suami, “Anak


kita baru dua minggu. Dia belum bisa denger kamu, Kak!”


Keduanya tertawa bersama, sungguh kebahagiaan mereka tak


terkira. Namun keduanya belum mengumbar semua itu, hanya kedua orangtua yang


baru mereka beritahu. Sebab mereka butuh masukan untuk keberangkatan keduanya


ke Turki.


“Jadi jawaban Abi sama Papa gimana, Kak?” tanya Aini pada


sang suami.


“Papa sama Abi bilang, lebih baik keberangkatan kita di


tunda dulu sayang. Sampe kondisi kandungan kamu bener-bener kuat. Ini semua kan


demi anak kita juga,” Athaya menjelaskan pada istrinya.


“Jadi kita LDR?” lirih Aini menatap Athaya dengan mata yang


berkaca-kaca.


Athaya membawa Aini kedalam pelukannya. “Mau gimana lagi,


sayang. Cuti kuliah aku udah selesai, aku harus bertanggung jawab menyelesaikan


semuanya. Aku harap kamu bisa bersabar sebentar, setelah kondisi kandungan kamu


kuat. Aku janji akan jemput kamu. Kita tinggal disana bareng-bareng ya!” bujuk


Athaya.


Aini hanya bisa menangis tanpa menjawab ucapan suaminya itu.


Dia ingin dimasa kehamilannya itu didampingi oleh Athaya, hanya saja memang


situasi yang membuat keduanya terpaksa harus menjalani hubungan jarak jauh.


“Semoga kehamilan ini membawa berkah bagi rumah tangga kita,


sayang. Gak lama kok, mungkin setelah kehamilan kamu berusia 5 bulan kita bisa

__ADS_1


tinggal di Turki. Jangan sedih ya, kalo kamun sedih nanti anak kita juga sedih.”


“Insya Allah, ini yang terbaik buat kita semua Kak. Sebelum kamu


pergi, boleh aku minta Kak Dirga sama Kak Syafa kesini?” tanya Aini menatap


penuh harap.


Athaya mengangguk, “Nanti aku telpon Kak Dirga, aku juga


kangen sama Gemma.”


Berdamai dengan masa lalu dan menjalani masa sekarang untuk


masa depan. Kini Indira hanya sebatas ipar, walaupun dalam hatinya masih ada


sedikit rasa itu.


‘Assalamu’alaikum! Kak, gue mau kasih tau kalo Aini gak akan


bisa ikut ke Turki. Dia pengen lo ke Bandung sama istri lo dan juga Gemma. Lusa


gue berangkat, jadi gue harap besok lo bisa kesini.’


Begitulah pesan yang Athaya kirimkan pada Dirga, sang


penerima pesan pun menggerutu kesal.


“Dasar adik ipar menyebalkan! Dia pikir aku bisa seenaknya


izin kaya dia, semua ada prosedurnya!” kesal Dirga seraya menggerutu.


“Kenapa sih, Ayah kok marah-marah?” heran Indira menatap


suaminya.


“Ini nih, adik ipar nyebelin. Dia bilang Aini gak bisa ikut


ke Turki, malah nyuruh kita ke Bandung besok. Kan Ayah gak bisa seenaknya izin


begitu, Bun. Apalagi kan Bunda tau, kalo besok ada kegiatan di Batalyon,” Dirga


menghela nafas beratnya.


“Udah jangan marah-marah, nanti kita video call aja mereka. Pasti


paham kok mereka!” Indira mencoba menenangkan suaminya.


Usai makan malam, Dirga dan juga Indira menelepon sang adik


melalui video call.


In Call


“Assalamu’alaikum! Gemmaaaaaaa….!!!” Teriak Aini dan juga


Athaya bersamaan hingga membuat Gemma tersentak dan menangis.


“Kalian nyebelin, ih! Anak aku jadi nangis,” ucap Indira


sambil terkekeh.


“Tau tuh! Emang dasar kalian nyebelin! Kita gak bisa ke


Bandung besok. Ada kegiatan disini yang gak bisa di tinggalin, kalian lupa kalo


Kakak ini abdi Negara?” kesal Dirga menatap kedua adiknya itu.


Athaya dan Aini terkekeh, keduanya malah saling berpelukan


dengan mesra.


“Idih! Cepet bilang ada apa? Kok Aini gak jadi ikut ke


Turki?” tanya Dirga dengan serius.


“Iya kok gak jadi, kamu gak apa-apa kan, Dek?” tanya Indira


kemudian, karena khawatir dengan kondisi adik iparnya itu.


“Aku gak apa-apa, Kak Syafa. Cuman……..” Aini menggantung


kalimatnya.


“Cumana pa? kamu bikin Kakak penasaran aja!” cibir Inidra


menatap gemas.


“Cuman, Gemma mau punya temen!”


Hening.


“Kalian gak bahagia denger kabar ini?” tanya Athaya dengan


kesal.


“Speechless! Masya Allah, selamat ya adikku sayang!”


antusias Indira, sedangkan Dirga diam dan memalingkan wajah dari kamera.


“Kak Dirga gak seneng ya?” lirih Aini saat tak melihat wajah


sang Kakak.


Indira terkekeh, “Kakak kamu sangat bahagia, sampe dia gak

__ADS_1


mau diliat kalo nangis terharu!”


__ADS_2