
Cinta Ibu itu menenangkan, karena disetiap keluhan kita ia
hadir meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Sebagai seorang Ibu, Indira
pun tak ingin melewatkan setiap moment pertumbuhan sang anak. Rasa dilemanya
tak bisa ia simpan sendiri, hanya pada Bunda Gisya lah dia bisa meluapkan
segalanya.
“Adek harus gimana, Bun?” lirih Indira saat ia menelepon
sang Bunda.
Diujung telepon sana, Bunda Gisya tersenyum. Meskipun telah
menyerahkan semua keputusan pada anak dan menantunya, tapi tetap saja mereka
meminta pendapat dari kedua orangtua.
“Dek, Bunda gak akan pernah memaksa kamu kalo memang kamu
enggan meneruskan kuliah kamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, bahwa kelak
kamu yang akan menjadi madrasah pertama bagi Gemma. Setiap keputusan akan ada resikonya,
bicaralah dengan suamimu. Karena ini adalah keputusan paling penting dalam
hidup kalian. Saat ini ridho mu sudah ada ditangan suamimu. Alangkah lebih
baik, kalo Adek bicara dari hati ke hati sama Dirga. Bunda yakin, menantu Bunda
yang satu itu akan memutuskan yang terbaik untuk keluarganya.”
Indira menganggukkan kepalanya, walaupun sang Bunda tak bisa
melihatnya.
“Yaudah deh, Bun. Nanti Adek bicara sama Mas Dirga, semoga
saja keputusan kami nanti itu yang terbaik buat semuanya,” lirih Indira seraya
menghela nafas panjangnya.
“Ingat sayang, do’a Bunda dan Ayah selalu menyertai kalian. Jangan
lupa, mohon petunjuk pada yang Maha Kuasa. Bunda yakin, kalian pasti bisa
melewati semuanya,” sebagai seorang Ibu, Bunda Gisya selalu memberikan kalimat
penyemangat pada setiap anaknya.
Setelah telepon di tutup, Indira menatap Gemma yang tengah
tertidur pulas.
“Apapun keputusan Bunda nantinya, Bunda gak akan pernah mau
melewatkan tumbuh kembangmu, Nak. Bunda akan memberikan segala yang terbaik
buat Gemma,” lirih Indira sambil mengelus lembut kepala putrinya itu.
Ceklek!
Dirga membuka pintu kamar, senyuman merekah di wajahnya. Pemandangan
yang paling indah bagi Dirga adalah ketika melihat istri dan anaknya.
“Ayah udah selesai apel pagi? Mau makan sekarang?” tanya
Indira sambil mencium tangan suaminya itu.
“Makan Bunda aja boleh?” goda Dirga sambil menaik turunkan
alisnya.
“Hush! Ada Gemma! Ayah mau Gemma punya adik lagi?” Indira
terkekeh saat mengatakan hal itu.
Dirga tertawa pelan lalu memeluk istrinya itu, “Jangan dulu
lah sayang. Ayah mau kasih semua perhatian dan curahan kasih sayang Ayah buat
Gemma sampai dia merasa jika kasih sayang kita gak akan pernah kurang, walaupun
nantinya dia punya adik.”
“Ah! Udah yuk makan, kok bahasannya udah ke adik Gemma aja!”
kekeh Indira lalu mengajak suaminya untuk makanan.
Tak ada hidangan mewah, hanya hidangan sederhana yang Indira
buat. Orek tempe, balado kentang dan sambal beserta timun yang di panen saat
giat Persit di Batalyonnya. Namun semua masakan Indira menjadi menu favorit
bagi Dirga.
Usai makan, Indira membuatkan kopi untuk suaminya itu. Keduanya
berbincang hangat di ruang depan. Pintu kamar sengaja Indira buka, agar dia
bisa tetap memperhatikan Gemma.
__ADS_1
“Ayah, menurut Ayah apa Bunda boleh gak nerusin kuliah lagi?”
tanya Indira dengan hati-hati.
Dirga tersenyum dan meminta istrinya untuk semakin mendekat.
“Apa yang membuat Bunda enggan buat meneruskan kuliah? Gak sayang, dengan ilmu
yang udah Bunda dapet?”
“Enggak, bagi Bunda sekarang Ayah dan Gemma adalah
prioritas. Bunda bisa belajar darimana saja, gak harus di kampus dan kuliah. Bunda
sama sekali gak menyesal, Bunda gak mau sedikitpun kehilangan moment
pertumbuhan Gemma yang gak akan pernah bisa kita ulangi. Jadi apa Ayah
meridhoi?” lirih Indira.
Mendengar pertanyaan sang istri, Dirga lantas membawa
istrinya itu kedalam pelukannya.
“Ayah ridho, apapun keputusan Bunda. Terimakasih karena
sudah memprioritaskan Ayah sama Gemma. Insya Allah, Ayah yakin Bunda bisa
mendidik anak-anak kita dengan baik nantinya.”
Kebahagiaan istrinya adalah hal yang utama bagi Dirga, dia
tak mau memaksakan hal apapun pada Indira. Saat Dirga hendak mengecup bibir
sang istri, terdengar suara rengekan Gemma yang terbangun dari tidurnya.
“Masya Allah, anak Ayah bener-bener bikin gemes. Baru juga
Ayah mau nyicip, Gem!” Dirga bangkit dan menghampiri putri kecilnya itu.
Indira tersenyum penuh haru, dia tak akan menyesal sudah
meninggalkan pendidikannya demi anak dan suaminya. Apalagi saat melihat kasih
sayang Dirga begitu besar terhadap Gemma. Memang benar, Ayah adalah cinta
pertama anak perempuannya. Bahkan Gemma akan berhenti menangis saat Dirga yang
menggendongnya.
**
Athaya terus memeluk Aini dan menciumi perut istrinya itu. Rasa
bahagia sungguh dia rasakan, pada akhirnya buah cintanya bersama Aini tumbuh
“Sehat-sehat ya, anak Papa. Jangan rewel dan jangan nyusahin
Mama ya, sayang,” bisik Athaya diperut Aini.
Perempuan itu terkekeh sambil mengusap kepala sang suami, “Anak
kita baru dua minggu. Dia belum bisa denger kamu, Kak!”
Keduanya tertawa bersama, sungguh kebahagiaan mereka tak
terkira. Namun keduanya belum mengumbar semua itu, hanya kedua orangtua yang
baru mereka beritahu. Sebab mereka butuh masukan untuk keberangkatan keduanya
ke Turki.
“Jadi jawaban Abi sama Papa gimana, Kak?” tanya Aini pada
sang suami.
“Papa sama Abi bilang, lebih baik keberangkatan kita di
tunda dulu sayang. Sampe kondisi kandungan kamu bener-bener kuat. Ini semua kan
demi anak kita juga,” Athaya menjelaskan pada istrinya.
“Jadi kita LDR?” lirih Aini menatap Athaya dengan mata yang
berkaca-kaca.
Athaya membawa Aini kedalam pelukannya. “Mau gimana lagi,
sayang. Cuti kuliah aku udah selesai, aku harus bertanggung jawab menyelesaikan
semuanya. Aku harap kamu bisa bersabar sebentar, setelah kondisi kandungan kamu
kuat. Aku janji akan jemput kamu. Kita tinggal disana bareng-bareng ya!” bujuk
Athaya.
Aini hanya bisa menangis tanpa menjawab ucapan suaminya itu.
Dia ingin dimasa kehamilannya itu didampingi oleh Athaya, hanya saja memang
situasi yang membuat keduanya terpaksa harus menjalani hubungan jarak jauh.
“Semoga kehamilan ini membawa berkah bagi rumah tangga kita,
sayang. Gak lama kok, mungkin setelah kehamilan kamu berusia 5 bulan kita bisa
__ADS_1
tinggal di Turki. Jangan sedih ya, kalo kamun sedih nanti anak kita juga sedih.”
“Insya Allah, ini yang terbaik buat kita semua Kak. Sebelum kamu
pergi, boleh aku minta Kak Dirga sama Kak Syafa kesini?” tanya Aini menatap
penuh harap.
Athaya mengangguk, “Nanti aku telpon Kak Dirga, aku juga
kangen sama Gemma.”
Berdamai dengan masa lalu dan menjalani masa sekarang untuk
masa depan. Kini Indira hanya sebatas ipar, walaupun dalam hatinya masih ada
sedikit rasa itu.
‘Assalamu’alaikum! Kak, gue mau kasih tau kalo Aini gak akan
bisa ikut ke Turki. Dia pengen lo ke Bandung sama istri lo dan juga Gemma. Lusa
gue berangkat, jadi gue harap besok lo bisa kesini.’
Begitulah pesan yang Athaya kirimkan pada Dirga, sang
penerima pesan pun menggerutu kesal.
“Dasar adik ipar menyebalkan! Dia pikir aku bisa seenaknya
izin kaya dia, semua ada prosedurnya!” kesal Dirga seraya menggerutu.
“Kenapa sih, Ayah kok marah-marah?” heran Indira menatap
suaminya.
“Ini nih, adik ipar nyebelin. Dia bilang Aini gak bisa ikut
ke Turki, malah nyuruh kita ke Bandung besok. Kan Ayah gak bisa seenaknya izin
begitu, Bun. Apalagi kan Bunda tau, kalo besok ada kegiatan di Batalyon,” Dirga
menghela nafas beratnya.
“Udah jangan marah-marah, nanti kita video call aja mereka. Pasti
paham kok mereka!” Indira mencoba menenangkan suaminya.
Usai makan malam, Dirga dan juga Indira menelepon sang adik
melalui video call.
In Call
“Assalamu’alaikum! Gemmaaaaaaa….!!!” Teriak Aini dan juga
Athaya bersamaan hingga membuat Gemma tersentak dan menangis.
“Kalian nyebelin, ih! Anak aku jadi nangis,” ucap Indira
sambil terkekeh.
“Tau tuh! Emang dasar kalian nyebelin! Kita gak bisa ke
Bandung besok. Ada kegiatan disini yang gak bisa di tinggalin, kalian lupa kalo
Kakak ini abdi Negara?” kesal Dirga menatap kedua adiknya itu.
Athaya dan Aini terkekeh, keduanya malah saling berpelukan
dengan mesra.
“Idih! Cepet bilang ada apa? Kok Aini gak jadi ikut ke
Turki?” tanya Dirga dengan serius.
“Iya kok gak jadi, kamu gak apa-apa kan, Dek?” tanya Indira
kemudian, karena khawatir dengan kondisi adik iparnya itu.
“Aku gak apa-apa, Kak Syafa. Cuman……..” Aini menggantung
kalimatnya.
“Cumana pa? kamu bikin Kakak penasaran aja!” cibir Inidra
menatap gemas.
“Cuman, Gemma mau punya temen!”
Hening.
“Kalian gak bahagia denger kabar ini?” tanya Athaya dengan
kesal.
“Speechless! Masya Allah, selamat ya adikku sayang!”
antusias Indira, sedangkan Dirga diam dan memalingkan wajah dari kamera.
“Kak Dirga gak seneng ya?” lirih Aini saat tak melihat wajah
sang Kakak.
Indira terkekeh, “Kakak kamu sangat bahagia, sampe dia gak
__ADS_1
mau diliat kalo nangis terharu!”